|
Subandrio
dalam Jebakan Dokumen Gilchrist Savero Aristia Wienanto : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Subandrio meyakini dokumen Gilchrist
sebagai bukti rencana intervensi Inggris dan Amerika Serikat di Indonesia. · Dokumen itu seolah-olah memperkuat
desas-desus rencana penggulingan Presiden Sukarno pada 1965. · Arsip diplomatik Inggris mengungkap
operasi propaganda di Indonesia pada 1965-1966. SEBUAH
surat diplomatik tergeletak di meja kerja Subandrio di rumahnya di Jalan Imam
Bonjol, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 15 Mei 1965. Pengirimnya entah siapa.
Tokoh dengan tiga jabatan—Wakil Perdana Menteri I, Menteri Luar Negeri, dan
Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI)—itu segera membacanya. “Isi dokumen itu
saya nilai sangat gawat,” tulis Subandrio dalam memoar Kesaksianku tentang
G-30-S yang terbit pada 2000. Warkat
tersebut tertulis sebagai surat rahasia Duta Besar Inggris, Sir Andrew
Gilchrist, yang ditujukan kepada Sir Harold Caccia, Wakil Sekretaris
Kementerian Luar Negeri Inggris di London. Isinya membeberkan rancangan
operasi bersama Inggris dan Amerika Serikat di Indonesia, termasuk
kemungkinan intervensi militer. Surat itu juga menyebutkan “our local Army
friends”. Belakangan, surat itu dikenal sebagai “Dokumen Gilchrist”. Informasi
dalam surat tersebut seolah-olah mendukung desas-desus rencana kudeta
terhadap Presiden Sukarno oleh sejumlah petinggi Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Darat, seperti yang diembuskan Partai Komunis Indonesia. Hubungan
kedua pihak itu meruncing setelah pada Januari 1965 PKI mengusulkan
pembentukan Angkatan Kelima berupa buruh dan tani yang dipersenjatai.
Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani serta Menteri
Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal
Abdul Haris Nasution menjadi tokoh yang paling konsisten menentang usulan
tersebut. Dari
sisi eksternal, pada masa Perang Dingin itu, kecondongan posisi ke Blok Timur
membuat Indonesia masuk radar bahaya Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Wabilkhusus dengan Inggris, ada persinggungan nan lebih dalam, yaitu rencana
mereka membentuk Federasi Malaya yang ditentang Bung Karno lewat kampanye
Ganyang Malaysia. Meski
demikian, Subandrio tak langsung percaya. Dia mendapat informasi bahwa
Dokumen Gilchrist mulanya tersimpan di rumah Bill Palmer, perwakilan American
Motion Picture Association of Indonesia, di Jakarta. Dia heran surat
diplomatik Inggris itu bisa berada di tangan importir film
Hollywood—belakangan, Palmer dituduh sebagai mata-mata Badan Intelijen Pusat
Amerika Serikat (CIA). Menurut
buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang karya wartawan
Julius Pour, Subandrio menugasi Kepala Staf BPI Brigadir Jenderal Polisi
Soegeng Soetarto membandingkan surat itu dengan dokumen sejenis yang menjadi
barang bukti jarahan dari gedung Kedutaan Besar Inggris pada dua tahun
sebelumnya. Saat itu demonstran membakar kantor tersebut sebagai protes
terhadap apa yang mereka anggap sebagai neokolonialisme di Malaya. Soetarto
menilai jenis kertas Dokumen Gilchrist sama dengan surat resmi Kedutaan Besar
Inggris. Namun ia memberikan catatan bahwa belum jelas siapa yang dimaksud
dengan “local Army friends”. Subandrio
menyimpulkan dokumen itu otentik dan melaporkannya kepada Presiden Sukarno
pada 26 Mei 1965. “Reaksinya, beliau terkejut. Berkali-kali beliau menanyakan
keyakinan saya terhadap keaslian dokumen itu. Dan berkali-kali pula saya
jawab yakin asli,” kata Subandrio. Kecurigaan
Istana bahwa ada kekuatan Barat yang hendak menggulingkan pemerintah lewat
tentara kian kuat. “Menurut penglihatan saya, tentu Bung Karno cemas. Saya
menyimpulkan, Bung Karno sedang terbakar oleh provokasi itu,” tutur
Subandrio. Dokumen
Gilchrist pun diungkap ke dunia internasional. Ketika Bung Karno batal ke
Aljazair untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika II pada Juli 1965, ia
mendarat di Kairo, Mesir. Di sana Presiden memerintahkan Subandrio
menyebarkan keberadaan Dokumen Gilchrist kepada pers. Baru
belakangan, asal-usul Dokumen Gilchrist terkuak. Pada 1972, Ladislav Bittman
alias Lawrence Martin-Bittman, eks agen intelijen Cekoslovakia yang membelot
ke Amerika Serikat, menyatakan surat itu adalah buatan Cekoslovakia atas
perintah Uni Soviet. Teks itu disampaikan lewat seorang duta besar Indonesia
di Eropa hingga sampai ke tangan Subandrio. Pemerintah Inggris juga
menyatakan surat diplomatik tersebut palsu. Keterlibatan
Subandrio dalam pusaran polemik Dokumen Gilchrist menjadi salah satu
aktivitas intelijennya yang paling menonjol saat memimpin BPI sejak November
1959 hingga Maret 1966. Jusuf Wanandi, salah satu pendiri Centre for
Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan Subandrio merupakan
salah satu orang kepercayaan Bung Karno. Mantan
sekretaris Soejono, Wakil Ketua II Dewan Pertimbangan Agung pada era Sukarno,
ini mengakui peran besar Subandrio. “Ia orang dekat dan pelaksana utama
keinginan Bung Karno dalam segala hal,” ujar Jusuf di kantor CSIS, Tanah
Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis, 17 September 2026. Pandangan
Jusuf selaras dengan catatan CIA dalam memorandum intelijen tertanggal 13
Desember 1965. CIA menyebut Subandrio sebagai orang kedua paling berpengaruh
di Indonesia. Ia digambarkan sebagai sosok yang ambisius, lincah, cerdik, dan
cakap. Sebagai pemimpin Badan Pusat Intelijen, Subandrio dinilai mampu
mengendalikan hampir setiap sektor dan organ pemerintah. Sigit
Aris Prasetyo, diplomat sekaligus peneliti sejarah di Kementerian Luar
Negeri, meyakini posisi sebagai orang nomor satu di dunia intelijen itu
berhubungan dengan pengalaman diplomasi Subandrio. Tak lama setelah pengakuan
kedaulatan pada akhir 1949, Sukarno menunjuknya sebagai duta besar pertama
Indonesia di Inggris. Lima tahun kemudian, dia berpindah tugas ke Moskow,
juga sebagai duta besar perdana. Sebelumnya,
pada masa awal kemerdekaan, Subandrio pernah menjabat Sekretaris Jenderal
Departemen Penerangan. “Jadi dia mempunyai latar belakang mengolah informasi,
melakukan propaganda, dan lainnya,” kata Sigit di kantornya pada Kamis, 17
September 2026. Pembuatan
surat bodong yang membikin heboh itu, menurut Sigit, tak lepas dari konflik
antara Moskow dan Peking. Uni Soviet terganggu oleh kedekatan Sukarno dengan
Cina dan menggerakkan negara proksinya, Cekoslovakia. Abdullah
Mahmud Hendropriyono, kepala pertama Badan Intelijen Negara—nomenklatur
terbaru lembaga telik sandi setelah BPI dan Badan Koordinasi Intelijen
Negara—tak membicarakan Dokumen Gilchrist ketika menjenguk Subandrio saat ia
menjadi tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Waktu
itu, pada 1993-1994, Hendropriyono menjabat Panglima Komando Daerah Militer
Jakarta Raya. Hendropriyono menilai, terlepas dari status keasliannya,
Dokumen Gilchrist memiliki dampak politik yang sangat besar menjelang
peristiwa 1965. Lantas
bagaimana dengan Sir Andrew Gilchrist? Pada 5 Oktober 1965, empat hari
setelah pembunuhan Ahmad Yani dan petinggi TNI Angkatan Darat lain yang
memicu perubahan politik besar di Indonesia, Duta Besar Gilchrist mengirim
kawat diplomatik ke London. Isinya, "Saya tidak pernah ragu bahwa
penembakan kecil di Indonesia akan menjadi awal penting bagi sebuah perubahan
yang efektif." Pada
hari yang sama, Alec Adams, penasihat politik komandan militer Inggris di
Timur Jauh, meminta Kementerian Luar Negeri "mengambinghitamkan PKI di
mata tentara dan orang-orang Indonesia". George
Norman Reddaway, diplomat yang memimpin Departemen Riset Informasi (IRD),
badan Kementerian Luar Negeri Inggris yang menjalankan mesin propaganda pada
masa Perang Dingin, menjadi salah satu ujung tombaknya. Reddaway dibekali
uang tunai 100 ribu pound sterling dengan tugas, seperti dilansir The
Independent edisi 1 Desember 1998, "Melakukan apa pun yang bisa saya
lakukan untuk menyingkirkan Sukarno." Seperti
dilaporkan Tempo pada 2015, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menolak
berkomentar soal peran badan intelijennya dalam peristiwa 1965. Mereka
menyatakan memiliki rekam jejak kuat untuk mendukung pengungkapan fakta dan
rekonsiliasi di Asia Tenggara, termasuk di Timor Leste dan Kamboja. Namun
kabar tentang peran itu terus diulas media, misalnya The Guardian pada 2021.
Informasi awalnya adalah dokumen diplomatik Inggris periode 1965-1966 yang
dibuka kepada publik pada 1996. Statusnya berbeda dengan surat kaleng yang
diterima Subandrio di rumahnya pada pertengahan 1965 itu. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/subandrio-polemik-dokumen-gilchrist-2298596 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar