|
Shivaji di Hati Khalid Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 16 Agustus 2026
|
Seorang anak
Muslim ingin menjadi Shivaji. Justru karena itu ia dipersoalkan. Film India
ini membuka pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya pemilik sejarah? Sejarah sering kali bernasib seperti
rumah tua yang diwariskan kepada banyak anak. Selama semua sepakat
merawatnya, rumah itu menjadi tempat berteduh bersama. Tetapi ketika
masing-masing merasa sebagai pemilik tunggal, rumah yang sama berubah menjadi
medan sengketa. Yang diperebutkan bukan lagi dinding
atau atapnya, melainkan hak untuk berkata, "Ini milikku." Begitulah
nasib Chhatrapati Shivaji Maharaj di India hari ini. Semakin besar
penghormatan kepadanya, semakin keras pula perebutan atas makna yang diwariskannya. Dalam dua tahun terakhir, lahir dua
film yang sama-sama berbicara tentang seorang raja besa India, bernama
Shivaji, tetapi memilih jalan yang sangat berbeda. Bahkan sedang disiapkan
film panjang Shivaji Raje Bhosale yang ditargetkan tayang tahun 2028. Film Raja Shivaji (2026) menghadirkan
kisah seorang raja sebagaimana lazimnya film epik: panglima perang, penakluk
benteng, simbol kejayaan Maratha. Sebaliknya, film Khalid Ke Shivaji (2025)
justru mengajak penonton melihat Shivaji, raja beragama Hindu, dari mata
seorang anak Muslim kelas lima bernama Khalid. Perbedaan sudut pandang itu tampak
sederhana, tetapi justru di sanalah letak keberanian film Khalid Ke Shivaji.
Ia tidak bertanya bagaimana Shivaji memenangkan peperangan, melainkan
bagaimana nilai-nilai Shivaji dapat hidup di hati seorang anak yang berbeda
agama. Pilihan itu ternyata mengusik banyak
pihak. Trailer film Khalid Ke Shivaji memicu protes dari kelompok-kelompok
Hindu sayap kanan karena memuat dialog yang menyebut adanya pengawal Muslim
dalam pasukan Shivaji serta keberadaan masjid di Raigad. Sebagian sejarawan
sendiri mengingatkan bahwa beberapa klaim tersebut memang belum memiliki bukti
primer yang kuat. Perdebatan akademik seperti itu tentu
wajar. Sejarah berkembang justru karena keberanian menguji sumber, bukan
karena kesediaan menerima setiap cerita tanpa kritik. Masalah muncul ketika
diskusi ilmiah berubah menjadi tuntutan pelarangan, tekanan politik, bahkan
penyensoran karya seni sebelum masyarakat sempat menontonnya secara utuh. Di sinilah kita perlu membedakan dua
hal yang sering dicampuradukkan. Mempertanyakan akurasi sejarah adalah
pekerjaan ilmuwan. Tetapi menolak sebuah gagasan hanya karena berusaha
menghadirkan tokoh sejarah sebagai milik semua warga negara adalah persoalan
yang berbeda. Yang pertama menjaga integritas ilmu
pengetahuan. Yang kedua berisiko mengubah sejarah menjadi pagar identitas.
Padahal tokoh sebesar Shivaji tidak menjadi besar karena hanya dicintai satu
kelompok, melainkan karena pengaruhnya melampaui batas-batas komunitasnya
sendiri. Yang menarik, kontroversi itu seakan
meniru jalan cerita filmnya sendiri. Dalam dunia fiksi, Khalid dipersoalkan
karena ia seorang Muslim yang mengagumi Shivaji. Di dunia nyata, Khalid Ke
Shivaji juga mengalami nasib serupa. Padahal pesan yang hendak disampaikan
Raj Pritam More sesungguhnya sangat sederhana, bahkan selama puluhan tahun
pernah menjadi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah India: bahwa Shivaji
adalah pemimpin yang berusaha mempersatukan rakyatnya tanpa membedakan agama,
kasta, maupun kelas sosial. Namun di tengah menguatnya politik
identitas, gagasan yang dahulu dianggap biasa itu kini justru berubah menjadi
kontroversi. Shivaji yang selama berabad-abad dipandang sebagai kebanggaan
Maharashtra perlahan direbut menjadi simbol eksklusif Hindutva, sehingga
setiap upaya menampilkan sisi inklusifnya segera dicurigai sebagai ancaman
ideologis. Film ini juga cerdas karena tidak
memulai cerita dari pertikaian agama, melainkan dari persoalan yang jauh
lebih membumi. Di sebuah desa kecil di Maharashtra, warga mengeluhkan jalan
rusak dan kesulitan air bersih. Alih-alih menyelesaikan kebutuhan dasar itu,
kepala desa justru menggagas pembangunan sebuah kuil. Menariknya, warga Hindu maupun Muslim
sama-sama mempertanyakan prioritas tersebut. Adegan singkat ini seolah
menyindir kenyataan politik modern: masyarakat biasa sering kali lebih waras
daripada para pemimpinnya. Raj More seperti hendak mengatakan
bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya menyediakan ruang hidup bersama yang
cukup luas, tetapi ruang itu terus dipersempit oleh politik identitas yang
lebih sibuk mengurus simbol daripada kesejahteraan rakyat. Dari titik itulah perjalanan Khalid
menjadi semakin mengharukan. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga yang fanatik.
Orang tuanya hidup sederhana, bahkan tidak terlalu menekankan ritual
keagamaan. Namun sejak teman-temannya mulai
mengejeknya sebagai "Afzal Khan", ia mendadak dipaksa memikul beban
identitas yang terlalu berat untuk anak berusia sebelas tahun. Guru sejarahnya, Salve, berusaha
menghiburnya dengan mengatakan bahwa yang tidak memiliki sejarah tidak akan
memiliki masa kini, bahkan menjawab pertanyaan Khalid tentang agama Afzal
Khan dengan kalimat sederhana, "Memangnya kenapa?" Akan tetapi, justru di situlah ironi
film ini. Orang-orang dewasalah yang membuat pertanyaan itu menjadi penting.
Raj More memperlihatkan bagaimana prasangka tidak lahir dari kebencian yang
besar, melainkan dari ejekan yang dianggap biasa, dari label yang terus
diulang, hingga akhirnya seorang anak belajar melihat dirinya sebagai
"yang berbeda". Ketika ayah Khalid berkata, "Raja
yang sejati menempatkan kemanusiaan di atas agama," Khalid hanya
menjawab lirih, "Seandainya kami hidup pada zaman itu." Kalimat
sederhana tersebut menjadi kritik yang sangat tajam terhadap India hari ini:
barangkali yang semakin jauh bukan warisan Shivaji, melainkan kemampuan
masyarakat untuk mewarisi semangatnya. Film ini sebenarnya tidak sedang
berusaha mengislamkan Shivaji atau mengurangi kebesaran tokoh tersebut. Raj
Pritam More, dengan Khalid Ke Shivaji, justru melakukan sesuatu yang jauh
lebih menarik: mengembalikan Shivaji dari patung ke ruang kelas. Dari monumen
ke buku pelajaran. Dari slogan politik ke rasa ingin tahu seorang anak. Ketika Khalid mulai mengagumi Shivaji,
ia tidak sedang berpindah agama ataupun mengkhianati identitasnya. Ia sedang
belajar bahwa keberanian, keadilan, dan kepemimpinan bukanlah milik eksklusif
siapa pun. Nilai-nilai itu dapat menginspirasi siapa saja yang bersedia
mempelajarinya. Puncak cerita menjadi begitu menyentuh
ketika Khalid dipersiapkan memerankan Shivaji dalam pertunjukan sekolah. Ia
berlatih dengan tekun, menghafal dialog, bahkan berusaha memahami watak sang
raja. Namun kesempatan itu akhirnya direnggut bukan karena ia gagal
memerankan tokohnya, melainkan karena ia bernama Khalid. Adegan itu memang fiksi, tetapi daya
gugahnya justru lahir karena terasa sangat dekat dengan kenyataan.
Diskriminasi jarang dimulai dengan ledakan kebencian. Ia lebih sering hadir
sebagai keputusan-keputusan kecil yang perlahan mengajari seseorang bahwa nama,
agama, atau asal-usulnya lebih penting dari kemampuan dan integritasnya. Ironinya, film Khalid Ke Shivaji
menunjukkan bahwa fanatisme tidak mengenal agama. Kelompok ekstrem dari dua
komunitas yang berbeda akhirnya berdiri di sisi yang sama: sama-sama menolak
Khalid menjadi Shivaji. Paradoks itu mengingatkan kita bahwa
intoleransi mempunyai banyak wajah, tetapi selalu memakai logika yang serupa.
Ia selalu membutuhkan "orang lain" untuk ditolak. Ia selalu merasa
paling berhak menentukan siapa yang boleh mencintai sejarah dan siapa yang
tidak. Padahal, jika membaca berbagai kajian
sejarah secara lebih utuh, sosok Shivaji jauh lebih kompleks daripada sekadar
simbol perlawanan Hindu terhadap kekuasaan Mughal. Banyak peneliti mencatat
sikapnya yang menghormati tempat-tempat ibadah, melindungi perempuan dalam
wilayah konflik, dan memisahkan permusuhan politik dari permusuhan agama. Detail-detail tertentu memang masih
diperdebatkan para ahli, tetapi gambaran umum mengenai kepemimpinannya yang
mengutamakan keadilan memperoleh tempat penting dalam historiografi India.
Justru karena itulah warisan Shivaji tidak layak dipersempit menjadi alat
mobilisasi identitas politik masa kini. Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya
terjadi di India. Hampir setiap bangsa pernah mengalami godaan untuk
"memonopoli" pahlawannya. Tokoh sejarah dipilih bukan berdasarkan
keluasan gagasannya, melainkan berdasarkan kegunaannya dalam pertarungan
politik hari ini. Ketika itu terjadi, sejarah berhenti
menjadi guru kehidupan dan berubah menjadi gudang amunisi. Orang tidak lagi
datang untuk belajar, tetapi untuk mencari peluru bagi perdebatan yang sudah
lebih dahulu mereka menangkan di dalam pikirannya. Barangkali itulah sebabnya seorang
anak sering kali lebih bijaksana daripada orang dewasa. Khalid tidak melihat
Shivaji sebagai milik Hindu atau milik Muslim. Ia melihat seorang pemimpin
yang pantas dikagumi. Sesederhana itu. Justru kesederhanaan itulah yang
hilang ketika orang dewasa mulai membungkus sejarah dengan pagar-pagar
identitas. Mereka sibuk menjaga patungnya, tetapi lupa merawat nilai-nilai
yang dahulu membuat tokoh itu layak dikenang. Pada akhirnya, pertanyaan terbesar
yang diajukan film ini bukanlah apakah semua dialognya akurat secara
historis. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sebuah bangsa cukup
percaya diri untuk membiarkan anak-anaknya mengagumi tokoh besar tanpa terlebih
dahulu memeriksa agama mereka? Sebab apabila seorang Khalid tidak
lagi boleh mengagumi Shivaji, sesungguhnya yang kehilangan bukan hanya
Khalid. Bangsa itulah yang perlahan kehilangan kemampuan menjadikan sejarah
sebagai ruang perjumpaan, bukan arena permusuhan. Dan ketika sejarah tidak lagi mampu
mempertemukan manusia, ia hanya akan menjadi monumen yang dipenuhi karangan
bunga, tetapi kosong dari jiwa yang dahulu melahirkannya. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar