|
Enak Busuk Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 05 Agustus 2026
Tentu ada yang
mengeluh: makanan MBG tidak enak. Ada seorang ibu yang bercerita anaknya tidak
mau makan makanan MBG. Apakah itu berarti semua makanan MBG tidak enak?
Saya teringat
saat makan ke restoran yang belum pernah ke situ sebelumnya. Belum tahu
masakannya enak atau tidak. Saya coba satu menu. Tidak enak. Saya pun bercerita
ke Galuh Banjar: jangan pesan banyak-banyak. Biasanya, kalau satu menu tidak
enak, menu lainnya juga tidak akan enak. Pun sebaliknya.
Anda sudah
tahu: enak dan tidak enak itu selera. Anda juga sudah tahu: enak itu belum
tentu bergizi, bahkan, belum tentu tidak berbahaya bagi kesehatan.
Sering saya
memuji satu masakan di awal: makanan ini enak sekali. Setengah jam setelah
makan mulailah menyesal: tenggorokan terasa terganggu. Juga lidah. Tingkat
terganggunya tidak seberapa tapi saya langsung merasa tidak perlu lagi ke
restoran itu. Saya tidak tahu apa penyebab makanan enak yang berujung tidak
enak itu. Mungkin karena terlalu banyak menggunakan vetsin?
Soal MBG
enak-tidak-enak itu mungkin belum waktunya dibahas. Bukankah masih terlalu
banyak persoalan internal BGN yang lebih prioritas untuk diselesaikan? Maka
yang saya tulis hari ini jangan dibaca dulu. Simpan saja. Tidak terlalu
penting. Bukan prioritas.
Tapi itu
penting untuk kita pahami: tidak enak di satu MBG bukan berarti tidak enak
semua. Mana yang lebih banyak? Yang enak atau yang tidak enak? 90:10 untuk
menang yang enak? 70:30? Atau 30:70? 10:90?
Yang jelas
tidak semua MBG tidak enak. Artinya tidak semua investor berhati busuk.
Perkiraan saya, berdasar diskusi dengan para investor, yang busuk itu sekitar
10 persen. Sebenarnya tidak banyak. Tapi bukankah ada pepatah nila setitik
rusak susu se Malinda? Maka soal busuk dan keracunan sebaiknya jangan pakai
persentase.
Prinsip ”kalau
satu menu enak, menu lainnya juga enak” bisa dipakai untuk mencarikan jalan
keluar ketidakenakan rasa MBG. Caranya: kumpulkan keluhan ”tidak enak”. Lalu
petakan per dapur MBG. Jangan-jangan keluhan tidak enak datang dari dapur MBG
tertentu. Itu pun jangan langsung diberi sanksi. Adakan survei kecil-kecilan
khusus untuk siswa yang dapat makanan dari dapur tersebut. Serahkan hasil
survei ke kepala dapur. Barulah kepala dapur menentukan langkah berikutnya.
Terserah mau diapakan.
Untuk melakukan
tindakan tidak mudah. Kita sudah terbiasa tidak menganut prinsip meritokrasi.
Harusnya
”meritokrasi” pun perlu dilakukan di level dapur MGB. Kalau antara kepala dapur
dan juru masak terjadi hubungan khusus, tentu sulit bagi kepala dapur untuk
melakukan penggantian juru masak. Maka hasil survei itu perlu diserahkan ke
atasan kepala dapur: agar dipertanyakan mengapa tidak ada tindakan.
Jangan-jangan
lebih berat dari itu: masakan tidak enak lantaran bumbunya dikurangi. Bumbu
adalah komponen paling mahal dibanding item lain.
Anda sudah tahu
kenapa bumbu dikurangi: untuk menekan biaya. Kenapa biaya perlu ditekan pasti
karena anggarannya kurang. Bukankah anggarannya cukup?
Cukup. Kalau
tidak ada biaya-biaya lain.
Anda sudah
tahu: ada kepala dapur yang ingin cari tambahan penghasilan. Caranya: minta
uang tambahan ke pemilik dapur MBG. Permintaan itu bervariasi. Ada yang Rp5
juta/bulan. Sampai ada yang minta dibelikan sepeda motor.
Berarti belum
tentu tidak enak itu karena kokinya kurang cocok. Kalau di satu area banyak
keluhan MBG-nya tidak enak memang kokinya harus dievaluasi. Tapi kepala
dapurnya juga perlu diganti.
Korupsi rupanya
tidak hanya terjadi di pucuk BGN tapi juga di akarnya.
Kalau kerusakan
akar seperti itu terus meluas nilainya bisa sama dengan 74 kg emas. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/961012/enak-busuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar