|
PEMBUN*HAN MASSAL DI GAZA SEBAGAI KERJA RUTIN -
Inspirasi dari Film NAZA (2026) Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 17 Oktober 2026
|
Seorang
ibu di Gaza membangunkan anaknya menjelang subuh. Bukan untuk bersekolah.
Suara pesawat terdengar dari kejauhan. Malam belum berakhir, tetapi ketakutan
telah kembali. Anak
itu bertanya apakah rumah mereka akan selamat. Sang ibu memeluknya erat. Ia
tidak mempunyai jawaban. Hanya dua tangan yang berusaha menjadi benteng
terakhir. Di
tempat lain, seseorang menatap layar komputer. Terlihat koordinat, identitas
sasaran, dan perkiraan korban. Tidak terdengar tangisan. Hanya keputusan yang
menunggu persetujuan. Satu
keluarga berharap dapat menyambut matahari. Sementara itu, dalam sebuah
sistem militer, nasib manusia dapat berubah menjadi perhitungan yang terlihat
seperti pekerjaan administratif. Adegan
pembuka ini ilustratif. Namun, pertanyaannya nyata: bagaimana kehidupan
manusia dapat diperlakukan sebagai angka, sementara kemungkinan kematiannya
diproses seperti pekerjaan rutin? -000- Ada
film yang selesai ketika layar bioskop menjadi gelap. Ada pula film yang
justru dimulai setelah penonton pulang, membawa pertanyaan yang mengganggu
tidurnya. NAZA
(2026) termasuk jenis kedua. Dokumenter ini tidak hanya memperlihatkan
kehancuran Gaza, tetapi menyelidiki bagaimana keputusan yang menghasilkan
kehancuran tersebut dibuat. Saya
menontonnya di Brisbane, Australia, Oktober 2026. Sebelumnya, berkali-kali
saya mencari film tersebut melalui internet dan berbagai layanan streaming,
tetapi belum berhasil menemukannya. Saya
datang ke Brisbane menghadiri konferensi energi internasional APOGCE. Di sela
kegiatan, sebuah poster bioskop menarik perhatian. Ternyata NAZA sedang
diputar secara terbatas. Kesempatan
itu segera saya ambil. Setelah berhari-hari mendengarkan pembicaraan mengenai
kecerdasan buatan dalam industri energi, saya justru berhadapan dengan sisi
tergelap teknologi. Teknologi
dapat membantu mencegah kecelakaan industri dan menyelamatkan pekerja. Namun,
teknologi serupa juga dapat membantu menentukan sasaran serangan yang
membahayakan kehidupan keluarga. Kontras
itulah yang terus mengganggu saya. Persoalan terbesar peradaban ternyata
bukan sekadar seberapa cerdas mesin, melainkan seberapa manusiawi keputusan
yang dihasilkannya. -000- Film
berdurasi 80 menit ini disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua sineas
Israel yang sebelumnya turut membuat dokumenter pemenang Oscar, No Other Land. Abraham
memiliki latar jurnalistik investigatif, sedangkan Szor dikenal melalui
kekuatan visualnya. Keduanya pernah bekerja bersama sineas Palestina Basel
Adra dan Hamdan Ballal. Diproduksi
The Guardian bersama JW Films, dengan James Wilson sebagai salah satu
produser, film ini juga melibatkan Jonathan Glazer sebagai produser
eksekutif. Tidak
ada pemeran fiksi. Film menghadirkan kesaksian anonim 24 anggota militer dan
intelijen Israel mengenai operasi di Gaza, pengawasan digital, dan penentuan
sasaran. Pada
10 September 2026, NAZA diputar dalam kompetisi utama Festival Film Venesia.
Sambutannya luar biasa, dengan tepuk tangan berdiri selama sekitar 25 menit. Dua
hari kemudian, film tersebut memperoleh Special Jury Prize. Namun,
penghargaan internasional itu segera diikuti kontroversi politik yang sangat
keras di Israel. Perdana
Menteri Benjamin Netanyahu menuntut penyelidikan terhadap para narasumber.
Menteri Kebudayaan Miki Zohar bahkan menyerukan pencabutan kewarganegaraan
para pembuat film tersebut. Militer
Israel membantah tuduhan dokumenter. Karena itu, kesaksian yang belum
diverifikasi secara independen harus dibedakan dari fakta yang telah
dibuktikan melalui pemeriksaan terbuka. Namun,
penolakan resmi juga tidak otomatis membatalkan kesaksian. Justru masyarakat
beradab membutuhkan penyelidikan independen ketika tuduhan menyangkut
kematian warga sipil dalam skala besar. -000- Film
dibuka pada malam hari di atas gedung Tel Aviv. Lampu apartemen berkilauan.
Kehidupan berlangsung tenang, sementara kamera perlahan mendekati narasumber
yang disamarkan. Wajah
mereka tidak terlihat jelas. Suara mereka diubah. Namun, kesaksian mereka
membawa penonton memasuki ruang tempat keputusan mengenai hidup dan mati
diproses. Mereka
menjelaskan pengawasan digital, pengumpulan informasi, penggunaan algoritma,
serta prosedur persetujuan serangan terhadap orang-orang yang dianggap
memiliki hubungan dengan Hamas. Sinematografi
film ini justru kuat karena menahan diri. Tidak diperlukan ledakan
terus-menerus. Kadang penjelasan yang disampaikan dengan tenang jauh lebih
mengguncang daripada teriakan. Di
satu sisi layar, Tel Aviv berkilauan. Di sisi lain kesaksian, Gaza muncul
sebagai wilayah tempat keputusan yang tampak administratif dapat
menghancurkan kehidupan. Ironinya
terasa menusuk. Sebuah kota dapat menikmati malam yang damai, sementara
sistem yang bekerja di dalamnya ikut menentukan apakah kota lain memiliki
hari esok. -000- Bagian
paling mengguncang muncul ketika seorang narasumber mengisahkan persetujuan
serangan terhadap satu sasaran, meskipun perkiraan awal menunjukkan
kemungkinan kematian 500 warga sipil. Angka
tersebut merupakan klaim tentang potensi korban, bukan jumlah kematian yang
telah terbukti terjadi. Militer Israel secara tegas membantah bahwa
persetujuan demikian pernah diberikan. Namun,
kesaksian tersebut membuka persoalan moral yang mendasar. Bagaimana
kemungkinan hilangnya ratusan kehidupan dapat diperlakukan sebagai variabel
dalam proses pengambilan keputusan? Bayangkan
lima ratus nama tertulis dalam lembaran panjang. Setiap nama mempunyai masa
kecil, keluarga, kenangan, dan seseorang yang masih menyimpan harapan akan
kepulangannya. Komputer
sanggup menjumlahkan semuanya dalam sekejap. Tetapi tidak ada algoritma yang
mampu menghitung sepenuhnya kehancuran batin seorang ibu yang kehilangan
anaknya. Kesaksian
lain menggambarkan pembagian pekerjaan. Seseorang mengumpulkan informasi.
Orang berikutnya memeriksa sasaran. Pejabat lain memberikan persetujuan.
Operator kemudian menjalankan perintah. Setiap
orang bertanggung jawab atas bagian tertentu. Tetapi ketika rumah hancur,
akibatnya tidak terbagi menjadi bagian-bagian kecil sebagaimana tugas dalam
organisasi. Di
sinilah NAZA mencapai kekuatan intelektualnya. Film ini bukan hanya
mempertanyakan siapa yang menjatuhkan bom, tetapi bagaimana keseluruhan
sistem memungkinkan keputusan tersebut terjadi. Kejahatan
paling berbahaya bukan hanya ketika manusia kehilangan nurani, melainkan
ketika organisasi membuat kehilangan nurani terasa seperti profesionalisme. -000- Ada
tiga keistimewaan NAZA yang membuatnya melampaui dokumenter perang biasa.
Ketiganya menyentuh persoalan paling mendasar peradaban modern: manusia,
teknologi, dan organisasi. Pertama,
kamera diarahkan kepada mereka yang terlibat dalam mekanisme kekerasan.
Biasanya dokumenter perang memperlihatkan korban. NAZA justru menyelidiki
orang-orang di balik keputusan. Sebagian
narasumber tidak berbicara dengan kemarahan meledak-ledak. Mereka menjelaskan
prosedur, teknologi, dan kewenangan melalui bahasa profesional yang terdengar
seperti pembicaraan mengenai pekerjaan biasa. Di
situlah kengerian memperoleh bentuk baru. Kekejaman tidak selalu lahir dari
kebencian yang berteriak. Terkadang ia tumbuh dalam ketenangan orang yang
merasa menjalankan tugas. Pendekatan
tersebut sekaligus memiliki keterbatasan. Menurut pengamatan saya, pengalaman
langsung warga Palestina memperoleh ruang lebih kecil. Kesaksian pelaku harus
selalu dibaca bersama suara korban. Kedua,
NAZA memperlihatkan paradoks kecerdasan buatan. Mesin semakin mampu mengenali
pola dan mempercepat keputusan, tetapi kecepatan tidak dengan sendirinya
menghasilkan kebijaksanaan moral. Mesin
mungkin memperkirakan keberadaan seseorang berdasarkan data. Namun, mesin
tidak memahami makna kehilangan bagi seorang anak yang mendadak tumbuh tanpa
ayah dan ibunya. Bahaya
tidak hanya muncul ketika algoritma keliru. Bahaya juga lahir ketika manusia
berhenti mempertanyakan rekomendasi mesin karena menganggap perhitungannya
pasti objektif. Ketiga,
film ini membongkar kekuatan bahasa birokrasi. Judul NAZA berasal dari
istilah militer Ibrani nezek agavi, yang merujuk pada kerusakan kolateral. Istilah
tersebut terdengar teknis dan netral. Namun, di baliknya terdapat manusia
yang memiliki nama, keluarga, ingatan, dan masa depan yang mungkin tidak
pernah terwujud. Bagi
seorang ibu, kematian anak bukan kerusakan tambahan. Bagi seorang anak,
kehilangan ayah bukan konsekuensi sampingan, melainkan runtuhnya sebuah rumah
batin. Bahasa
diperlukan untuk menjelaskan kenyataan. Tetapi bahasa juga dapat
menyembunyikannya, terutama ketika penderitaan manusia diubah menjadi istilah
yang kehilangan wajah dan air mata. -000- Menonton
NAZA mengingatkan saya kepada Hannah Arendt, filsuf politik yang pada 1961
datang ke Yerusalem meliput persidangan Adolf Eichmann untuk majalah The New
Yorker. Eichmann
merupakan pejabat Nazi yang memainkan peran penting dalam deportasi orang
Yahudi menuju sistem penganiayaan dan pemusnahan selama Holocaust di bawah
pemerintahan Hitler. Dari
pengamatannya lahir buku Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of
Evil, diterbitkan Viking Press pada 1963, yang memicu perdebatan intelektual
panjang. Arendt
melihat seseorang yang menjelaskan tindakannya melalui bahasa kewajiban,
perintah, dan kepatuhan. Ia mempertanyakan bagaimana manusia dapat berhenti
memikirkan konsekuensi moral perbuatannya. Lahirlah
gagasan banality of evil, banalitas kejahatan. Kekejaman luar biasa dapat
berlangsung ketika orang-orang yang terlibat gagal menggunakan kemampuan
berpikir dan menilai secara moral. Namun,
banalitas tidak berarti kejahatan menjadi ringan. Eichmann dinyatakan
bersalah pada Desember 1961 dan dieksekusi pada 1962 atas keterlibatannya
dalam kejahatan Nazi. Penafsiran
Arendt kemudian dikritik. Sejarawan Bettina Stangneth menunjukkan bukti
komitmen ideologis antisemitisme Eichmann yang lebih mendalam daripada kesan
yang muncul dari persidangannya. Pelajaran
Arendt tetap penting. Kepatuhan tidak menggantikan nurani. Perintah atasan
tidak menghapus tanggung jawab seseorang untuk mempertanyakan akibat moral
tindakannya sendiri. -000- Pemikiran
itu menemukan perluasan dalam buku Zygmunt Bauman, Modernity and the
Holocaust, diterbitkan Cornell University Press pada 1989, yang menghubungkan
kekejaman dengan organisasi modern. Bauman
menunjukkan bahwa Holocaust bukan sekadar ledakan kebiadaban masa lalu.
Birokrasi, spesialisasi, dan teknologi modern juga dapat menjadi sarana
kekerasan terorganisasi. Satu
orang mengurus administrasi. Orang lain mengatur transportasi. Pejabat
berikutnya melaksanakan keputusan. Setiap bagian bekerja tanpa harus
menyaksikan penderitaan manusia secara keseluruhan. Pembagian
pekerjaan yang meningkatkan efisiensi juga dapat menciptakan jarak moral.
Seseorang merasa hanya menjalankan tugas, padahal seluruh rangkaian
menghasilkan kehancuran. Bauman
tidak menganggap modernitas pasti melahirkan kejahatan. Ia memperingatkan
bahwa organisasi modern membutuhkan pengawasan moral agar efisiensi tidak
berubah menjadi mesin penghancur kemanusiaan. Dua
buku tersebut menerangi NAZA dari arah berbeda. Arendt menjelaskan kegagalan
penilaian moral individu. Bauman memperlihatkan bagaimana organisasi
memperbesar akibat kegagalan tersebut. Tentu,
Holocaust dan perang Gaza memiliki sejarah, konteks, serta persoalan hukum
berbeda. Kesamaan mekanisme organisasi tidak berarti kedua peristiwa dapat
disamakan begitu saja. Namun,
keduanya menghadirkan pertanyaan universal: bagaimana manusia dapat ikut
menghasilkan penderitaan luar biasa ketika tanggung jawab pribadinya
tersembunyi di balik prosedur? -000- Di
sinilah saya menemukan persoalan yang semakin mendesak: teknologi mempercepat
kemampuan manusia mengambil keputusan, tetapi tidak otomatis mempercepat
kedewasaan moralnya. Dahulu,
birokrasi dapat memperlambat keputusan sekaligus mengaburkan tanggung jawab.
Kini, kecerdasan buatan memungkinkan keputusan dibuat semakin cepat,
sementara akuntabilitas justru semakin sulit ditelusuri. Saya
menyebut keadaan ini sebagai jurang tanggung jawab moral: jarak antara
kecepatan sebuah sistem menghasilkan keputusan dan kemampuan manusia
mempertanggungjawabkan akibatnya. Semakin
besar jurang tersebut, semakin berbahaya teknologi yang kita banggakan. Mesin
dapat mempercepat tindakan sebelum manusia sungguh-sungguh mempertimbangkan
siapa yang akan menanggung akibatnya. Dalam
pengalaman saya mengamati organisasi besar, persoalan tanggung jawab juga
muncul dalam bentuk berbeda. Keputusan melewati begitu banyak meja hingga
pemilik tanggung jawab akhirnya kabur. Tentu,
keputusan korporasi tidak dapat disamakan dengan operasi militer yang
mempertaruhkan nyawa. Tetapi keduanya mengingatkan pentingnya kejelasan
kewenangan dan tanggung jawab manusia. Organisasi
tidak cukup memiliki prosedur tertib. Ia membutuhkan orang-orang yang mampu
mempertanyakan tujuan, menimbang akibat, dan mengajukan keberatan meskipun
keputusan telah memperoleh persetujuan. Karena
itu, saya mengusulkan satu prinsip yang harus semakin penting pada zaman
kecerdasan buatan: Hak Moral untuk Mengatakan Tidak. Artinya,
setiap orang yang terlibat dalam keputusan berisiko tinggi harus memiliki
ruang nyata untuk menghentikan, mempertanyakan, atau meminta pemeriksaan
ulang atas keputusan tersebut. Hak
ini memerlukan perlindungan institusional. Keberatan yang disampaikan dengan
itikad baik harus dapat diperiksa secara independen, tanpa otomatis dianggap
sebagai pembangkangan terhadap organisasi. Namun,
hak menolak juga harus disertai kewajiban moral untuk menolak tindakan yang
nyata-nyata melanggar hukum. Nurani membutuhkan keberanian sekaligus
mekanisme pertanggungjawaban. Ukuran
kemajuan organisasi karenanya tidak cukup berupa kecepatan dan produktivitas.
Ia juga harus dinilai dari kemampuan mencegah keputusan yang secara moral
tidak dapat dibenarkan. Peradaban
membutuhkan mesin yang mampu mengatakan ya dengan cepat, tetapi lebih
membutuhkan manusia yang berani mengatakan tidak pada saat yang tepat. -000- Tentu,
ada argumen keamanan yang perlu diperhatikan. Israel menyatakan operasi
militernya bertujuan menghadapi Hamas setelah serangan 7 Oktober 2023 yang
menewaskan sekitar 1.200 orang. Serangan
tersebut juga mengakibatkan ratusan orang disandera. Perlindungan warga
negara merupakan kewajiban setiap pemerintah, termasuk Israel, dan tidak
boleh dipandang sebagai persoalan sepele. Namun,
kewajiban melindungi warga negara tidak menghapus hukum humaniter
internasional. Warga sipil tetap harus dilindungi, bahkan ketika operasi
militer ditujukan terhadap kelompok bersenjata. Hukum
perang mensyaratkan pembedaan sasaran, tindakan pencegahan, serta
proporsionalitas. Kerugian sipil yang diperkirakan berlebihan dibandingkan
keuntungan militer konkret dan langsung harus dihindari. Keberadaan
sasaran militer tidak otomatis membenarkan setiap serangan. Hukum menuntut
penilaian berdasarkan keadaan dan informasi yang tersedia ketika keputusan
tersebut dibuat. Hingga
Oktober 2026, laporan Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 74.000
warga Palestina meninggal sejak Oktober 2023, termasuk lebih dari 21.000 anak
menurut data yang dilaporkan. Angka
keseluruhan itu tidak memisahkan kombatan dan warga sipil secara lengkap.
Namun, skala penderitaannya menuntut perhatian moral dan pemeriksaan hukum
yang serius. Prinsip
ini universal. Kehidupan warga sipil Israel dan Palestina memiliki martabat
yang sama. Kejahatan terhadap satu kelompok tidak dapat membenarkan kejahatan
terhadap kelompok lain. -000- Sepulang
dari bioskop di Brisbane, yang paling mengganggu pikiran saya bukan semata
jumlah korban atau kecanggihan teknologi, melainkan ketenangan bahasa para
narasumber. Saya
teringat berbagai diskusi konferensi energi yang baru saya ikuti. Para ahli
berbicara penuh optimisme mengenai otomatisasi, kecerdasan buatan,
produktivitas, dan organisasi masa depan. Semua
itu menjanjikan kemajuan. Tetapi NAZA menghadirkan pertanyaan yang tidak
boleh dilupakan: kemajuan menuju apa, untuk siapa, dan dengan tanggung jawab
sebesar apa? Bagi
saya, kemajuan sejati bukan ketika mesin mampu mengambil keputusan tanpa manusia,
melainkan ketika manusia tetap sanggup mempertanggungjawabkan setiap
keputusan yang dibantu mesin. Bangsa
yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mempertahankan keamanannya.
Kebesarannya juga diuji melalui keberanian mengakui dan memeriksa kesalahan
yang dilakukan atas nama keamanan. Anak-anak
Gaza tidak meminta algoritma paling canggih. Mereka menginginkan pagi ketika
rumah masih berdiri, ibu masih memeluk mereka, dan sekolah kembali menjadi
tempat belajar. Pada
akhirnya, ukuran peradaban bukan hanya kecanggihan teknologi yang berhasil
diciptakannya, melainkan keberanian manusianya untuk menolak penggunaan
teknologi yang menghancurkan kehidupan. Sebab
peradaban tidak mulai runtuh ketika manusia menciptakan mesin yang mampu
membunuh, melainkan ketika nuraninya menganggap pembunuhan sebagai pekerjaan
rutin yang harus diselesaikan. ● REFERENSI 1.
Arendt, Hannah. Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil.
Viking Press, 1963. 2.
Bauman, Zygmunt. Modernity and the Holocaust. Cornell University Press, 1989. 3.
Stangneth, Bettina. Eichmann Before Jerusalem: The Unexamined Life of a Mass
Murderer. Alfred A. Knopf, 2014. 4.
La Biennale di Venezia. NAZA, Official Selection, 83rd Venice International
Film Festival, 2026. 5.
The Guardian. NAZA, dokumenter karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, 2026. 6.
Financial Times. How NAZA Lays Bare Israel’s Killing of Civilians in Gaza,
Oktober 2026. 7.
The Washington Post. What to Know About NAZA, a Documentary That Looks at
Israeli War Technology, Oktober 2026. 8.
Reuters. List of Winners at the 2026 Venice Film Festival, 12 September 2026. 9.
Kementerian Kesehatan Gaza. Laporan korban, 7 Oktober 2026. 10.
Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa, 1977, Pasal 51 dan 57. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar