Senin, 27 Agustus 2018

Politik Tikungan Terakhir

Politik Tikungan Terakhir
“..Kalau demi itu saya harus bekerja sama dengan setan, saya akan lakukan.”
M Subhan SD  ;  Wartawan Senior Kompas
                                                      KOMPAS, 11 Agustus 2018



                                                           
Politik itu mirip MotoGP. Tikungan terakhir menentukan hasil akhir. Valentino Rossi dan Marc Marquez sering membuat kejutan di ”tikungan terakhir”. Di arena MotoGP Belanda di Sirkuit Assen pada 2015, Rossi bermanuver memotong jalur Marquez dan keluar sebagai pemenang di podium. Dan, Marquez pun berhasil menyalip Andrea Dovizioso di tikungan terakhir pada MotoGP Qatar 2018 di Sirkuit Losail, tetapi manuvernya terlalu melebar sehingga gagal merebut podium.

Kehebohan sepanjang siang-malam pada Kamis (9/8/2018) memang bukan arena MotoGP, melainkan arena pemilihan presiden ketika dua kandidat presiden memilih bakal calon wakil presiden yang menjadi pasangan semusim

2019-2024. Banyak kejutan di luar prediksi dan ekspektasi banyak pihak. Sinyal ataupun narasi politik yang dikonstruksi selama ini berbeda dengan hasil akhir. Meskipun nama-nama yang muncul sudah familier, pilihan akhir dua kandidat presiden itu tetap saja mengejutkan.

Selama ini pertanda yang dimunculkan sebagai pendamping Joko Widodo berinisial ”M”. Kisi- kisinya punya pengalaman komplet di pemerin- tahan. Mahfud MD, profesor hukum tata negara yang anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, dinilai paling unggul daripada sosok-sosok lain yang berinisial ”M”. Mahfud memang komplet:   eksekutif (Menteri Pertahanan serta Menteri Hukum dan Perundang-undangan), legislatif (DPR), juga yudikatif (Mahkamah Konstitusi).

Gelagat Jokowi kepincut Mahfud pun semakin jelas. Pada Kamis kemarin bahkan Mahfud sudah mendapat telepon dari Istana: diminta curriculum vitae dan ukur baju.   Mahfud pun menunggu di restoran di Menteng, mendekati lokasi pengumuman Jokowi. Sangat rasional saat Mahfud merasa pede. ”Pertama, tentu panggilan sejarah ya, saya kan aktivis juga, pengin juga ada di medan perjuangan. Kedua, tentu kepercayaan Pak Jokowi kepada saya. Kalau memilih saya, tentu, kan, percaya kepada saya. Ketiga, elektabilitas Pak Jokowi untuk menang itu sangat bisa,” kata Mahfud sebelum pengumuman Jokowi. Kalkulasi politik dan konfirmasi memang jelas Mahfud yang akan dikeluarkan dari saku Jokowi.

Namun, last minute di tikungan terakhir terjadi overtake. Mahfud ditolak beberapa partai politik karena hubungan masa lalu. Tersiar rumor politik bahwa ada parpol yang mengancam akan hengkang dari koalisi kerja jika tetap Mahfud yang dipilih. Tentu saja ini posisi sulit bagi Jokowi. Akhirnya Mahfud korban PHP (pemberi harapan palsu). Sisi positifnya, koalisi ini mampu menjaga harmoni dan soliditas. Modal politik sembilan parpol tentu kekuatan besar di Pilpres 2019. Sisi negatifnya, Jokowi terkesan berada dalam tekanan, jika tak ingin disebut akomodatif.

Politik tikungan terakhir juga terlihat di kubu Prabowo. Selama ini Prabowo juga dapat tekanan dari parpol anggota koalisi yang ngotot menyodorkan kader masing-masing sebagai bakal cawapres. Bahkan, pertemuan maraton dengan Susilo Bambang Yudhoyono memunculkan spekulasi Agus Harimurti Yudhoyono sebagai pendamping Prabowo. Ada juga proposal hasil Ijtimak Ulama yang menyodorkan pasangan untuk Prabowo: Salim Segaf al-Jufri atau Ustaz Abdul Somad. Seperti Jokowi, Prabowo juga tak kalah sulitnya. Dalam situasi sulit, pilihan menghindari semua opsi menjadi jalan termudah. Dan, di tikungan terakhir justru Sandiaga Uno (Wakil Gubernur DKI Jakarta) yang menyalip. Posisi wagub bisa jatuh ke tangan PKS. Menukar posisi wapres dengan posisi wagub lebih realistis, sih.

Partai Demokrat pun meradang karena terkena PHP juga. Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief mencuit, ”Prabowo jenderal kardus”. Bahkan, muncul tudingan Sandi menyetorkan uang Rp 500 miliar kepada anggota partai koalisi demi mandampingi Prabowo. Padahal, kuatnya koalisi mereka hampir tak tergoyahkan ketika sebelumnya Wakil Sekjen Rachland Nashidik menghebohkan dengan cuitan, ”Saya mau ganti Presiden! Kalau demi itu saya harus bekerja sama dengan setan, saya akan lakukan.”

Namun, politik itu drama dan akrobatik. Seperti es batu, politik tidak membeku selamanya. Mudah mencair, terlebih   politik yang selalu bersuhu panas. Akhirnya Demokrat mendukung Prabowo-Sandiaga.

Lalu, bagaimana rivalitas dua pasangan tersebut? Konstelasi politik berubah, termasuk di tataran fans pendukung yang beberapa tahun belakangan ini terlalu berisik. Boleh dibilang tiap- tiap kubu sama-sama terkejut. Dengan Ma’ruf Amin, Jokowi mungkin membuat kecewa sebagian fans ”baju kotak-kotak”, tetapi justru membungkam suara-suara keras anti-Jokowi. Stigma Jokowi yang dianggap anti-Islam mungkin tak laku lagi.   Di kubu   Prabowo, pendukungnya juga terkaget-kaget dengan Sandiaga. Sebab, banyak yang berharap Prabowo didampingi sosok yang berasal dari kelompok Islam.

Di dua kubu, tentu banyak yang kecewa atau masih terperangah. Namun, semestinya pertarungan tak sekeras dulu karena sama-sama tak terpenuhi ekspektasinya. Di kedua kubu ada suara yang hilang, tetapi juga terkumpul suara baru. Itulah politik, penuh pragmatisme. Pertarungan yang selama ini terkesan ”ideologis” cuma agenda politik. Seperti Rossi dan Marquez, tikungan terakhir sangat menentukan. Di politik, tikungan terakhir itu lebih tajam dan lebih licin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar