|
Istikamah Menjadi Santri Saeful Millah : Alumnus Postgraduate School Departement of Sociology
and Antropology Mississippi State University, Amerika Serikat (Pernah ngobong
di pesantren). |
MEDIA INDONESIA, 22 Oktober 2026
|
SECARA historis, ingatan kolektif kita tentang
santri selalu lekat pada stereotipe yang pekat: sosok bersarung, berpeci,
hidup bersahaja di bilik-bilik bambu bernama kobong--kamar sederhana tempat
para santri tidur, makan, berinteraksi, dan menghabiskan hari-hari mendalami
lembaran kitab kuning. Identitas fisik dan kultural itu begitu kuat membentuk
persepsi publik selama puluhan tahun. Namun, zaman terus bergerak, dan sebutan santri
pun mengalami pergeseran makna. Seperti kata Gus Mus, "Santri bukan saja
yang mondok, tapi siapa pun yang berakhlak seperti santri, dialah
santri." Dalam definisi Kementerian Agama, santri adalah siapa saja yang
memiliki pemahaman, akhlak, dan pengamalan keagamaan yang moderat, berjiwa
toleran, serta cinta tanah air. Maka, hari ini kita menyaksikan wajah santri
yang jauh lebih beragam. Karena kompetensinya, mereka berhasil merambah
berbagai profesi: dokter, pebisnis, politisi, penguasa, hingga dunia
akademik. Mereka adalah alumni berbagai universitas besar. Bukan saja
universitas di dalam negeri ini, tetapi juga luar negeri dengan disiplin ilmu
yang beragam. Jika dulu penguasaan ilmu para santri lebih
banyak bersumber dari kitab-kitab kuning karya ulama besar seperti Safinah,
Bulughul Marrom, Sulamut Taufiq, Alfiyah, Ta'lim Muta'allim, Fathul Mu'in,
Tafsir Jalalain, Ihya Ulumuddin, dan sejenisnya, referensi keilmuan santri
hari ini telah diperkaya oleh pemikiran para pakar dunia dari berbagai
disiplin. Bahkan magnum opus Karl Marx berjudul Das Kapital pun bisa jadi
sudah mereka lahap. RESOLUSI JIHAD Yang tidak berubah, dan tidak akan pernah
berubah, ialah DNA kesantriannya: nasionalisme yang berbasis spiritualitas
keagamaan. DNA sekaligus fondasi moral itu berakar pada fatwa historis
Resolusi Jihad yang digelorakan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober
1945, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Fatwa
monumental yang berbunyi hubbul wathan minal iman--cinta tanah air adalah
sebagian dari iman--bagi kaum santri bukan sekadar doktrin teologis yang
telah berhasil menggetarkan dan menggerakkan mereka tampil di garis depan
mengusir penjajah. Ia tetap relevan, bahkan sangat dibutuhkan untuk
menghadapi musuh-musuh bangsa yang hari ini jauh lebih berat dan kompleks.
Meski musuh itu tidak lagi datang membawa bedil atau tank dari seberang
lautan. Musuh itu nyata dan ada dalam tubuh bangsa, bahkan bisa jadi ada
dalam tubuh santri itu sendiri. Wujud konkretnya, musuh itu adalah
ketertinggalan, kebodohan, dan kemiskinan. Musuh itu adalah realitas bangsa
yang masih sarat ketimpangan dan ketidakadilan. Musuh berikut lebih berat lagi: watak serakah,
rakus, bahkan munafik: mengaku paling NKRI, tetapi perilakunya korupsi. Musuh
itu juga adalah benih-benih ‘ke-kita-an’ yang hari-hari ini masih sering
tergerus oleh semangat ‘ke-kami-an’ kendati hanya karena beda preferensi
politik. JIHAD AKBAR Kenyataan pahit ini memberi sinyal bahwa
perjuangan kaum santri hari ini jauh lebih berat dan kompleks. Tidak hanya
karena wujudnya yang sering tidak kasatmata, tetapi juga karena harus melawan
bangsa sendiri. Bahkan bisa jadi harus melawan musuh yang ada dalam tubuh
kaum santri sendiri. Jihad akbar, itulah yang sejatinya jadi panggilan bagi
kaum santri hari ini. Seperti fatwa Rasulullah SAW dalam sebuah
hadisnya: Raja'na minal jihadil asghar ilal jihadil akbar. Wama jihadul
akbar? Qala: jihadul qalbi au jihadun nafs — kita telah kembali dari jihad
kecil (perang) menuju jihad akbar. Apa itu jihad akbar? Jawab Rasulullah:
jihad hati atau jihad melawan nafsu. Adalah juga Bung Karno, sang proklamator
kemerdekaan yang juga pernah mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah
karena hanya mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri." Untuk itu, selaras dengan tema Hari Santri
Nasional (HSN) 2026, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, dan
sesuai pula dengan logonya yang berbentuk ‘poros fondasi’ yang kokoh, maka
ada beberapa agenda besar yang sejatinya bisa ditunjukkan kaum santri hari
ini. Secara moral, kaum santri hari ini dituntut untuk istikamah merawat
tradisi dan keteguhan imannya: istikamah menempatkan akhlak, adab, dan
kedalaman spiritual keagamaan sebagai basis utama dalam menata kehidupan
berbangsa. Di sini, kaum santri hadir menjadi benteng yang memastikan
kemajuan bangsa ini tidak berjalan hampa tanpa fondasi moral dan spiritual. Secara intelektual, kaum santri dipanggil untuk
terus memperluas cakrawala pengetahuan melampaui sekat-sekat tradisional
tanpa kehilangan sanad keilmuan yang autentik. Representasi ‘lingkaran elemen
cita’ dan pancaran warna keemasan pada logo HSN 2026 menegaskan bahwa kaum
santri tampil menjadi motor penggerak transformasi ilmu pengetahuan dan
teknologi guna mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sesuai dengan DNA yang dimiliki, kaum santri hari
ini harus terus berkiprah melakukan berbagai aksi nyata menyuarakan semangat
inklusivitas sebagai manifestasi dari keislaman yang rahmatan lil'alamin.
Desain logo HSN 2026 yang mengusung konsep anyaman adalah panggilan bagi kaum
santri untuk istikamah merawat NKRI, istikamah merawat Indonesia. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/947172/istikamah-menjadi-santri
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar