Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Jejak Diplomasi Subandrio di London dan Moskow

Daniel Ahmad Fajri :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio membuka kantor perwakilan di London, Inggris, untuk menyiarkan berita soal Indonesia yang belum lama merdeka.

 

·      Ia membangun kedekatan dengan pemimpin monarki Inggris, Ratu Elizabeth II, yang kelak mengirimkan keberatan atas vonis mati terhadap Subandrio.

 

·      Subandrio menjalin relasi dengan Uni Soviet yang tengah meluaskan pengaruh ke negara-negara yang bukan sekutu blok Barat.

 

PEKERJAAN pertama Rizal Sukma ketika belum lama tiba di London sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris pada awal 2016 adalah memperpanjang masa sewa gedung Kedutaan Besar RI. Kantor kedutaan itu milik seorang tuan tanah yang berkontrak dengan Subandrio, Duta Besar Indonesia untuk Inggris yang pertama. Masa peminjaman gedung yang berdiri di Grosvenor Square—10 menit bersepeda dari Istana Buckingham—itu akan habis pada 2017.

 

Rizal bercerita, pemilik gedung tak ingin melanjutkan perjanjian sewa yang diteken Subandrio pada 1950. “Mereka memberikan sebuah penilaian atas kondisi gedung dan hendak menjatuhkan denda kepada kami sebagai penyewa,” katanya di Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Selasa, 15 September 2026.

 

Rizal bersama stafnya lantas menyisir arsip yang tersimpan di kantor kedutaan. Dokumen yang mereka cari adalah kesepakatan sewa yang berumur lebih dari 70 tahun. Rizal menemukan ada satu rangkap berkas yang menerangkan isi kontrak gedung Kedutaan Besar Indonesia.

 

Salah satu isi perjanjian itu adalah pemerintah Indonesia, yang diwakili Subandrio, wajib mengembalikan bentuk dan kondisi bangunan seperti sedia kala ketika masa peminjaman berakhir. Menurut Rizal, klausul itu yang membuat pemilik properti mengajukan penilaian dan menuntut denda. Alasan lain, tuan tanah keberatan terhadap tarif sewa gedung yang tak berubah sejak era Subandrio.

 

Dokumen kontrak, Rizal menerangkan, memuat biaya sewa gedung empat lantai hanya sebesar 1.000 pound sterling per tahun. Dengan kurs saat ini, ongkos pinjam gedung itu sekitar Rp 23,7 juta. Harganya sangat miring untuk properti di Distrik Mayfair, kawasan premium di jantung London. Kontrak itu tak pernah mendapat adendum sehingga ongkosnya tetap 1.000 pound selama puluhan tahun. “Kesepakatan itu merupakan simbol bahwa Subandrio bisa membuat landlord bersimpati terhadap perjuangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan,” ujar doktor lulusan London School of Economics and Political Science di Inggris itu.

 

Menurut Rizal, keluarga pemilik properti meminta peninjauan ulang kontrak dan mengajukan biaya sewa yang baru. Waktu itu mereka juga menetapkan denda sewa sebesar 4 juta pound atau sekitar Rp 94 miliar. Mantan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies itu keberatan terhadap proposal yang baru dan mengancam pemilik properti akan memperkarakan perjanjian sewa tersebut ke pengadilan.

 

Sengketa sewa gedung itu akhirnya selesai setelah pemilik bangunan sepakat menerima pembayaran denda dari pemerintah Indonesia sebesar 1,2 juta pound atau setara dengan Rp 28,4 miliar. Rizal meminta advis Jakarta untuk memindahkan kantor kedutaan di London.

 

Kata Rizal, Presiden Joko Widodo memutuskan menghentikan kontrak dan membeli bangunan yang berjarak tempuh 12 menit berjalan kaki dari Menara Big Ben. “Gedung lama yang disewa Subandrio juga sudah tua, lukisan di plafon pudar, dan atapnya pernah diplester,” tuturnya.

 

Duta Besar Indonesia untuk Inggris 2008-2011, Yuri Octavian Thamrin, menyatakan gedung yang disewa Subandrio sudah usang setelah puluhan tahun menjadi markas diplomatik. Pihak kedutaan nyaris tak pernah mengecat ulang tembok karena ongkos renovasi yang menguras kantong. “Saya sempat mengerahkan kontraktor untuk mengecat karena ada dana dari Jakarta,” ujarnya.

 

Subandrio berdinas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Inggris pada 1950-1954. Ganis Harsono, yang membantu Subandrio sebagai asisten Atase Pers Kedutaan Indonesia untuk Inggris, mengatakan misi utama Subandrio adalah mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia. Inggris menjadi prioritas karena menjadi salah satu pendiri Blok Barat dan sekutu utama Amerika Serikat seusai Perang Dunia II.

 

Ganis dalam memoarnya yang berjudul Cakrawala Politik Era Sukarno menyatakan Subandrio berkawan dengan tokoh sosialis di Inggris yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Salah satunya Kingsley Martin, redaktur The New Statesman and Nation—majalah politik dan kebudayaan di Inggris.

 

Ganis bercerita dalam memoarnya, Indonesia berutang budi kepada istri Martin, Dorothy Woodman. Woodman mengajak para kritikus seni kawakan hadir dan memberikan penilaian saat Subandrio menggelar pameran lukisan karya Affandi. Woodman juga mengajak bintang film Derrick de Marney membantu publisitas pentas tari Bali Night dari maestro seni Ni Gusti Raka, yang mengesankan. Pengakuan atas seniman Indonesia itu membantu mengenalkan Republik yang baru berdiri kepada masyarakat Inggris.

 

Meski demikian, Subandrio tetap dibantu istri pertamanya, Hurustiati, yang menjabat Atase Kebudayaan. “Dia gesit dan pintar sehingga saya hanya menjadi embel-embel dalam kegiatan,” tulis Ganis dalam memoarnya.

 

Dalam buku Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio bercerita bahwa penugasannya ke London terjadi secara tiba-tiba. Pada 1946, Sukarno mengangkatnya tanpa melalui proses rekrutmen diplomat. Ia juga tak punya latar pendidikan diplomat karena merupakan lulusan kedokteran dari Geneeskundige Hoogeschool te Batavia. “Jumlah manusianya mungkin tak begitu banyak,” katanya.

 

Jabatan pertama Subandrio di Inggris adalah “Wakil Pemerintah Indonesia”. Ia tak langsung menyandang status duta besar karena Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure. Subandrio mula-mula membuka Indonesian Information Office atau Kantor Penerangan Indonesia di Rutland Gate, Kensington, London, pada 1947. Kantor itu menjadi cikal bakal misi diplomatik di Inggris sebelum berpindah ke gedung sewa di Grosvenor Square.

 

Diplomat Soedjatmoko Mangoendiningrat, Kuasa Usaha Indonesia untuk Inggris yang bertugas pada 1950, mengatakan Kantor Penerangan bekerja menerbitkan berita-berita Indonesia. Subandrio juga membuka jaringan ke kantor Kementerian Luar Negeri Inggris.

 

Menurut Soedjatmoko, Subandrio mengenal Tom Atkinson sejak mendirikan Kantor Penerangan. Atkinson merupakan tentara Royal Air Force yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang di bawah komando pasukan sekutu South East Asia Command pada 1945. Ia belakangan menjadi salah satu penyelia naskah pidato berbahasa Inggris yang akan dibacakan Sukarno.

 

Soedjatmoko, yang pernah bertemu dengan Atkinson di Jakarta, mengatakan Atkinson juga pernah membantu penerbitan surat kabar The Independent dan menyebarkannya di Indonesia. “Kantor Subandrio di London mulanya bukan markas diplomatik,” tutur Soedjatmoko dalam buku Bunga Rampai: Kenangan dalam Dinas Luar Negeri (Suka Duka Napak Tilas).

 

Chris Moorhouse asal Inggris menulis biografi sejarah tentang Tom Atkinson yang berjudul Merdeka: Untold Story of Indonesia's Fight for Freedom. Buku tersebut memuat penuturan langsung Atkinson, yang penggalannya dibagikan Moorhouse dalam sebuah artikel di The Jakarta Post pada 25 Agustus 2020. Dalam karya tersebut, Atkinson mengungkapkan bahwa dia berperan dalam penerbitan buletin berita Indonesia di London di bawah naungan kantor berita Antara.

 

Sebagaimana ditulis Moorhouse, Atkinson mulai rajin menerbitkan buletin mengenai Indonesia saat Subandrio berdinas di London. Mereka mempublikasikan buletin baru bernama Indonesian Information dengan stempel Kantor Penerangan. Mereka awalnya menggunakan kantor dan fasilitas milik India League—organisasi pergerakan yang menuntut kemerdekaan India dari Inggris. Pendiri India League, Krishna Menon, mengizinkan kantor itu dipakai Atkinson dan Subandrio. Subandrio tak pernah mengintervensi urusan editorial meski punya akses terhadap pendanaan buletin.

 

Bagi Subandrio, tak ada perbedaan berarti ihwal status diplomatik baik ketika masih menjadi Wakil Pemerintah Indonesia maupun setelah resmi menjabat Duta Besar Indonesia untuk Inggris. Namun, Subandrio mengungkapkan, sambutan pemerintah Inggris makin semarak setelah ia diangkat menjadi duta besar. Undangan dari Kerajaan Inggris untuk menghadiri upacara kerajaan mulai berdatangan.

 

Invitasi dari Kerajaan Inggris itu menjadi pintu masuk Subandrio untuk dekat dengan Ratu Elizabeth II, yang mangkat pada 2022. Subandrio punya kesempatan bertemu dengan penguasa monarki Inggris itu. Relasi diplomatik itu belakangan menyelamatkan Subandrio dari regu tembak setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G-30-S).

 

Mahkamah Militer Luar Biasa memvonis Subandrio dengan hukuman mati karena terlibat G-30-S meski bukti dalam persidangan hampa. Ratu Elizabeth II kemudian mengirim kawat diplomatik yang meminta pemerintah Orde Baru menganulir vonis mati untuk pria yang lahir di Malang, Jawa Timur, itu.

 

Para duta besar yang berdinas di London memang punya kedekatan khusus dengan Ratu Elizabeth II. Duta Besar Indonesia untuk Inggris 2016-2020, Rizal Sukma, menyebutkan Kerajaan Inggris memiliki tradisi mengundang semua duta besar negara sahabat ke Istana Buckingham sedikitnya dua kali dalam setahun. Undangan tersebut biasanya diberikan pada musim panas serta saat resepsi diplomatik yang diselenggarakan setiap akhir tahun. “Duta besar berinteraksi langsung dengan Ratu untuk ramah tamah,” ujarnya.

 

Juru bicara Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Marzia Firani, mengatakan aktivitas Subandrio di London berperan penting dalam pembangunan hubungan kedua negara pada masa awal kemerdekaan Indonesia. “Kontribusi Subandrio menjadi bagian penting dari sejarah kemitraan antara Indonesia dan Kerajaan Inggris hingga saat ini,” katanya pada Kamis, 24 September 2026.

 

Setelah menempati posnya di London sekitar tujuh tahun, Subandrio dipindahkan Bung Karno ke Moskow. Ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet mulai 1954. Seperti halnya di London, Subandrio juga menjadi perintis alias duta besar pertama di Moskow.

 

Sigit Aris Prasetyo, diplomat Kementerian Luar Negeri yang mengkaji diplomasi era Sukarno dan membukukannya dalam karya berjudul Dunia dalam Genggaman Bung Karno, mengatakan Sukarno menugasi Subandrio membuka relasi dengan negara di luar Blok Barat. Menurut Sigit, pemerintah Orde Lama berupaya mencari dukungan dalam soal Irian Barat.

 

Hasil Konferensi Meja Bundar pada 1949 menyatakan wilayah Irian Barat tetap dikuasai Belanda. Negeri Kincir Angin waktu itu mendapat dukungan politik negara-negara dari Blok Barat. Karena itu, Sukarno menginginkan Indonesia menjalin hubungan lebih intens dengan negara yang tak menjadi sekutu Barat.

 

Ibarat tumbu ketemu tutup, Uni Soviet yang dipimpin Nikita Khrushchev juga tengah membenahi politik luar negeri seusai era Joseph Stalin. Menurut Sigit, Soviet mulai merangkul negara yang dianggap bukan bagian Blok Barat, termasuk Indonesia, pada masa Khrushchev. “Dua kepentingan bertemu,” ujar Sigit di Pejambon, Jakarta Pusat, pada Kamis, 17 September 2026.

 

Peran utama Subandrio di Soviet adalah berjejaring dan mengenalkan Indonesia kepada para pejabat di Moskow, termasuk Khrushchev. Mengutip memoar Khrushchev, portal berita Russia Beyond dalam artikel yang terbit pada 11 Agustus 2018 menuliskan bahwa Subandrio acap menyanyikan lagu berbahasa Rusia dalam resepsi diplomat yang digelar pemerintah Uni Soviet. “Kami betul-betul menghormati Subandrio dan Sukarno,” tutur Khrushchev.

 

Subandrio bertugas di Moskow selama dua tahun. Ia pulang ke Jakarta untuk menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri. Duta Besar Indonesia untuk Rusia 2008-2012, Hamid Awaludin, menjelaskan bahwa ia belum menemukan dokumen berisi kesepakatan yang signifikan antara Indonesia dan Soviet pada era Subandrio. Hamid mengatakan Subandrio hanya menjalankan visi “bebas aktif” yang dicetuskan Sukarno. “Peran dia tak lebih dari loyalis sekaligus operator pelaksana kebijakan luar negeri Sukarno,” kata Hamid pada Senin, 21 September 2026.

 

Memorandum intelijen Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) pada 13 Desember 1965 merekam relasi Subandrio dengan Sukarno dalam kerangka diplomatik. CIA menuliskan bahwa hubungan keduanya bukan sekadar relasi atasan dengan bawahan. “Subandrio memperkuat keyakinan Sukarno,” tulis dokumen rahasia CIA yang dibuka ke publik pada Desember 2002 itu. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/dubes-subandrio-inggris-ratu-elizabeth-2298589

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar