|
Tutup Rapat Pintu Konser Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 12 Oktober 2026
|
Namanya
Israel Houghton. Nama depannya sudah membuat orang mengernyit. Tetapi
benarkah sebuah nama cukup untuk membuat konser dicurigai? Namanya Israel Houghton. Nama depannya
saja sudah cukup membuat orang Indonesia mengernyitkan dahi. “Israel?”
Bukankah itu nama sebuah negara yang selama ini menjadi salah satu aktor utama
dalam konflik Palestina? Maka, sebelum orang mendengar lagunya,
membaca liriknya, menikmati suara seraknya, atau mengetahui siapa sebenarnya
pemilik nama itu, kecurigaan sudah lebih dulu mengambil tempat di kepala. Nama itu, Israel Houghton, adalah musisi gospel berkewarganegaraan Amerika
Serikat. Dan tentu saja, nama tidak otomatis menunjukkan kewarganegaraan,
agama, apalagi sikap politik seseorang.
Tapi di tengah perang Gaza dan
dukungan Indonesia yang sangat tegas terhadap kemerdekaan Palestina, nama
“Israel” pada poster konser di Jakarta memang mudah menjadi pemantik
perhatian. Kali ini perhatian itu bahkan berujung
pada larangan pemerintah. Indonesia menyatakan tidak akan memberi izin
pertunjukan Konser Israel Houghton bersama Israel & New Breed di
Indonesia, 24 Oktober 2026 di Jakarta. Nama acaranya sebenarnya cukup damai:
Til The Whole World Knows Tour 2026. Musik gospel, pujian, dan janji malam
penuh worship. Kalau membaca promosi resminya, kita seperti sedang diundang
ke kebaktian musikal. Tapi sebuah panggung tidak selalu
berhenti sebagai panggung. Orang membawa tubuhnya, suaranya, keyakinannya,
dan tak jarang politiknya ke atas panggung. Pemerintah Indonesia kini melihat
ada persoalan di titik itulah. Menko Hukum, HAM, Imigrasi dan
Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan pemerintah mengambil keputusan
setelah berkoordinasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga. Penyanyi
Grammy itu tak bisa memperoleh visa. Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam
Marantoko menyatakan Houghton masuk dalam daftar Subject of Interest (SOI)
Keimigrasian. Jika ia mengajukan visa untuk masuk ke Indonesia, permohonannya
tidak akan diterbitkan. Kasus Houghton juga memberi konteks
baru bagi desakan MUI agar konser Andrea Bocelli dibatalkan. Penyanyi Eropa
ini jelas-jelas punya rekam jejak aktivitas yang berpihak kepada Israel. Pertimbangan lainnya, soal keamanan
dalam negeri dan kontroversi pertunjukan mereka di sejumlah tempat. Israel
Houghton, misalnya, dalam sejumlah pertunjukan disebut pernah mengatakan, “I
stand with Israel” pada 2023. Kalimat itu pendek. Tetapi pada masa
ketika Gaza masih menjadi luka terbuka dunia, tiga kata tersebut bisa
terdengar jauh lebih keras dari amplifier konser. Sikap politik mereka cukup
untuk menjadi alasan penolakan rencana pertunjukan mereka. Di sini kita perlu membedakan dua hal
yang sering dicampuradukkan: agama dan politik. Israel Houghton adalah musisi
gospel. Ia beragama Kristen. Itu bukan persoalan pemerintah. Bahkan Yusril sendiri menegaskan bahwa
pemerintah tidak mempersoalkan agama seseorang dan tidak melarang kegiatan
keagamaan. Yang menjadi perhatian adalah dugaan penggunaan panggung musik
untuk menyampaikan pesan politik pro-Israel. Konser memang tak selalu steril dari
politik. Sejarah menunjukkan, musik sering menjadi kendaraan politik. Lagu
bisa menjadi simbol perlawanan. Panggung bisa menjadi tempat kampanye. Bendera bisa muncul di tengah konser.
Pernyataan politik bisa disisipkan di antara lagu. Bahkan pilihan siapa yang
tampil dan siapa yang dilarang tampil sering mengandung pesan politik. Musik
memang sudah lama bercampur dengan politik. Kita tentu menolak propaganda yang
mendukung pendudukan dan kekerasan Israel terhadap Palestina tanpa harus
memusuhi pemeluk agama tertentu. Kita bisa mendukung Palestina tanpa
menganggap semua orang Kristen sebagai Zionis. Karena itu, kita bisa menolak Israel
Houghton dan Andrea Bocelli karena pernyataan politik mereka tanpa menghukum
musik mereka sebagai musik. Ini penting karena perjuangan Palestina jangan
sampai kehilangan kompas moralnya sendiri. Kalau kita menolak dehumanisasi
terhadap rakyat Palestina, kita juga harus menolak dehumanisasi terhadap
kelompok lain. Prinsip hak asasi manusia tidak boleh seperti payung yang
hanya dibuka ketika hujan turun di halaman sendiri. Pada akhirnya, pemerintah telah
membuat keputusan yang tegas: konser Israel Houghton tidak akan diberi izin
di Indonesia. Kini saatnya juga pemerintah menolak Andrea Bocelli yang lebih
jelas rekam jejaknya membantu Israel. Jangan kasih pintu. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar