|
Warisan Sumbu Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 14 Oktober 2026
Mungkin akan
khas Yogyakarta: alon-alon. Pelan pelan. Tapi pelaksanaan Malioboro sebagai
bagian Sumbu Filosofi Yogyakarta sudah mulai bergerak. Memang kendaraan mobil
masih belum bisa dicegah masuk ke Jalan Malioboro. Tapi dua program sudah
selesai dilaksanakan: pemindahan parkir sepeda motor di dekat stasiun Tugu dan
pemindahan pangkalan bus wisata di dua lokasi lainnya.
Saya mampir ke
Wali Kota Hasto Wardoyo usai acara Bank Indonesia perwakilan Yogyakarta Jumat
lalu (Lihat Disway 12 Oktober 2026: Hati Ngadirejo). Saya ingin dengar
perkembangan cerita soal warisan budaya yang ditetapkan UNESCO tahun 2023 lalu
itu.
"Kesulitan
terbesar nanti adalah mengatasi banyaknya jalan-jalan kecil yang memotong
Malioboro," ujar Hasto.
Kalau saja
perlintasan tidak sebanyak itu bisa lebih mudah mengatasinya. Kalau saja
jalan-jalan melintang itu sedikit lebih lebar juga lebih mudah.
"Masih ada
kesulitan lain, yakni sekolah di situ," ujar Hasto. Rasanya ada empat
sekolah di sekitar Malioboro --yang Anda pasti sudah tahu sekolah apa saja itu.
Sumbu filosofi
Yogyakarta termasuk Malioboro di dalamnya, ditetapkan sebagai warisan budaya
dunia dengan banyak konsekuensi. Salah satunya: inilah tata kota yang dirancang
menggunakan budaya dan filsafat kehidupan.
Sumbu itu
panjangnya 6 km. Selatan-Utara. Lurus. Seperti sumbu. Itu dimulai dari Krapyak
di Selatan sampai Tugu di utara. Persis di tengahnya didirikan kraton Yogya.
Lengkap dengan alun-alun dan Masjid Kauman.
Sumbu itu
melambangkan perjalanan hidup manusia: lahir, hidup, mati. Bahwa kraton
ditafsirkan sebagai lambang ”hidup” memang kenyataan. Banyak kehidupan di
kraton. Mulai dari perebutan kekuasaan sampai melimpahnya harta. Termasuk
berkembangnya perseliran.
Lalu, bahwa
tugu diterjemahkan sebagai lambang akhir kehidupan juga bisa diterima. Mirip
batu nisan di kuburan. Tapi bagaimana bisa, panggung di Krapyak melambangkan
kelahiran manusia?
Yang disebut
Panggung Krapyak itu wujudnya bangunan mirip benteng. Orang bisa masuk ke dalam
panggung lewat empat pintu segala arah. Bisa juga naik tangga untuk ke lantai
atas. Lantai atas itu berpagar tapi tidak beratap. Setinggi sekitar 10 meter.
Dari lantai atasnya terlihat apa saja yang terjadi di sekitarnya.
Sekitar
panggung itu hutan. Memang di awal pembangunannya panggung itu dimaksudkan
untuk mengawasi perburuan kijang di hutan sekitarnya. Anda masih ingat: di
zaman itu Krapyak masih berupa hutan. Tempat pejabat kraton berburu rusa. Kata
”krapyak” sendiri konon berasal dari bahasa Jawa yang artinya perburuan. Di
Magetan perburuan seperti itu disebut ”gropyok”. Tapi di bagian mana dari
gropyok itu yang bisa ditafsirkan sebagai lambang kelahiran manusia?
Sumbu
selatan-utara Yogya itu dibangun tahun 1755 --sekitar 20 tahun sebelum
kemerdekaan Amerika. Yang membangunnya Anda sudah tahu: Sultan Hamengkubuwono
I. Yakni sebagai ibu kota baru kerajaan Mataram-baru setelah Mataram pecah
menjadi Solo dan Yogyakarta
Sebelum itu ibu
kota Mataram adalah Kartasura. Yogyakarta belum ada apa-apa. Pangeran
Mangkubumi --nama sebelum menjadi Hamengkubuwono I-- tergolong sayap
antipenjajahan di istana Mataram. Bertahun-tahun melawan Belanda. Akhirnya ia
mau diajak berunding. Itulah yang disebut perundingan Giyanti.
Hasil
perundingan: wilayah Mataram dibagi dua. Pangeran Mangkubumi mendapat wilayah
di sebelah barat. Jadi rajanya yang pertama. Namanya menjadi Hamengkubuwono I.
Yang tertinggal
di Kartosuro pun memindahkan ibu kota ke desa Sala --sekarang di pusat kota
Solo. Yakni setelah terjadinya Geger Kuning --gerakan perlawanan yang banyak
diikuti orang Tionghoa. Orang Tionghoa memang lagi marah kepada Belanda di
mana-mana. Yakni sejak Belanda melakukan pembantaian besar-besaran suku
Tionghoa di Tangerang.
Setelah
menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota Mataram pasca perjanjian Giyanti,
Hamengkubuwono I membuat perencanaan kota Yogyakarta. Bukan pakai sistem
kotak-kotak seperti Washington DC. Bukan kuldesac seperti Paris. Bukan
lingkar-lingkar seperti Italia. Tapi berdasar sumbu selatan-utara. Itu
dikaitkan dengan filsafat perjalanan kehidupan manusia --meski soal panggung
Krapyak masih menyisakan tanya.
Yang membuat
itu jadi warisan budaya dunia UNESCO: rancangan yang sudah berumur 300 tahun
itu masih hidup sampai sekarang dan masih jadi pembicaraan. Memang Malioboro
masih belum bisa dipulihkan. UNESCO dan Pemkot Yogyakarta terus berkoordinasi.
Mereka sudah punya jadwal tahapan-tahapan program pembenahannya. Saling
monitor. Tapi bola ada di Pemkot Yogyakarta.
Di Shanghai,
problem jalan melintas seperti itu juga ada di Nanjing Dong Lu. Itulah
”Malioboro”--nya Shanghai. Mobil tidak boleh melintas. Tapi jalan yang
memotongnya tidak sebanyak di Malioboro. Jalan yang melintas itu juga cukup
lebar. Pejalan kaki di Jalan Nanjing Dong Lu sesekali di-stop untuk memberi
kesempatan lalu-lintas di jalan yang memotong tetap berfungsi.
Wali Kota Hasto
sudah berhasil mengayunkan dua langkah di Malioboro. Ia masih perlu banyak
melangkah di depan. Ia wali kota pertama dari PDI-Perjuangan di Yogyakarta.
Juga wali kota pertama yang bukan berdarah pendiri Muhammadiyah.
Hasto sukses
besar saat jadi bupati Kulon Progo. Juga sukses ketika jadi kepala BKKBN
--jabatan setara menteri. Hasto pun sukses sebagai dokter --sampai jadi ahli
bayi tabung dan punya rumah sakit sendiri di Yogyakarta. Ia juga sukses sebagai
suami dari seorang istri yang juga dokter spesialis anak.
Tugasnya
sebagai wali kota Yogyakarta tinggal tiga tahun lagi. Ia sulit menjabat dua
periode karena sudah dihitung satu periode saat jadi bupati Kulon Progo.
"Masih
berpraktik sebagai dokter?" tanya saya.
"Masih,
meski pun tinggal seminggu sekali," katanya. "Itu pun saya batasi 50
pasien saja," tambahnya.
"Kenapa
masih berpraktik?"
"Itu untuk
memenuhi pesan ibu. Tidak boleh berhenti menolong pasien," jawabnya.
Kini pasiennya
tidak hanya manusia. Ia juga harus menolong merawat warisan dunia lembaga
kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO berupa: Sumbu Filosofi Malioboro.
Saya pun pamit,
besoknya harus ke Nagoya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/973388/warisan-sumbu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar