Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Banting Setir Subandrio dari Dokter Bedah Menjadi Politikus

Hammam 'Izzuddin :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio menjadi mahasiswa kedokteran di GHS Salemba, Jakarta Pusat, pada usia 14 tahun.

 

·      Bergaul di kalangan elite mahasiswa, Subandrio bermain catur dan bridge serta berdansa untuk mengisi waktu luang.

 

·      Berganti profesi dari dokter bedah menjadi politikus karena pengaruh Hurustiati yang kelak menjadi istrinya.

 

SUBANDRIO dan Omar Dhani ibarat bestie di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Keduanya berstatus tahanan politik yang dihukum penjara seumur hidup karena dituduh terlibat Gerakan 30 September dan Partai Komunisme Indonesia atau PKI.

 

Keduanya akrab karena kamar mereka bersebelahan. Meski hidup dalam terungku, Subandrio tak pernah kehilangan kepiawaiannya sebagai seorang dokter bedah. Ia kerap berperan sebagai perawat untuk menyuntik Omar Dhani yang sering sakit.

 

Berkat Subandrio, Dian Sri Indapuri punya keterampilan sebagai tenaga kesehatan. Anak ketiga Omar Dhani itu belajar menakar cairan injeksi dan menentukan titik jarum di pantat ayahnya. Ia cepat belajar berkat bimbingan Subandrio.

 

Dian mempelajari semuanya di sela kunjungannya ke LP Cipinang. “Saya satu-satunya anak Bapak yang bisa menyuntik dan itu berkat Pak Bandrio,” ujar perempuan yang berlatar belakang pendidikan sastra tersebut. Ilmu dari Subandrio itu menjadi aset berharga bagi Dian. Ia tak perlu lagi bergantung pada Subandrio untuk merawat kondisi ayahnya yang sudah memasuki usia senja.

 

Kondisi Omar memang tak lagi prima seperti saat menjabat Menteri/Panglima Angkatan Udara. Dian mengaku tak begitu waswas meninggalkan ayahnya lantaran berada dalam pengawasan dokter Subandrio. Keduanya terus berdampingan sampai menghirup udara bebas pada 1995. Subandrio meninggal pada 2004 di usia 89 tahun, sementara Omar Dhani wafat pada 2009 di usia 85 tahun.

 

Subandrio tak pernah meninggalkan identitasnya sebagai dokter. Dalam buku memoarnya yang berjudul Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio menulis bahwa ia kerap dipanggil dokter sekalipun sudah menduduki sejumlah jabatan tinggi. Beberapa kolega bahkan meminta tolong Subandrio mengkhitankan anak mereka.

 

Djono W. Oesman, jurnalis yang membantu menulis memoar itu, mengingat Subandrio menyebutkan pernah mengkhitankan anak seorang pejabat Departemen Penerangan. Subandrio tak keberatan. Bagi Subandrio, kata Djono, menunaikan tugas pengobatan ibarat panggilan hidup. Sebab, sejak kecil Subandrio bercita-cita menjadi dokter.

 

Subandrio memang paling pintar dan berprestasi dibanding saudaranya. Ini menjadi modal anak wedana atau pejabat wilayah di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, itu merantau ke Jakarta. Ia mengambil keputusan tersebut setelah lulus dari Algemeene Middlebare School (AMS) Malang pada 1928.

 

Subandrio terpilih sebagai satu dari 27 mahasiswa baru Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (GHS). Bangunan GHS berlantai dua di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, itu kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

Saat itu GHS baru setahun berdiri. Model pendidikan ini menggantikan sistem School tot Opleiding voor Indische Artsen atau STOVIA, yang bisa menerima siswa kedokteran meski hanya lulusan sekolah dasar. Harian Bataviaasch Nieuwsblad edisi 16 Agustus 1928 mencatat mahasiswa baru GHS terdiri atas sembilan orang Eropa, delapan keturunan Cina, dan sepuluh mahasiswa yang dikategorikan sebagai pribumi.

 

Subandrio memulai studi kedokteran pada usia 14 tahun—usia yang tergolong muda untuk menempuh pendidikan tinggi kedokteran saat itu. Menurut Subandrio, tak banyak pribumi yang punya kesempatan menempuh pendidikan dokter. Ia mengaku memiliki privilese lantaran lahir dari anak priayi di masa kolonial Belanda. “Ayah saya merupakan petinggi, walaupun hanya di desa,” tutur Subandrio dalam memoarnya.

 

Subandrio mengutarakan rekam jejak kehidupannya kepada Djono W. Oesman tak lama setelah menghirup udara bebas sekeluar dari penjara Cipinang pada 1995. Menteri Kesehatan 1960-1966 yang juga lulusan GHS, Satrio, punya versi lain. Lelaki yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, dan berkarier sebagai dokter militer ini mengaku mengenal Subandrio sebelum keduanya merantau ke Batavia pada 1935.

 

“Saya bersepakat dengan Subandrio untuk berangkat dari Malang bersama-sama,” kata Satrio dalam buku berjudul Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio (1916-1986). Menurut dia, setiba di Jakarta, Subandrio mampir ke rumah dua sahabatnya sesama alumnus AMS Malang, Harun Saleh dan Aziz Saleh. Keduanya tinggal di rumah kakak mereka, Abdulrachman Saleh, seorang dokter sekaligus penerbang yang namanya diabadikan jadi bandar udara di Malang.

 

Dalam buku memoar, Subandrio mengatakan bahwa dia menamatkan studi kedokteran di GHS dalam waktu tujuh tahun. Ia lalu menempuh studi lanjutan untuk mengambil pendidikan dokter spesialis bedah. Menurut Subandrio, jumlah dokter umum saat itu masih jarang, apalagi dokter spesialis. Ia menyelesaikan pendidikan dokter spesialis hanya dalam tempo tiga tahun pada 1938.

 

Menteri Luar Negeri setelah Subandrio, Adam Malik, mengenang seniornya itu sebagai sosok yang tidak punya latar belakang politik di era kolonial Belanda. Kedua diplomat ini memang banyak berseberangan. Dalam buku Adam Malik Mengabdi Republik Jilid II: Angkatan 45, Adam menyebut lelaki yang lebih tua tiga tahun itu sebagai seorang nasionalis yang baru mentas pada akhir masa pendudukan Jepang.

 

Lantaran besar dari keluarga priayi, Subandrio dikenang Adam sebagai pemuda yang jauh dari rasa keprihatinan. Adam mendeskripsikan Subandrio sebagai sosok yang gemar mengisi waktu senggang semasa kuliah bersama kalangan elite. Hobinya bermain catur dan kartu bridge hingga berdansa di ballroom. “Itulah semua yang memenuhi waktunya sebagai mahasiswa kedokteran di zaman kolonial Belanda,” ujar Adam dalam memoarnya.

 

Kendati begitu, Adam mengakui bahwa Subandrio merupakan pemuda yang cerdas. Dia mendeskripsikan Subandrio sebagai pemuda yang lihai berdialog dan pintar meyakinkan lawan bicara.

 

Oleh rekannya, Subandrio kerap disapa “Ban” atau “Mas Ban”. Kepiawaian dalam berbahasa Inggris dan Belanda, kata Adam, juga membuat aktivitas Subandrio makin moncer dalam panggung orasi dan negosiasi.

 

Menurut Adam, kemampuan berdialog itu tidak menjadikan Subandrio orang yang kaku. Di mata banyak orang, Subandrio dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan dan mudah mencairkan suasana. “Sebab, dia mahir berkelakar sehingga orang merasa terhibur dan terpikat secara santai,” tulis Adam Malik, yang di kemudian hari mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden pada rezim Orde Baru.

 

Ketertarikan Subandrio terhadap organisasi dan pergerakan kemerdekaan baru timbul di akhir masa studi. Kesadaran itu muncul ketika ia bertemu dengan Hurustiati, sesama calon dokter yang kelak menjadi istrinya. Subandrio berjumpa dengan perempuan yang tiga tahun lebih muda darinya itu di kampus GHS. Keduanya menikah pada 1940 dan dikaruniai anak tunggal bernama Budoyo.

 

Meski keduanya sama-sama lahir dari keluarga priayi, Hurustiati lebih aktif dalam berbagai gerakan perempuan. Djono W. Oesman mengatakan perempuan asal Jawa Timur itu yang membujuk Subandrio merasakan denyut perjuangan rakyat. “Pak Bandrio di masa kuliah mengagumi istrinya,” kata Djono.

 

Berbekal gelar dokter bedah, Subandrio mendapat tugas dari pemerintah kolonial untuk menjalani praktik di Rumah Sakit Dr Kariadi, Semarang, Jawa Tengah. Dalam buku memoarnya, Subandrio mengaku hanya beberapa bulan bertugas di Semarang. Meski masa tugasnya singkat, seperti diceritakan Adam Malik, Subandrio sudah bisa mempraktikkan bedah plastik saat berdinas di Semarang.

 

Guru besar riset bidang sejarah sosial politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, Asvi Warman Adam, mengatakan Subandrio membuka tempat praktik di luar rumah sakit ketika berdinas di Semarang. Tempat praktik itu tergolong ramai pada masanya. “Praktiknya berada di belakang tempat dokter lain. Tapi pasien banyak yang ke belakang,” tutur Asvi, yang mengetahui kisah tersebut ketika mewawancarai adik tiri Subandrio, Koestiwulan.

 

Setelah bertugas di Semarang, Subandrio kembali ke Batavia. Dia mendapat tugas baru sebagai dokter rumah sakit yang saat ini menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Di Batavia, dokter Subandrio mulai getol dalam aktivitas perjuangan bawah tanah pada masa pendudukan Jepang. Salah satu perhatian Subandrio tercurah pada gerakan mahasiswa kedokteran di almamaternya.

 

Peralihan kekuasaan membuat GHS sempat vakum. Pada 1943, sekolah tinggi kedokteran itu berubah nama menjadi Ika Daigaku. Dalam buku Baperpi (Badan Perwakilan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang terbit pada 1945, wartawan dan sejarawan Irna H.N. Hadi Soewito menuliskan perpindahan kekuasaan turut mengubah kultur pendidikan kedokteran di Ika Daigaku. Mahasiswa pun menginisiasi perlawanan karena terkekang oleh kewajiban mengikuti kursus bahasa Jepang hingga bercukur plontos.

 

Dua nama mahasiswa kedokteran yang vokal menginisiasi gerakan perlawanan adalah Sudarpo Sastrosatomo dan Sudjatmoko. Mereka pernah ditangkap pasukan kempetai. Senior mereka, seperti Subandrio, yang mendukung gerakan dari balik layar, pun ikut ditahan. “Di antara para dokter yang ditangkap dan ditahan karena memberi semangat kepada mahasiswa ialah dokter utama dan dokter Subandrio,” tulis Irna.

 

Karier Subandrio sebagai dokter terbilang singkat. Pada akhir masa pendudukan Jepang, Subandrio makin dekat dengan panggung politik nasional seiring dengan eratnya hubungan dia dengan Sutan Sjahrir. Hubungan keduanya makin erat setelah Subandrio bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia. Berkat kepiawaiannya berdiplomasi, ia didaulat sebagai Wakil Ketua PSI. Belakangan, Subandrio merapat ke Sukarno dan meninggalkan Sjahrir.

 

Momen inilah yang mengubah haluan hidupnya. Bagi Subandrio, aktivisme dunia politik jauh lebih menarik ketimbang merawat pasien. Sejak saat itu, ia banting setir dari profesi dokter ke dunia pergerakan.

 

Subandrio merasa jenuh karena menganggap pekerjaan sebelumnya monoton. “Saya lebih tertarik berorganisasi. Sampai akhirnya Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Bung Karno,” katanya. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/dokter-subandrio-jadi-politikus-2298584

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar