|
Tukang Kunci dari Debrecen (End) Dimitri
Mahayana : Dosen Filsafat Sains S3 di STEI
ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT
Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 23 Oktober 2026
|
Lakatos lalu membuat
pembedaan kedua. Falsifikasi metodologis punya versi naif dan versi canggih. Versi naif berkata: teori
gugur ketika ada pernyataan pengamatan yang bertentangan dengannya. Versi canggih menuntut
lebih. Teori lama baru layak ditinggalkan jika ada teori baru yang lebih
baik. Teori baru itu harus memenuhi tiga syarat: 1. Meramalkan fakta baru
yang tidak diramalkan teori lama, bahkan bertentangan dengannya. 2. Tetap menjelaskan
semua keberhasilan teori lama. 3. Sebagian fakta baru
itu benar-benar terbukti. Artinya, teori tidak
dikalahkan oleh fakta saja. Teori dikalahkan oleh teori lain yang lebih
unggul. Sains bergerak lewat persaingan antarteori. Persaingan itu punya
aturan rasional. Di sinilah Lakatos
menemukan jalan tengah. Ia menerima temuan Kuhn bahwa ilmuwan tidak membuang
teori begitu saja. Namun ia menolak kesimpulan bahwa pergantian teori itu
irasional. Semangat ini punya akar
panjang. Seribu tahun silam, Ibnu al-Haitsam menulis al-Syukuk ’ala
Bathlamiyus, catatan keraguan atas astronomi Ptolemeus. Ia berpesan agar
pencari kebenaran menjadikan dirinya lawan bagi setiap tulisan yang ia baca.
Ia tidak membuang Ptolemeus karena satu kejanggalan. Ia menimbang, menguji,
dan mencari model yang lebih baik. Sahabat yang Paling Keras Lakatos punya sahabat
dekat yang sekaligus lawan debat paling keras. Namanya Paul Feyerabend.
Feyerabend berpendapat sains tidak punya metode baku. Lakatos berpendapat
sebaliknya. Keduanya merencanakan
buku dialog berjudul For and Against Method. Lakatos membela metode.
Feyerabend menyerangnya. Rencana itu tak pernah tuntas. Lakatos wafat
mendadak pada Februari 1974, di usia 51 tahun. Feyerabend lalu
menerbitkan Against Method dan mempersembahkannya untuk Lakatos. Dalam
persembahan itu ia menyebut Lakatos sahabat dan sesama “anarkis”. Sebuah
candaan hangat dari lawan yang sangat menghormatinya. Kisah itu menyimpan
pelajaran. Rasionalitas sains tidak tumbuh dari kesepakatan yang dipaksakan.
Ia tumbuh dari perdebatan yang jujur, keras, dan saling menghormati. Tukang kunci dari
Debrecen itu tidak menemukan kunci untuk semua pintu. Namun ia menempa satu
kunci penting. Kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras
berteriak. Di tengah riuh media sosial kita hari ini, pesan itu terasa sangat
dekat. ● Sumber : https://kumparan.com/filsafatsainsdimitrimahayana/tukang-kunci-dari-debrecen-end-28JWE6fWUPn |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar