|
Tak Sebatas 99 Nama Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 16 Oktober 2026
|
Bintang 99:
Benarkah Allah hanya memiliki 99 nama? Hadis sahih tentang Asmaul Husna
menyimpan pelajaran yang sering luput dari hafalan kita. Angka 99 punya tempat istimewa dalam
kehidupan kaum Muslim. Tengok sampul buku tentang Asmaul Husna, sembilan
puluh sembilan nama Allah hampir selalu berbaris rapi. Dengarkan anak-anak santri
melagukannya, termasuk dengan cengkok merdu yang dipopulerkan Putri Ariani. Di telepon seluler atau di tablet,
buka aplikasi zikir, angka yang sama kembali muncul, bahkan dilengkapi desain
grafis dan kaligrafi indah. Seolah-olah Allah telah menerbitkan daftar nama
resmi, lengkap dengan nomor urut dan tanda tangan basah dari langit. Angka itu memang memiliki landasan
hadis sahih. Persoalannya muncul ketika kita memperlakukan angka 99 sebagai
batas mutlak seluruh nama Allah. Kita perlu membedakan dua hal: hadis
yang menjelaskan keutamaan menghayati 99 nama dan dalil yang membatasi
seluruh nama Allah hanya sebanyak itu. Hadis pertama memang ada. Dalil kedua
tidak kita temukan dalam hadis tersebut atau hadis lain. Al-Qur'an justru mengajak kita
memperhatikan keluasan nama-nama Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah
Al-A'raf ayat 180: ﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ
بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ﴾ “Allah memiliki nama-nama yang paling
indah. Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam menyebut nama-nama-Nya.
Mereka akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A'raf:
180). Perhatikan kata الْأَسْمَاءُ, bentuk
jamak dari الاسم, yang berarti nama. Ayat ini menyebut nama-nama Allah dalam
bentuk jamak, tanpa menentukan jumlah keseluruhannya. Tak ada angka 99 di
situ. Ayat tersebut juga memberi petunjuk
praktis: kita memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya. Jadi, nama Allah
memiliki hubungan langsung dengan doa, pengenalan terhadap-Nya, dan kehidupan
seorang hamba. Al-Alusi, ulama tafsir yang wafat pada
1270 H, menyampaikan pendapatnya dengan tegas: «وَالَّذِي أَرَاهُ أَنَّهُ لَا حَصْرَ لِأَسْمَائِهِ
عَزَّتْ أَسْمَاؤُهُ فِي التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ» “Menurut pendapat saya, nama-nama
Allah Yang Mahamulia tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan.” Pernyataan itu mengingatkan kita agar
tidak mengubah angka keutamaan menjadi pagar pembatas bagi kesempurnaan
Allah. Manusia membutuhkan angka sekadar untuk mengatur catatan dan ingatan.
Tapi Allah tidak membutuhkan angka buatan manusia untuk membatasi keluasan
nama dan sifat-Nya. Lantas, apa sebenarnya maksud hadis 99
nama? Abu Hurairah meriwayatkan bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda: «إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا،
مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ» “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh
sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa yang ahshaha, niscaya masuk surga.” (Hr Al-Bukhari, no. 2736, dan Muslim,
no. 2677). Kata kuncinya terletak pada أَحْصَاهَا
(ahshaha). Kata ini memiliki cakupan makna yang lebih kaya dari sekadar
menghitung atau menghafal. Para ulama menjelaskan maknanya
melalui beberapa unsur. Antara lain, menghafal nama-nama tersebut, memahami
maknanya, berdoa dengan menyebutnya, dan mengamalkan konsekuensi yang sesuai
dengan kandungannya. Seseorang dapat menghafal 99 nama
Allah tanpa sungguh-sungguh memahami satu pun maknanya. Ia dapat melagukan
Ar-Rahman dengan suara merdu, tapi memperlakukan orang lain dengan kasar. Ia dapat menyebut Al-'Adl, Yang
Mahaadil, tetapi mengambil hak bawahannya. Ia dapat mengucapkan Ar-Razzaq, Yang
Maha Pemberi Rezeki, tetapi mencari nafkah melalui cara yang haram. Hafalan dan lagu tentu bermanfaat,
tetapi keduanya perlu mengantarkan kita menuju pengenalan, penghambaan, dan
perbaikan perilaku. Hadis itu menjanjikan keutamaan bagi
orang yang menghayati nama-nama tersebut. Tapi hadis itu tidak secara harfiah
mengatakan bahwa Allah hanya mempunyai 99 nama. Para ulama memahami bahwa penyebutan
jumlah tersebut menjelaskan keistimewaan sekelompok nama, bukan membatasi
keseluruhan nama Allah. Ada hadis lain membuka cakrawala yang
lebih luas. Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ
kepada seorang hamba ketika menghadapi kesusahan dan kesedihan. Bagian
penting doa itu berbunyi: «أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ
بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ
خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ» “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang
menjadi milik-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu, yang Engkau
turunkan dalam kitab-Mu, yang Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu,
atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.” (HR Ahmad, no. 3712; hadis ini dinilai
sahih oleh sejumlah ahli hadis). Doa tersebut membagi nama Allah ke
dalam empat kemungkinan: nama yang Allah gunakan untuk diri-Nya, nama yang
Dia turunkan dalam kitab-Nya, nama yang Dia ajarkan kepada salah seorang
makhluk-Nya, dan nama yang Dia simpan dalam pengetahuan gaib-Nya. Bagian terakhir sangat penting.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa Allah memiliki nama yang "disimpan",
yang tidak seluruhnya manusia ketahui. Jika sebagian nama itu tetap berada
dalam ilmu gaib Allah, bagaimana mungkin kita memastikan bahwa seluruh
nama-Nya hanya berjumlah 99? Imam Ahmad dan sejumlah ulama hadis
meriwayatkan doa ini sebagai bagian dari tuntunan Nabi ketika seseorang
menghadapi kesedihan. Doa tersebut juga mengajarkan bahwa
pengetahuan manusia tentang Allah memiliki batas. Kita mengenal Allah melalui
wahyu yang Dia sampaikan, bukan melalui daftar yang kita susun berdasarkan
selera. Tapi, kemudian apa gunanya angka 99?
Pertama, angka itu mengingatkan umat Islam pada keutamaan mempelajari dan
menghayati nama-nama Allah. Ia bisa menjadi pintu masuk yang mudah
bagi anak-anak, santri, dan masyarakat umum untuk mengenal sifat-sifat
kesempurnaan Allah. Mengajarkan 99 nama kepada anak-anak
tentu memiliki nilai pendidikan, asalkan guru menjelaskan maknanya dan
menghubungkannya dengan doa serta perilaku. Kedua, angka itu membantu pembelajaran
menjadi teratur. Guru dapat menyusun materi, membagi target hafalan,
mengadakan evaluasi, dan menghubungkan setiap nama dengan ayat atau doa yang
relevan. Namun, guru perlu menjelaskan bahwa
daftar 99 nama yang populer di masyarakat tidak seluruhnya tercantum dalam
hadis sahih sebagai satu daftar lengkap dari Rasulullah ﷺ. Riwayat yang menyebut 99 nama
sekaligus dengan daftar nama tertentu memiliki pembahasan tersendiri mengenai
sanadnya. Karena itu, kita perlu membedakan hadis sahih tentang keutamaan 99
nama dari daftar nama yang beredar dalam tradisi pembelajaran. Ketiga, angka tersebut dapat menjadi
kurikulum awal untuk mengenali Allah melalui wahyu. Kita bisa memulai dengan
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, lalu mempelajari Al-'Alim, Al-Hakim, Al-'Adl,
Al-Ghafur, dan nama-nama lainnya. Setiap nama perlu disertai dalil,
arti, konteks, doa, dan implikasi pendidikan akhlak. Dengan cara itu,
anak-anak tidak sekadar menghafal bunyi, tapi juga memahami pesan ketuhanan
yang terkandung di dalamnya. Keempat, angka itu mengingatkan kita
pada janji surga dalam hadis. Keutamaan tersebut mendorong umat Islam
mempelajari nama-nama Allah dengan kesungguhan. Namun, kita tidak boleh mereduksi
ihsha' menjadi pekerjaan mekanis atau angka matematis, seakan-akan surga
bekerja seperti mesin tiket otomatis: hafal 99, tekan tombol, lalu pintu
terbuka. Rasulullah ﷺ menggunakan kata yang
menuntut perhatian lebih mendalam dari sekadar menyelesaikan hitungan. Nama Allah sangat menentukan cara kita
hidup. Nama-nama Allah mengandung makna yang beragam. Ar-Rahman dan Ar-Rahim mengajarkan
kita mengenali keluasan rahmat-Nya. Al-'Alim menunjukkan bahwa ilmu Allah
meliputi segala sesuatu. Al-Hakim menunjukkan kesempurnaan
hikmah-Nya. Ar-Razzaq mengingatkan kita bahwa
Allah pemberi rezeki. Al-'Adl menegaskan kesempurnaan
keadilan-Nya. Para ulama menjelaskan bahwa nama-nama
Allah sama-sama menunjuk kepada Zat yang satu, tetapi masing-masing membawa
makna dan sifat yang berbeda. Nama Al-'Alim mengandung makna ilmu;
Al-Qadir mengandung makna kekuasaan; Ar-Rahim mengandung makna kasih sayang.
Kita tidak boleh memperlakukan nama-nama itu sebagai sinonim tanpa perbedaan
makna. Dalam berdoa, pemahaman tersebut
membuat permohonan lebih terarah. Ketika memohon ampunan, kita dapat menyeru
Allah dengan nama Al-Ghafur atau At-Tawwab. Ketika memohon ilmu yang bermanfaat,
kita mengingat nama Al-'Alim. Ketika menghadapi kesulitan, kita
memohon pertolongan kepada Allah Yang Mahakuasa. Semua itu tetap mengikuti tuntunan
wahyu dan tidak memberi manusia hak untuk menciptakan nama Allah sesuka hati. Nama-nama Allah bersifat tawqifiyyah.
Maksudnya, kita hanya boleh menetapkannya berdasarkan dalil Al-Qur'an dan
Sunnah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kita tidak boleh menjadikan ungkapan
puitis, istilah filsafat, atau pujian buatan sendiri sebagai nama Allah tanpa
landasan syariat. Kekaguman kepada Allah perlu berjalan bersama disiplin
ilmu. Di sinilah pendidikan Asmaul Husna
memerlukan pembaruan pendekatan. Guru dapat mengajak santri mempelajari
Ar-Rahman, kemudian mendiskusikan bagaimana mereka memperlakukan teman yang
lemah. Ketika mempelajari Al-'Adl, santri
dapat memeriksa keadilan pembagian tugas piket. Ketika mempelajari Al-'Alim, mereka dapat
belajar menghormati ilmu sekaligus mengakui keterbatasan pengetahuan sendiri. Tentu saja, sifat Allah tidak identik
dengan sifat manusia; kita mengambil pelajaran moral yang sesuai tanpa
menyamakan keduanya. Lagu Asmaul Husna tetap dapat menjadi
sarana yang menyenangkan. Melodi membantu anak mengingat urutan dan
pelafalan. Namun, guru sebaiknya menyambung setiap lagu dengan penjelasan
makna, dalil, dan contoh perilaku. Jika anak-anak hanya mampu menyanyikan
99 nama, pembelajaran baru mencapai pintu depan. Guru perlu membimbing mereka
masuk ke ruang pemahaman. Angka 99 akhirnya layak kita tempatkan
sebagai jendela, bukan tembok. Jendela membantu kita melihat keindahan
nama-nama Allah; tembok justru membatasi pandangan. Kita boleh menghafal 99 nama,
mengajarkannya, melagukannya, dan menyusunnya dalam buku. Kita juga perlu
menyadari bahwa pengetahuan manusia tidak meliputi seluruh nama Allah. Jangan sampai kita terlalu sibuk
menghitung nama hingga lupa mengenal Pemilik nama. Jangan pula kita merasa telah
menuntaskan Asmaul Husna hanya karena mampu melafalkan seluruh daftar yang
populer. Tugas seorang hamba terus berlanjut:
memahami wahyu, berdoa dengan nama-nama Allah, memperbaiki penghambaan, dan
menumbuhkan akhlak yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Sebab, dalam urusan mengenal Allah,
angka dapat membantu langkah pertama. Kerendahan hati menjaga kita agar tidak
mengira langkah pertama sebagai akhir perjalanan. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar