|
Pelajaran
Diplomasi dari Era Konfrontasi Shofwan Al Banna
: Pengajar di
Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) Universitas Indonesia dan Sekretaris Eksekutif ASEAN Study Center
FISIP UI. |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Menteri Luar Negeri Subandrio
memanfaatkan persaingan Amerika Serikat dengan Uni Soviet dalam Perang Dingin
untuk memperjuangkan kepentingan nasional. · Diplomasi membutuhkan visi yang jelas
dan dukungan lembaga yang mampu menerjemahkannya menjadi kebijakan. · Ambisi politik luar negeri harus
disesuaikan dengan kapasitas material dan kondisi politik dalam negeri. PADA
pagi 12 Februari 1958, chargés d'affaires Kedutaan Besar Amerika Serikat di
Jakarta, Sterling J. Cotrell, menerima panggilan telepon penting. Di ujung
sambungan, kalimat-kalimat yang tertata lagi tegas meluncur dari Menteri Luar
Negeri Subandrio yang menyampaikan keberatannya atas pernyataan Menteri Luar
Negeri Amerika John Foster Dulles tentang gagasan Demokrasi Terpimpin yang dianggapnya
mencampuri urusan domestik Indonesia. Dalam
pembicaraan itu, Subandrio mengungkapkan tawaran Uni Soviet mendukung
Indonesia secara terbuka dalam kasus Irian Barat—kini Papua—dan isu lain.
Jakarta menolak uluran tangan itu karena tak ingin terseret dalam Perang
Dingin. Namun, jika Amerika terus mencampuri urusan dalam negeri Indonesia,
persepsi publik terhadap negara itu akan makin negatif, disamakan dengan
penjajah Belanda. Sebaliknya, pandangan terhadap blok komunis akan kian
positif. Cotrell mencatatnya dan, sesuai dengan permintaan Subandrio, segera
menyampaikan pesan tersebut ke Washington. Catatan
Cotrell itu menggambarkan cara Indonesia menavigasi persaingan negara-negara
adidaya pada puncak masa Perang Dingin, akhir 1950-an hingga awal 1960-an.
Dalam konteks ini, Subandrio dikenal sebagai figur andalan Bung Karno untuk
menerjemahkan visi luar negerinya. Memorandum badan intelijen Amerika (CIA)
tertanggal 13 Desember 1965—di tengah huru-hara tragedi 1965—menyebutnya
sebagai negosiator yang sangat baik, “mungkin yang terbaik di Asia”. Bagi
para pemimpin Indonesia yang hari ini sedang menavigasi upaya mencapai
kepentingan nasional di tengah persaingan kekuatan-kekuatan raksasa seperti
Amerika Serikat dan Cina, Subandrio menawarkan refleksi penting, baik dari
keberhasilan maupun kegagalannya. ••• Dengan
keterbatasan material Indonesia, Subandrio mampu menggalang dukungan
internasional untuk berbagai agenda Indonesia di tengah persaingan
negara-negara besar. Salah satu kesuksesan diplomasi Subandrio adalah
mengubah sikap Amerika Serikat dalam kasus pengembalian Irian Barat. Subandrio
mendampingi Presiden Sukarno menemui Presiden John F. Kennedy dengan
menekankan langkah Indonesia yang telah membeli persenjataan dari Soviet tapi
tetap terbuka pada kemungkinan bekerja sama dengan Amerika. Subandrio
memanfaatkan kekhawatiran Blok Barat atas meluasnya pengaruh komunis di Asia
Tenggara. Amerika yang awalnya netral menjadi pro terhadap Indonesia dan
membuka jalan bagi penyelesaian sengketa Irian Barat. Subandrio pula yang
menjadi koordinator diplomasi sampai Papua bergabung dengan Indonesia pada
1963. Kita
bisa memiliki pandangan berbeda tentang Subandrio mengenai dukungannya
terhadap Demokrasi Terpimpin. Namun kebijakan luar negeri pada masa kerjanya,
1957-1966, menawarkan pelajaran penting bagi para pemimpin negara ini
sekarang. Dia mampu membangun diplomasi yang bisa memanfaatkan persaingan
negara adidaya di tengah keterbatasan material, memiliki kapasitas
menerjemahkan visi politik luar negeri presiden dalam dukungan kelembagaan,
serta membangun konsep diplomasi yang berprinsip jelas dan koheren. Prinsip-prinsip
tersebut sangat relevan diterapkan di tengah politik internasional saat ini,
situasi yang digambarkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
António Guterres dengan “menajamnya jurang geopolitik, melonjaknya
ketimpangan, ambruknya kepercayaan, krisis iklim, serta perkembangan
kecerdasan buatan yang berjalan pada kecepatan yang membutakan”. Lemahnya
penerapan prinsip-prinsip tersebut menjadi sumber kritik yang sering menimpa
kebijakan luar negeri hari ini. Presiden Prabowo Subianto, yang menaruh
perhatian besar pada politik internasional, memang sering bepergian ke
mancanegara dan hadir dalam pertemuan yang melibatkan negara-negara besar.
Namun kehadiran tidak selalu berdampak. Probo
Darono Yakti dari Universitas Airlangga, Surabaya, menyebutnya sebagai
penyelarasan parsial yang kehilangan fokus, ditandai dengan penambahan mitra
kerja sama tanpa penentuan tujuan strategis dari setiap hubungan. Adapun
Jessica C. Liao dari US Army War College dan Lucas Myers dari University of
Maryland, Amerika Serikat, memandang kebijakan luar negeri Indonesia “lebih
aktif, tapi berkurang kebebasannya”. Sementara itu, dalam liputannya tentang
BRICS, Kompas menulis Indonesia “hadir tapi di pinggir”. Nada negatif dari
dalam dan luar negeri ini bukan semata dampak kemampuan diplomasi orang per
orang. Hasil ini timbul dari ketiadaan visi yang jelas. Dalam
hal inilah terdapat peran besar lain Subandrio. Ide Agung Anak Gde Agung,
Menteri Luar Negeri pada 1955-1956, mencatat Subandrio sebagai penerjemah
visi politik luar negeri Sukarno. Dia merumuskan strategi diplomasi dan
membangun kapasitas institusional untuk menjalankannya. Dalam
terbitan Kementerian Luar Negeri yang berjudul “Reflections upon the
Indonesian Revolution”, Subandrio menyatakan diplomasi Indonesia adalah alat
revolusi nasional untuk melindungi sekaligus mewujudkan cita-cita dalam
hubungan internasional. Hubungan ekonomi pun disusun berdasarkan tujuan
tersebut sehingga Indonesia menuntut penataan hubungan ekonomi internasional
yang lebih adil dengan penghapusan proteksionisme di negara-negara maju,
stabilisasi perdagangan bahan mentah dengan pemberian kompensasi atas
fluktuasi harga komoditas yang banyak dihasilkan negara berkembang, serta
kerja sama internasional untuk mendorong pembangunan di negara berkembang. Visi ini
diterjemahkan dalam berbagai program, dari pelatihan bagi para pegawai hingga
publikasi dalam berbagai bahasa asing untuk menggalang dukungan
internasional. Dunia bisa mengetahui tatanan internasional seperti apa yang
hendak dibangun serta solusi apa yang ditawarkan Indonesia untuk menghadapi
berbagai krisis—meskipun tidak selalu menyetujuinya. Indonesia menawarkan
bangunan yang koheren, bukan, misalnya, menyatakan diri siap menduduki kursi
tertentu di institusi multilateral berdasarkan klaim sebagai wakil negara
berkembang. ••• Visi dan
prinsip yang jelas dan diterjemahkan secara kelembagaan membuat diplomasi era
Subandrio yang terkesan radikal tetap bisa dieksekusi dengan strategis dan
taktis—setidaknya pada awalnya. Lewat terjemahan Subandrio, Presiden Sukarno
bisa membangun fleksibilitas yang pragmatis tapi terukur dalam hubungannya
dengan Amerika Serikat dan Blok Barat sekaligus dengan Uni Soviet dan Cina. Namun
keberhasilan memobilisasi dukungan negara berkembang dan mengubah sikap
Amerika dalam kasus Irian Barat membuat Sukarno dan Subandrio abai memijakkan
ambisi pada realitas material mengenai keterbatasan kapasitas Indonesia dalam
sistem internasional. Ini pelajaran yang tak kalah penting dari diplomasi ala
Subandrio. Selepas
penandatanganan Perjanjian New York tentang Irian Barat pada 1962, Bung Karno
yakin bisa menggunakan pendekatan serupa dalam menghadapi pembentukan
Federasi Malaya. Dia meyakini sikap nonkompromistis yang ditopang wacana
antikolonial bisa mengubah posisi Malaysia ataupun negara-negara
penyokongnya. Pada
Januari 1963, Subandrio secara resmi mengumumkan penolakan terhadap Federasi
Malaya yang dianggap sebagai bentuk neokolonialisme Inggris. Sebulan
kemudian, Bung Karno menyerukan konfrontasi. Konflik bersenjata pun pecah di
Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Setelah Malaysia menjadi anggota tidak
tetap Dewan Keamanan, Indonesia hengkang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada
1965 dan membentuk Conference of the New Emerging Forces (Conefo). Namun,
tanpa kapasitas material yang memadai, Indonesia tidak mampu memobilisasi
dukungan untuk menjadikan Conefo sebagai tandingan PBB. Alih-alih terjadi
perubahan tatanan, justru politik internasional merangsek masuk dan
membongkar politik domestik lewat Gerakan 30 September 1965. Sebagai tokoh
yang kekuatan politiknya adalah kemampuan menerjemahkan visi Sukarno,
Subandrio ikut tersapu perubahan besar-besaran oleh penguasa baru. Ini juga
merupakan pelajaran penting lain dari perjalanan dokter Subandrio: foreign
policy begins at home—but it can also end at home! ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/peran-subandrio-menteri-luar-negeri-2298597 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar