|
Karier
Politik Raja Juli: Muhammadiyah, PDIP, Lalu PSI Febriyan :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 09 Agustus 2026
|
· Leluhur Raja Juli Antoni merupakan
tokoh masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. · Ia menjadi kader Muhammadiyah sebelum
terjun ke politik praktis melalui PSI. · Menjadi pengurus PSI setelah kariernya
mentok di PDI Perjuangan. NAMA
keluarga Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni masyhur di Desa Pebaun Hilir,
Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Kakek Raja Juli, Radja
Ibrahim, merupakan tokoh Muhammadiyah pada 1933. Ayah Raja Juli, Raja Ramli
Ibrahim, juga lahir dan dikenal sebagai tokoh masyarakat di sana. Tapi tak
banyak warga desa yang mengenal Raja Juli. Keluarganya telah pindah ke
Pekanbaru. Raja Juli pun lahir di sana 49 tahun lalu. “Rumah kakek-neneknya
masih ada di sini, tapi itu pun tidak berpenghuni lagi,” kata Kepala Desa
Pebaun Hilir Alpines saat dihubungi Tempo pada Rabu, 5 Agustus 2026. Nama
Raja Juli mulai populer di kalangan warga desa saat ia menjabat Wakil Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional pada 2022.
Namanya makin terkenal di kampung itu setelah ia dipercaya Presiden Prabowo
Subianto menduduki jabatan Menteri Kehutanan pada Oktober 2024. Setelah
dewasa, Raja Juli Antoni baru sekali mengunjungi Desa Pebaun Hilir. Ia datang
untuk menghadiri lomba adat pacu jalur atau perlombaan perahu panjang khas
Kuantan Singingi. “Kami sebagai masyarakat tentu bangga ada seorang warga
kami yang menjabat menteri,” tutur Alpines. Raja
Juli juga menyebarkan kabar mengenai kunjungan itu di akun media sosialnya.
Dalam unggahan pada 20 Agustus 2022, Raja Juli menyatakan akan mengunjungi
kampung halaman almarhum ayah dan ibunya untuk menghadiri acara pembukaan
pacu jalur. “Terakhir nonton masih SD,” tulis Raja Juli saat itu. Nama
Raja Juli dan Kabupaten Kuantan Singingi kembali mencuat pada awal Juli 2026.
Ia mengaku mengembalikan amplop dari Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby.
Komisi Pemberantasan Korupsi tengah menyelisik soal ini. Amplop itu diduga
berkaitan dengan proses pelepasan kawasan hutan dalam program Tanah Objek
Reforma Agraria atau TORA. “Sudah saya kembalikan amplopnya,” ujar Raja Juli
pada saat itu. Raja
Juli mulanya bertemu dengan Suhardiman Amby pada tahun lalu. Ia sebenarnya
tak banyak tahu soal Kuantan Singingi. Setelah lahir di Pekanbaru, Raja Juli
mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Pondok
Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Garut, Jawa Barat. Ia melanjutkan
pendidikan dengan kuliah di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah
yang kini bernama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,
Tangerang Selatan, Banten. Raja
Juli mulai bergelut dengan aktivitas politik saat menjadi mahasiswa. Ia
terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah periode
2000-2002. Posisi ini yang kemudian membuat Raja Juli memiliki banyak koneksi
tokoh penting. Di
antaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 1998-2005, Ahmad Syafii
Maarif atau yang populer dengan sebutan Buya Syafii. Tokoh lain yang ia kenal
adalah Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah
Jeffrie Geovanie. Seorang
pengurus Muhammadiyah mengatakan Syafii Maarif memiliki andil besar dalam
keberhasilan Raja Juli meneruskan studi ke University of Bradford, Inggris.
Syafii merekomendasikan Raja Juli mendapat beasiswa Chevening Award pada
2004. “Karena itu, dia sempat dianggap sebagai anak kesayangan Buya Syafii,”
tutur pengurus itu. Kedekatan
ini pula yang kemudian membuat Raja Juli menduduki jabatan Direktur Eksekutif
Maarif Institute, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang
pembaruan pemikiran Islam, pendidikan, dan advokasi kemanusiaan. Syafii
Maarif pula yang kemudian mendorong Raja Juli masuk ke politik praktis. Syafii
Maarif menitipkan Raja Juli kepada Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan kala itu, Taufiq Kiemas. Seorang kader partai
berlogo banteng moncong putih itu mengatakan Raja Juli masuk ke partai
tersebut pada 2007. Pada
saat itu PDI Perjuangan baru saja mendirikan Baitul Muslimin Indonesia atau
Bamusi yang merupakan organisasi sayap Islam partai tersebut. “Buya dan
Taufiq Kiemas memang sangat dekat,” ujar kader dan pengurus PDI Perjuangan
itu. Karier
politik Raja Juli di PDIP awalnya terbilang mulus. Meski baru bergabung dua
tahun, ia langsung tercatat sebagai calon anggota legislatif dari PDIP dalam
Pemilihan Umum 2009. Ia bertarung di daerah pemilihan Jawa Barat IX. Ia gagal
menjadi legislator karena perolehan suaranya kalah oleh dua kader senior PDIP
di daerah tersebut. Gagal
melaju ke Senayan, Raja Juli mengambil studi doktoral di University of
Queensland, Australia, pada 2010. Ia mendapat beasiswa dari Australian
Development Scholarships. “Atas rekomendasi Pak Taufiq Kiemas,” kata kader
PDIP lain. Sepulang
dari Australia, Raja Juli masih tercatat sebagai kader partai banteng.
Aktivitas Raja Juli mulai surut setelah Taufiq Kiemas meninggal pada 2013. Ia
gagal maju sebagai calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan dalam
Pemilihan Umum 2014. Beberapa
bulan setelah Pemilu 2014, ia memutuskan bergabung dengan Partai Solidaritas
Indonesia. Raja Juli menerima tawaran Jeffrie Geovanie yang merupakan
mentornya di Muhammadiyah dan Maarif Institute. Raja
Juli tak mau berkomentar saat Tempo temui di kantornya pada Rabu, 5 Agustus
2026. Surat permohonan wawancara yang Tempo layangkan pun tak berbalas. Ditemui
terpisah, dua mantan kader PSI menceritakan Jeffrie yang langsung merekrut
Raja Juli. Jeffrie menganggap Raja Juli sebagai anak muda yang memahami cara
mengelola organisasi. Pasalnya, pada saat itu PSI lebih banyak diisi orang
yang tak banyak memiliki pengalaman berorganisasi. Ia pun langsung mengisi
kursi Sekretaris Jenderal. Raja
Juli berada di posisi itu hingga 2021. Pada saat itu jabatan Ketua Umum
beralih dari Grace Natalie kepada Giring Ganesha. Posisi Sekretaris Jenderal
diisi Dea Tunggaesti. Raja Juli didapuk menjadi anggota Dewan Pembina. Namun
Raja Juli kembali menjadi Sekretaris Jenderal setelah tongkat kepemimpinan
PSI beralih kepada putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, pada 2023. Sekretaris
Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengklaim tak mengetahui perjalanan
politik Raja Juli di partai merah. Ia meminta hal itu ditanyakan kepada Ketua
Pengurus Pusat Bamusi periode 2007-2012, Ahmad Basarah. Namun Basarah tak
kunjung merespons permintaan wawancara yang dikirim ke nomor teleponnya. Tempo
juga telah meminta konfirmasi mengenai cerita karier politik Raja Juli di PSI
kepada Jeffrie Geovanie dan sejumlah petinggi PSI lain. Namun permohonan
wawancara yang dilayangkan melalui pesan pendek tak kunjung berbalas. ● Sumber :
https://www.tempo.co/hukum/raja-juli-antoni-muhammadiyah-pdip-psi-2280912 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar