Senin, 12 Oktober 2026

 

Mengapa Prabowo Buru-buru Mengganti Pejabat Loyalis Jokowi

Francisca Christy Rosana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Prabowo Subianto mengganti Kepala Polri Listyo Sigit Prabowo dengan Jenderal Suyudi Ario Seto.

 

·      Para jenderal polisi mendengar kabar penggantian Kepala Polri diduga terkait dengan bantuan Listyo dalam safari politik Joko Widodo.

 

·      Orang dekat Jokowi menyebutkan ada kesepahaman di antara partai pendukung dan Jokowi bahwa Prabowo akan memilih sendiri orang-orangnya setelah dua tahun masa pemerintahan.

 

MENERIMA salinan surat presiden mengenai penggantian Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada Kamis pagi, 1 Oktober 2026, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad seketika menelepon Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dasco memberi tahu Listyo bahwa Presiden Prabowo Subianto mengusulkan pemberhentian dia sebagai Tribrata-1—sebutan untuk Kepala Polri.

 

Seraya merujuk pada surat presiden, Dasco juga mengabarkan bahwa Prabowo mengajukan Jenderal Suyudi Ario Seto, yang waktu itu menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional, sebagai pengganti Listyo.

 

Pagi itu, kata Dasco, Listyo tengah bersiap mengikuti upacara Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. “Saya menelepon sebelum upacara dimulai dan menyampaikan pengganti Pak Listyo adalah Pak Suyudi,” ujar Dasco kepada Tempo pada Jumat, 9 Oktober 2026.

 

Setelah menelepon Listyo, Dasco mengontak Suyudi. Sebagaimana pesannya kepada Listyo, Ketua Harian Partai Gerindra itu menyampaikan keputusan Presiden yang mengusulkan Suyudi menjadi calon tunggal Kepala Polri. Dasco mengundang Suyudi untuk menjalani uji kepatutan dan kelayakan di DPR.

 

Proses penggantian Kepala Polri dari surat presiden tiba di tangan pimpinan lembaga legislatif sampai persetujuan dalam rapat uji kepatutan dan kelayakan di Komisi III, yang membidangi isu hukum, hanya berlangsung dua jam. Menurut Suyudi, setelah terpilih secara aklamasi, “Kami akan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.” Suyudi meninggalkan kompleks DPR di Senayan, Jakarta, sebelum tengah hari.

 

Pejabat teras Partai Gerindra mengatakan Prabowo mengingat Suyudi sebagai polisi berbadan tegap yang pernah berdinas di wilayah Bogor, Jawa Barat—lokasi rumah pribadi Prabowo. Suyudi memang sempat menjabat Kepala Kepolisian Resor Kota Bogor dan Kabupaten Bogor selama tiga tahun sejak 2015. Pejabat Partai Gerindra itu menuturkan, Prabowo mencatat Suyudi pernah membantu pengurusan kasus penembakan pengawal pribadi Prabowo, Fernando Alan Joshua Wowor.

 

Seorang penyelenggara negara yang acap berdiskusi dengan Prabowo bercerita, Presiden telah berkomunikasi dengan Suyudi dua kali melalui panggilan video sebelum surat presiden dikirim ke DPR. Komunikasi itu terjadi pada Agustus dan September 2026. Melalui gawai penyelenggara negara itu, Prabowo berpesan kepada Suyudi agar membersihkan kepolisian dari praktik suap dan pembekingan.

 

Prabowo mengulang lagi taklimat itu ketika bertemu dengan Suyudi di ruang tunggu Istana Negara sesaat sebelum pelantikan pada Kamis siang, 1 Oktober 2026. Seorang pemimpin lembaga negara yang mendengar langsung percakapan Suyudi dengan Prabowo serta politikus pendukung pemerintah yang mendapat cerita dari Suyudi menuturkan, Presiden meminta lulusan Akademi Kepolisian 1994 itu membenahi dan merombak Korps Bhayangkara.

 

Juru bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, juga mendengar pesan Prabowo kepada Suyudi melalui koleganya yang berdinas di Istana Negara. Menurut Sugiat, Prabowo mewanti-wanti polisi agar menegakkan hukum secara adil. “Presiden juga meminta polisi makin dekat dengan masyarakat dan turut menyukseskan program pemerintah,” tutur Sugiat pada Jumat, 9 Oktober 2026.

 

Segera setelah menjadi Kepala Polri, Suyudi merotasi jabatan 88 perwira menengah dan tinggi melalui telegram bertarikh 2 Oktober 2026. Ia menunjuk 19 kepala kepolisian daerah yang baru. Dua pejabat di lingkungan Markas Besar Polri bercerita, penggantian paling masif terjadi pada unit monitoring center Polri. Menurut dua pejabat itu dan seorang petinggi lembaga negara, divisi tersebut beroperasi di era Listyo sebagai pusat pemantauan dan pengawasan komunikasi yang beredar di masyarakat, termasuk pejabat dan pengusaha.

 

Dimintai tanggapan mengenai penggantiannya, Listyo mengatakan penunjukan Kepala Polri merupakan hak prerogatif presiden. Ia kini berfokus melaksanakan tugas baru dari Presiden Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan. “Saya akan melaksanakan amanah sebaik-baiknya,” ujarnya melalui pesan WhatsApp pada Jumat, 9 Oktober 2026.

 

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan, perombakan puluhan pejabat Polri merupakan cara Jenderal Suyudi menjawab tantangan dan ekspektasi masyarakat terhadap Korps Bhayangkara. “Polri bersama masyarakat,” katanya pada Ahad, 4 Oktober 2026.

 

•••

 

AKTIVITAS untuk mengganti Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari kursi Kepala Kepolisian RI sudah bergulir pada akhir September 2026. Dua pejabat di lingkungan Markas Besar Polri dan kolega Listyo yang bertemu dengan lulusan Akademi Kepolisian 1991 itu seusai penggantian Kepala Polri menuturkan, Listyo sudah mengetahui rencana pencopotannya pada Rabu malam, 30 September 2026. Listyo waktu itu bertamu ke rumah seorang petinggi Partai Gerindra di Jakarta Pusat.

 

Di kediaman pejabat teras Partai Gerindra itu, Listyo dan sahibulbait membicarakan struktur dan pekerjaan rumah yang sedang ditangani Kantor Staf Presiden. Petinggi Partai Gerindra sekaligus sang tuan rumah bercerita kepada Tempo, Presiden sempat menawarkan posisi kementerian teknis kepada Listyo jika selesai menjabat Kepala Polri. Namun Listyo mengusulkan diberi kesempatan menjabat Kepala Staf Kepresidenan untuk mempercepat penyelesaian program infrastruktur yang dimulai pada era Joko Widodo.

 

Kepada Tempo melalui pesan WhatsApp, Listyo mengatakan siap melaksanakan tugas sebagai Kepala Staf Kepresidenan. “Saya melaksanakan tugas untuk mendukung program prioritas dan kebijakan strategis pemerintah,” tuturnya.

 

Sementara itu, Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengklaim tak mengetahui pembicaraan Listyo dengan pengurus Partai Gerindra yang terjadi sebelum penggantian Kepala Polri. “Pada hari itu saya berada di DPR sampai pukul 11 malam,” ujar Dasco.

 

Penggantian Kepala Polri yang berlangsung pada 1 Oktober 2026 terlaksana lebih cepat dari rencana Presiden Prabowo Subianto. Penyelenggara negara yang dekat dengan Presiden mengungkapkan, Prabowo sebetulnya mengagendakan penggantian pimpinan Korps Bhayangkara seusai peringatan dua tahun masa pemerintahannya yang jatuh pada 20 Oktober 2026. Namun agenda itu dimajukan setelah Presiden mendapat informasi mengenai rencana serangkaian unjuk rasa dari Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia pada 24 September dan 6 Oktober 2026.

 

Inisiator demonstrasi yang menuntut pengesahan revisi Undang-Undang Pelindungan Ketenagakerjaan itu adalah penasihat Kepala Polri, Andi Gani Nena Wea. Tempo mendapat selebaran dari Andi Gani yang berisi instruksi kepada buruh saat mengikuti aksi massa pada Kamis, 24 September 2026.

 

Andi Gani adalah Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) versi Kongres Jakarta. Di organisasi tersebut, Jenderal Listyo didapuk menjadi Ketua Dewan Penasihat pada Desember 2025. KSPSI Andi Gani juga merupakan organisasi anggota Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia yang menggelar demonstrasi pada akhir September 2026.

 

Penyelenggara negara yang acap berdiskusi dengan Prabowo menuturkan, Presiden mendengar laporan bahwa unjuk rasa para buruh itu tak hanya menyuarakan isu ketenagakerjaan, tapi juga menyisipkan dorongan agar Kepala Negara tak buru-buru mengganti Listyo. Andi Gani tak membantah kabar bahwa ia merupakan inisiator aksi massa pada akhir September 2026.

 

Namun Andi Gani menyebutkan demonstrasi itu bertujuan mengawal pemerintahan Prabowo dan tak bertujuan meminta Presiden mempertahankan Listyo sebagai Kepala Polri. “Semua gerakan buruh bertujuan meningkatkan kesejahteraan buruh,” katanya.

 

Dua pejabat di lingkup internal Markas Besar Polri, dua kolega Listyo, serta seorang penyelenggara negara yang berdinas di Istana Kepresidenan menjelaskan alasan lain yang menyebabkan jadwal penggantian Kepala Polri dimajukan. Menurut mereka, pemerintah mencermati pergerakan Listyo.

 

Para narasumber yang ditemui terpisah sepanjang 5-9 Oktober 2026 itu mengungkapkan, Listyo diduga turut membantu safari politik presiden ketujuh sekaligus kader Partai Solidaritas Indonesia, Joko Widodo. Listyo menjabat Kepala Kepolisian Resor Surakarta ketika Jokowi menjadi Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah. Jenderal yang lahir di Ambon, Maluku, itu juga menjadi ajudan Jokowi dan terpilih sebagai Tribrata-1 pada periode kedua pemerintahan Jokowi.

 

Penasihat Kepala Polri, Andi Gani Nena Wea, mengaku juga mendengar alasan penggantian Listyo yang dikaitkan dengan safari politik Jokowi. “Kabar itu juga beredar di lingkup internal Polri,” tuturnya. Meski begitu, Andi Gani membantah kabar bahwa Listyo memberi bantuan kepada PSI dan Jokowi. “Pak Sigit sangat loyal kepada Presiden Prabowo,” ujarnya.

 

Juru bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, bercerita, partainya beberapa kali mendapat laporan mengenai dugaan keterlibatan polisi dalam pemenangan PSI sejak Pemilihan Umum 2024. Namun Sugiat memastikan penggantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara merupakan langkah Presiden untuk membenahi institusi. “Keputusan Presiden tak terkait dengan gosip politik,” kata Wakil Ketua Komisi XIII DPR, yang mempunyai ruang lingkup tugas antara lain di bidang hak asasi manusia, itu.

 

Listyo menjelaskan melalui pesan WhatsApp pada Jumat, 9 Oktober 2026, bahwa penggantian Kepala Polri merupakan hak istimewa Kepala Negara. Ia berjanji bersedia diwawancarai lebih detail setelah beradaptasi di Kantor Staf Presiden. “Masih penyesuaian kantor baru,” tutur mantan Kepala Badan Reserse Kriminal itu.

 

Adapun Ketua Harian PSI Ahmad Ali mengatakan tak ada bantuan polisi dalam kampanye partai dan safari politik Jokowi. “Saya pastikan itu fitnah,” kata Ahmad Ali. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Surakarta, Jokowi menyebutkan Kepala Polri memang sudah waktunya diganti. “Pak Listyo sudah menjabat selama 5 tahun 8 bulan,” ujarnya.

 

Kabar penggantian Kepala Polri beredar di lingkup internal Jokowi sejak pertengahan tahun ini. Dua orang dekat Jokowi bercerita, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengetahui bahwa Listyo akan dicopot Presiden setelah menghadiri pidato kenegaraan di DPR pada 14 Agustus 2026.

 

Menurut dua narasumber itu, Jokowi sempat berbincang dengan seorang pejabat teras Partai Gerindra yang dekat dengan Presiden. Kepada Jokowi, politikus Partai Gerindra itu menyampaikan bahwa Presiden mungkin akan mencopot Listyo pada sekitar akhir Oktober 2026 sampai awal Januari 2027.

 

Menurut dua kolega Jokowi, Mantan Wali Kota Surakarta itu sempat menanyakan kandidat pengganti Listyo. Narasumber yang sama menambahkan, Jokowi mendengar kabar bahwa Listyo menyiapkan tiga perwira tinggi polisi dari unit intelijen, kepolisian daerah, dan struktur pimpinan Polri. Ketua Umum Projo—organisasi pendukung Jokowi—Budi Arie Setiadi mengatakan Jokowi memang sudah mendengar kabar penggantian Kepala Polri. “Sudah waktunya,” tutur mantan Menteri Koperasi itu di Jakarta Selatan pada Kamis, 8 Oktober 2026.

 

•••

 

JENDERAL Listyo Sigit Prabowo bukan satu-satunya pejabat era Joko Widodo yang diganti Prabowo Subianto dalam reshuffle kabinet yang berlangsung pada Kamis, 1 Oktober 2026. Pratikno juga digeser dari posisi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ke Dewan Pertimbangan Presiden. Pratikno adalah Menteri Sekretaris Negara selama satu dasawarsa masa pemerintahan Jokowi.

 

Seorang petinggi Partai Gerindra dan penyelenggara negara di Istana Negara bercerita, Presiden membahas perombakan kabinet sekitar tiga jam sebelum upacara pelantikan. Dalam pembahasan itu, menurut dua narasumber, Presiden menyatakan ingin menugasi Sugiono ke salah satu kementerian koordinator. Pos kementerian koordinator di Kabinet Merah Putih dijabat para ketua umum dan politikus senior partai politik pendukung Prabowo.

 

Orang-orang dekat Jokowi sudah mengetahui bahwa Pratikno akan diganti di tengah jalan. Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengatakan Pratikno telah menyampaikan kepada Jokowi pada September 2025 soal kemungkinan peralihan jabatannya.

 

Kata Budi, Jokowi kemudian mengusulkan Pratikno menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden ketika Jokowi bertemu dengan Prabowo pada saat makan malam di rumah peninggalan Sumitro Djojohadikusumo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, 4 Oktober 2025. Padahal Prabowo awalnya hendak meminta Jokowi yang mengisi jabatan di Dewan Pertimbangan Presiden. “Pak Jokowi tak berkenan karena ada Mas Gibran yang sudah menjadi wakil presiden,” ujar Budi.

 

Tiga kolega Jokowi yang kerap berdiskusi soal politik dengan presiden ketujuh itu mengungkapkan, ada kesepahaman antara Jokowi dan Prabowo mengenai komposisi dan masa kerja Kabinet Merah Putih yang akan dibentuk. Menurut tiga narasumber itu, pembicaraan Jokowi dengan Prabowo tersebut terjadi sebelum acara pelantikan 20 Oktober 2024.

 

Menurut tiga kolega Jokowi yang mendengar isi pertemuan itu, Prabowo akan merombak kabinet secara besar-besaran pada tahun kedua pemerintahan dan memilih pejabat menurut preferensinya, tanpa cawe-cawe tokoh eksternal. Menurut narasumber itu, kesepahaman tersebut tak hanya diketahui di lingkup internal Jokowi, tapi juga di kalangan partai pendukung Prabowo.

 

Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan Prabowo mengevaluasi kabinet sejak setahun pemerintahan. Penggantian anggota kabinet telah melalui diskusi dan berbagai pertimbangan. “Bukan berdasarkan kontrak dengan partai atau Pak Jokowi,” tutur Dasco.

 

Ihwal penggantian sejumlah pejabat yang bekerja sejak masa pemerintahan Jokowi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto mengatakan Presiden merombak kabinet setelah menggelar evaluasi. “Tidak ada maksud menyingkirkan siapa pun,” kata Bambang di Senayan pada Rabu, 7 Oktober 2026. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/reshuffle-kabinet-prabowo-orang-jokowi-2299767

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar