|
Erupsi
Gunung Api Krakatau dalam Larik Puisi Reza Maulana
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
· Letusan Tambora dan Krakatau
menunjukkan bagaimana letusan gunung api di Nusantara berdampak global. · Kesaksian R.A. van Sandick dan ‘Syair
Lampung Karam’ merekam pengalaman manusia menghadapi kehancuran akibat
letusan Gunung Krakatau. · Manuskrip dan babad seperti itu dapat
melengkapi pengetahuan soal bencana. LETUSAN
Gunung Anak Krakatau mengingatkan kita bahwa gejolak di Selat Sunda belum
berakhir. Gunung api ini terus-menerus mengalami erupsi selama sekitar 25 jam
sejak Jumat malam, 4 September 2026. Aliran lava yang dihasilkannya
memperluas tubuh gunung di tengah perairan itu sekitar 32,8 hektare. Badan
Geologi juga melaporkan kemunculan dua bentukan daratan baru. Kisah
Anak Krakatau terbentang jauh hingga abad silam, saat sang “ibu”, Gunung
Krakatau, meletus dahsyat pada Agustus 1883. Dalam sejarah Nusantara, ada dua
letusan gunung api yang mengguncang dunia: Krakatau dan Tambora. Jika
menengok masa prasejarah, letusan supervulkan Toba di Sumatera juga
diperkirakan berdampak terhadap iklim dan ekosistem dunia pada 74 ribu tahun
silam. Pada
April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus
hebat. Selain menghancurkan permukiman dan menewaskan banyak penduduk,
material vulkanis dan gas sulfur dioksidanya terlontar hingga lapisan
atmosfer sehingga mempengaruhi iklim global. Pada tahun berikutnya, sejumlah
wilayah di Eropa dan Amerika Utara mengalami musim panas dengan suhu yang
jauh lebih dingin dari biasanya. Maka 1816 dikenal sebagai “tahun tanpa musim
panas”. Lebih
dari enam dasawarsa kemudian, Krakatau menghadirkan kisah yang berbeda.
Letusannya pada Agustus 1883 tak hanya menjadi bencana besar di Selat Sunda,
tapi juga merupakan peristiwa geologis pertama yang kabarnya mendunia lewat
jaringan telegraf. Jaringan kabel bawah laut yang terhubung dari London di
Inggris hingga Anyer di ujung barat Jawa memungkinkan informasi soal erupsi
Krakatau menyeberangi benua dalam hitungan jam. Namun
jumlah korban, perubahan suhu, dan ketinggian gelombang laut tidak sepenuhnya
menjelaskan arti bencana bagi orang-orang yang mengalaminya. Di balik
malapetaka tersebut, ada manusia yang dibekap langit gelap dan hujan abu,
disapu tsunami, dan kehilangan keluarga. R.A. van
Sandick, misalnya, berada di kapal S.S. Gouverneur-Generaal Loudon ketika
Krakatau meletus. Dia menuliskan suasana mencekam di Selat Sunda dan Teluk
Betung, Lampung. Di lokasi yang sama, penyair Muhammad Saleh mengabadikan
hari-hari kelam itu lewat karya sastra, “Syair Lampung Karam”, yang dia
tuliskan dalam huruf Arab. Di Nusa
Tenggara, ada “Syair Kerajaan Bima” yang memuat kisah seputar letusan Gunung
Tambora. Di Jawa, sejumlah babad memperlihatkan cara masyarakat masa silam
tak hanya mencatat, tapi juga memaknai suatu bencana. Karya-karya sastra kuno
itu penting untuk melengkapi pengetahuan tentang bencana. Di
mingguan Tempo edisi pekan ini, Desk Jeda menyajikan kisah-kisah tersebut.
Kepanikan orang-orang di Lampung pada hari-hari awal letusan besar Krakatau
pada Agustus 1883 tergambar jelas lewat catatan Sandick dan “Syair Lampung
Karam”. Redaktur
Aisha Shaidra tak hanya menelusuri manuskrip kuno tersebut, tapi juga
melengkapinya dengan wawancara filolog dan vulkanolog untuk mendapatkan
gambaran lebih menyeluruh. Hasil laporannya bisa Anda nikmati lewat artikel
di Intermezo berjudul “Dahsyatnya Erupsi Krakatau yang Terekam dalam
Manuskrip Kuno”. Dalam
tulisan berikutnya, kami mengulas kisah lain dari letusan Krakatau, yaitu
bagaimana kabar bencana itu tersebar secara kilat ke Eropa. Itulah sebabnya
kami memberi judul artikel “Bagaimana Berita Erupsi Krakatau Menyebar ke
Seluruh Dunia”. Sementara
itu, Anda bisa menyimak dampak letusan Gunung Tambora yang jauh lebih kuat
ketimbang erupsi Krakatau dalam artikel “Erupsi Tambora yang Melahirkan
Frankenstein”. ● Sumber :
https://www.tempo.co/arsip/erupsi-gunung-api-krakatau-manuskrip-kuno-2299802 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar