Senin, 10 Agustus 2026

 

Karier Politik Raja Juli: Muhammadiyah, PDIP, Lalu PSI

Febriyan :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 09 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Leluhur Raja Juli Antoni merupakan tokoh masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

 

·      Ia menjadi kader Muhammadiyah sebelum terjun ke politik praktis melalui PSI.

 

·      Menjadi pengurus PSI setelah kariernya mentok di PDI Perjuangan.

 

NAMA keluarga Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni masyhur di Desa Pebaun Hilir, Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Kakek Raja Juli, Radja Ibrahim, merupakan tokoh Muhammadiyah pada 1933. Ayah Raja Juli, Raja Ramli Ibrahim, juga lahir dan dikenal sebagai tokoh masyarakat di sana.

 

Tapi tak banyak warga desa yang mengenal Raja Juli. Keluarganya telah pindah ke Pekanbaru. Raja Juli pun lahir di sana 49 tahun lalu. “Rumah kakek-neneknya masih ada di sini, tapi itu pun tidak berpenghuni lagi,” kata Kepala Desa Pebaun Hilir Alpines saat dihubungi Tempo pada Rabu, 5 Agustus 2026.

 

Nama Raja Juli mulai populer di kalangan warga desa saat ia menjabat Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional pada 2022. Namanya makin terkenal di kampung itu setelah ia dipercaya Presiden Prabowo Subianto menduduki jabatan Menteri Kehutanan pada Oktober 2024.

 

Setelah dewasa, Raja Juli Antoni baru sekali mengunjungi Desa Pebaun Hilir. Ia datang untuk menghadiri lomba adat pacu jalur atau perlombaan perahu panjang khas Kuantan Singingi. “Kami sebagai masyarakat tentu bangga ada seorang warga kami yang menjabat menteri,” tutur Alpines.

 

Raja Juli juga menyebarkan kabar mengenai kunjungan itu di akun media sosialnya. Dalam unggahan pada 20 Agustus 2022, Raja Juli menyatakan akan mengunjungi kampung halaman almarhum ayah dan ibunya untuk menghadiri acara pembukaan pacu jalur. “Terakhir nonton masih SD,” tulis Raja Juli saat itu.

 

Nama Raja Juli dan Kabupaten Kuantan Singingi kembali mencuat pada awal Juli 2026. Ia mengaku mengembalikan amplop dari Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby. Komisi Pemberantasan Korupsi tengah menyelisik soal ini. Amplop itu diduga berkaitan dengan proses pelepasan kawasan hutan dalam program Tanah Objek Reforma Agraria atau TORA. “Sudah saya kembalikan amplopnya,” ujar Raja Juli pada saat itu.

 

Raja Juli mulanya bertemu dengan Suhardiman Amby pada tahun lalu. Ia sebenarnya tak banyak tahu soal Kuantan Singingi. Setelah lahir di Pekanbaru, Raja Juli mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Garut, Jawa Barat. Ia melanjutkan pendidikan dengan kuliah di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang kini bernama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangerang Selatan, Banten.

 

Raja Juli mulai bergelut dengan aktivitas politik saat menjadi mahasiswa. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah periode 2000-2002. Posisi ini yang kemudian membuat Raja Juli memiliki banyak koneksi tokoh penting.

 

Di antaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah 1998-2005, Ahmad Syafii Maarif atau yang populer dengan sebutan Buya Syafii. Tokoh lain yang ia kenal adalah Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah Jeffrie Geovanie.

 

Seorang pengurus Muhammadiyah mengatakan Syafii Maarif memiliki andil besar dalam keberhasilan Raja Juli meneruskan studi ke University of Bradford, Inggris. Syafii merekomendasikan Raja Juli mendapat beasiswa Chevening Award pada 2004. “Karena itu, dia sempat dianggap sebagai anak kesayangan Buya Syafii,” tutur pengurus itu.

 

Kedekatan ini pula yang kemudian membuat Raja Juli menduduki jabatan Direktur Eksekutif Maarif Institute, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pembaruan pemikiran Islam, pendidikan, dan advokasi kemanusiaan. Syafii Maarif pula yang kemudian mendorong Raja Juli masuk ke politik praktis.

 

Syafii Maarif menitipkan Raja Juli kepada Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kala itu, Taufiq Kiemas. Seorang kader partai berlogo banteng moncong putih itu mengatakan Raja Juli masuk ke partai tersebut pada 2007.

 

Pada saat itu PDI Perjuangan baru saja mendirikan Baitul Muslimin Indonesia atau Bamusi yang merupakan organisasi sayap Islam partai tersebut. “Buya dan Taufiq Kiemas memang sangat dekat,” ujar kader dan pengurus PDI Perjuangan itu.

 

Karier politik Raja Juli di PDIP awalnya terbilang mulus. Meski baru bergabung dua tahun, ia langsung tercatat sebagai calon anggota legislatif dari PDIP dalam Pemilihan Umum 2009. Ia bertarung di daerah pemilihan Jawa Barat IX. Ia gagal menjadi legislator karena perolehan suaranya kalah oleh dua kader senior PDIP di daerah tersebut.

 

Gagal melaju ke Senayan, Raja Juli mengambil studi doktoral di University of Queensland, Australia, pada 2010. Ia mendapat beasiswa dari Australian Development Scholarships. “Atas rekomendasi Pak Taufiq Kiemas,” kata kader PDIP lain.

 

Sepulang dari Australia, Raja Juli masih tercatat sebagai kader partai banteng. Aktivitas Raja Juli mulai surut setelah Taufiq Kiemas meninggal pada 2013. Ia gagal maju sebagai calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan dalam Pemilihan Umum 2014.

 

Beberapa bulan setelah Pemilu 2014, ia memutuskan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia. Raja Juli menerima tawaran Jeffrie Geovanie yang merupakan mentornya di Muhammadiyah dan Maarif Institute.

 

Raja Juli tak mau berkomentar saat Tempo temui di kantornya pada Rabu, 5 Agustus 2026. Surat permohonan wawancara yang Tempo layangkan pun tak berbalas.

 

Ditemui terpisah, dua mantan kader PSI menceritakan Jeffrie yang langsung merekrut Raja Juli. Jeffrie menganggap Raja Juli sebagai anak muda yang memahami cara mengelola organisasi. Pasalnya, pada saat itu PSI lebih banyak diisi orang yang tak banyak memiliki pengalaman berorganisasi. Ia pun langsung mengisi kursi Sekretaris Jenderal.

 

Raja Juli berada di posisi itu hingga 2021. Pada saat itu jabatan Ketua Umum beralih dari Grace Natalie kepada Giring Ganesha. Posisi Sekretaris Jenderal diisi Dea Tunggaesti. Raja Juli didapuk menjadi anggota Dewan Pembina. Namun Raja Juli kembali menjadi Sekretaris Jenderal setelah tongkat kepemimpinan PSI beralih kepada putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, pada 2023.

 

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengklaim tak mengetahui perjalanan politik Raja Juli di partai merah. Ia meminta hal itu ditanyakan kepada Ketua Pengurus Pusat Bamusi periode 2007-2012, Ahmad Basarah. Namun Basarah tak kunjung merespons permintaan wawancara yang dikirim ke nomor teleponnya.

 

Tempo juga telah meminta konfirmasi mengenai cerita karier politik Raja Juli di PSI kepada Jeffrie Geovanie dan sejumlah petinggi PSI lain. Namun permohonan wawancara yang dilayangkan melalui pesan pendek tak kunjung berbalas.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/hukum/raja-juli-antoni-muhammadiyah-pdip-psi-2280912

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar