|
Menakar Kriteria Calon Nahkoda Ideal PBNU Miftah
Maulana Habiburrahman : Pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta. |
REPUBLIKA, 17 Juli 2026
|
Menakhodai Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua bukan lagi soal menjaga
tradisi kematian, kelahiran dengan selametan, tahlilan, atau sekadar
memobilisasi massa saat Pemilu. NU hari ini adalah raksasa yang sedang
berdiri di persimpangan jalan peradaban digital dan globalisasi ekonomi. Siapa yang pantas memimpin jemaah sebesar ini? Jawabannya jelas: ia
haruslah sosok yang memiliki jangkar lokal yang kuat namun punya sayap yang
mampu mengepak hingga ke level global. Menjalankan NU di abad baru membutuhkan nakhoda dengan spesifikasi
khusus. Enam kriteria ini bukan sekadar pelengkap resume, melainkan syarat
mutlak demi keselamatan organisasi: Satu; harus Pengasuh Pesantren. NU pada hakikatnya adalah pesantren
besar. Roh, kultur, dan denyut nadi NU ada di sana. Menunjuk ketua umum yang
bukan pengasuh pesantren sama saja dengan memisahkan anak dari ibu
kandungnya. Pemimpin harus paham betul bahasa santri dan bahasa kiai. Dua; punya akar literasi agama yang kokoh. Penguasaan kitab turats
(klasik) dan muashir (kontemporer) adalah harga mati. Mengapa? Agar NU tidak
kehilangan kompas keislamannya di tengah gempuran ideologi transnasional
maupun liberalisme ekstrem. Ia harus fasih membaca kitab kuning, sekaligus
tangkas membedah isu-isu modern. Tiga; Punya visi misi yang jelas dan terukur. NU tidak boleh lagi
berjalan dengan manajemen "mengalir saja". Tanpa peta jalan yang
presisi, NU hanya akan menjadi penonton peradaban, bukan penggerak. Pemimpin
baru harus tahu persis NU mau dibawa ke mana dalam 10 hingga 20 tahun ke
depan. Empat; Sudah alesai secara ekonomi. Ini poin krusial. Ketua Umum PBNU
harus sudah makmur secara pribadi. Jika perutnya masih lapar, atau bisnisnya
masih bergantung pada proyek pemerintah, NU akan rapuh sebagai kekuatan civil
society. Ia akan mudah tergoda konflik kepentingan dan ditarik-tarik oleh
syahwat politik praktis. Lima. Punya kecakapan diplomatik di tingkat global. Dunia sedang
menyusut menjadi sebuah desa global. Isu Islamofobia, perdamaian dunia, dan
perubahan iklim membutuhkan peran NU. Pemimpin NU wajib memiliki kemampuan
lobi internasional dan fasih berkomunikasi di panggung dunia agar suara Islam
Nusantara didengar global. Emam; Paham manajerial modern. Mengelola aset NU—dari sekolah, rumah
sakit, hingga dana umat—tidak bisa lagi memakai manajemen tradisional. Butuh
sentuhan korporasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi mutlak.
NU harus dikelola secara profesional, bukan sekadar pelengkap hobi
organisasi. Mengapa Kiai Imam Jazuli? Saat radar kita arahkan ke medan sirkulasi
kepemimpinan, muncullah nama-nama beken. Ada Gus Kikin yang membawa karisma
besar dari PP Tebuireng. Ada Gus Rozin, figur muda yang matang di Mathali'ul
Falah Kajen. Ada pula Gus Yusuf, singa panggung yang mengasuh pesantren API
Tegalrejo. Lalu Gus Salam pengasuh pesantren Denanyar yang selama ini vokal
dan kritis pada model kepemimpinan NU hari ini. Mereka semua adalah kader
terbaik, mutiara-mutiara NU yang luar biasa. Di luar nama-nama itu ada Ra Azaim Pengasuh Pesantren Situbondo, Prof
Nasarudin, Menteri Agama RI, ada Gus Zulfa, mubaligh yang terkenal pembuat
syair Arab, Gus Fahrur Pengasuh PP Annur Malang, dan tentu saja calon
petahana Gus Yahya. Ini bukti NU tidak pernah kekurangan kader terbaiknya. Namun, jika kita membedah keenam kriteria di atas dengan pisau
analisis yang objektif dan dingin, nama Kiai Imam Jazuli—pengasuh sekaligus
pendiri Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon—terlihat menonjol secara unik. Mengapa beliau? Mari kita bedah rekam jejaknya. Secara kapasitas
keilmuan, beliau adalah kombinasi langka. Ia mengecap pendidikan salafiah
murni di Pondok Pesantren Lirboyo, episentrum keilmuan kitab kuning tanah
air. Tidak berhenti di situ, ia terbang ke Mesir dan menyelesaikan studinya
di Universitas Al-Azhar, Kairo. Jembatan keilmuan timur tengah dan salafiah nusantara sudah selesai di
dirinya. Ditambah lagi dengan wawasan regionalnya saat menempuh pendidikan
bidang politik, pertahanan dan strategi di Universiti Kebangsaan Malaysia dan
Universiti Malaya Malaysia. Yang paling membedakan Kiai Imam Jazuli dengan kandidat lain adalah
kemandirian finansial dan kemampuan manajerialnya yang revolusioner. Beliau
bukan sekadar menerima warisan pesantren, melainkan mendirikan pesantren dari
nol. Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon yang ia rintis tumbuh menjadi
institusi pendidikan modern yang mandiri secara finansial tanpa
ketergantungan pada ekosistem politik formal. Konsep tata kelola ekonominya
matang, manajemennya lari kencang, dan visinya melompat ke depan. Ini
membuktikan bahwa ia sudah selesai dengan urusan domestik ekonominya. NU abad kedua tidak lagi butuh ketua umum yang baru mau belajar
memimpin organisasi besar. NU butuh sosok yang sudah terbukti mampu membangun
sistem, mandiri secara ekonomi, alim secara keilmuan, dan lincah dalam
pergaulan global. Melihat tantangan zaman yang kian pragmatis dan kompleks, profil
seperti Kiai Imam Jazuli memberikan harapan baru bagi masa depan PBNU yang
mandiri, kokoh, dan berwibawa di mata dunia. ● Sumber : https://analisis.republika.co.id/berita/tibhvb451/menakar-kriteria-calon-nahkoda-ideal-pbnu-part2 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar