Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Subandrio: Kader PSI yang Menjadi Loyalis Sukarno

Han Revanda Putra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio muda merupakan pengikut Sjahrir yang diutus menjadi diplomat di Britania Raya.

 

·      Sebagai orang kepercayaan Sukarno, Subandrio terlibat penangkapan Sjahrir karena persaingan politik.

 

·      Peralihan loyalitas dari Sutan Sjahrir ke Sukarno didorong faktor oportunisme hingga kesamaan asal-usul.

 

HARI masih gelap ketika rombongan Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) masuk ke pelataran rumah Sutan Sjahrir di Jalan H.O.S. Cokroaminoto Nomor 61, Menteng, Jakarta Pusat, pada 16 Januari 1962. Pada pukul 04.00 WIB, mereka membawa Sjahrir, Pemimpin Umum Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang ketika itu sudah menepi dari kekuasaan selama lebih dari satu dekade.

 

Menurut Siti Rabyah Parvati Sjahrir, anak kedua Sjahrir, Peperti menahan ayahnya tanpa pengadilan dengan tudingan terlibat dalam gerakan menggulingkan pemerintahan Sukarno. “Saya tidak habis pikir dengan tuduhan kepada Papa,” ujar perempuan 66 tahun yang akrab disapa Upik ini di rumahnya di Jakarta Selatan pada Jumat, 25 September 2026.

 

Penangkapan Sjahrir, Perdana Menteri Republik Indonesia pertama, rupanya didasari laporan intelijen yang diterima Subandrio, Wakil Perdana Menteri I sekaligus Kepala Badan Pusat Intelijen. Pemicunya sederhana: Sjahrir menghadiri undangan upacara kremasi Ide Anak Agung Ngurah Agung, mantan Raja Gianyar Bali, pada 18 Agustus 1961. Putranya yang bernama Anak Agung Gde Agung juga mengundang tokoh lain, seperti Mohammad Hatta, Mohamad Roem, Sultan Hamid, dan Subadio Sastrosatomo.

 

Menurut Upik, upacara itu berjalan normal tanpa sesuatu yang istimewa. Namun, pada 7 Januari 1962, iring-iringan kendaraan Presiden di Makassar dilempari granat oleh orang tak dikenal. Beredar desas-desus yang mengaitkan para tetamu di Bali dengan peristiwa itu. Sukarno memerintahkan Subandrio menyelidiki kabar burung ini. “Spion-spion Melayu bikin cerita bahwa ada konspirasi kudeta Sukarno,” tutur Upik.

 

Sepekan berselang, Peperti yang dipimpin langsung oleh Sukarno menangkap Sjahrir dan para tokoh yang dianggap dekat dengan PSI. Sejumlah pemimpin Partai Masyumi juga ditangkap. Penyelidikan lanjutan Peperti, menurut Upik, sebenarnya membuktikan Sjahrir dan para tokoh lain tak terlibat dalam upaya pembunuhan Sukarno. Namun mereka tak dibebaskan. “Mungkin pemerintah malu atau ada alasan lain yang tak bisa diungkap,” ujarnya.

 

Tak hanya melaporkan informasi rahasia, Subandrio, yang juga menjabat Menteri Luar Negeri, menandatangani surat penahanan Sjahrir cs. Menurut sejarawan Rudolf Mrázek dalam buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, surat penahanan ditandatangani Subandrio dan Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Abdul Haris Nasution.

 

Dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas 5, Nasution mengaku hanya meneken blangko kosong. Adapun pencantuman nama-nama yang ditahan, dia mengungkapkan, tergantung hasil pemeriksaan.

 

Djono W. Oesman, jurnalis yang membantu Subandrio menulis buku Kesaksianku tentang G-30-S, mengatakan, dalam proses wawancara, Subandrio tak menjawab secara gamblang soal penangkapan Sjahrir dan sejumlah tokoh lain. Namun, dari jawaban-jawaban Subandrio, Djono menilai penangkapan Sjahrir adalah bentuk persaingan politik ketika itu. “Bung Karno mempertahankan kekuasaannya dengan cara menjatuhkan Sjahrir,” katanya pada Rabu, 2 September 2026.

 

Sejarawan Baskara T. Wardaya mengatakan benturan politik Sukarno dengan Sjahrir kian keras tatkala muncul gerakan Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta di Sulawesi pada 1957 dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI di Sumatera pada 1958. Meski Sjahrir tak mendukung gerakan itu, sejumlah kader PSI dan Masyumi terlibat. Sukarno membubarkan dua partai itu pada 17 Agustus 1960. “Dalam politik, mereka yang tidak disukai sering kali disingkirkan,” tutur Baskara pada Jumat, 11 September 2026.

 

•••

 

HUBUNGAN Subandrio dengan Sutan Sjahrir ibarat pasang-surut di laut. Jauh sebelum menandatangani surat penahanan tokoh berjulukan “Bung Kecil” itu, Subandrio muda adalah bagian dari gerakan bawah tanah Partai Sosialis Indonesia. Para pemuda pengikut Sjahrir ketika itu rata-rata merupakan mahasiswa di Jakarta, seperti Subadio, Sudarpo Sastrosatomo, Soeroto Koento, dan Soedjatmoko.

 

Di dalam lingkaran ini, Subandrio terbilang senior. Dalam memoarnya, Soedjatmoko: Revolusi & Renaisans Bangsa, Soedjatmoko mengatakan, ketika masuk Geneeskundige Hogeschool te Batavia pada 1940, dia telah melihat Subandrio sebagai kakak tingkat di sekolah tinggi kedokteran itu. “Dia suka bantu kami belajar,” demikian dia menulis.

 

Michael van Langenberg, sejarawan Indonesia asal Australia, menulis bahwa kesadaran politik Subandrio tak lepas dari peran istrinya, Hurustiati, pejuang emansipasi perempuan yang dinikahinya pada 1940. “Setelah lulus dari sekolah kedokteran di Jakarta pada 1942, Subandrio telah menjadi seorang nasionalis yang berkomitmen dan militan,” kata Langenberg dalam “Dr. Subandrio—An Assessment”.

 

Subandrio kemudian bergabung dengan Partai Sosialis. Dalam Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio mengatakan niatnya masuk PSI adalah menyalurkan hobi berdiskusi seperti saat ia masih menjadi mahasiswa. Dia mengklaim sudah menjadi wakil ketua partai itu pada 1940. Partai Sosialis sebagai fusi Partai Rakjat Sosialis atau Paras dan Partai Sosialis Indonesia atau Parsi sebenarnya baru berdiri pada November 1945. Sejak menjadi pejabat, Subandrio menambahkan, dia tak lagi aktif di PSI.

 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Subandrio meninggalkan praktik dokter bedah di Jakarta dan Semarang. Di Kabinet Sjahrir, dia mulai bekerja di kantor Departemen Penerangan di Surakarta, Jawa Tengah, kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan di Jakarta. “Karier saya di kedokteran selesai sampai di situ, sebab saya jenuh dengan pekerjaan yang menurut saya monoton. Saya lebih tertarik berorganisasi,” katanya.

 

Lompatan karier Subandrio terjadi ketika dia memimpin perwakilan Indonesia untuk Britania Raya pada 1947. Ini adalah embrio Kedutaan Besar Indonesia untuk Britania Raya, yang juga dipimpin Subandrio pada 1950-1954. Pendirian kantor perwakilan itu bertujuan memenangi pengakuan internasional atas Republik. “Dia ditugasi Perdana Menteri Sutan Sjahrir,” ujar Yuri Octavian Thamrin, Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya 2008-2012, pada Ahad, 13 September 2026.

 

Dalam kesaksian yang dia tulis setelah bebas dari penjara pada 1995, Subandrio justru tak menyebut nama Sjahrir dalam penugasan perdananya sebagai diplomat. Dia hanya mengatakan penunjukan itu datang dari Sukarno secara tiba-tiba. “Mungkin karena saat itu jumlah manusia tidak sebanyak sekarang. Penunjukan Presiden Sukarno langsung saya terima,” katanya.

 

Cerita menarik yang menggambarkan hubungan Sjahrir dengan Subandrio pada masa ini datang dari Sal Tas, sosialis yang berkawan dengan Sjahrir sejak masih berkuliah di Belanda. Dalam buku Mengenang Sjahrir, dia melukiskan perjumpaan kembali dengan Sjahrir di sebuah hotel di London, Inggris, pada September 1947. Sjahrir yang sudah mundur sebagai Perdana Menteri pada Juni 1947 ketika itu menjabat penasihat presiden.

 

Saat itu adalah pertama kali Sal Tas bertemu dengan Subandrio, yang dia sebut sebagai “sekretaris pribadi Sjahrir”. Sal Tas bercerita, Subandrio ketika itu diperlakukan seperti pesuruh kantor, yang cukup mengejutkan baginya karena berlainan dengan gambaran tentang Sjahrir yang dia kenal. Melihat itu, dia menganggap Subandrio sebagai pengejar karier yang akan melakukan berbagai upaya untuk memperoleh promosi.

 

Sal Tas menghubungkan momen singkat itu dengan peristiwa penahanan Sjahrir. Dengan hanya mengamati huru-hara penangkapan itu dari Belanda, dia menduga Subandrio menuntut balas secara pribadi atas penghinaan yang dia alami dari Sjahrir ketika bekerja di London. Namun dia tak merinci bentuk-bentuk perlakuan itu.

 

Setelah menjabat penasihat presiden dan “duta besar keliling” hingga Januari 1950, Sjahrir praktis tak memegang portofolio apa pun di pemerintahan. Menurut Rudolf Mrázek, pada 1950-an, PSI hampir selalu absen dari kursi kabinet. Satu-satunya pejabat yang tampak sebagai “orang Sjahrir” pada periode ini adalah Sumitro Djojohadikusumo. Dalam Pemilihan Umum 1955, PSI hanya memperoleh 1,99 persen suara dan mengamankan lima kursi parlemen.

 

Subandrio praktis tak lagi berhubungan dengan Sjahrir, tapi kedekatannya dengan Sukarno kian erat. Pada 1954, Sukarno menugasi Subandrio menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet. Dua tahun berselang, dia dipanggil pulang menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri dan kemudian Menteri Luar Negeri.

 

Setelah Perdana Menteri Djuanda wafat pada 1963, Subandrio bersama Leimena dan Chaerul Saleh menjabat Wakil Perdana Menteri. Belum cukup, Sukarno menambah tugas Subandrio sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen. “Saya merangkap tiga jabatan. Makin jelas bahwa Presiden mempercayai saya,” katanya. Sukarno juga mempercayainya menjadi salah satu juru tulis pidato.

 

Secara pribadi, Sukarno menggambarkan kedekatan dengan Subandrio dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Ketika sulit tidur, Sukarno mengungkapkan, ia akan menelepon Subandrio. “Bandrio, datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah,” ujarnya.

 

Meski merapat ke Sukarno, Subandrio tak bergabung dengan Partai Nasional Indonesia. Soal ini, Djono W. Oesman pernah mendengar penjelasan langsung dari Subandrio. Menurut dia, partai adalah jalan menuju kekuasaan. “Karena merasa sudah memegang kekuasaan, dia merasa tidak perlu ikut-ikut partai,” kata Djono.

 

Michael van Langenberg mengatakan periode 1954-1957 menandai peralihan Subandrio dari pengikut Sjahrir menjadi orang kepercayaan Sukarno. Menurut dia, pergeseran ini cenderung didorong oportunisme untuk mengamankan posisi politik. Peran besarnya di sekitar Sukarno membuat pers Orde Baru menjulukinya “Durno”, tokoh di dunia pewayangan yang suka memberi nasihat buruk kepada raja.

 

Sejarawan Baskara T. Wardaya menilai kedekatan Sukarno dengan Subandrio disebabkan oleh kesamaan ideologi kerakyatan serta kapasitas Subandrio dalam berdiplomasi di panggung internasional. Menurut dia, Indonesia ketika itu sedang membutuhkan pengakuan dunia untuk kampanye perebutan Irian Barat, ganyang Malaysia, dan konsep “New Emerging Forces”. “Alasan lain yang tidak terlalu penting adalah mereka sama-sama dari Jawa Timur. Nyambung kalau ngomong Jawa,” tutur Baskara.

 

Namun kemesraan itu pudar pada akhir masa kekuasaan Sukarno. Ketika harus mendekam 29 tahun di penjara Orde Baru karena tuduhan terlibat Gerakan 30 September, Subandrio mengatakan hal itu terjadi karena kedekatannya dengan “Bung Besar”. Dia pun mengalami depresi.

 

Dalam buku Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio menyebutkan satu-satunya kesalahan dia adalah menjadi pengikut setia Sukarno. Namun dia menyatakan tak menyesal karena itu telah menjadi tekadnya. “Ini merupakan risiko bagi semua orang yang berkecimpung di bidang politik,” katanya.

 

Di masa senjanya, Subandrio banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Arnold Budojo Subandrio, cucu Subandrio dari pernikahan Budoyo dengan Anne Frida Yohana Hanafiah-Sereh, mengatakan Papa Ban—demikian dia menyapa kakeknya—justru merasa ditinggalkan oleh keluarga Sukarno. Menurut dia, perasaan ini muncul setelah upaya rehabilitasi nama baiknya pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kandas.

 

Arnold mengatakan Subandrio merasa telah mengorbankan segalanya, bahkan keluarga sendiri, untuk melindungi Sukarno. Namun, Arnold menjelaskan, Subandrio merasa orang-orang yang dia percayai tak mampu memulihkan nama baiknya. “Impian terakhirnya adalah melihat namanya dibersihkan dan direhabilitasi secara resmi,” tuturnya.

 

Menurut Arnold, sebelum berpulang pada Juli 2004, sang kakek berkata kepadanya bahwa Megawati Soekarnoputri tidak akan memenangi pemilihan umum lagi setelah selesai menjadi presiden. Bahkan, kata dia, Subandrio mengatakan tidak akan pernah lagi ada laki-laki atau perempuan keturunan Sukarno yang akan menjadi presiden.

 

Ucapan itu, kata Arnold, bukan penilaian atau ramalan dirinya, melainkan pernyataan sang kakek sebagai, “Pria yang dalam hidupnya merasa sangat kecewa dan dikhianati oleh orang-orang yang dulu merupakan bagian penting dari dunianya.” ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/hubungan-subandrio-sjahrir-sukarno-psi-2298603

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar