Kamis, 07 Mei 2015

Kapitalis si Tertuduh

Kapitalis si Tertuduh

Bambang Setiaji  ;  Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta
JAWA POS, 04 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KATA kapitalisme dan liberalisme sering menjadi alat untuk menggambarkan perilaku pengusaha dan sistem ekonomi pasar bebas yang merugikan masyarakat. Kata tersebut juga dikonotasikan dengan kolonialisme yang begitu membekas dalam khazanah makna kita semua. Pelakunya disebut kapitalis menunjuk kepada orang yang sangat kaya karena bisnis. Pendukungnya, terutama pengambil kebijakan, juga antek kapitalis atau para komprador.

Kelompok antikapitalis dan liberal umumnya sangat waspada terhadap globalisasi, tema Masyarakat Ekonomi ASEAN, modal asing, TKW dan TKI, sangat pro pemerataan dan mengontradiksikan pertumbuhan dan ketimpangan. Partai-partai pembela ’’wong cilik’’ gemar sekali menggunakan retorika di sekitar tema-tema tersebut. Tulisan ini adalah pertobatan setelah dalam waktu yang panjang ikut dalam gelombang pemikiran tersebut.

Orang Kaya dan Sangat Kaya

Pertama yang perlu dipertanyakan adalah berbahayakah adanya segelintir orang yang sangat kaya. Pemikiran antikapitalis dan liberalis membayangkan sebuah masyarakat utopis bahwa ekonomi tumbuh merata, terdapat banyak sekali pengusaha menengah, dan kalau bisa tidak ada orang yang sangat kaya atau segelintir orang yang menguasai ekonomi.

Sepanjang swasta masih diberi peran dan ruang gerak menciptakan berbagai produk dan layanan, adanya segelintir orang kaya adalah alami. Pertanyaannya, mana yang lebih baik, ekonomi dikuasai oleh banyak orang kaya atau segelintir orang yang sangat kaya. Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan dua ukuran. Pertama, humanistik, misalnya mana yang paling baik bagi orang miskin. Kedua, mana yang lebih mendorong kemajuan.

Ekonomi yang dikuasai orang kaya biasa yang relatif merata sebenarnya kurang maju. Kemajuan ekonomi harus didahului dengan riset dan riset memerlukan biaya besar. Riset menjadi tugas negara melalui perguruan tinggi. Akan tetapi, dalam kasus negara kita, riset perguruan tinggi masih cenderung menjadi proyek dan administratif kebutuhan naik pangkat.

Dari sisi kemajuan bahwa orang yang sangat kaya lebih memungkinkan daripada orang kaya biasa. Sekarang dari sisi humanistik, manakah yang lebih pro-orang miskin. Apakah orang kaya biasa atau segelintir orang kaya? Dalam bidang politik, kita melihat banyak rakyat biasa yang semula tidak dikenal bisa menjadi pejabat daerah dan bahkan negara. Dalam bidang ekonomi, ternyata orang kaya biasa tidak memungkinkan transformasi sosial seperti itu. Orang kaya biasa akan mewariskan bisnisnya kepada keluarganya, terutama anak-anaknya. Lingkaran bisnis menjadi tertutup dan rakyat sulit menembus atau menjadi pemain baru. Akan tetapi, bagi segelintir orang yang sangat kaya yang memiliki banyak perusahaan dan anak-anak perusahaan, mereka cenderung menjadi modern. Bisnis dan keluarga dipisahkan. Rekrutmen karyawan dilakukan berbasis tes dan dilaksanakan oleh lembaga independen. Hal itu memungkinkan pemuda miskin yang cakap lolos tes dan akhirnya menjadi CEO. Kata kuncinya adalah rekrutmen objektif berbasis tes dan pengamatan kinerja. Jadi, harta orang yang sangat kayalah yang sebelum meninggal sudah diwariskan. Merekalah yang memungkinkan menjadikan orang miskin bertransformasi menjadi CEO sama dengan demokratisasi yang dibuka sejak reformasi memungkinkan siapa saja menjadi pimpinan politik.

Pada masa modern, para CEO yang sebenarnya berkuasa. Mereka yang kemudian mengatur untuk membesarkan perusahaan dan mengatur berapa laba yang akan diraih dan diberikan kepada pemilik. Para CEO cenderung membesarkan perusahaan daripada memupuk sekadar laba untuk kepentingan pemilik. CEO akhirnya meminta perekrutan pekerja berkualitas lebih banyak. Pekerjaan berkualitas itulah yang ditunggu oleh rakyat yang sekarang memiliki pendidikan lebih baik.

Modal Asing

Globalisasi, MEA, dan modal asing merupakan tema satu paket. Modal asing kurang lebih dikutuk karena katanya membuat negara tergadai. Tetapi, sebenarnya rakyat, terutama pekerja, sangat mendambakan itu. Modal asing membawa standar upah dan tunjangan-tunjangan, terutama kesehatan, yang lebih baik. Modal asing sebenarnya juga bisa taat terhadap perbaikan lingkungan sebagaimana mereka sudah biasa diregulasi di negara asalnya. Lingkungan umumnya menjadi rusak karena petugas negara yang mengajari demikian.

Dengan demikian, yang diuntungkan modal asing adalah rakyat jelata dan generasi terdidik kita karena bisa memperoleh tantangan dan sekaligus pendapatan lebih baik. Yang paling dirugikan adalah orang kaya atau pemilik modal dalam negeri. Dengan demikian, antimodal asing sebagai prorakyat sebenarnya tidak terbukti.

Tuhan Meletakkan Batas

Apakah ketimpangan selalu buruk? Tidak. Sebagaimana ilustrasi dia atas, ketimpangan diperlukan supaya ada segelintir orang yang sanggup membiayai riset untuk kemajuan bangsa. Tetapi, perlu dielaborasi lebih lanjut soal ketimpangan.

Misalnya, semula si miskin memakan dua dan si kaya memakan enam. Terjadi ketimpangan bahwa si miskin hanya mendapat sepertiga. Kemudian, terjadilah pertumbuhan ekonomi, upah minimun meningkat. Sekarang si miskin sudah bisa memakai handphone dan naik sepeda motor. Secara umum, si miskin sudah meningkat tiga kali lipat. Sekarang si miskin mendapat enam seperti si kaya pada waktu itu. Namun, si kaya sekarang mendapat 60, jauh lebih tinggi lagi. Diukur dari ketimpangan sekarang, si miskin hanya memperoleh sepersepuluh dari si kaya. Apabila diukur dengan suatu indeks, misalnya, gini ratio, keadaan memburuk bahwa kelompok si miskin memperoleh semula sepertiga menjadi sepersepuluh dari kue nasional.

Kecemasan kita terhadap orang kaya dan sangat kaya tidak perlu dilanjutkan. Yang paling penting diperhatikan apakah rakyat terbawah membaik, terdapat banyak pekerjaan, dan pekerjaan yang berkualitas. Orang paling miskin diberi saja pekerjaan dengan imbalan kurang lebih sama dengan apabila mereka berusaha di sektor terbawah. Yang perlu ditolong adalah kelompok menengah, sarjana-sarjana menganggur yang memiliki pendidikan. Beri mereka subsidi bunga sehingga memperoleh insentif untuk berusaha. Dengan pendidikannya yang lebih baik, mereka akan memperbaiki kualitas produk serta tingkat kesehatan dan harapan hidup rakyat akan meningkat. Kebencian kepada kapitalis si segelintir orang sangat kaya sebenarnya lebih kepada kecemburuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar