Minggu, 18 Oktober 2026

 

Erupsi Gunung Api Krakatau dalam Larik Puisi

Reza Maulana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Letusan Tambora dan Krakatau menunjukkan bagaimana letusan gunung api di Nusantara berdampak global.

 

·      Kesaksian R.A. van Sandick dan ‘Syair Lampung Karam’ merekam pengalaman manusia menghadapi kehancuran akibat letusan Gunung Krakatau.

 

·      Manuskrip dan babad seperti itu dapat melengkapi pengetahuan soal bencana.

 

LETUSAN Gunung Anak Krakatau mengingatkan kita bahwa gejolak di Selat Sunda belum berakhir. Gunung api ini terus-menerus mengalami erupsi selama sekitar 25 jam sejak Jumat malam, 4 September 2026. Aliran lava yang dihasilkannya memperluas tubuh gunung di tengah perairan itu sekitar 32,8 hektare. Badan Geologi juga melaporkan kemunculan dua bentukan daratan baru.

 

Kisah Anak Krakatau terbentang jauh hingga abad silam, saat sang “ibu”, Gunung Krakatau, meletus dahsyat pada Agustus 1883. Dalam sejarah Nusantara, ada dua letusan gunung api yang mengguncang dunia: Krakatau dan Tambora. Jika menengok masa prasejarah, letusan supervulkan Toba di Sumatera juga diperkirakan berdampak terhadap iklim dan ekosistem dunia pada 74 ribu tahun silam.

 

Pada April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Selain menghancurkan permukiman dan menewaskan banyak penduduk, material vulkanis dan gas sulfur dioksidanya terlontar hingga lapisan atmosfer sehingga mempengaruhi iklim global. Pada tahun berikutnya, sejumlah wilayah di Eropa dan Amerika Utara mengalami musim panas dengan suhu yang jauh lebih dingin dari biasanya. Maka 1816 dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”.

 

Lebih dari enam dasawarsa kemudian, Krakatau menghadirkan kisah yang berbeda. Letusannya pada Agustus 1883 tak hanya menjadi bencana besar di Selat Sunda, tapi juga merupakan peristiwa geologis pertama yang kabarnya mendunia lewat jaringan telegraf. Jaringan kabel bawah laut yang terhubung dari London di Inggris hingga Anyer di ujung barat Jawa memungkinkan informasi soal erupsi Krakatau menyeberangi benua dalam hitungan jam.

 

Namun jumlah korban, perubahan suhu, dan ketinggian gelombang laut tidak sepenuhnya menjelaskan arti bencana bagi orang-orang yang mengalaminya. Di balik malapetaka tersebut, ada manusia yang dibekap langit gelap dan hujan abu, disapu tsunami, dan kehilangan keluarga.

 

R.A. van Sandick, misalnya, berada di kapal S.S. Gouverneur-Generaal Loudon ketika Krakatau meletus. Dia menuliskan suasana mencekam di Selat Sunda dan Teluk Betung, Lampung. Di lokasi yang sama, penyair Muhammad Saleh mengabadikan hari-hari kelam itu lewat karya sastra, “Syair Lampung Karam”, yang dia tuliskan dalam huruf Arab.

 

Di Nusa Tenggara, ada “Syair Kerajaan Bima” yang memuat kisah seputar letusan Gunung Tambora. Di Jawa, sejumlah babad memperlihatkan cara masyarakat masa silam tak hanya mencatat, tapi juga memaknai suatu bencana. Karya-karya sastra kuno itu penting untuk melengkapi pengetahuan tentang bencana.

 

Di mingguan Tempo edisi pekan ini, Desk Jeda menyajikan kisah-kisah tersebut. Kepanikan orang-orang di Lampung pada hari-hari awal letusan besar Krakatau pada Agustus 1883 tergambar jelas lewat catatan Sandick dan “Syair Lampung Karam”.

 

Redaktur Aisha Shaidra tak hanya menelusuri manuskrip kuno tersebut, tapi juga melengkapinya dengan wawancara filolog dan vulkanolog untuk mendapatkan gambaran lebih menyeluruh. Hasil laporannya bisa Anda nikmati lewat artikel di Intermezo berjudul “Dahsyatnya Erupsi Krakatau yang Terekam dalam Manuskrip Kuno”.

 

Dalam tulisan berikutnya, kami mengulas kisah lain dari letusan Krakatau, yaitu bagaimana kabar bencana itu tersebar secara kilat ke Eropa. Itulah sebabnya kami memberi judul artikel “Bagaimana Berita Erupsi Krakatau Menyebar ke Seluruh Dunia”.

 

Sementara itu, Anda bisa menyimak dampak letusan Gunung Tambora yang jauh lebih kuat ketimbang erupsi Krakatau dalam artikel “Erupsi Tambora yang Melahirkan Frankenstein”. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/erupsi-gunung-api-krakatau-manuskrip-kuno-2299802

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar