|
Oei Tjoe Tat Nama
yang Tak Tercatat Redaktur Editorial
1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 16
Agustus 2026
|
· Nama Oei Tjoe Tat tak tercatat sebagai
pejuang revolusi yang membawa Indonesia bebas dari penjajahan. · Gagasan dan pemikirannya juga tak
terbaca dalam buku-buku sejarah Indonesia modern. · Huru-hara 1965 menggulung nama dan
perannya dalam gagasan universal Bhinneka Tunggal Ika dan diplomasi di masa
Perang Dingin. NAMA Oei
Tjoe Tat mungkin terdengar asing. Ia bukan aktivis yang menentang
kolonialisme dan terlibat menyiapkan kemerdekaan Indonesia di garis depan. Ia
bukan pemikir revolusioner yang gagasan-gagasannya dicatat dalam buku-buku
pelajaran sejarah. Tapi perannya tak bisa dianggap remeh. Berkat Oei Tjoe
Tat, Bhinneka Tunggal Ika tak sekadar menjadi jargon hampa. Sewaktu
menjadi anggota Konstituante mewakili Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan
Indonesia (Baperki) dalam Pemilihan Umum 1955, Oei Tjoe Tat menjadi satu dari
banyak aktivis keturunan Tionghoa yang mengangkat pentingnya Indonesia
berasaskan beragam etnis, bukan semata suku-suku asli Nusantara. Bagi Oei,
warga keturunan punya hak menjadi warga negara sah Republik Indonesia tanpa
kehilangan identitas, tradisi, dan kebudayaannya. Gagasan
integrasionalisme Oei ini terbentuk sejak ia menjadi mahasiswa hukum di
Batavia pada 1939-1942. Di usia 20-an, ia menjadi pembela hak-hak warga
keturunan yang menjadi korban perang dan okupasi Jepang. Oei sendiri korban
karena harus berhenti kuliah di Rechtshoogeschool lantaran universitas ini
dibubarkan Jepang. Bekerja di bank Yokohama di Solo, kota kelahirannya, tak
membuat ia berhenti menjadi aktivis sosial. Modal ini yang membuat Baperki
meraup suara lebih dari 100 ribu, angka yang cukup untuk mendudukkan wakilnya
di Konstituante. Baca
liputannya: Gagasan
integrasionalisme Oei Tjoe Tat yang sejalan dengan ide persatuan nasional
membuatnya dekat dengan Presiden Sukarno, bahkan setelah si Bung membubarkan
Konstituante melalui dekret 5 Juli 1959. Pragmatisme politik Oei Tjoe Tat
yang tak menentang manuver otoritarian Bung Karno membuatnya dipercaya
Presiden menjadi Menteri Negara pada 1963. Tugasnya
semacam utusan khusus, diplomat, bahkan agen intelijen. Pengetahuan hukum dan
pragmatisme Oei membuat ia menjadi politikus yang efektif menjalankan misi
politik Bung Karno lewat jalan belakang. Sewaktu meledak konfrontasi “Ganyang
Malaysia”, Oei bergerak di belakang layar melakukan lobi-lobi politik luar
negeri untuk mendapatkan dukungan. Bung
Karno menuduh pembentukan federasi Malaysia pada 1963 yang menyatukan
Singapura dan Sabah serta Sarawak di Kalimantan sebagai neokolonialisme
Inggris. Malaysia sudah merdeka sejak 1957 sehingga, dalam pandangan Bung
Karno, pembentukan federasi hanya dalih Inggris menjajah kembali wilayah ini
secara sah. Oei mengkomunikasikan pandangan ini kepada para pejuang Malaysia
dan Singapura. Meski
tak ada catatan yang mengkonfirmasi gerilya Oei dalam diplomasi pintu
belakang itu, parlemen Malaysia setuju mengeluarkan Singapura dari federasi
pada 9 Agustus 1965. Penyatuan empat wilayah ke dalam area persemakmuran di
bawah Inggris gagal karena konflik internal Singapura dengan Malaysia itu.
Kontak senjata, kerusuhan, serta teror bom di Singapura oleh dua prajurit
Indonesia membuat penyatuan tersebut batal. Tanggal
pemisahan itu menjadi Hari Kemerdekaan Singapura. Tapi Oei Tjoe Tat juga tak
pulang sebagai pahlawan yang sukses menjalankan misi menentang imperialisme
baru. Nama dan perannya tergulung huru-hara 1965 sebulan kemudian. Pemerintah
Orde Baru memenjarakannya tanpa pengadilan selama 10 tahun. Bahkan, setelah
Oei bebas, rezim Soeharto melarang peredaran memoarnya yang mengungkap kerja
bawah tanah di masa pemerintahan Sukarno. Jika
dilihat dari kacamata sekarang, Oei Tjoe Tat dengan mudah dicap sebagai
“antek Sukarno” yang terseret konflik Blok Barat dan Timur, sikap politik
yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 tentang “ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial”. Suasana
Perang Dingin pada 1960-an membelah dunia menjadi dua blok membuat Indonesia
terjepit di antara kepentingan global untuk mempertahankan kedaulatan lokal.
Krisis ekonomi di awal masa kemerdekaan membuat Sukarno memakai jalan
pragmatis mendapat dukungan negara Timur setelah negara-negara Barat menjegal
Dana Moneter Internasional mengucurkan pinjaman untuk memulihkan ekonomi
Indonesia. Oei Tjoe
Tat mungkin bukan diplomat unggul, tapi kiprahnya menguatkan posisi Indonesia
dalam diplomasi di Asia—betapapun dengan tujuan-tujuan praktis nasionalisme
yang sempit. Tapi gagasannya tentang integrasionalisme menjadi fondasi
prinsip dasar Bhinneka Tunggal Ika yang universal di Republik yang baru
tumbuh. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/edisi-khusus-kemerdekaan-oei-tjoe-tat-2282217 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar