|
POTRET WARNA-WARNI 81 TAHUN INDONESIA - Kata
Pengantar Buku SATUPENA Meraba Masa Depan Indonesia Setelah Merdeka 81 Tahun,
2026 Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 11 Oktober 2026
|
Seorang
ayah memandangi anaknya yang tertidur sambil memeluk buku. Malam itu ia tidak
menghitung halaman. Ia menghitung bagian tubuh yang masih dapat dijual. Ginjalnya
tiba-tiba mempunyai harga. Bukan karena ia ingin kaya. Ia hanya ingin anaknya
tetap bersekolah dan memperoleh masa depan yang lebih baik. Pagi
berikutnya, selembar kardus berbicara lebih keras daripada pidato kenegaraan:
“Dijual Ginjal Untuk Biayo Sekolah Anak.” Kemiskinan mengubah tubuh manusia
menjadi mata uang. Adegan
getir itu hidup kembali dalam puisi esai Rissa Churria, "Kardus
Agustus." Puisi itu terinspirasi kisah Herman, warga Palembang, yang
pada 2017 menawarkan ginjalnya agar anaknya tidak putus sekolah. Di
tangan puisi, ginjal tidak lagi sekadar organ tubuh. Ia menjelma metafor
tentang harga yang nyaris harus dibayar seorang ayah demi pendidikan anaknya. Di
sanalah kemerdekaan mendadak menjadi sangat personal. Apa artinya delapan
puluh satu tahun merdeka jika kemiskinan masih membuat manusia menawar
tubuhnya sendiri? -000- Buku
ini berjudul Meraba Masa Depan Indonesia Setelah Merdeka 81 Tahun. Ia bukan
buku perayaan. Ia lebih menyerupai pemeriksaan kesehatan batin sebuah
republik. CariEnsiklopedia Di
dalamnya terkumpul lebih dari 100 tulisan dari 100 penulis. Bentuknya
beragam: esai, puisi esai, puisi, dan cerita pendek karya para penulis
SATUPENA dari berbagai latar kehidupan. Jonminofri
Nazir menulis pengantar editor bertajuk Meraba Masa Depan Indonesia: di
Antara Harapan dan Kegelisahan. Judul itu sekaligus merangkum denyut utama
antologi ini. Buku
ini bergerak dari demokrasi menuju ekonomi, dari pendidikan menuju
kebudayaan, dari teknologi menuju lingkungan, lalu kembali kepada manusia
sebagai pusat persoalan. Ada
penulis yang datang membawa kemarahan. Ada yang membawa data. Ada yang
membawa pengalaman. Ada pula yang membawa harapan seperti lilin kecil dalam
kamar gelap. Karena
itu, buku ini tidak menawarkan satu wajah Indonesia. Ia memperlihatkan banyak
Indonesia yang hidup serentak, saling berdebat, tetapi berbagi sejarah yang
sama. Indonesia
di sini bukan foto resmi yang digantung rapi di dinding kantor. Ia lebih
mirip album keluarga dengan senyum, luka, konflik, kehilangan, dan harapan. Justru
karena tidak seragam, buku ini terasa hidup. Sebuah republik memang terlalu
besar untuk diceritakan hanya dengan satu nada dan satu sudut pandang. -000- Saat
membaca buku lebih dari seribu halaman ini, saya menemukan tiga kekuatan
utamanya. Yang pertama adalah keberagaman pandangan yang sengaja tidak
dipaksa menjadi satu kesimpulan. Indonesia
terlalu luas untuk dimasukkan ke dalam satu kalimat. Ia juga terlalu majemuk
untuk dipenjara hanya dalam kotak optimisme atau pesimisme. CariEnsiklopedia Ani
Yoslinda Waromi, guru SMP di Kuala Kencana, melihat pembangunan dari ruang
kelas Papua. Eddy Salahuddin menakarnya melalui rupiah. Ahkam Jayadi
mengujinya melalui negara hukum yang kehilangan nurani. Perbedaan
itu bukan kelemahan buku ini. Justru di sanalah kekuatannya. Bangsa dewasa
bukan bangsa yang semuanya sepakat, melainkan yang mampu mengelola
ketidaksepakatan. Masa
depan Indonesia kemudian tidak hadir sebagai ramalan. Ia hadir sebagai
perdebatan terbuka. Perdebatan semacam itu sering menjadi laboratorium
pertama bagi perubahan. Buku
ini mengingatkan bahwa keragaman suara bukan ancaman terhadap persatuan.
Persatuan yang matang justru lahir ketika perbedaan memperoleh ruang untuk
berbicara. -000- Kekuatan
kedua adalah kemampuan membawa persoalan besar kembali kepada kehidupan
manusia biasa. Statistik mendapat wajah. Teori memperoleh air mata. Kebijakan
menyentuh meja makan. Kita
dapat berdebat panjang tentang anggaran pendidikan. Tetapi seorang ayah yang
menawarkan ginjal membuat persoalan struktural terasa jauh lebih dekat dan
jauh lebih menyakitkan. Salah
satu esai dalam buku ini mengutip perhitungan Oxfam: kekayaan empat orang
terkaya di Indonesia lebih besar daripada gabungan kekayaan 100 juta orang
termiskin. Angka
itu mudah dibaca, tetapi sulit dibayangkan. Di baliknya ada keluarga yang
harus mengurangi beras, memilih lauk paling murah, atau menunda sekolah anak. Di
sinilah sastra menawarkan sesuatu yang tidak selalu dimiliki laporan resmi.
Data memberi ukuran. Cerita memberi makna. Keduanya diperlukan agar bangsa
memahami dirinya. Ketika
data bertemu pengalaman manusia, penderitaan tidak lagi menjadi angka anonim.
Ia memperoleh nama, wajah, keluarga, mimpi, dan alasan moral untuk
diperbaiki. Kemajuan
pun seharusnya diukur demikian. Bukan hanya melalui grafik pertumbuhan,
tetapi melalui perubahan konkret yang dirasakan manusia dalam sekolah, rumah,
pekerjaan, dan kesehatan. -000- Kekuatan
ketiga adalah ketegangan kreatif antara kritik dan harapan. Buku ini tidak
menjadi propaganda keberhasilan. Namun ia juga tidak berubah menjadi katalog
keputusasaan. Ada
kritik terhadap korupsi, oligarki, ketimpangan, kualitas demokrasi,
pendidikan, dan kerusakan lingkungan. Tetapi terdapat pula kesaksian mengenai
daya lentur luar biasa Indonesia. Kritik
mencegah bangsa berpuas diri. Optimisme mencegah masyarakat menyerah.
Keduanya bukan musuh. Keduanya seperti dua mata yang diperlukan untuk melihat
dengan utuh. Kritik
tanpa harapan mudah berubah menjadi sinisme. Optimisme tanpa kritik mudah
berubah menjadi obat tidur. Indonesia membutuhkan keberanian sekaligus
keyakinan untuk memperbaiki diri. Bagi
saya, cinta tanah air menemukan bentuk dewasanya justru di sini. Mencintai
Indonesia tidak berarti melupakan kebocoran atap rumah yang kita tinggali
bersama. Cinta
yang matang berani mengatakan ada yang salah. Tetapi cinta yang sama juga
percaya rumah itu masih layak dirawat, diperbaiki, dan diwariskan. -000- Salah
satu warna menarik datang dari Berthold Damshäuser melalui "Krisis, Daya
Tahan, dan Lain-Lain: Mengamati Indonesia Sejak 50 Tahun." Ia
orang Jerman yang setengah abad hidup bersama Indonesia, sejak pertama kali
datang pada 1976. Kedekatannya memberi cinta. Jarak asalnya memberi
perspektif yang tidak selalu dimiliki orang dalam. Pada
1998, setelah Soeharto tumbang, ia meramalkan di depan mahasiswanya bahwa
Indonesia akan mengalami Balkanisasi. Ramalan itu meleset. Indonesia ternyata
mempunyai daya lentur yang ia sendiri remehkan. Pengalaman
salah meramal itu menghasilkan kerendahan hati intelektual. Damshäuser
kemudian lebih berhati-hati menghadapi narasi kehancuran yang begitu mudah
berkembang dalam masyarakat. Namun
optimisme itu bukan pujian kosong. Ia tetap menggugat ketimpangan, oligarki,
perubahan iklim, dan nasionalisme yang menyala di tribun stadion lalu menguap
di meja birokrasi. Ia
seperti peziarah setia yang setengah abad bolak-balik ke negeri ini. Karena
tetap memandang dari luar, beberapa retak justru terlihat lebih jelas. -000- Nia
Samsihono melalui Mencintai Indonesia dengan Mata Terbuka mengambil posisi
yang sama pentingnya. Indonesia, baginya, sedang berdiri di depan dua pintu. Pintu
pertama bernama kemajuan. Pintu kedua bernama krisis. Arah akhirnya
bergantung pada kualitas institusi, keadilan ekonomi, kebijakan publik, dan
keberpihakan kepada rakyat. Pesannya
sederhana, tetapi mendalam. “Negeri ini terlalu indah untuk hanya diratapi
dan negeri ini juga terlalu berharga untuk hanya dipuji tanpa kritik.” Damshäuser
mengingatkan bahaya pesimisme berlebihan. Nia mengingatkan bahaya optimisme
tanpa koreksi. Di antara keduanya, pembaca mendapatkan ruang untuk berpikir
lebih jernih. Dua
tulisan itu memperlihatkan watak buku ini. Indonesia tidak diberi vonis.
Indonesia diajak bercermin, lalu memutuskan sendiri wajah seperti apa yang
hendak dibentuk. -000- Dalam
berbagai percakapan tentang Indonesia, saya semakin menyadari sesuatu. Satu
negeri dapat hidup dalam banyak pengalaman yang berbeda pada saat yang sama. Pengusaha
mungkin melihat kesempatan investasi. Buruh melihat harga kebutuhan. Guru
melihat kemampuan membaca muridnya. Petani melihat pupuk, cuaca, dan harga
panen. Mereka
sedang membicarakan Indonesia yang sama. Tetapi mereka berdiri di jendela
berbeda. Masing-masing melihat potongan kenyataan yang sungguh ada. Karena
itu, perdebatan mengenai apakah Indonesia sedang maju atau mundur kadang
terlalu sederhana. Keduanya dapat terjadi sekaligus dalam wilayah dan
kelompok berbeda. Satu
sektor dapat berlari. Sektor lain tertatih. Sebuah kota dapat menikmati
teknologi mutakhir, sementara desa lain masih bergulat dengan kebutuhan
paling dasar. Bagi
saya, justru di sinilah negara memperoleh maknanya. Negara diperlukan untuk
menjahit potongan-potongan pengalaman itu menjadi kesempatan yang lebih adil
bagi semua. Membaca
ragam tulisan dalam buku ini terasa seperti memasuki ruangan besar dengan
banyak jendela. Setiap penulis membuka satu. Pembaca diajak melihat dari
semuanya. -000- Dua
buku dapat membantu memberi lensa intelektual lebih luas. Yang pertama ialah
Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism
karya Benedict Anderson, yang terbit pertama kali pada 1983. Anderson,
Indonesianis dari Cornell University, menjelaskan bangsa sebagai imagined
community. Warganya tidak mungkin saling mengenal, tetapi mereka membayangkan
diri tergabung dalam satu komunitas nasib bersama. Bahasa,
pendidikan, media, simbol, sejarah, dan ingatan kolektif menjahit jutaan
manusia menjadi sebuah “kita”. Indonesia adalah salah satu eksperimen
terbesar proses itu. Aceh,
Jawa, Dayak, Bugis, Ambon, Bali, dan Papua tidak dipersatukan oleh keseragaman.
Mereka dipertemukan melalui imajinasi mengenai rumah bersama bernama
Indonesia. Karena
itu, tantangan terbesar bangsa bukan hanya menjaga perbatasan. Tantangannya
ialah terus memperbarui alasan mengapa warga ingin hidup bersama dan berbagi
masa depan. Bangsa
bisa kehilangan wilayah karena perang. Tetapi bangsa juga dapat kehilangan
dirinya ketika warganya berhenti percaya bahwa mereka masih memiliki cerita
bersama. -000- Buku
kedua adalah Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty
karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson, yang terbit pada 2012. Pesan
pokoknya tegas. Kekayaan alam, geografi, atau budaya tidak otomatis
menghasilkan kemakmuran. Institusi menentukan apakah potensi berkembang atau
dikuasai sebagian kecil elite. Institusi
inklusif membuka kesempatan, menjaga hukum, membatasi monopoli kekuasaan, dan
mendorong inovasi. Institusi ekstraktif memusatkan keuntungan pada mereka
yang menguasai sistem. Lensa
ini sangat berguna untuk membaca Indonesia. Negeri kita tidak kekurangan
modal. Kita mempunyai manusia, sumber daya alam, pasar besar, dan posisi
geografis strategis. Pertanyaannya
bukan apakah Indonesia kaya. Pertanyaannya apakah institusi mampu mengubah
kekayaan itu menjadi kemampuan nyata rakyat untuk hidup bermartabat dan
berkembang. Tambang
yang kaya tidak otomatis melahirkan sekolah yang baik. Pertumbuhan tinggi
tidak otomatis melahirkan keadilan. Infrastruktur megah tidak otomatis
menghadirkan mobilitas sosial. Sebuah
bangsa dapat kaya di bawah tanah, tetapi miskin di atasnya. Di titik itulah
kualitas institusi menentukan apakah kekayaan menjadi berkah atau kutukan. -000- Tentu
ada kontra-argumen. Sebagian pembaca dapat mengatakan bahwa kumpulan seperti
ini terlalu penuh kegelisahan sehingga memperkuat kesan Indonesia selalu
berada dalam krisis. Keberatan
itu perlu dihormati. Indonesia memang mempunyai capaian nyata. Infrastruktur
bertambah, pendidikan meluas, teknologi menyebar, demokrasi bertahan, dan
kehidupan banyak keluarga membaik. Damshäuser
bahkan menyebut BPJS Kesehatan, yang sering dicaci karena antreannya, sebagai
salah satu lompatan kemanusiaan terbesar di negeri ini. Ia
juga mengingatkan bahaya menjadikan kata “krisis” sebagai kebiasaan
intelektual. Bangsa yang terus meramalkan kiamat dapat kehilangan kemampuan
mengenali keberhasilan nyata. Tetapi
jawabannya bukan mengurangi kritik. Jawabannya adalah membuat kritik semakin
berdisiplin. Ia harus diuji dengan data, sejarah, perbandingan, dan kesediaan
mengakui kemajuan. Hal
yang sama berlaku bagi optimisme. Harapan harus memiliki bukti. Pujian perlu
diuji. Sebab optimisme yang menolak fakta pada akhirnya sama rapuhnya dengan
pesimisme. Di
sinilah buku ini memperoleh keseimbangan. Optimisme diuji oleh kenyataan.
Pesimisme diuji oleh daya tahan bangsa yang berkali-kali membuktikan
kemampuan untuk bangkit. Yang
kita perlukan bukan Indonesia yang selalu dipuji atau dicela. Kita
membutuhkan Indonesia yang terus diperiksa, karena hanya yang diperiksa dapat
terus diperbaiki. -000- Kemerdekaan
sejatinya bukan sekadar monumen sejarah yang dirayakan, melainkan keberanian
etis untuk terus menata rumah bersama agar tidak ada tak banyak lagi anak
bangsa yang terpinggirkan dari mimpi-mimpinya sendiri. Pada
usia 81 tahun, pertanyaan terpenting mungkin bukan apakah Indonesia berhasil.
Tidak ada bangsa yang pernah selesai. Bahkan negara maju tetap membawa
masalah. Pertanyaan
yang lebih penting adalah ini: apakah kemampuan kita memperbaiki kesalahan
berkembang lebih cepat dibanding kemampuan kita menciptakan kesalahan baru? Di
titik itu, masa depan berhenti menjadi ramalan. Ia berubah menjadi pilihan
tentang pendidikan, institusi, demokrasi, teknologi, keadilan sosial,
lingkungan, dan martabat manusia. Kemerdekaan
memang bermula pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan menjadi
penuh ketika ketakutan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan juga
kehilangan kekuasaannya. Indonesia
telah berkali-kali jatuh, berselisih, dan mengalami krisis, lalu menemukan
daya hidup yang mengejutkan bahkan para pengamatnya. Luka dan daya sembuh itu
hadir bersama dalam potret 81 tahun ini. Tugas
generasi hari ini bukan mewariskan Indonesia tanpa masalah. Itu mustahil.
Tugas kita ialah mewariskan manusia dan institusi yang lebih mampu
menyelesaikan masalah. Rissa
Churria menulis tentang tubuh yang hampir ditukar dengan pendidikan. Kisah
itu seharusnya mengganggu ketenangan kita lebih lama daripada suara kembang
api bulan Agustus. Sebab
republik belum sepenuhnya merdeka selama seorang ayah merasa ginjalnya lebih
mudah dijual daripada sekolah anaknya dijangkau. ● REFERENSI Benedict
Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of
Nationalism, Verso, 1983. Daron
Acemoglu dan James A. Robinson, Why Nations Fail: The Origins of Power,
Prosperity, and Poverty, Crown Business, 2012. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar