|
AI Bahasa Daerah Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 21 Oktober 2026
|
GoTo
meluncurkan AI 27 miliar parameter untuk bahasa Indonesia dan empat bahasa
daerah. Namun, apa yang sungguh-sungguh baru dari model ini? Di sebuah kampung di Bali, seorang
anak mendengar neneknya bercerita tentang leluhur dalam bahasa yang tak
pernah muncul di buku pelajaran. Ia memahami setiap ungkapan nenek, termasuk
sindiran halus yang tak bisa diterjemahkan kata demi kata. Ketika anak itu masuk sekolah, ia
belajar menggunakan kecerdasan buatan untuk mengerjakan tugas. AI menjawab
dengan bahasa Indonesia yang rapi, tetapi mendadak kehilangan kecerdasan
ketika neneknya menyelipkan ungkapan Bali. Mesin itu menguasai tata bahasa,
tetapi belum tentu memahami tata kehidupan. Bayangkan jika suatu hari mesin
mampu memahami percakapan mereka tanpa meminta semua orang terlebih dahulu
belajar berbicara seperti orang Jakarta. Mimpi itulah yang membuat pengumuman
GoTo pada 19 Oktober 2026 menarik perhatian. Perusahaan teknologi di balik
Gojek dan Tokopedia tersebut meluncurkan model bahasa besar atau large
language model (LLM) berukuran 27 miliar parameter. Model itu dirancang untuk memahami
bahasa Indonesia serta bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. GoTo
menyediakannya agar perusahaan rintisan, kampus, peneliti, dan lembaga publik
bisa mengembangkan aplikasi AI sesuai kebutuhan Indonesia. Namun, sebelum kita mengangkatnya
sebagai kelahiran kecerdasan buatan Indonesia, kita perlu memeriksa satu
pertanyaan mendasar: apa yang sungguh-sungguh baru dari GoTo? Apakah
perusahaan ini menemukan teknologi AI baru, dengan kemampuan bahasa daerah? Pertanyaan itu penting agar kita tidak
terjebak dalam upacara peluncuran. Dunia teknologi gemar menyajikan produk
baru dengan panggung megah, sementara pembaruan sesungguhnya sering
berlangsung di ruang kerja yang sepi. Ada proses-proses panjang yang tak
sepenuhnya diketahui publik. Ada
proses mengumpulkan data, membersihkan teks, melatih model, menguji jawaban,
lalu mengulang pekerjaan yang sama sampai mesin semakin memahami manusia. Petunjuk penting tersimpan dalam nama
model AI yang GoTo unggah ke Hugging Face:
"gemma3-27b-cpt-gotoai-v3-instruct". Nama teknis ini mengungkap
silsilahnya. GoTo menggunakan Gemma3-27B buatan Google, lalu menyesuaikannya
dengan konteks Indonesia. Istilah CPT merujuk pada continued
pre-training, yaitu pelatihan lanjutan terhadap model yang sudah memiliki
kemampuan bahasa sebelumnya. Setelah itu, model dapat menjalani instruction
tuning. Proses terakhir itu agar AI lebih
terampil mengikuti perintah dan menjawab pertanyaan. Maka, GoTo tidak
mengumumkan penemuan arsitektur LLM baru. Ia mengembangkan kemampuan model
yang sudah tersedia melalui pelatihan dan penyesuaian berbasis data lokal. Strategi ini masuk akal. Membangun
model bahasa besar dari nol membutuhkan data dalam jumlah sangat besar,
komputasi mahal, tenaga ahli, dan waktu panjang. Mengembangkan model dasar yang sudah
tersedia memungkinkan tim mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk
memperbaiki kemampuan yang mereka anggap penting. Dalam kasus GoTo, prioritas itu
mencakup bahasa Indonesia, bahasa daerah, serta konteks budaya setempat.
Lantas, apa yang baru? Pertama, GoTo membawa pengembangan
modelnya ke versi ketiga, sebagaimana tersirat dalam penamaan V3. Ini
menunjukkan kelanjutan proses pengembangan, bukan proyek yang baru lahir pada
Oktober 2026. Kedua, perusahaan merilis model
berukuran 27 miliar parameter yang secara khusus diarahkan pada bahasa
Indonesia dan empat bahasa daerah. Ketiga, GoTo membuka akses model tersebut
untuk dipelajari, digunakan, dan diadaptasi oleh pihak lain. Poin ketiga mungkin justru paling
penting. Indonesia sudah memiliki banyak orang yang mampu membangun aplikasi,
tetapi tidak semuanya mempunyai sumber daya untuk melatih LLM berukuran
besar. Dengan menyediakan bobot model yang
dapat diunduh, GoTo memberikan titik awal bagi pengembang yang ingin membuat
layanan pendidikan, penerjemahan, dokumentasi budaya, atau aplikasi pelayanan
publik. Sebelum menyebut peluncuran ini
sebagai terobosan yang belum pernah terjadi, kita perlu menengok pekerjaan
serupa yang telah berjalan. AI Singapore mengembangkan SEA-LION
(Southeast Asian Languages in One Network), keluarga model bahasa yang
berfokus pada kebutuhan bahasa dan budaya Asia Tenggara. Program ini telah
mengembangkan model sejak generasi awal, termasuk model berbasis Gemma dan
Llama. Jadi, gagasan menggunakan model dasar
global untuk memperkuat bahasa kawasan sudah berkembang sebelum pengumuman
GoTo kali ini. Bahkan, SEA-LION menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut dapat
meliputi berbagai bahasa di Asia Tenggara, bukan hanya bahasa Indonesia dan
empat bahasa daerah. GoTo sendiri memiliki riwayat
pengembangan AI lokal melalui kolaborasinya dengan Indosat dalam ekosistem
Sahabat-AI. Inisiatif itu telah menawarkan model yang ditujukan bagi bahasa
Indonesia dan sejumlah bahasa daerah, termasuk Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Karena itu, peluncuran Oktober 2026
lebih tepat dibaca sebagai kelanjutan dan penguatan kemampuan yang sudah
dibangun GoTo, bukan kelahiran pertama AI berbahasa daerah di Indonesia. Perubahan ukuran model, versi, cakupan
data, dan akses publik tetap bisa membawa kemajuan. Namun, kita harus menilai
kemajuan itu melalui hasil yang dapat diperiksa, bukan semata-mata melalui
tanggal peluncuran. Peta persaingan ini juga menunjukkan
bahwa Indonesia tidak berjuang sendirian. Negara-negara Asia Tenggara
menghadapi persoalan serupa: model AI global dapat berkomunikasi dalam banyak
bahasa, tetapi kemampuan mereka tidak selalu merata. Bahasa daerah menghadapi persoalan
yang lebih rumit daripada sekadar kekurangan kamus. Satu bahasa bisa memiliki
variasi dialek, ejaan, kosakata, tingkat tutur, dan tradisi lisan yang
berbeda. Percakapan sehari-hari juga sering
mencampur bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Mesin yang mampu
menerjemahkan kalimat sederhana belum tentu mampu memahami humor, sindiran,
peribahasa, atau kesantunan yang mengikat hubungan sosial. GoTo menyebut modelnya meraih skor
tertinggi dalam pengujian terhadap model sejenis pada setiap bahasa daerah
yang diuji. Klaim itu layak diperhatikan, tetapi pembaca perlu mengetahui
rincian pembanding, data uji, jumlah sampel, dan hasil per bahasa. Kartu model di Hugging Face
menjelaskan bahwa pengujian mencakup IndoMMLU, SEA-HELM, serta evaluasi
kepatuhan terhadap instruksi dan percakapan. Klaim peringkat dari perusahaan
tetap memerlukan pemeriksaan independen sebelum kita menyimpulkan bahwa model
ini terbaik. Ukuran 27 miliar parameter juga perlu
ditempatkan secara proporsional. Dokumentasi model GoTo menyebut kebutuhan
sekitar 54–60 GB memori GPU untuk menjalankan modelnya dalam presisi
FP16/BF16, dengan konfigurasi antara lain GPU NVIDIA A100 80 GB. Pengembang dapat mengurangi kebutuhan
memori melalui kuantisasi. Jadi, kata ringan dalam pengumuman GoTo bersifat
relatif terhadap model yang lebih besar, bukan berarti model ini dapat
berjalan nyaman pada setiap komputer kampus. Istilah open-source juga perlu dibaca
dengan cermat. GoTo memang membuka akses modelnya, tapi kartu model
mencantumkan lisensi Gemma. Pengguna perlu membacanya dengan hati-hati. Akses
gratis tidak otomatis berarti semua penggunaan bebas tanpa syarat. Menurut saya, nilai terbesar dari
pengembangan ini terletak pada peluang yang bisa dihasilkan setelah
peluncuran. Kita memerlukan pengujian yang melibatkan penutur asli dari
berbagai wilayah, bukan hanya tim pengembang dan sejumlah soal pilihan ganda. Universitas dan komunitas bahasa dapat
menyusun kumpulan percakapan nyata, cerita rakyat, peribahasa, istilah adat,
serta ungkapan sehari-hari. Mereka perlu menguji apakah model
mampu membedakan variasi dialek, mempertahankan makna ketika menerjemahkan,
dan mengakui ketidaktahuan ketika tidak memahami suatu ungkapan. Hasilnya
harus dipublikasikan agar peneliti lain dapat membandingkan model GoTo dengan
SEA-LION dan model lain secara adil. Pemerintah daerah juga dapat mengubah
peluang ini menjadi pekerjaan konkret. Dinas kebudayaan bisa mendanai
digitalisasi manuskrip dan rekaman penutur asli. Kampus dapat membangun
korpus bahasa yang berlisensi jelas. GoTo pun perlu menjelaskan
perkembangan antargenerasi modelnya dengan transparan: apa yang berubah dari
V1 dan V2 menuju V3, bagaimana data diseleksi, bahasa mana yang meningkat
kemampuannya, dan kelemahan apa yang masih tersisa. Pada akhirnya, kita patut menyambut
langkah GoTo tanpa perlu membesar-besarkan kebaruannya. Ia tak memulai
sejarah AI bahasa daerah, tapi meneruskan pekerjaan penting dengan
menyediakan model baru berukuran besar untuk digunakan dan dikembangkan
bersama. AI lokal seharusnya bekerja seperti
penerjemah yang baik: memahami kata, menangkap maksud, menghormati konteks,
dan berani bertanya ketika ragu. GoTo telah menyediakan salah satu alat
untuk menuju ke sana. Sekarang, tugas kampus, pemerintah, pengembang, dan
masyarakat ialah menguji, memperbaiki, serta memanfaatkan alat itu. Ukuran keberhasilannya sederhana:
apakah seorang anak di Bali, seorang pedagang di Tapanuli, atau seorang guru
di Jawa merasa bahasanya semakin dihargai dan semakin mudah diwariskan? Jika jawabannya kelak benar-benar ya,
barulah kita pantas menyebut kemajuan ini sebagai kemenangan teknologi bagi
kebudayaan Indonesia. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar