|
Jejak
Diplomasi Subandrio di London dan Moskow Daniel Ahmad Fajri : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Subandrio membuka kantor perwakilan di
London, Inggris, untuk menyiarkan berita soal Indonesia yang belum lama
merdeka. · Ia membangun kedekatan dengan pemimpin
monarki Inggris, Ratu Elizabeth II, yang kelak mengirimkan keberatan atas
vonis mati terhadap Subandrio. · Subandrio menjalin relasi dengan Uni
Soviet yang tengah meluaskan pengaruh ke negara-negara yang bukan sekutu blok
Barat. PEKERJAAN
pertama Rizal Sukma ketika belum lama tiba di London sebagai Duta Besar
Republik Indonesia untuk Inggris pada awal 2016 adalah memperpanjang masa
sewa gedung Kedutaan Besar RI. Kantor kedutaan itu milik seorang tuan tanah
yang berkontrak dengan Subandrio, Duta Besar Indonesia untuk Inggris yang
pertama. Masa peminjaman gedung yang berdiri di Grosvenor Square—10 menit
bersepeda dari Istana Buckingham—itu akan habis pada 2017. Rizal
bercerita, pemilik gedung tak ingin melanjutkan perjanjian sewa yang diteken
Subandrio pada 1950. “Mereka memberikan sebuah penilaian atas kondisi gedung
dan hendak menjatuhkan denda kepada kami sebagai penyewa,” katanya di Tanah
Abang, Jakarta Pusat, pada Selasa, 15 September 2026. Rizal
bersama stafnya lantas menyisir arsip yang tersimpan di kantor kedutaan.
Dokumen yang mereka cari adalah kesepakatan sewa yang berumur lebih dari 70
tahun. Rizal menemukan ada satu rangkap berkas yang menerangkan isi kontrak
gedung Kedutaan Besar Indonesia. Salah
satu isi perjanjian itu adalah pemerintah Indonesia, yang diwakili Subandrio,
wajib mengembalikan bentuk dan kondisi bangunan seperti sedia kala ketika
masa peminjaman berakhir. Menurut Rizal, klausul itu yang membuat pemilik
properti mengajukan penilaian dan menuntut denda. Alasan lain, tuan tanah
keberatan terhadap tarif sewa gedung yang tak berubah sejak era Subandrio. Dokumen
kontrak, Rizal menerangkan, memuat biaya sewa gedung empat lantai hanya
sebesar 1.000 pound sterling per tahun. Dengan kurs saat ini, ongkos pinjam
gedung itu sekitar Rp 23,7 juta. Harganya sangat miring untuk properti di
Distrik Mayfair, kawasan premium di jantung London. Kontrak itu tak pernah
mendapat adendum sehingga ongkosnya tetap 1.000 pound selama puluhan tahun.
“Kesepakatan itu merupakan simbol bahwa Subandrio bisa membuat landlord
bersimpati terhadap perjuangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan,” ujar
doktor lulusan London School of Economics and Political Science di Inggris
itu. Menurut
Rizal, keluarga pemilik properti meminta peninjauan ulang kontrak dan
mengajukan biaya sewa yang baru. Waktu itu mereka juga menetapkan denda sewa
sebesar 4 juta pound atau sekitar Rp 94 miliar. Mantan Direktur Eksekutif
Centre for Strategic and International Studies itu keberatan terhadap
proposal yang baru dan mengancam pemilik properti akan memperkarakan
perjanjian sewa tersebut ke pengadilan. Sengketa
sewa gedung itu akhirnya selesai setelah pemilik bangunan sepakat menerima
pembayaran denda dari pemerintah Indonesia sebesar 1,2 juta pound atau setara
dengan Rp 28,4 miliar. Rizal meminta advis Jakarta untuk memindahkan kantor
kedutaan di London. Kata
Rizal, Presiden Joko Widodo memutuskan menghentikan kontrak dan membeli
bangunan yang berjarak tempuh 12 menit berjalan kaki dari Menara Big Ben.
“Gedung lama yang disewa Subandrio juga sudah tua, lukisan di plafon pudar,
dan atapnya pernah diplester,” tuturnya. Duta
Besar Indonesia untuk Inggris 2008-2011, Yuri Octavian Thamrin, menyatakan
gedung yang disewa Subandrio sudah usang setelah puluhan tahun menjadi markas
diplomatik. Pihak kedutaan nyaris tak pernah mengecat ulang tembok karena
ongkos renovasi yang menguras kantong. “Saya sempat mengerahkan kontraktor
untuk mengecat karena ada dana dari Jakarta,” ujarnya. Subandrio
berdinas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Inggris pada 1950-1954. Ganis
Harsono, yang membantu Subandrio sebagai asisten Atase Pers Kedutaan
Indonesia untuk Inggris, mengatakan misi utama Subandrio adalah
mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia. Inggris menjadi prioritas karena
menjadi salah satu pendiri Blok Barat dan sekutu utama Amerika Serikat seusai
Perang Dunia II. Ganis
dalam memoarnya yang berjudul Cakrawala Politik Era Sukarno menyatakan
Subandrio berkawan dengan tokoh sosialis di Inggris yang bersimpati terhadap
perjuangan Indonesia. Salah satunya Kingsley Martin, redaktur The New
Statesman and Nation—majalah politik dan kebudayaan di Inggris. Ganis
bercerita dalam memoarnya, Indonesia berutang budi kepada istri Martin,
Dorothy Woodman. Woodman mengajak para kritikus seni kawakan hadir dan
memberikan penilaian saat Subandrio menggelar pameran lukisan karya Affandi.
Woodman juga mengajak bintang film Derrick de Marney membantu publisitas
pentas tari Bali Night dari maestro seni Ni Gusti Raka, yang mengesankan.
Pengakuan atas seniman Indonesia itu membantu mengenalkan Republik yang baru
berdiri kepada masyarakat Inggris. Meski
demikian, Subandrio tetap dibantu istri pertamanya, Hurustiati, yang menjabat
Atase Kebudayaan. “Dia gesit dan pintar sehingga saya hanya menjadi
embel-embel dalam kegiatan,” tulis Ganis dalam memoarnya. Dalam
buku Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio bercerita bahwa penugasannya ke
London terjadi secara tiba-tiba. Pada 1946, Sukarno mengangkatnya tanpa
melalui proses rekrutmen diplomat. Ia juga tak punya latar pendidikan
diplomat karena merupakan lulusan kedokteran dari Geneeskundige Hoogeschool
te Batavia. “Jumlah manusianya mungkin tak begitu banyak,” katanya. Jabatan
pertama Subandrio di Inggris adalah “Wakil Pemerintah Indonesia”. Ia tak
langsung menyandang status duta besar karena Perserikatan Bangsa-Bangsa belum
mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure. Subandrio mula-mula membuka
Indonesian Information Office atau Kantor Penerangan Indonesia di Rutland
Gate, Kensington, London, pada 1947. Kantor itu menjadi cikal bakal misi
diplomatik di Inggris sebelum berpindah ke gedung sewa di Grosvenor Square. Diplomat
Soedjatmoko Mangoendiningrat, Kuasa Usaha Indonesia untuk Inggris yang
bertugas pada 1950, mengatakan Kantor Penerangan bekerja menerbitkan
berita-berita Indonesia. Subandrio juga membuka jaringan ke kantor
Kementerian Luar Negeri Inggris. Menurut
Soedjatmoko, Subandrio mengenal Tom Atkinson sejak mendirikan Kantor
Penerangan. Atkinson merupakan tentara Royal Air Force yang bertugas melucuti
senjata tentara Jepang di bawah komando pasukan sekutu South East Asia
Command pada 1945. Ia belakangan menjadi salah satu penyelia naskah pidato
berbahasa Inggris yang akan dibacakan Sukarno. Soedjatmoko,
yang pernah bertemu dengan Atkinson di Jakarta, mengatakan Atkinson juga
pernah membantu penerbitan surat kabar The Independent dan menyebarkannya di
Indonesia. “Kantor Subandrio di London mulanya bukan markas diplomatik,”
tutur Soedjatmoko dalam buku Bunga Rampai: Kenangan dalam Dinas Luar Negeri
(Suka Duka Napak Tilas). Chris
Moorhouse asal Inggris menulis biografi sejarah tentang Tom Atkinson yang
berjudul Merdeka: Untold Story of Indonesia's Fight for Freedom. Buku tersebut
memuat penuturan langsung Atkinson, yang penggalannya dibagikan Moorhouse
dalam sebuah artikel di The Jakarta Post pada 25 Agustus 2020. Dalam karya
tersebut, Atkinson mengungkapkan bahwa dia berperan dalam penerbitan buletin
berita Indonesia di London di bawah naungan kantor berita Antara. Sebagaimana
ditulis Moorhouse, Atkinson mulai rajin menerbitkan buletin mengenai
Indonesia saat Subandrio berdinas di London. Mereka mempublikasikan buletin
baru bernama Indonesian Information dengan stempel Kantor Penerangan. Mereka
awalnya menggunakan kantor dan fasilitas milik India League—organisasi
pergerakan yang menuntut kemerdekaan India dari Inggris. Pendiri India
League, Krishna Menon, mengizinkan kantor itu dipakai Atkinson dan Subandrio.
Subandrio tak pernah mengintervensi urusan editorial meski punya akses
terhadap pendanaan buletin. Bagi
Subandrio, tak ada perbedaan berarti ihwal status diplomatik baik ketika
masih menjadi Wakil Pemerintah Indonesia maupun setelah resmi menjabat Duta
Besar Indonesia untuk Inggris. Namun, Subandrio mengungkapkan, sambutan
pemerintah Inggris makin semarak setelah ia diangkat menjadi duta besar.
Undangan dari Kerajaan Inggris untuk menghadiri upacara kerajaan mulai
berdatangan. Invitasi
dari Kerajaan Inggris itu menjadi pintu masuk Subandrio untuk dekat dengan
Ratu Elizabeth II, yang mangkat pada 2022. Subandrio punya kesempatan bertemu
dengan penguasa monarki Inggris itu. Relasi diplomatik itu belakangan
menyelamatkan Subandrio dari regu tembak setelah terjadinya peristiwa Gerakan
30 September 1965 (G-30-S). Mahkamah
Militer Luar Biasa memvonis Subandrio dengan hukuman mati karena terlibat
G-30-S meski bukti dalam persidangan hampa. Ratu Elizabeth II kemudian
mengirim kawat diplomatik yang meminta pemerintah Orde Baru menganulir vonis
mati untuk pria yang lahir di Malang, Jawa Timur, itu. Para
duta besar yang berdinas di London memang punya kedekatan khusus dengan Ratu
Elizabeth II. Duta Besar Indonesia untuk Inggris 2016-2020, Rizal Sukma, menyebutkan
Kerajaan Inggris memiliki tradisi mengundang semua duta besar negara sahabat
ke Istana Buckingham sedikitnya dua kali dalam setahun. Undangan tersebut
biasanya diberikan pada musim panas serta saat resepsi diplomatik yang
diselenggarakan setiap akhir tahun. “Duta besar berinteraksi langsung dengan
Ratu untuk ramah tamah,” ujarnya. Juru
bicara Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Marzia Firani, mengatakan aktivitas
Subandrio di London berperan penting dalam pembangunan hubungan kedua negara
pada masa awal kemerdekaan Indonesia. “Kontribusi Subandrio menjadi bagian
penting dari sejarah kemitraan antara Indonesia dan Kerajaan Inggris hingga
saat ini,” katanya pada Kamis, 24 September 2026. Setelah
menempati posnya di London sekitar tujuh tahun, Subandrio dipindahkan Bung
Karno ke Moskow. Ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet mulai 1954.
Seperti halnya di London, Subandrio juga menjadi perintis alias duta besar
pertama di Moskow. Sigit
Aris Prasetyo, diplomat Kementerian Luar Negeri yang mengkaji diplomasi era
Sukarno dan membukukannya dalam karya berjudul Dunia dalam Genggaman Bung
Karno, mengatakan Sukarno menugasi Subandrio membuka relasi dengan negara di
luar Blok Barat. Menurut Sigit, pemerintah Orde Lama berupaya mencari
dukungan dalam soal Irian Barat. Hasil
Konferensi Meja Bundar pada 1949 menyatakan wilayah Irian Barat tetap
dikuasai Belanda. Negeri Kincir Angin waktu itu mendapat dukungan politik
negara-negara dari Blok Barat. Karena itu, Sukarno menginginkan Indonesia
menjalin hubungan lebih intens dengan negara yang tak menjadi sekutu Barat. Ibarat
tumbu ketemu tutup, Uni Soviet yang dipimpin Nikita Khrushchev juga tengah
membenahi politik luar negeri seusai era Joseph Stalin. Menurut Sigit, Soviet
mulai merangkul negara yang dianggap bukan bagian Blok Barat, termasuk
Indonesia, pada masa Khrushchev. “Dua kepentingan bertemu,” ujar Sigit di
Pejambon, Jakarta Pusat, pada Kamis, 17 September 2026. Peran
utama Subandrio di Soviet adalah berjejaring dan mengenalkan Indonesia kepada
para pejabat di Moskow, termasuk Khrushchev. Mengutip memoar Khrushchev,
portal berita Russia Beyond dalam artikel yang terbit pada 11 Agustus 2018
menuliskan bahwa Subandrio acap menyanyikan lagu berbahasa Rusia dalam
resepsi diplomat yang digelar pemerintah Uni Soviet. “Kami betul-betul
menghormati Subandrio dan Sukarno,” tutur Khrushchev. Subandrio
bertugas di Moskow selama dua tahun. Ia pulang ke Jakarta untuk menjadi
Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri. Duta Besar Indonesia untuk Rusia
2008-2012, Hamid Awaludin, menjelaskan bahwa ia belum menemukan dokumen
berisi kesepakatan yang signifikan antara Indonesia dan Soviet pada era
Subandrio. Hamid mengatakan Subandrio hanya menjalankan visi “bebas aktif”
yang dicetuskan Sukarno. “Peran dia tak lebih dari loyalis sekaligus operator
pelaksana kebijakan luar negeri Sukarno,” kata Hamid pada Senin, 21 September
2026. Memorandum
intelijen Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) pada 13 Desember 1965
merekam relasi Subandrio dengan Sukarno dalam kerangka diplomatik. CIA
menuliskan bahwa hubungan keduanya bukan sekadar relasi atasan dengan
bawahan. “Subandrio memperkuat keyakinan Sukarno,” tulis dokumen rahasia CIA
yang dibuka ke publik pada Desember 2002 itu. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/dubes-subandrio-inggris-ratu-elizabeth-2298589 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar