Rupiah
dan Pertumbuhan
Muhamad Chatib Basri ; Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
|
KOMPAS,
24 Mei
2018
Cartagena adalah kota tanpa
ketergesaan. Hidup seperti bergerak tanpa tenggat. Tenang, tapi berwarna.
Penulis Gabriel Garcia Marquez melukiskan kota pantai di Kolombia ini tempat
dengan sore seperti batu ametis yang ungu dan malam dengan angin sepoi yang kuno
(”a place of amethyst afternoons and
nights of antic breezes”).
Namun, di kota yang tak bergegas
ini, beberapa ekonom bertemu minggu lalu. Kami membahas masalah yang memaksa
kita bersegera: tantangan arsitektur keuangan internasional. Ekonom Jose
Antonio Ocampo, anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Kolombia, bicara mengenai
pentingnya kerja sama dalam kebijakan ekonomi makro, terutama antarnegara
besar. Ia juga membahas pentingnya upaya pencegahan krisis keuangan. Roberto
Junguito, mantan Menkeu Kolombia, dan Jose Dario Uribe, mantan Gubernur Bank
Sentral Kolombia, berbicara mengenai pengalaman Amerika Latin, khususnya
Kolombia.
Saya diminta memberikan pandangan
dari perspektif Asia. Pembahasan menjadi menarik karena mengarah ke
pengalaman Amerika Latin dan Asia dalam menghadapi gejolak arus modal. Negara
emerging markets (EM) punya pengalaman panjang soal ini: krisis keuangan di
Amerika Latin 1980-an dan 1990-an, krisis finansial Asia 1998, taper tantrum (koreksi terhadap
periode quantitative easing di AS) 2013 dan tentunya hari-hari ini.
Sumber
kerentanan
Mengapa beberapa EM di Amerika
Latin dan Asia, termasuk Indonesia, rentan terhadap gejolak ini? Hampir semua
studi yang dilakukan menunjukkan, gejolak ini terjadi di negara-negara yang
memiliki persoalan dalam defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran.
Krisis atau gejolak pasar keuangan umumnya dimulai dari masuknya arus modal
portofolio secara drastis akibat dari penurunan tingkat bunga The Fed di
Amerika Serikat (AS) yang mencari imbal lebih tinggi di EM.
Arus modal yang masuk dalam jangka
pendek memang mendorong perekonomian EM, tetapi ia tak berkesinambungan.
Ketika The Fed melakukan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan
tingkat suku bunga, maka terjadi arus modal keluar. Pasar keuangan
terguncang, nilai tukar mata uang jatuh, terutama di negara-negara yang
memiliki persoalan defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran.
Bagaimana kondisi saat ini? Di
Cartagena, Masahiro Kawai dari Universitas Tokyo menunjukkan selain
Argentina, Mesir, dan Turki, kondisi di negara EM masih relatif normal.
Ketiga negara tersebut memang memiliki masalah defisit transaksi berjalan dan
inflasi yang akut.
Bagaimana Indonesia? Depresiasi
rupiah masih normal, dan bukan yang terburuk sebenarnya. Defisit transaksi
berjalan juga berada pada kisaran 2 persen terhadap produk domestik bruto
(PDB), inflasi di bawah 4 persen. Karena itu, pasar tak perlu terlalu panik.
Namun, kita memang harus sangat berhati-hati. Carmen Reinhart dari
Universitas Harvard menunjukkan, utang luar negeri pemerintah negara EM
memang relatif terkendali, tetapi utang luar negeri swasta terus meningkat
dan berpotensi bermasalah. Jika utang swasta bermasalah, maka ada risiko
pemerintah harus menanggungnya.
Saya tak terlalu pandai untuk tahu
seberapa benar Reinhart. Saya tak ingin semuram itu. Namun, peringatannya
bijak diperhatikan. Di sisi lain, kita memang melihat bahwa imbal dari surat
utang Pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun terus meningkat, bahkan
diprediksi menjadi 4 persen tahun 2019. Jika ini benar, imbal obligasi di
Indonesia akan meningkat tinggi dan mungkin memaksa Bank Indonesia untuk
menempatkan stabilisasi di atas pertumbuhan.
Stabilisasi atau pertumbuhan?
Di sini ada beberapa hal yang
perlu dibahas. Pertama, saya ingin lebih dalam membahas soal argumen defisit
transaksi berjalan dan neraca pembayaran. Sebelum krisis 1998, Indonesia
kerap kali mengalami defisit transaksi berjalan yang cukup besar, tapi toh
perekonomian stabil. Australia memiliki rata-rata defisit transaksi berjalan
3,2 persen sepanjang 1959-2017, toh tak terkena gejolak arus modal. Mengapa?
Jawabannya karena defisit dalam transaksi berjalan dibiayai oleh investasi
asing langsung (PMA), terutama di sektor ekspor dan bukan portofolio.
Apa bedanya? Modal langsung tak
mudah berpindah tempat, sebaliknya investasi portofolio dengan cepat dapat
berpindah sehingga menimbulkan gejolak di pasar keuangan. Mengapa sektor
ekspor? Karena ekspor menghasilkan devisa sehingga ketika repatriasi
keuntungan dilakukan, tak menimbulkan tekanan dalam neraca pembayaran akibat
ketidaksesuaian mata uang (currency mismatch). Itulah yang menjelaskan
mengapa walau defisit transaksi berjalan relatif besar, perekonomian relatif
stabil.
Saat ini, seperti saya katakan,
defisit transaksi berjalan tak terlalu besar sebenarnya. Tapi, toh tekanan di
pasar keuangan terjadi. Mengapa? Karena arus modal yang masuk tak mampu
mengompensasi defisit di dalam transaksi berjalan. Akibatnya, neraca
pembayaran mengalami defisit. Mengapa arus modal masuk bersih relatif kecil?
Karena derasnya arus modal keluar asing sejak pertengahan tahun lalu, yang
mengantisipasi kebijakan moneter di AS. Artinya, sumber utama rentannya
ekonomi Indonesia terhadap gejolak arus modal adalah ketergantungan Indonesia
terhadap arus modal portofolio untuk membiayai defisit transaksi berjalannya.
Dalam kasus Indonesia, kepanikan
kerap dipicu di pasar obligasi karena besarnya peran investor asing dalam
pembiayaan defisit anggaran pemerintah. Setiap kali terjadi kejutan
eksternal, investor asing di pasar obligasi melepas investasi portofolio
mereka. Akibatnya, imbal hasil meningkat, rupiah melemah. Begitu juga di
pasar modal.
Kedua, untuk mengatasi ini, bank
sentral biasanya melakukan kebijakan stabilisasi. Pilihan kebijakan ini
dikenal dengan istilah trinitas yang mustahil (the impossible trinity) atau trinitas yang tak suci (the unholy trinity). Intinya, sebuah
negara mustahil menerapkan tiga kebijakan (nilai tukar yang stabil,
keterbukaan arus modal, dan kebijakan moneter yang mandiri) sekaligus. Bank
sentral harus memilih dua di antara tiga.
Dalam kasus Indonesia saat ini, di
mana kita menganut rezim devisa bebas, maka pilihan yang tersedia bagi BI
adalah memilih apakah membiarkan rupiah mengikuti pasar (depresiasi rupiah)
atau menaikkan bunga. Tentu ada kombinasi di antara ketiganya, di mana
tingkat bunga dinaikkan sedikit, nilai tukar melemah sedikit, dan kebijakan
pengaturan arus modal dilakukan secara terbatas melalui kebijakan
makroprudensial.
Di Cartagena, saya menyampaikan bahwa efektivitas instrumen
fiskal dan moneter kerap kali terbatas. Jika arus modal yang masuk atau
keluar sangat besar, maka BI dan pemerintah terpaksa mengambil langkah
kombinasi yang cukup drastis, seperti dalam situasi taper tantrum 2013. Dan
itu memukul pertumbuhan.
Lihat tahun 2013. Saat itu
Indonesia bersama dengan India, Afrika Selatan, Turki, dan Brasil
dikategorikan sebagai fragile five (lima negara yang rentan terhadap gejolak
arus modal) karena memiliki defisit transaksi berjalan yang cukup tinggi.
Untuk menghindarkan Indonesia dari krisis finansial yang dipicu oleh besarnya
defisit transaksi berjalan saat itu, pemerintah dan BI harus memotong subsidi
BBM, dengan menaikkan harga BBM rata-rata 40 persen; menaikkan BI rate 200
basis poin, dan membiarkan rupiah bergerak mengikuti pasar. Kombinasi
kebijakan ini dikenal dengan nama expenditure
reducing dan expenditure switching
policy. Memang dalam waktu tujuh bulan, Indonesia—bersama dengan
India—berhasil menstabilkan perekonomiannya. Arus modal lalu kembali mengalir
masuk, defisit transaksi berjalan menurun hingga hari ini, dan bersama dengan
India, Indonesia keluar dari fragile five countries.
Saya ingat majalah The Economist
pada bulan Februari 2014 menurunkan artikel berjudul ”Indonesia: Fragile No
More”. Harian The New York Times, pertengahan tahun 2014, datang dengan
artikel berjudul ”Markets the Once ’Fragile Five’ Countries are Now Soaring”.
Indonesia bersama India dipuji. Namun, gejolak tetap berulang. Tahun 2015,
misalnya, rupiah melemah sampai Rp 14.700 per dollar AS dipicu kekhawatiran
akan normalisasi kebijakan moneter di AS dan risiko fiskal akibat target
pajak yang tak realistis. Hari-hari ini kita juga menyaksikan tekanan kepada
rupiah.
Ketiga, tahun 2013 memang ada
ruang bagi pemerintah dan BI untuk memilih stabilitas di atas pertumbuhan
ekonomi. Alasannya, saat itu pertumbuhan ekonomi masih di atas 6 persen
sehingga ada ruang untuk ”menerima” pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat
(pertumbuhan turun dari 6 persen tahun 2012 menjadi 5,6 persen di tahun
2013). Sekarang berbeda: ekonomi hanya tumbuh 5 persen. Bisa dibayangkan,
jika kita menerapkan kebijakan yang sama dosisnya seperti tahun 2013,
pertumbuhan ekonomi akan turun di bawah 5 persen. Di sini persoalan menjadi
lebih pelik.
Dampak terbatas stabilisasi
Keempat, kebijakan stabilisasi
memiliki dampak terbatas. Ia bukan solusi jangka panjang. Jika kita tak
menyelesaikan akar persoalan, maka gejolak arus modal berulang. Karena itu,
reformasi ekonomi harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, melalui
perbaikan dalam kualitas manusia, pembangunan infrastruktur dan perbaikan
tata kelola pemerintahan. Pemerintah memang sudah mulai mengambil langkah
ini, tetapi efeknya baru terasa dalam jangka menengah.
Selain itu, ekspor manufaktur harus
kembali digenjot dengan mengundang PMA untuk masuk ke sektor yang
berorientasi ekspor, terutama industri manufaktur. Ini hanya bisa dilakukan
jika iklim investasi diperbaiki. Pemerintah juga bisa menerapkan reverse
Tobin Tax. Jika dalam Tobin Tax, arus modal masuk jangka pendek dikenai
pajak, maka dalam reverse Tobin Tax, pemerintah memberikan insentif pajak
jika investor melakukan re-investasi keuntungannya lagi untuk jangka panjang.
Yang tak kalah penting, meningkatkan pendalaman keuangan (financial deepening)
di pasar obligasi dan pasar modal, dengan meningkatkan peran investor dan
tabungan domestik.
Alternatif kebijakan lain adalah
mengurangi utang luar negeri jangka pendek swasta. Caranya, minta swasta
menempatkan persentase tertentu dari utang luar negerinya untuk ditahan di BI
dalam jangka waktu tertentu (lock up period), satu tahun misalnya. Ini akan
membuat biaya untuk utang jangka pendek menjadi mahal.
Situasi memang tidak mudah, tetapi
kita tak bisa selamanya muram. Gejolak memang berulang. Pertemuan di
Cartagena minggu lalu datang dengan pesan: kita harus bergegas. Tak ada lagi
sore yang ungu dan malam dengan angin sepoi kuno yang bertiup tenang. Ekonomi
dunia memang bukan Cartagena dalam bayangan Marquez. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar