Senin, 25 Mei 2015

Perilaku Bodong

Perilaku Bodong

Rhenald Kasali  ;  Akademisi, Praktisi Bisnis, dan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
JAWA POS, 24 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
BELAKANGAN kita dibanjiri aneka barang palsu. Setelah banyak yang memakai gelar dan tas mewah palsu, lalu heboh dokter palsu (yang melakukan praktik kecantikan), pernikahan palsu (selebriti yang menjadi anggota parlemen), kosmetik, obat, pupuk, batu akik, serta kini yang paling menghebohkan adalah beras palsu. Kasus itu terungkap di Bekasi, melalui tangan seorang penjual bubur dan nasi uduk, Dewi Septiani.

Dewi mengaku membeli 6 liter di toko langganannya. Ketika beras dimasak, dia menemukan keanehan. Berasnya hanya membesar, bukan menjadi bubur. Adiknya yang memakan mengatakan, rasanya seperti nasi basi dan teksturnya aneh. Setelah makan, dia mual-mual, pusing, dan ingin buang air terus sampai harus dibawa ke rumah sakit.

Aparat yang dilapori mengirimkan sampelnya ke Sucofindo. Hasilnya? Beras itu memang dicampur dengan bahan baku plastik. Sebetulnya tidak sulit mengungkap kasus itu. Tinggal merunut ke belakang saja. Sayangnya, hingga saya tulis, dalangnya belum ketemu.

Pupuk sampai Baku Akik

Belum lagi terungkap, kini sudah ada kasus baru. Kali ini pupuk. Beredar di Cianjur, Jawa Barat, dibuat dari batu zeolit. Mestinya pupuk berguna untuk menyuburkan tanaman. Tapi, ini sebaliknya. Jika ditaburkan, tanaman mengering.

Kalau pupuk asli Rp 2.000 per kilogram, yang palsu ini harganya hanya Rp 800 per kilogram. Mungkin perbedaan harga inilah yang mengundang kecurigaan.

Berbeda dengan kasus beras palsu, untuk kasus ini tampak polisi lebih sigap. Polda Jawa Barat sudah menangkap para pelakunya dan menyita barang bukti sebanyak 23 ton.

Batu akik juga jadi korban pemalsuan. Salah satunya batu akik kalimaya. Batu ini punya banyak warna. Persis pelangi. Harganya bisa Rp 250 juta, sementara yang palsu tentu jauh lebih murah. Meski yang asli batunya lebih keras, awam kesulitan membedakan keduanya.

Masih ada lagi kasus pemalsuan yang tak pernah surut di negara kita: uang. Belum lama ini Bareskrim Polri berhasil mengungkap sindikat pemalsu uang yang nilainya mencapai Rp 16 triliun. Dengan hanya bermodal Rp 30 juta, para pelaku mengaku sudah bisa membeli berbagai peralatan pemalsu uang.

Canggihnya, mereka sudah sadar dengan kedatangan era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir 2015. Itu sebabnya, mereka memalsukan dolar Singapura, euro, ringgit Malaysia, dolar Brunei, dan sebagainya. Kalau bisa menjual 10 persen atau Rp 1,6 triliun saja, kata mereka, itu sudah bagus.

Kok Tidak Jelek

Mengapa begitu banyak barang palsu beredar di negeri ini? Lihat saja, sepanjang 2012 sampai April 2013, Kementerian Perdagangan sibuk mengusut 726 kasus barang palsu.

Komedian beken Mitch Hedberg pernah menyindir begini: ”Pohon plastik di rumah saya mati karena saya tidak berpura-pura menyiramnya.” Anda paham kan artinya?

Celakanya, di sini masih banyak orang yang (maaf) suka hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura bisa menghidupkan ”pohon plastik” yang mati tadi dengan berpura-pura merawatnya. Lagi-lagi kepalsuan yang dibungkus dengan kepura-puraan. Maksud saya, kalau belum kaya, ya sudah jangan membeli yang belum pantas dipakai. Itu lebih baik, bukan?

Bayangkan, politisi dan artis beken saja, meski mobilnya mewah, toh pelat nomornya bodong. Bahkan, sewaktu saya bertanya kepada teman-teman dari Ditjen Pajak, mereka pun kewalahan melacaknya. Maklum, surat-suratnya tak pakai nama sendiri. Demikian juga kepemilikan rumah mewah dan apartemen. Padahal, dalam wawancara di TV, saya melihat mereka pakai cincin bermata berlian yang berkilauan. Walau baru saja dilantik dan rasanya kemarin waktu kampanye terlihat benar kualitas bahan pakaiannya.

Cobalah tengok setiap kali kampanye pemilu. Anda bisa melihat betapa senangnya para pemimpin ketika orasinya dihadiri puluhan ribu pengunjung. Padahal, mereka tahu persis massa itu datang karena dibayar.

Kita juga suka memamerkan kepalsuan. Tengoklah sinetron di TV kita. Juga tengok aneka pemecahan rekor dan penghargaan. Jangan lupa, semua itu ada tarifnya. Saya saja sering dapat surat ucapan selamat sebagai penerima penghargaan pria berbusana terbaik. Tapi, hehehe, itu tadi, ada tarifnya. Suka geli saya membaca CV orang beken yang mau memasukkan penghargaan palsu tadi dalam CV-nya.

Tapi, yang paling menyakitkan adalah praktik pemalsuan di dunia pendidikan. Belum lama ini membaca berita ada Lembaga Manajemen Internasional Indonesia (LMII) di Jakarta yang mengaku sebagai cabang dari University of Berkeley, Michigan, Amerika Serikat (AS). Buat masyarakat awam, nama ini memang agak mirip dengan universitas terkemuka di AS, University of California, Berkeley.

LMII sudah beroperasi sejak 1993 dan pemerintah baru bertindak sekarang. Bayangkan, kantornya hanya 4 x 6 meter. Ijazah yang dikeluarkannya tentu saja bodong.

Pemakai gelar palsu bukan hanya masyarakat rendahan. Di Riau ada wakil bupati yang dituding mengantongi ijazah palsu. Juga sejumlah anggota DPRD di Sumbawa Barat. Dan dulu banyak jenderal pakai gelar MBA, bahkan doktor bodong. Sewaktu menjadi pansel KPK dulu, saya paling gigih mencoret nama mereka karena ini cermin integritas.

Namun, dalam kehidupan, ada saja hal baik yang dilakukan untuk peradaban. IPB, misalnya, membuat beras sintetis dari singkong, sagu, jagung, dan umbi-umbian untuk para penderita diabetes.

Kata pentolan band Aerosmith Steven Tyler, ”Fake it until you make it.” Itulah yang pernah dilakukan Jepang, Taiwan, Korea, dan kini Tiongkok. Mereka memalsu barang-barang buatan AS dan menjualnya dengan harga lebih murah. Kalau sudah kaya, mereka baru tobat dan dapat keahlian. Tapi, di sini, perilaku konsumtif yang membuat barang bodong laku, ini konyol sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar