|
Banting
Setir Subandrio dari Dokter Bedah Menjadi Politikus Hammam 'Izzuddin
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Subandrio menjadi mahasiswa kedokteran
di GHS Salemba, Jakarta Pusat, pada usia 14 tahun. · Bergaul di kalangan elite mahasiswa,
Subandrio bermain catur dan bridge serta berdansa untuk mengisi waktu luang. · Berganti profesi dari dokter bedah
menjadi politikus karena pengaruh Hurustiati yang kelak menjadi istrinya. SUBANDRIO
dan Omar Dhani ibarat bestie di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang,
Jakarta Timur. Keduanya berstatus tahanan politik yang dihukum penjara seumur
hidup karena dituduh terlibat Gerakan 30 September dan Partai Komunisme
Indonesia atau PKI. Keduanya
akrab karena kamar mereka bersebelahan. Meski hidup dalam terungku, Subandrio
tak pernah kehilangan kepiawaiannya sebagai seorang dokter bedah. Ia kerap
berperan sebagai perawat untuk menyuntik Omar Dhani yang sering sakit. Berkat
Subandrio, Dian Sri Indapuri punya keterampilan sebagai tenaga kesehatan.
Anak ketiga Omar Dhani itu belajar menakar cairan injeksi dan menentukan
titik jarum di pantat ayahnya. Ia cepat belajar berkat bimbingan Subandrio. Dian
mempelajari semuanya di sela kunjungannya ke LP Cipinang. “Saya satu-satunya
anak Bapak yang bisa menyuntik dan itu berkat Pak Bandrio,” ujar perempuan
yang berlatar belakang pendidikan sastra tersebut. Ilmu dari Subandrio itu
menjadi aset berharga bagi Dian. Ia tak perlu lagi bergantung pada Subandrio
untuk merawat kondisi ayahnya yang sudah memasuki usia senja. Kondisi
Omar memang tak lagi prima seperti saat menjabat Menteri/Panglima Angkatan
Udara. Dian mengaku tak begitu waswas meninggalkan ayahnya lantaran berada
dalam pengawasan dokter Subandrio. Keduanya terus berdampingan sampai
menghirup udara bebas pada 1995. Subandrio meninggal pada 2004 di usia 89
tahun, sementara Omar Dhani wafat pada 2009 di usia 85 tahun. Subandrio
tak pernah meninggalkan identitasnya sebagai dokter. Dalam buku memoarnya
yang berjudul Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio menulis bahwa ia kerap
dipanggil dokter sekalipun sudah menduduki sejumlah jabatan tinggi. Beberapa
kolega bahkan meminta tolong Subandrio mengkhitankan anak mereka. Djono W.
Oesman, jurnalis yang membantu menulis memoar itu, mengingat Subandrio
menyebutkan pernah mengkhitankan anak seorang pejabat Departemen Penerangan.
Subandrio tak keberatan. Bagi Subandrio, kata Djono, menunaikan tugas
pengobatan ibarat panggilan hidup. Sebab, sejak kecil Subandrio bercita-cita
menjadi dokter. Subandrio
memang paling pintar dan berprestasi dibanding saudaranya. Ini menjadi modal
anak wedana atau pejabat wilayah di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, itu
merantau ke Jakarta. Ia mengambil keputusan tersebut setelah lulus dari
Algemeene Middlebare School (AMS) Malang pada 1928. Subandrio
terpilih sebagai satu dari 27 mahasiswa baru Geneeskundige Hoogeschool te
Batavia (GHS). Bangunan GHS berlantai dua di Jalan Salemba Raya, Jakarta
Pusat, itu kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Saat itu
GHS baru setahun berdiri. Model pendidikan ini menggantikan sistem School tot
Opleiding voor Indische Artsen atau STOVIA, yang bisa menerima siswa
kedokteran meski hanya lulusan sekolah dasar. Harian Bataviaasch Nieuwsblad
edisi 16 Agustus 1928 mencatat mahasiswa baru GHS terdiri atas sembilan orang
Eropa, delapan keturunan Cina, dan sepuluh mahasiswa yang dikategorikan
sebagai pribumi. Subandrio
memulai studi kedokteran pada usia 14 tahun—usia yang tergolong muda untuk
menempuh pendidikan tinggi kedokteran saat itu. Menurut Subandrio, tak banyak
pribumi yang punya kesempatan menempuh pendidikan dokter. Ia mengaku memiliki
privilese lantaran lahir dari anak priayi di masa kolonial Belanda. “Ayah
saya merupakan petinggi, walaupun hanya di desa,” tutur Subandrio dalam
memoarnya. Subandrio
mengutarakan rekam jejak kehidupannya kepada Djono W. Oesman tak lama setelah
menghirup udara bebas sekeluar dari penjara Cipinang pada 1995. Menteri
Kesehatan 1960-1966 yang juga lulusan GHS, Satrio, punya versi lain. Lelaki
yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, dan berkarier sebagai dokter militer
ini mengaku mengenal Subandrio sebelum keduanya merantau ke Batavia pada
1935. “Saya
bersepakat dengan Subandrio untuk berangkat dari Malang bersama-sama,” kata
Satrio dalam buku berjudul Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof.
Dr. Satrio (1916-1986). Menurut dia, setiba di Jakarta, Subandrio mampir ke
rumah dua sahabatnya sesama alumnus AMS Malang, Harun Saleh dan Aziz Saleh.
Keduanya tinggal di rumah kakak mereka, Abdulrachman Saleh, seorang dokter
sekaligus penerbang yang namanya diabadikan jadi bandar udara di Malang. Dalam
buku memoar, Subandrio mengatakan bahwa dia menamatkan studi kedokteran di
GHS dalam waktu tujuh tahun. Ia lalu menempuh studi lanjutan untuk mengambil
pendidikan dokter spesialis bedah. Menurut Subandrio, jumlah dokter umum saat
itu masih jarang, apalagi dokter spesialis. Ia menyelesaikan pendidikan
dokter spesialis hanya dalam tempo tiga tahun pada 1938. Menteri
Luar Negeri setelah Subandrio, Adam Malik, mengenang seniornya itu sebagai
sosok yang tidak punya latar belakang politik di era kolonial Belanda. Kedua
diplomat ini memang banyak berseberangan. Dalam buku Adam Malik Mengabdi
Republik Jilid II: Angkatan 45, Adam menyebut lelaki yang lebih tua tiga
tahun itu sebagai seorang nasionalis yang baru mentas pada akhir masa
pendudukan Jepang. Lantaran
besar dari keluarga priayi, Subandrio dikenang Adam sebagai pemuda yang jauh
dari rasa keprihatinan. Adam mendeskripsikan Subandrio sebagai sosok yang
gemar mengisi waktu senggang semasa kuliah bersama kalangan elite. Hobinya
bermain catur dan kartu bridge hingga berdansa di ballroom. “Itulah semua
yang memenuhi waktunya sebagai mahasiswa kedokteran di zaman kolonial
Belanda,” ujar Adam dalam memoarnya. Kendati
begitu, Adam mengakui bahwa Subandrio merupakan pemuda yang cerdas. Dia
mendeskripsikan Subandrio sebagai pemuda yang lihai berdialog dan pintar
meyakinkan lawan bicara. Oleh
rekannya, Subandrio kerap disapa “Ban” atau “Mas Ban”. Kepiawaian dalam
berbahasa Inggris dan Belanda, kata Adam, juga membuat aktivitas Subandrio
makin moncer dalam panggung orasi dan negosiasi. Menurut
Adam, kemampuan berdialog itu tidak menjadikan Subandrio orang yang kaku. Di
mata banyak orang, Subandrio dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan dan
mudah mencairkan suasana. “Sebab, dia mahir berkelakar sehingga orang merasa
terhibur dan terpikat secara santai,” tulis Adam Malik, yang di kemudian hari
mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden pada rezim Orde Baru. Ketertarikan
Subandrio terhadap organisasi dan pergerakan kemerdekaan baru timbul di akhir
masa studi. Kesadaran itu muncul ketika ia bertemu dengan Hurustiati, sesama
calon dokter yang kelak menjadi istrinya. Subandrio berjumpa dengan perempuan
yang tiga tahun lebih muda darinya itu di kampus GHS. Keduanya menikah pada
1940 dan dikaruniai anak tunggal bernama Budoyo. Meski
keduanya sama-sama lahir dari keluarga priayi, Hurustiati lebih aktif dalam
berbagai gerakan perempuan. Djono W. Oesman mengatakan perempuan asal Jawa
Timur itu yang membujuk Subandrio merasakan denyut perjuangan rakyat. “Pak
Bandrio di masa kuliah mengagumi istrinya,” kata Djono. Berbekal
gelar dokter bedah, Subandrio mendapat tugas dari pemerintah kolonial untuk
menjalani praktik di Rumah Sakit Dr Kariadi, Semarang, Jawa Tengah. Dalam
buku memoarnya, Subandrio mengaku hanya beberapa bulan bertugas di Semarang.
Meski masa tugasnya singkat, seperti diceritakan Adam Malik, Subandrio sudah
bisa mempraktikkan bedah plastik saat berdinas di Semarang. Guru
besar riset bidang sejarah sosial politik Badan Riset dan Inovasi Nasional,
Asvi Warman Adam, mengatakan Subandrio membuka tempat praktik di luar rumah
sakit ketika berdinas di Semarang. Tempat praktik itu tergolong ramai pada
masanya. “Praktiknya berada di belakang tempat dokter lain. Tapi pasien
banyak yang ke belakang,” tutur Asvi, yang mengetahui kisah tersebut ketika
mewawancarai adik tiri Subandrio, Koestiwulan. Setelah
bertugas di Semarang, Subandrio kembali ke Batavia. Dia mendapat tugas baru
sebagai dokter rumah sakit yang saat ini menjadi Rumah Sakit Umum Pusat
Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Di Batavia, dokter Subandrio mulai getol
dalam aktivitas perjuangan bawah tanah pada masa pendudukan Jepang. Salah satu
perhatian Subandrio tercurah pada gerakan mahasiswa kedokteran di
almamaternya. Peralihan
kekuasaan membuat GHS sempat vakum. Pada 1943, sekolah tinggi kedokteran itu
berubah nama menjadi Ika Daigaku. Dalam buku Baperpi (Badan Perwakilan
Pelajar-Pelajar Indonesia) yang terbit pada 1945, wartawan dan sejarawan Irna
H.N. Hadi Soewito menuliskan perpindahan kekuasaan turut mengubah kultur
pendidikan kedokteran di Ika Daigaku. Mahasiswa pun menginisiasi perlawanan
karena terkekang oleh kewajiban mengikuti kursus bahasa Jepang hingga
bercukur plontos. Dua nama
mahasiswa kedokteran yang vokal menginisiasi gerakan perlawanan adalah
Sudarpo Sastrosatomo dan Sudjatmoko. Mereka pernah ditangkap pasukan
kempetai. Senior mereka, seperti Subandrio, yang mendukung gerakan dari balik
layar, pun ikut ditahan. “Di antara para dokter yang ditangkap dan ditahan
karena memberi semangat kepada mahasiswa ialah dokter utama dan dokter
Subandrio,” tulis Irna. Karier
Subandrio sebagai dokter terbilang singkat. Pada akhir masa pendudukan
Jepang, Subandrio makin dekat dengan panggung politik nasional seiring dengan
eratnya hubungan dia dengan Sutan Sjahrir. Hubungan keduanya makin erat
setelah Subandrio bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia. Berkat
kepiawaiannya berdiplomasi, ia didaulat sebagai Wakil Ketua PSI. Belakangan,
Subandrio merapat ke Sukarno dan meninggalkan Sjahrir. Momen
inilah yang mengubah haluan hidupnya. Bagi Subandrio, aktivisme dunia politik
jauh lebih menarik ketimbang merawat pasien. Sejak saat itu, ia banting setir
dari profesi dokter ke dunia pergerakan. Subandrio
merasa jenuh karena menganggap pekerjaan sebelumnya monoton. “Saya lebih
tertarik berorganisasi. Sampai akhirnya Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan
oleh Bung Karno,” katanya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/dokter-subandrio-jadi-politikus-2298584 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar