Jumat, 31 Agustus 2018

Ancaman Modernitas

Ancaman Modernitas
Trisno S Sutanto  ;  Periset Independen di PARITAS Institute
                                                      KOMPAS, 30 Agustus 2018



                                                           
Apa itu modern? Pertanyaan itu tidak lahir dari mahasiswa filsafat atau sosiologi. Pertanyaan itu terlahir dari pergulatan eksistensial yang amat konkret.

Halim baru saja disunat dan dengan itu ia jadi ”orang Bajau dewasa yang modern”. Namun, bagi Andar, ayahnya, peristiwa itu justru menghadirkan persoalan yang pelik. Sebab, ia sadar, dunia modern yang akan dimasuki Halim sesungguhnya menantang seluruh cara berada maupun perikehidupan suku Bajau yang selama ini dijalani.

Itulah alasannya mengapa Andar menanyakan pertanyaan tadi: apa itu modern? Bagi Andar, dunia modern hadir dengan membawa batasan-batasan imajiner yang sesungguhnya tidak ada, tetapi dipercayai oleh banyak orang.

Mulanya batasan yang sangat konkret: teritori yang memisahkan wilayah kedaulatan satu negara dengan negara lain. Batasan itu jelas imajiner, tak kasatmata, tetapi sekaligus sangat riil. Orang tidak dapat menyeberangi batasan yang ada tanpa segala macam surat atau dokumen lain yang diperlukan. Di atas batas-batas teritorial negara-bangsa itulah, seperti kita tahu sejak Perjanjian Westphalia, perikehidupan dunia modern didirikan.

Namun, seperti dikatakan Andar, batasan-batasan yang dibawa dunia modern itu makin abstrak. Itulah batasan-batasan yang memisahkan ”agama dengan tradisi”, ”leluhur dengan keturunan”, dan ”masyarakat dengan lingkungan”. Dunia modern membawa pembatasan dan pemisahan itu, yang mengancam eksistensi orang Bajau. Karena itu, kata Andar berharap, jika batasan-batasan ini merupakan ”roh kepercayaan modern, aku berharap anakku memilih kepercayaan Bajau”.

Domestikasi Bajau

Harapan yang diucapkan Andar merupakan adegan yang menutup film Our Land is the Sea, sebuah film dokumenter etnografis memukau yang digarap oleh Kelli Swazey dan Matt Colaciello, hasil kerja sama CRCS-UGM, CSEAS Hawaii, dan The Global Workshop. Film berdurasi kurang dari setengah jam itu tak saja menyajikan pengambilan gambar yang ciamik, yang membuat orang mengenal ”air tanah” Bajau, tetapi sekaligus pergulatan dan ambiguitas kehidupan mereka.

Soal harapan Andar tadi, misalnya. Apakah harapan itu bisa dipenuhi bahwa Halim akan tetap memilih kepercayaan Bajau di tengah terpaan angin modernitas? Itu juga yang diharapkan Saipa, istri Andar. Ia berharap Halim akan menempuh pendidikan tinggi dan sukses, lalu kembali ke Sampela dan ”percaya pada Sandro”, si ahli waris dan penjaga tradisi turun- temurun dari nenek moyang orang Bajau.

Baik Andar maupun Saipa sadar bahwa harapan mereka terlalu naif. Perikehidupan orang Bajau, yang menganggap laut lepas tanpa batas merupakan wilayah ”kerajaan” mereka—setidaknya itulah anggapan Andar—akan makin hilang digangsir oleh dunia modern yang hadir melalui banyak perangkat. Salah satunya lewat institusi sekolah, yang tentu saja harus berdiri di daratan dengan seluruh kultur dan nilai-nilai yang kerap kali bertentangan dengan perikehidupan Bajau.

”Pertarungan” itu berlangsung di dalam keluarga Andar dan Saipa. Lisa, ibu Saipa, merasa sedih karena tidak mewarisi tradisi ayah-ibunya sehingga tidak bisa mengajarkan tradisi itu kepada anak-anaknya yang sudah mengecap bangku sekolah. Soal yang sama berulang pada generasi berikutnya. Salma, putri Andar dan Saipa, misalnya. Ia sudah bersekolah di daratan dan belajar agama Islam. Karena itu, ia ”tidak percaya Sandro”. Begitu juga Tarsan, adik Saipa, yang sudah belajar sampai perguruan tinggi. Ia malah menuduh orang-orang di desanya yang masih berpegang pada cerita-cerita lama sebagai ”belum move on”.

Akan tetapi, sesungguhnya, kehidupan komunitas Bajau, paling tidak mereka yang tinggal di Sampela—daerah sekitar Taman Nasional Waikatobi yang dipotret Kelli dan Matt— sudah lama mengalami domestikasi oleh negara. Jauh sebelum konsep negara-bangsa ada, komunitas ini merupakan pengembara yang hidup nomaden, sebagai pengelana laut yang hidup dan menyusuri laut lepas di sekitar kepulauan barat daya Filipina, Sulawesi, Timor Leste, Papua, dan Salomon.

Lautan lepas itulah ”kerajaan” mereka. Di situ, mereka tinggal dan hidup mengikuti irama laut, bergantung sepenuhnya pada sumber daya
laut yang melimpah bagi kehidupan mereka. Laut pula yang menjadi landasan keberadaan mereka.

Perikehidupan nomaden seperti itu sama sekali bertentangan dengan konsep negara- bangsa yang punya batas-batas teritori yang jelas. Sejak Indonesia merdeka, orang Bajau yang berada di wilayah Indonesia dipaksa harus menetap pada suatu wilayah tertentu demi tertib administrasi sebagai ”warga negara”. Dan, perlahan-lahan, perikehidupan mereka pun berubah.

Cerita orang kalah

Film dokumenter ini, yang dipersiapkan untuk Konferensi Internasional Our Ocean di Bali, Oktober nanti, berhasil memotret pergulatan yang kompleks tersebut dengan nada lirih. Juga melankolis.

Sebab, yang disajikan sesungguhnya adalah cerita tentang orang-orang yang kalah, rekaman tentang perikehidupan yang suatu waktu akan lenyap disapu arus modernitas. Andar sadar itu. Dalam 14 tahun terakhir hidupnya, ia menyaksikan perubahan yang begitu dahsyat. Apalagi kini laut tak lagi mampu menghidupi orang- orang Bajau. Untuk mencari ikan, mereka harus pergi ke wilayah yang lebih jauh. Begitu juga karang-karang yang kini hancur dan ancaman perubahan iklim yang makin mendekat.

Pada suatu titik, mungkin mereka harus sama sekali meninggalkan laut, mencari kerja di daratan yang dirasa lebih menjanjikan. Namun, hal itu juga berarti kepunahan tradisi Bajau dengan seluruh kekayaannya, termasuk ”pengetahuan rahasia” yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Dalam banyak hal, cerita tentang keluarga Andar ini mencerminkan cerita kita sebagai bangsa yang tertatih-tatih berhadapan dengan ancaman modernitas. Cerita mereka patut dikenang di tengah perayaan gegap gempita Proklamasi Kemerdekaan negara ini. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar