|
Akhir Zaman Baru Ayu Utami : Bekerja di dunia sastra sebagai penulis,
kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas
Salihara |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
·
Demokrasi tak membuat Indonesia lebih
demokratis karena penguasanya dari zaman ke zaman sama saja, yakni oligarki. ·
Eropa setelah Perang Dunia I juga masuk
ke era gelap berikutnya menjelang Perang Dunia II. · Dunia seperti
sedang mengulang siklus yang sama ketika akal imitasi makin menyurutkan
eksisten kemanusiaan manusia. EROPA.
Seabad silam. Menjelang Perang Dunia II. Para cendekiawan merasakan awan
gelap menyelimuti benua itu. Mereka mengantisipasi akhir zaman dan datangnya
suatu era baru yang mungkin tak terperi. Sebutlah
dua filsuf di antara yang tidak meninggalkan Eropa sekalipun dipersekusi:
Edmund Husserl, seorang Yahudi Jerman yang kehilangan putranya dalam Perang
Dunia I, lalu juga kehilangan karier di bawah rezim Nazi; dan Nikolai
Berdyaev, seorang pemikir Rusia yang diusir pemerintah Soviet pimpinan
Stalin. Husserl menulis Krisis Ilmu Pengetahuan Eropa dan Fenomenologi
Transendental. Berdyaev menulis Abad Pertengahan Baru. Kritik mereka
diarahkan kepada rasionalitas modern yang menghasilkan perkembangan teknologi
yang justru membuahkan dehumanisasi. Tidakkah
kita sekarang, seabad kemudian, merasakan kegelisahan yang mirip, untuk
wilayah yang lebih luas dari Eropa? Gaza, Iran, Ukraina; ketegangan antara
Jerman dan Rusia, Tiongkok dan Taiwan; serta sederet lagi. Juga cemas akan
kemajuan teknologi—dalam hal ini adalah akal imitasi (AI) yang mengancam
manusia? Rasa muram itu pun makin menekan ketika kita membaca buku karya
Richard Robison dan Vedi R. Hadiz, Reorganisasi Kekuasaan di Indonesia. Kajian
akademis ini sebetulnya sudah lama muncul dalam bahasa Inggris (2004). Edisi
Indonesianya baru terbit tahun ini. Dan, anehnya (atau sedihnya), tetap
relevan. Dengan rincian yang sungguh serius, Robison dan Hadiz menunjukkan
bahwa aliansi kuasa politik dan bisnis berhasil melakukan reorganisasi diri
dan bertahan melewati masa Reformasi. Kalau kita katakan dengan bahasa warung
kopi: Indonesia tidak menjadi makin demokratis. Kekuasaan tetap di tangan
kaum oligarki. Apa yang Hadiz dan Robison tulis 20 tahun silam, saat orang
banyak masih optimistis pada Reformasi, justru makin nyata hari-hari ini. Sebagai
akademikus, mereka sebenarnya menantang beberapa asumsi teoretis penting,
yang barangkali mengandung bias ideologi. Sederhananya, dalam contoh lain
adalah pandangan bahwa sejarah berjalan secara progresif menurut pola yang
bisa diprediksi. Inilah cara umum kita melihat sejarah Indonesia: berkembang
maju meski dengan naik-turunnya, dari kerajaan-kerajaan yang terpisah-pisah
yang pernah dipersatukan Majapahit, lalu dijajah Eropa, lalu bersatu lagi,
lalu merdeka, lalu dipimpin oleh pemerintahan otoriter, lalu menjadi
demokratis. Tapi tahapan-tahapan perkembangan ini adalah mitos, kata sebagian
orang. Dan mitos juga bisa tampak ilmiah. Di
kalangan kesarjanaan Barat, demokrasi kerap dihubungkan dengan liberalisasi
politik dan ekonomi. Ada asumsi bahwa keterbukaan politik dan pasar akan
memperkuat demokrasi. Ada asumsi bahwa perubahan lembaga akan membawa
transformasi sosial. Ada asumsi bahwa teknokrat adalah rasional dan akan
mengimbangi oligark yang irasional dan tamak. Penelitian
Robison dan Hadiz menunjukkan tidak demikian. Dalam pengalaman Indonesia,
perubahan terjadi sebagai hasil pertarungan kekuatan-kekuatan sosial, bukan
akibat langsung dari liberalisasi pasar, reformasi institusi, dan peran teknokrasi.
Dan, dalam perjalanannya, “Demokrasi tidak menggantikan oligarki, melainkan
menyediakan bentuk-bentuk baru bagi reproduksi dan reorganisasi kekuasaan
oligarkis,” tulis Hadiz. Kita sekarang bahkan melihat aliansi dan
reorganisasi kekuasaan oligarkis belakangan ini juga terjadi di Amerika
Serikat dan Eropa Barat atau menjadi tren global. Sebagian
besar masyarakat kita, yang tidak membaca teori politik, ekonomi, atau
filsafat apa pun, mungkin memang tak pernah punya asumsi apa pun. Mereka
(atau kita?) tidak berasumsi tentang adanya subyek, yaitu manusia yang
rasional. Jika mau bersikap nyinyir, kita yang tidak suka membaca pun bisa
bilang: ya dari dulu memang tidak ada manusia yang sungguh otonom dan
rasional. Kita yang suka membaca filsafat bisa menambahkan: itu kan mitos
Pencerahan saja! Kenyataannya, manusia dikuasai hasrat dan ketamakan,
sehingga politik bukanlah proses deliberasi yang rasional, melainkan
pertarungan kepentingan belaka. Dari dulu juga gitu. Tapi
sikap ini, jika kita larut di dalamnya, akan membawa kita pada kemuraman dan
apatisme mengenai kebaikan bersama. Kita melihat sosok-sosok yang dulu kritis
kini terserap ke dalam kekuasaan. Di balik pragmatisme ini, barangkali ada
kehilangan rasa percaya kepada kemanusiaan, yang justru mendapat amunisi
canggih dari filsafat postmodernism. Kita
bisa mengambil posisi sebagai akademikus yang mengamati dari kejauhan dan
menghasilkan kajian rinci yang hasilnya bisa dibaca sebagai kegagalan
masyarakat sipil melawan oligarki. Orang juga bisa mengambil posisi sebagai
pemain yang tak peduli lagi pada nilai, jika bukan sekadar mendahulukan
kepentingan pribadi dan kelompok, bahkan sambil menggunakan filsafat yang
canggih untuk mendungukan lawan debatnya. Kedua posisi itu, bagi saya,
mengundang kabut asap makin pekat, sehingga suatu hari anak-anak kita tak
bisa lagi bernapas. Dalam
suasana gelap begini, kita bisa mengambil posisi yang dulu pun diambil
orang-orang sebelum kita: menyalakan lilin. Membentuk harapan. Kegelisahan
dua pemikir Eropa Barat dan Timur menjelang Perang Dunia II boleh dibaca
ulang. Husserl, meski kehilangan putra dan karier, teguh memilih dunia
fenomena menjadi kajiannya sekaligus tidak memberi banyak harapan. Berdyaev,
yang terusir dari tanah air, mengutamakan dunia noumena, yaitu dunia
semangat (dunia roh yang hidup), yang baginya memungkinkan harapan radikal. Husserl
mendirikan fenomenologi. Berdyaev adalah seorang eksistensialis. Kita
membutuhkan keduanya, tapi pada saat paling gelap, yang kedualah yang paling dibutuhkan.
● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/akhir-zaman-oligarki-reformasi-2299702
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar