Minggu, 18 Oktober 2026

 

Dalam Hidup yang Absurd, Bagaimana Cara Menjadi Sederhana

Iwan Kurniawan :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Ketiadaan sendok menjadi premis absurd yang menggerakkan pentas Cara Menjadi Sederhana di Taman Ismail Marzuki pada akhir pekan lalu.

 

·      Percakapan yang ditampilkan kelompok teater Ngaos Art dari Tasikmalaya itu menyelipkan isu sosial politik, termasuk komentar soal pidato Presiden Prabowo.

 

·      Pertunjukan ini menghibur sekaligus memancing tafsir, tapi masih menyisakan pertanyaan soal genre, apakah termasuk absurd atau satire.

 

KETIADAAN sendok menjadi perdebatan panjang sepasang suami-istri di meja makan dalam pertunjukan teater Cara Menjadi Sederhana yang dibawakan Ngaos Art di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Hal kecil seperti sendok ternyata bisa memicu situasi yang absurd dan jenaka.

 

Kelompok seni asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini menggunakan properti yang sederhana. Panggung hanya diisi sebuah meja makan dan tiga kursi. Sang istri (diperankan Mimi) duduk di satu kursi dan sang suami (Fauzi) di kursi lain yang agak jauh. Di atas meja ada lilin yang menyala dan setangkai mawar. Lalu muncul pelayan (Miqdam) yang menyajikan makanan, minuman, dan beberapa buah. Suasananya mirip makan malam di sebuah restoran mewah.

 

Di meja makan itulah perkara sendok menjadi perdebatan. “Kita memesan sendok?” kata sang suami. “Aku tidak tahu,” sang istri menjawab.

 

“Kalau tidak tahu, ngapain juga musti kita tunggu,” ujar sang suami. “Kalau kita tidak tunggu, bagaimana sendok itu bisa tahu kalau kita ini membutuhkannya?” sang istri membalas.

 

Percakapan itu terus bergulir sepanjang hampir satu jam. Sesekali sang pelayan muncul menuangkan minuman dan melakukan hal-hal ganjil, seperti memasangkan helm di kepala sang suami dan memakaikan jas hujan transparan kepada sang istri.

 

Pertunjukan berlangsung dalam enam babak. Setiap babak diberi judul yang ditampilkan di layar di belakang para aktor dan meja makan, seperti “Menunggu Sendok”, “Sesuatu yang Tak Berguna”, “Binatang yang Suka Berpidato”, dan “Sidang Sendok”. Kemunculan judul-judul ini sekaligus menjadi jeda antarbabak.

 

Pokok masalah utama dalam pertunjukan ini jelas, yakni menunggu sendok yang tak juga datang. Makanan dan minuman sudah tersaji, tapi sendoknya tak juga disediakan sehingga ritual makan tak bisa dimulai. Upaya mereka untuk “menyidangkan sang sendok” dengan menginterogasi sebuah kursi kosong tak menyelesaikan masalah.

 

A.B. Asmarandana, penulis dan sutradara pertunjukan, menuturkan bahwa naskah Cara Menjadi Sederhana baru berusia tiga bulan dan ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya. “Dilahirkan di rumah sakit,” tutur Abe—begitu dia biasa disapa—dalam bincang-bincang seusai pertunjukan.

 

Asmarandana, yang lahir dengan nama Budi Darma, adalah sutradara senior yang lahir di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia juga akademikus yang sekarang mengajar di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Dia bergiat di Ladang Budaya di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebelum mendirikan Ngaos Art, komunitas seni di Tasikmalaya.

 

Beberapa bulan lalu, Abe terserang stroke dan harus dirawat di rumah sakit selama dua pekan. Selama dia dirawat, tak boleh ada orang yang mendampinginya. Ini menjadi persoalan ketika pada suatu hari dia mendapat ransum makan berupa bubur tapi perawat tidak menyediakan sendok. “Sehingga saya harus menunggu. Saya menunggu lama banget sehingga jadilah naskah ini,” ujarnya.

 

Abe bercerita, naskah Cara Menjadi Sederhana pertama kali dia tulis menggunakan telepon seluler, satu-satunya gawai yang diizinkan dia pegang selama masa perawatan. Dalam perjalanannya, pengalaman menunggu sendok itu berkembang menjadi naskah teater yang mengolah percakapan yang absurd, satire tentang dunia media sosial, dan sentilan berbagai isu sosial-politik di sana-sini.

 

Dalam satu babak, beberapa potongan pidato Presiden Prabowo Subianto terdengar membahana. Hal ini memicu komentar suami-istri di panggung. Misalnya ada suara “Saudara-saudara, hari ini kita berkumpul untuk membicarakan masa depan”. Pasangan suami-istri itu tertawa terkikik-kikik. “Masa depan itu di mana?” kata sang suami. “Gelap sekali, Pakde,” ujar sang istri.

 

Lalu muncul suara “Kita harus berubah!” dengan tekanan yang kuat. Sang istri menanggapi kata “berubah”. “Menjadi apa?” kata sang suami. “Wantimpres,” sang istri menimpali, lalu penonton pun gerrr. Sentilan para aktor itu ternyata cukup ampuh memancing tawa para penonton, yang membuat pertunjukan menjadi tidak tegang dan membosankan.

 

Belakangan ini tidak banyak kelompok teater yang menampilkan naskah bertema absurditas. Umumnya mereka menampilkan naskah absurd terkenal karya dramawan luar negeri, seperti Eugène Ionesco dan Samuel Beckett. Ngaos Art dan Abe menawarkan karya absurd lokal yang cukup menantang untuk didiskusikan, mengingat masih jadi pertanyaan apakah kondisi absurd memang menjadi fenomena dalam masyarakat Indonesia sekarang.

 

Ngaos Art mementaskan Cara Menjadi Sederhana pertama kali di studio mereka di Tasikmalaya. Naskah ini kemudian dibawakan dalam Festival Teater Dosen Indonesia di Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang antara lain mengangkat karya bertema absurditas pada akhir Agustus 2026. Pentas di Jakarta ini adalah pertunjukan pertama di hadapan publik luas di luar studio mereka.

 

Meskipun dialog para aktor terdengar absurd, Cara Menjadi Sederhana tampak belum membangun kesia-siaan hidup sebagai semesta cerita yang khas dalam teater absurd, seperti yang digambarkan Beckett melalui Waiting for Godot. Dalam karya Beckett, tokoh Vladimir dan Estragon bertahan dalam kesia-siaan menunggu Godot, sesuatu yang entah siapa atau apa, yang tak pernah datang.

 

Dalam Cara Menjadi Sederhana, menunggu sendok menjadi tesis utama yang menggerakkan cerita bahwa tak adanya sendok membuat tujuan mereka tak tercapai. Namun di bagian akhir ada adegan sang suami akhirnya makan juga meski dengan tangan. Dalam hal ini, kesia-siaan menunggu seperti dipecahkan karena tujuan dapat dicapai tanpa sarana yang sedari awal ditunggu-tunggu. Bisa jadi pula pertunjukan ini sebenarnya adalah satire terhadap absurditas, sama halnya ketika ia membuat satire terhadap kebiasaan warganet di media sosial yang mengomentari potongan-potongan pidato Presiden. “Ini memang naskah yang belum matang dan masih bisa berkembang,” tutur Abe.

 

Sudah lazim penulis naskah mengembangkan naskahnya dengan berbagai pertimbangan. Untuk saat ini, naskah tersebut terbukti mampu menghibur dan memancing berbagai tafsir penonton. Bisa jadi, bila nanti dikembangkan lebih matang, karya ini akan terlihat lebih jelas apakah menjadi naskah absurd ataukah satire. Bisa juga keduanya. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/teater-cara-menjadi-sederhana-pidato-presiden-2299710

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar