|
Dua
Oligarki Berantem Saling Lapor, Mungkin Polisi Bingung Rosadi
Jamani : Ketua
Satupena Kalbar |
HATIPENA, 20 Oktober 2026
Anak kecil kalau berantem, biasa. Beberapa menit kemudian,
mandi bareng lagi di empang. Lah, ini dua oligarki, duitnya lebih tujuh turunan
tak abis-abis, berantem. Tak ada cerita baikan. Adanya saling lapor polisi.
Simak narasinya, wak!
Babah Alun alias Jusuf Hamka, pengusaha jalan tol yang
sekarang menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden alias Wantimpres. Satunya
lagi Hary Tanoesoedibjo, bos MNC Group yang punya kerajaan bisnis dan media.
Keduanya saling lapor ke Polda Metro Jaya. Ini bukan
pertengkaran antartetangga gara-gara jemuran menetes ke teras. Ini pertarungan
dua orang yang kalau dompetnya jatuh, mungkin lantai rumahnya langsung
mengalami inflasi.
Persoalannya berkaitan dengan utang piutang dan transaksi
senilai 28 juta dolar AS pada 1999. Tahun itu, sebagian rakyat masih sibuk main
kelereng, mereka sudah berurusan dengan dolar. Sekarang, 27 tahun kemudian,
masalahnya masih menjadi drama. Anak yang lahir saat transaksi itu terjadi
sudah bisa punya anak, tetapi urusannya belum tentu tamat.
Kalau dijadikan sinetron, judulnya Dolar Membawa Petaka.
Episode pertama 1999, episode terbaru 2026. Netflix kalah! Bedanya, Netflix
punya skenario, sedangkan drama ini setiap hari bisa menghadirkan kejutan baru.
Babah Alun ikut menyiram bensin ke api lewat media sosial.
Ia menyebut dirinya “Wantini” dan menyindir lawannya dengan istilah
“odong-odong tukang bohong”. Alamak, HT digelarinya odong-odong.
Ini anggota Wantimpres atau peserta lomba pantun tingkat
kecamatan? Presiden punya Dewan Pertimbangan, netizen punya bahan tertawaan.
Saya membayangkan kamus bahasa Indonesia sampai membuka halaman baru,
odong-odong, kendaraan anak-anak; tukang bohong, profesi yang lowongan kerjanya
selalu tersedia.
Hary Tanoe pun tidak tinggal diam. Ia merasa tuduhan
terhadap dirinya merupakan fitnah keji dan menyebut lawannya tidak mengerti
apa-apa tetapi sok tahu. Lengkap sudah! Yang satu merasa lawannya pembohong,
yang lain menilai lawannya sok tahu.
Kalau dua-duanya merasa paling benar, siapa yang salah?
Jangan-jangan nanti polisi harus memanggil dukun untuk mencari tersangka di
alam gaib.
Yang bikin tambah menarik, urusan saham ikut meramaikan
pesta. Setelah Babah Alun dilantik menjadi Wantimpres, saham perusahaannya
disebut naik 5,80 persen, sedangkan saham bank milik Hary Tanoe disebut turun
9,68 persen.
Waduh! Grafik saham seperti ikut masuk gelanggang. Yang
satu naik, yang lain turun. Kalau grafik bisa bicara, mungkin ia akan berkata,
“Saya cuma bergerak, jangan seret saya ke urusan mantan teman!”
Tetapi catat, pergerakan saham tidak otomatis membuktikan
pelantikan atau perseteruan sebagai penyebabnya. Pasar punya banyak faktor.
Jangan sampai investor membeli saham berdasarkan drama, lalu menjual rumah
karena salah membaca grafik.
Sekarang polisi harus menangani dua laporan tersebut secara
profesional. Pekerjaannya bukan menentukan siapa paling kaya, siapa paling
terkenal, atau siapa paling jago menyindir. Tugasnya memeriksa bukti dan
memproses perkara sesuai hukum.
Nuan bayangkan petugas sedang memeriksa dokumen transaksi
1999. Berkas datang bertumpuk, pengacara berdatangan, telepon berdering. Polisi
mungkin ingin bertanya, “Pak, bisa tidak masalah ini diselesaikan sebelum saya
pensiun?”
Sebab, kalau rakyat kecil berseteru, sering kali proses
hukum terasa seperti kereta ekspres. Ketika orang berpengaruh berhadapan,
publik berharap keretanya tidak mendadak berubah menjadi odong-odong.
Inilah persoalan sesungguhnya. Hukum harus membuktikan, 28
juta dolar AS tidak lebih berharga dari keadilan, dan jabatan tidak membuat
siapa pun kebal dari pemeriksaan.
Saya usulkan keduanya bertemu di warung kopi. Pesan dua
mangkuk bakso, tiga piring kerupuk, lalu bicarakan baik-baik.
Kalau masih marah, tambah sambal. Kalau masih saling
sindir, suruh cuci mangkuk bersama.
Tetapi kalau setelah 27 tahun masih berantem juga, saya
curiga yang perlu diperiksa bukan cuma dokumen transaksi, melainkan daya tahan
gengsi manusia.
Rakyat sudah pusing memikirkan mengirup asap karhutla.
Jangan tambah pusing dengan drama oligarki! Untungnya, rakyat kecil menikmati
tontonan gratis ini sambil seruput Koptagul, wak. ●
Sumber
:
https://hatipena.com/artikel-opini/dua-oligarki-berantem-saling-lapor-mungkin-polisi-bingung/.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar