|
Dalam
Hidup yang Absurd, Bagaimana Cara Menjadi Sederhana Iwan Kurniawan : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
· Ketiadaan sendok menjadi premis absurd
yang menggerakkan pentas Cara Menjadi Sederhana di Taman Ismail
Marzuki pada akhir pekan lalu. · Percakapan yang ditampilkan kelompok
teater Ngaos Art dari Tasikmalaya itu menyelipkan isu sosial politik,
termasuk komentar soal pidato Presiden Prabowo. · Pertunjukan ini menghibur sekaligus
memancing tafsir, tapi masih menyisakan pertanyaan soal genre, apakah
termasuk absurd atau satire. KETIADAAN
sendok menjadi perdebatan panjang sepasang suami-istri di meja makan dalam
pertunjukan teater Cara Menjadi Sederhana yang dibawakan Ngaos Art di Teater
Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 3 Oktober
2026. Hal kecil seperti sendok ternyata bisa memicu situasi yang absurd dan
jenaka. Kelompok
seni asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini menggunakan properti yang sederhana.
Panggung hanya diisi sebuah meja makan dan tiga kursi. Sang istri (diperankan
Mimi) duduk di satu kursi dan sang suami (Fauzi) di kursi lain yang agak
jauh. Di atas meja ada lilin yang menyala dan setangkai mawar. Lalu muncul
pelayan (Miqdam) yang menyajikan makanan, minuman, dan beberapa buah.
Suasananya mirip makan malam di sebuah restoran mewah. Di meja
makan itulah perkara sendok menjadi perdebatan. “Kita memesan sendok?” kata
sang suami. “Aku tidak tahu,” sang istri menjawab. “Kalau
tidak tahu, ngapain juga musti kita tunggu,” ujar sang suami. “Kalau kita
tidak tunggu, bagaimana sendok itu bisa tahu kalau kita ini membutuhkannya?”
sang istri membalas. Percakapan
itu terus bergulir sepanjang hampir satu jam. Sesekali sang pelayan muncul
menuangkan minuman dan melakukan hal-hal ganjil, seperti memasangkan helm di
kepala sang suami dan memakaikan jas hujan transparan kepada sang istri. Pertunjukan
berlangsung dalam enam babak. Setiap babak diberi judul yang ditampilkan di
layar di belakang para aktor dan meja makan, seperti “Menunggu Sendok”,
“Sesuatu yang Tak Berguna”, “Binatang yang Suka Berpidato”, dan “Sidang
Sendok”. Kemunculan judul-judul ini sekaligus menjadi jeda antarbabak. Pokok
masalah utama dalam pertunjukan ini jelas, yakni menunggu sendok yang tak
juga datang. Makanan dan minuman sudah tersaji, tapi sendoknya tak juga
disediakan sehingga ritual makan tak bisa dimulai. Upaya mereka untuk
“menyidangkan sang sendok” dengan menginterogasi sebuah kursi kosong tak
menyelesaikan masalah. A.B.
Asmarandana, penulis dan sutradara pertunjukan, menuturkan bahwa naskah Cara
Menjadi Sederhana baru berusia tiga bulan dan ditulis berdasarkan pengalaman
pribadinya. “Dilahirkan di rumah sakit,” tutur Abe—begitu dia biasa
disapa—dalam bincang-bincang seusai pertunjukan. Asmarandana,
yang lahir dengan nama Budi Darma, adalah sutradara senior yang lahir di
Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia juga akademikus yang sekarang mengajar
di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Dia bergiat di Ladang Budaya di
Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebelum mendirikan Ngaos Art, komunitas
seni di Tasikmalaya. Beberapa
bulan lalu, Abe terserang stroke dan harus dirawat di rumah sakit selama dua
pekan. Selama dia dirawat, tak boleh ada orang yang mendampinginya. Ini
menjadi persoalan ketika pada suatu hari dia mendapat ransum makan berupa
bubur tapi perawat tidak menyediakan sendok. “Sehingga saya harus menunggu.
Saya menunggu lama banget sehingga jadilah naskah ini,” ujarnya. Abe
bercerita, naskah Cara Menjadi Sederhana pertama kali dia tulis menggunakan telepon
seluler, satu-satunya gawai yang diizinkan dia pegang selama masa perawatan.
Dalam perjalanannya, pengalaman menunggu sendok itu berkembang menjadi naskah
teater yang mengolah percakapan yang absurd, satire tentang dunia media
sosial, dan sentilan berbagai isu sosial-politik di sana-sini. Dalam
satu babak, beberapa potongan pidato Presiden Prabowo Subianto terdengar
membahana. Hal ini memicu komentar suami-istri di panggung. Misalnya ada
suara “Saudara-saudara, hari ini kita berkumpul untuk membicarakan masa
depan”. Pasangan suami-istri itu tertawa terkikik-kikik. “Masa depan itu di
mana?” kata sang suami. “Gelap sekali, Pakde,” ujar sang istri. Lalu
muncul suara “Kita harus berubah!” dengan tekanan yang kuat. Sang istri
menanggapi kata “berubah”. “Menjadi apa?” kata sang suami. “Wantimpres,” sang
istri menimpali, lalu penonton pun gerrr. Sentilan para aktor itu ternyata
cukup ampuh memancing tawa para penonton, yang membuat pertunjukan menjadi
tidak tegang dan membosankan. Belakangan
ini tidak banyak kelompok teater yang menampilkan naskah bertema absurditas.
Umumnya mereka menampilkan naskah absurd terkenal karya dramawan luar negeri,
seperti Eugène Ionesco dan Samuel Beckett. Ngaos Art dan Abe menawarkan karya
absurd lokal yang cukup menantang untuk didiskusikan, mengingat masih jadi
pertanyaan apakah kondisi absurd memang menjadi fenomena dalam masyarakat
Indonesia sekarang. Ngaos
Art mementaskan Cara Menjadi Sederhana pertama kali di studio mereka di
Tasikmalaya. Naskah ini kemudian dibawakan dalam Festival Teater Dosen
Indonesia di Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang antara lain mengangkat
karya bertema absurditas pada akhir Agustus 2026. Pentas di Jakarta ini
adalah pertunjukan pertama di hadapan publik luas di luar studio mereka. Meskipun
dialog para aktor terdengar absurd, Cara Menjadi Sederhana tampak belum
membangun kesia-siaan hidup sebagai semesta cerita yang khas dalam teater
absurd, seperti yang digambarkan Beckett melalui Waiting for Godot. Dalam
karya Beckett, tokoh Vladimir dan Estragon bertahan dalam kesia-siaan
menunggu Godot, sesuatu yang entah siapa atau apa, yang tak pernah datang. Dalam
Cara Menjadi Sederhana, menunggu sendok menjadi tesis utama yang menggerakkan
cerita bahwa tak adanya sendok membuat tujuan mereka tak tercapai. Namun di
bagian akhir ada adegan sang suami akhirnya makan juga meski dengan tangan.
Dalam hal ini, kesia-siaan menunggu seperti dipecahkan karena tujuan dapat
dicapai tanpa sarana yang sedari awal ditunggu-tunggu. Bisa jadi pula pertunjukan
ini sebenarnya adalah satire terhadap absurditas, sama halnya ketika ia
membuat satire terhadap kebiasaan warganet di media sosial yang mengomentari
potongan-potongan pidato Presiden. “Ini memang naskah yang belum matang dan
masih bisa berkembang,” tutur Abe. Sudah
lazim penulis naskah mengembangkan naskahnya dengan berbagai pertimbangan.
Untuk saat ini, naskah tersebut terbukti mampu menghibur dan memancing
berbagai tafsir penonton. Bisa jadi, bila nanti dikembangkan lebih matang,
karya ini akan terlihat lebih jelas apakah menjadi naskah absurd ataukah
satire. Bisa juga keduanya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/teater-cara-menjadi-sederhana-pidato-presiden-2299710 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar