Senin, 12 Oktober 2026

 

Feby Indirani: Karya Perempuan Diadili Secara Skeptis

Friski Riana :  Jurnalis Tempo

TEMPO HARIAN,  11 Oktober 2026

 

 

 

·      Feby Indirani menilai serangan digital yang menimpanya terlihat terencana dan masif.

 

·      Pelarangan diskusi buku Memburu Muhammad menutup ruang diskusi publik tentang tafsir atas sebuah karya sastra yang mengulas agama.

 

·      Feby punya alasan kuat menulis sastra keislaman dari sisi yang berbeda dalam suasana beragama yang tak rileks.

 

BEBERAPA pekan terakhir, penulis buku Memburu Muhammad, Feby Indirani, menjauhi telepon selulernya. Feby mendapat banyak hujatan setelah Front Persaudaraan Islam melarang diskusi buku kumpulan cerita pendek tersebut dalam Pekan Sastra Bogor pada Ahad, 20 September 2026.

 

Awalnya Feby masih meladeni akun-akun yang menyerangnya. Belakangan, ia menilai serangan digital itu seperti diorkestrasi. Master media digital dari University College London, Inggris, itu pun menutup fitur commenting di akun Instagram-nya. “Rasanya masih traumatik,” kata Feby kepada Tempo di sebuah kafe di Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu, 7 Oktober 2026.

 

Memburu Muhammad terbit pada 2020. Ia bagian dari tetralogi “Islamisme Magis”. Cerita diawali dengan kemunculan Abu Jahal, tokoh dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai musuh Nabi Muhammad. Datang ke Indonesia pada abad modern, Abu Jahal memburu semua pemilik nama Muhammad. Namun dia mendapati tak satu pun dari mereka yang meneladankan sosok Nabi.

 

Kepada jurnalis Tempo, Yosea Arga dan Friski Riana, serta fotografer Jati Mahatmaji dan Fardi Bestari, Feby menceritakan proses kreatif penyusunan tetraloginya yang beraliran realisme magis. Dalam wawancara selama dua jam, ia juga mengungkapkan alasan membuat karya yang mengangkat realitas masyarakat Islam serta tantangan menjadi perempuan penulis.

 

Buku Memburu Muhammad terbit pada 2020, tapi baru dipersoalkan sekarang. Anda melihat pemicunya hanya larangan Front Persaudaraan Islam atau hal lain?

 

Selama enam tahun, buku Memburu Muhammad enggak pernah dipermasalahkan. Bukunya enggak terlalu laku, terjual 4.000 eksemplar yang fisik. Tapi bukan berarti enggak dibicarakan sama sekali. Ada podcast atau diskusi yang mengangkat. Teman-teman saya juga kaget kenapa kasus seperti ini muncul lagi. Saya merasa peristiwa ini banyak sekali kepentingannya. (Feby menceritakan sejumlah informasi yang diperolehnya, tapi ia menolak keterangannya dikutip.)

 

Anda merasa serangannya terencana?

 

Hari Senin (21 September 2026), saya mulai tahu ada yang riding the wave lewat peristiwa ini. Ada beberapa pemuka agama bikin unggahan di media sosial. Lalu banyak yang mengirim pesan berisi kata serapah ke akun Instagram saya. Kamis pagi, 24 September 2026, sekitar pukul 07.30, saya diserbu dengan banyak pesan, baik lewat direct message maupun di kolom komentar. Saya merasa itu serangan karena seratus pesan langsung masuk bersamaan. Ada yang menyebut aku dajal betina atau whatever gitu, lah.

 

Ada yang mencoba menyulut kemarahan publik dengan isu agama?

 

Bisa jadi. Sekarang banyak orang marah terhadap banyak hal dan enggak punya saluran. Akhirnya marah terhadap sesama lebih gampang.

 

Bagaimana Anda menanggapi kemarahan tersebut?

 

Saya mulai off comment pada Jumat, 25 September 2026. Ini bukan gelanggang diskusi. Mereka tidak bisa mendengarkan apa-apa lagi, jadi saya pikir enggak ada gunanya. Banyak dari mereka seperti ingin saya memberikan respons. Mungkin mereka berpikir bahwa perempuan yang diserang pasti akan tersinggung. Saya sudah melaporkan hampir 100 akun yang menyerang. Enggak ada satu pun yang di-report oleh Instagram.

 

Setelah Anda membatasi komentar, serangan mereda?

 

Pada Sabtu, 26 September 2026, narasi serangan meningkat. Ada yang bilang saya berani melawan Allah. Ada juga yang mencari unggahan saya yang sudah lama dan berkomentar di sana. Setelah itu, saya kunci akun Instagram. Tanpa disadari, semua pihak menikmati “sirkus” ini karena traffic-nya memang naik.

 

Anda menikmati juga sirkus itu?

 

Sampai saat ini, saya enggak melihat apa bagusnya buat saya. Ada yang bilang bad publicity is still publicity. Sebenarnya enggak begitu. Views Instagram saya memang naik lima kali lipat. Biasanya 200-an ribu, sekarang 1,1 juta views gara-gara kasus ini. Tapi saya enggak mendapatkan keuntungan ekonomi apa pun.

 

Pelarangan diskusi menunjukkan hari-hari ini orang tak rileks dalam beragama. Apa penyebabnya?

 

Saya percaya muslim Indonesia pada umumnya toleran, terutama jika kita bertemu langsung dan bertatap muka. Di tengah krisis ekonomi dan krisis kepemimpinan hari-hari ini, warga menjadi makin mudah marah kepada sesamanya karena ruang untuk menuntut secara vertikal seperti terkunci. Terlebih, arena digital justru hidup dari sulutan kebencian. Dalam situasi yang serba bising, tergesa-gesa, dan reaktif seperti itu, sangat sulit bagi kita untuk rileks dalam hal apa pun, apalagi dalam beragama.

 

Buku Memburu Muhammad sekarang sulit dicari....

 

Memang sudah habis dan belum dicetak lagi sampai sekarang. Targetnya awal tahun depan. Ada yang menganggap ini strategi marketing. Sebetulnya tidak. Keputusan Mizan Group menarik e-book Memburu Muhammad menunjukkan ini bukan upaya marketing. Tidak ada upaya mengambil untung dari peristiwa ini. Justru nantinya ada rintangan tambahan agar buku saya bisa diterbitkan. Misalnya naskah buku harus dibaca lebih banyak orang dari kalangan internal Mizan. Wajar kalau mereka jadi extra cautious.

 

Seberapa jauh penerbit Mizan mendukung Anda?

 

Setelah pelarangan diskusi terjadi, Pak Haidar Bagir (pendiri Mizan Group) turun tangan. Beliau memfasilitasi saya bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia. Dia juga membantu saya bertemu dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia hingga Mbak Alissa Wahid (Alissa Qotrunada, putri sulung mantan presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur). Prioritas Pak Haidar, jangan sampai aku ditinggalkan sendiri.

 

Pelarangan diskusi juga berdampak pada karya lain Anda?

 

Sepertinya enggak ada pengaruh apa-apa. Malah dimaki-maki juga. Sekarang saya lagi mempromosikan buku Tubuh yang Tumbuh terbitan Indonesia Tera. Tentu ada postingan juga mengenai buku itu. Dengan adanya peristiwa ini, ya tentu juga ikut diserang.

 

Serangan serupa terjadi setelah buku Anda, Bukan Perawan Maria, terbit....

 

Skalanya berbeda. Saya memang sering mendapat tuduhan sengaja bikin ribut atau jualan agama. Tapi yang paling masif ya sekarang. Ibaratnya ditampar satu orang berbeda dengan ditampar seratus orang secara bersamaan.

 

Apa dampak pelarangan diskusi buku ini untuk kebebasan berekspresi dan bersastra?

 

Peristiwa ini indikator nyata bahwa ruang berpikir, berdiskusi, dan bersastra masih jauh dari kata aman dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan pertama kali terjadi. Kita menyaksikan pola lama yang berulang. Satu kelompok masyarakat dapat menekan dan membungkam kelompok lain semata-mata karena ketidaksepakatan pandangan. Pemerintah kembali absen memberikan perlindungan nyata kepada warganya yang terancam.

 

Dampaknya luas untuk publik?

 

Menutup ruang diskusi, apalagi dengan ancaman fisik seperti yang terjadi pada pembatalan diskusi Memburu Muhammad, menghilangkan kesempatan mendiskusikan gagasan secara sehat, jernih, dan berimbang. Publik kehilangan kesempatan membuktikan tuduhan yang muncul itu sah atau prasangka semata. Prasangka terhadap teks ini berkelindan dengan persoalan otoritas, siapa yang berhak menulis dan membicarakan cerita berakar tradisi Islam.

 

Pelarangan diskusi itu juga menunjukkan lemahnya posisi perempuan penulis?

 

Sebagai perempuan penulis, saya kerap merasakan bagaimana karya perempuan cenderung diadili secara skeptis, langsung dibanding-bandingkan dengan figur lelaki penulis yang dianggap lebih mapan dan otoritatif, alih-alih dibaca sebagai sebuah pencarian estetik tersendiri.

 

Seberapa rentannya posisi perempuan penulis?

 

Saya menyadari posisi sebagai perempuan, tidak berjilbab, dengan latar pendidikan sekuler menempatkan saya pada kondisi rentan ketika bicara tentang Islam. Yang saya perhatikan terjadi dalam polemik ini, sejumlah pemuka agama laki-laki serta pembuat konten bernuansa islami menghakimi dan menghujat buku saya hanya dari judulnya. Buku seharusnya dibaca dengan saksama, dipercakapkan dengan telinga dan pikiran terbuka.

 

Apa yang membuat kritik perempuan terhadap agama sulit diterima?

 

Mungkin faktornya banyak. Ketika perempuan mengkritik agama, saya enggak yakin kedua belah pihak siap. Artinya, yang membaca bukunya enggak siap, apalagi yang enggak membaca.

 

Dengan kondisi seperti itu, mengapa Anda membuat sejumlah cerita pendek bertema Islam?

 

Cerita-cerita ini ijtihad saya. Saya tidak pernah punya tendensi menulis tentang Islam sebagai ajaran atau keilmuan. Saya menulis sastra dari pengalaman dan pengamatan tentang Islam yang dihidupi sehari-hari.

 

Bagaimana Anda mempelajari agama Islam?

 

Aku belajar soal agama dari cerita-cerita tentang wajah Tuhan yang tidak hitam-putih. Manusia banyak biasnya, ada munafiknya, ada kepentingan pribadi yang kita susah untuk mengakuinya. Bahkan kepada diri sendiri pun susah karena kita enggak mulia-mulia amat. Itu gunanya sastra, membuat kita becermin.

 

Seperti apa latar belakang keislaman Anda?

 

Saya tumbuh dan lahir dalam keluarga dan lingkungan muslim konservatif di kampung Kota Jakarta. Rumah saya dekat masjid Muhammadiyah sehingga Islam terekam lekat dalam memori tubuh dan kognitif saya.

 

Dengan memori semacam itu, kenapa Anda menulis tentang keislaman dari sisi yang berbeda?

 

Sejak kecil, saya punya banyak pertanyaan dan kegelisahan tentang ragam tafsir agama yang meminggirkan kelompok minoritas, termasuk perempuan. Saya mengamati bahwa pergulatan tafsir Islam kerap mempengaruhi banyak hal, seperti kebijakan pemerintah hingga interaksi sehari-hari di dalam kelompok Islam ataupun antaragama. Masalah di Indonesia sangat banyak dan saling berkelindan. Saya melihat tafsir agama yang lebih adil dan manusiawi bisa menjadi salah satu titik retas perubahan.

 

Bagaimana perubahan bisa terjadi?

 

Orang perlu berpikir lebih kritis dan mandiri. Sayangnya, keberanian bertanya kerap telanjur beku dalam masyarakat beragama. Saya berupaya meretas kebekuan itu melalui sastra.

 

Seperti apa proses kreatif Anda dalam menulis cerpen bertema Islam?

 

Pertama, jujur sama pengalaman tubuh dan manusiawi. Soal azan, misalnya, menjadi keluhan banyak orang, tapi mereka tidak mau mengakui secara jujur. Dalam persoalan agama, orang tidak bisa jujur karena seolah-olah menyerang identitasnya sendiri. Padahal agama Islam yang saya tahu tidak begitu, tapi ada tenggang rasa. Misalnya Nabi Muhammad menegur orang mengaji yang suaranya kencang.

 

Ada contoh karya yang tidak berangkat dari kejujuran?

 

Saya melihat tokoh-tokoh fiksi religi dalam berbagai film religi menggambarkan laki-laki sempurna kayak malaikat. Cerita fiksi religi tersebut tidak ada kritik sosial. Jadi enggak menyentuh persoalan struktural. Saya bosan sama yang begitu. Saya merasa itu bukan manusia dan enggak jujur. Syarat kreativitas itu mesti jujur sama kemanusiaan dan ketubuhan kita.

 

Apa alasan Anda mengambil aliran realisme magis?

 

Realisme magis membuka ruang percakapan agar pembaca berfokus pada cerita manusiawinya. Banyak sekali layer, ruang yang abu-abu. Kita enggak ngomong benar dan salah, tapi ruang manusiawi yang rentan. Ruang-ruang yang sangat subtil seperti itu menurut saya hanya bisa powerful kalau dibicarakan lewat sastra. Kita bisa menceritakan kondisi-kondisi yang absurd, tapi sebetulnya untuk menyampaikan kebenaran.

 

Apakah sastra punya ruang khusus untuk membicarakan agama?

 

Sastra semestinya punya ruang istimewa karena dapat membumikan dan menubuhkan agama. Di dalam sastra, agama tak hanya hadir sebagai dogma, tapi juga pengalaman manusiawi, lengkap dengan kontradiksinya. Sastra membuka ruang-ruang ambigu yang tak bertumpu pada vonis benar atau salah, tapi membuka lapis demi lapis kerapuhan dan kejujuran manusia. Lewat sastra, manusia terlepas dari status sosial dan simbol keagamaan yang dikenakannya.

 

Dengan berbagai tekanan, apakah sastra yang membicarakan agama akan terus ada?

 

Ikhtiar ini sudah dilakukan oleh penulis-penulis sebelum saya dan akan terus dilakukan oleh penulis-penulis setelah saya.

 

Sejauh mana bacaan fiksi membuka ruang terhadap topik tentang agama?

 

Fiksi membuka ruang pembacaan terhadap agama atau topik apa pun dari pelbagai sisi dan sudut pandang. Saya ingin bicara hal yang berbeda. Bukan urusan pencarian jodoh yang sempurna, mimpi ke luar negeri, atau keputusan perempuan untuk berjilbab atau tidak. Fiksi Islam semestinya bisa bicara banyak tentang isu-isu keadilan dan kritik sosial. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/wawancara-feby-indirani-penulis-memburu-muhammad-2299761

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar