|
Yang
Terampas dan yang Putus Kebakaran Hutan Kalimantan Hussein Abri :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 18 Oktober 2026
|
· Anak-anak di wilayah yang terkena
dampak kebakaran hutan dan lahan menderita infeksi pernapasan dan menjalani
kelas jarak jauh. · Kementerian Kesehatan mencatat hampir
300 ribu orang di tujuh provinsi mengalami masalah kesehatan karena asap
kebakaran hutan dan rawa gambut. · Pemerintah daerah mengevaluasi model
pembelajaran jarak jauh di lokasi bencana asap secara berkala. TANGISAN
Guanhael Lorikho D. Nadeak pada Rabu dini hari, 14 Oktober 2026, membangunkan
Eleonora Gandesa dari tidurnya. Guanhael, 4 tahun, menggerung sambil menunjuk
hidungnya. Dia memberi tanda kepada ibunya, Eleonora, bahwa ia kesulitan
bernapas. Badan Guanhael juga sempat kejang ketika merebah di dipan. Seraya
menahan tangis karena menyaksikan anaknya kesakitan, Eleonora mengusap-usap
punggung Guanhael. Eleonora, yang tinggal di Kecamatan Jekan Raya, Palangka
Raya, Kalimantan Tengah, menawari putranya menghirup oksigen murni dari
tabung. Setelah sekitar 10 menit, kata Eleonora, napas Guanhael
berangsur-angsur plong dan sang putra renyap dalam tidur. “Peristiwa itu
adalah kedua kalinya anak saya kesulitan bernapas,” ujar Eleonora kepada
Tempo pada Jumat, 16 Oktober 2026. Guanhael
pertama kali mengalami gangguan pernapasan akibat asap kebakaran hutan di
Pulau Kalimantan pada Jumat, 25 September 2026. Eleonora bercerita, Guanhael
saat itu mengeluh sesak setelah bangun dari tidur. “Saya panik sekali,” tuturnya. Asap
kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Palangka Raya sejak empat bulan lalu
atau Juli 2026. IQAir, platform pemantau kualitas udara asal Swiss, mencatat
indeks kualitas udara di Palangka Raya mencapai 1.143 atau masuk kategori
berbahaya per Sabtu, 17 Oktober 2026. Situs
yang sama menyatakan konsentrasi PM 2,5 di udara Palangka Raya telah mencapai
129,6 kali lebih tinggi dari nilai panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO). PM
2,5 merupakan partikel dengan ukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang
mengambang di udara. Karena ukurannya yang sangat kecil, polutan itu bisa
terserap ke aliran darah saat bernapas sehingga menimbulkan masalah
kesehatan. Menurut
Eleonora, anaknya belum mengalami gejala lain seperti flu dan batuk. Namun ia
kini menjadi lebih siaga. Beberapa obat dan peralatan, seperti cairan
pembersih rongga hidung, oksigen kaleng, dan salep gosok, selalu tersedia di
kamar. Eleonora juga menyemprotkan minyak aromaterapi ke pakaian anaknya.
“Biar aroma yang segar masuk ke tubuh anak saya,” ujarnya. Eleonora
tetap saja waswas meski sudah berbuat yang terbaik untuk mencegah anaknya
mengalami kesulitan bernapas akibat asap kebakaran. Menurut dia, udara dari
mesin penyejuk udara di rumahnya diduga tak sepenuhnya bersih dari polutan.
Ia ingin membeli mesin pemurni udara dan memasangnya di kamar. Tapi Eleonora
belum sanggup mendapatkannya karena harganya melambung di tengah jerubu yang
meliputi Pulau Kalimantan. Aghnia
Khaira Farhan, 4 tahun, juga mengalami infeksi saluran pernapasan akut akibat
asap dari kebakaran hutan di Pulau Kalimantan. Ibu Aghnia, Ellisa Qudratul
Jannah, bercerita, anaknya mengalami batuk mulai Sabtu, 10 Oktober 2026.
Aghnia sempat muntah-muntah setelah meminum susu. Ellisa
hanya bisa membaluri tubuh anaknya dengan minyak telon sebagai penghangat
badan. Ia takut membawa Aghnia ke dokter untuk diperiksa karena asap pekat
menyelimuti lingkungan di sekitar rumahnya. Yang bisa dilakukannya sekarang
adalah mencegah asap masuk ke rumah melalui tingkap. Ellisa
bercerita, suaminya yang bekerja sebagai guru honorer telah menutup jendela
dan ventilasi dengan plastik hitam. “Orang tua saja sudah mengalami sakit di
tenggorokan, apalagi anak balita,” katanya pada Kamis, 15 Oktober 2026. Jumlah
kasus infeksi saluran pernapasan meningkat di Palangka Raya, salah satu kota
yang mengalami dampak kebakaran hutan dan lahan terparah. Ketua Tim Kerja
Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah Dr Doris Sylvanus Palangka Raya,
Ninang Raliansi, menyatakan angka kasus infeksi saluran pernapasan meningkat
57 persen sejak Juli 2026. Khusus kasus pada anak-anak, jumlahnya telah
mencapai 87 pasien. Kementerian
Kesehatan juga mencatat ada 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan di tujuh
provinsi yang terkena dampak asap kebakaran hutan. Pada Jumat, 16 Oktober
2026, juru bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, merilis catatan bahwa
22,5 persen kasus infeksi saluran pernapasan terjadi pada anak di bawah usia
lima tahun dengan jumlah korban mencapai 62.400. Ninang
bercerita, sejumlah dokter dan tenaga kesehatan di rumah sakitnya mulai
mengajukan permintaan izin tak bekerja karena kelelahan setelah pasien
infeksi saluran pernapasan membeludak. Beberapa di antaranya menderita
infeksi yang sama. Ada juga yang tak masuk kerja untuk mendampingi anak yang
menjalani pembelajaran jarak jauh. “Pelayanan masih normal, tapi kondisi
kerja bagi dokter dan tenaga kesehatan menjadi lebih berat,” tuturnya. Ninang
berharap pemerintah tak hanya berfokus memadamkan kebakaran, tapi juga
memperhatikan sektor kesehatan masyarakat. Salah satu caranya, memberikan
paket masker dan mesin pemurni udara ke sekolah dan rumah sakit. “Bantuan itu
bisa membantu kami melindungi kesehatan di tengah tugas,” ujar Ninang. Asap
kebakaran hutan dan rawa gambut tak hanya berdampak pada sektor kesehatan.
Jerubu yang pekat juga membuat sekolah menerapkan model pembelajaran jarak
jauh. Salah satu lembaga pendidikan yang memberlakukan kelas daring adalah
Sekolah Sahabat Alam di Palangka Raya. Direktur
Operasional Sekolah Sahabat Alam Rizqi Tajuddin mengatakan lembaganya semula
menerapkan sistem buka-tutup alias tergantung kondisi udara pada pagi. Jika
jerubu pekat, sekolah menerapkan kelas online. Lantaran asap makin tebal
hingga membuat langit terlihat jingga di Palangka Raya, Rizqi menerapkan
pembelajaran jarak jauh secara penuh sejak Agustus 2026. “Ada guru yang sudah
terkena infeksi saluran pernapasan,” ujarnya pada Rabu, 14 Oktober 2026. Rizqi
mendapat laporan bahwa ada beberapa murid yang telah diungsikan orang tua
mereka ke luar Pulau Kalimantan karena asap makin pekat. Rizqi pun akan
menerbangkan putranya yang bernama Gaza—kini duduk di kelas VII Sekolah
Menengah Pertama Sahabat Alam—ke Jawa Timur. Ia baru akan memulangkan sang
anak ke Palangka Raya setelah jerubu hilang. Sekolah
Menengah Pertama Islam Darussalam Palangka Raya juga menerapkan pembelajaran
jarak jauh. Wakil Kepala SMP Islam Darussalam Nuli Norlina menuturkan, ia
sudah diprotes orang tua murid dan para siswa karena kelas online sudah
berlangsung selama hampir dua bulan. “Murid mengeluh bosan di rumah dan wajah
mereka tampak tak bersemangat saat mengikuti pelajaran,” kata Nuli. Meski
murid belajar dari rumah, SMP Islam Darussalam masih meminta para guru datang
ke sekolah dengan sistem piket. Pengelola memberikan masker dan tabung
oksigen portabel kepada para guru. Nuli melihat mata sejumlah guru tampak
merah, berair, dan bengkak karena terpapar asap. “Asap membuat mata mereka
mengalami iritasi,” tuturnya. Kepala
Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Reza Prabowo mengatakan pembelajaran jarak
jauh diterapkan selama tiga hari dan dievaluasi secara berkala dengan melihat
kualitas udara. Menurut dia, ada sekolah di lokasi tertentu yang tetap
menggelar pembelajaran tatap muka secara terbatas di tengah bencana asap.
“Kegiatan belajar akan kembali normal jika kualitas udara membaik dan indeks
standar pencemaran udara berada pada angka normal,” ujar Reza melalui jawaban
tertulis kepada Tempo pada Jumat, 16 Oktober 2026. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/kebakaran-kalimantan-infeksi-pernapasan-ispa-2300811 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar