|
Solusi Parsial
Listrik Sampah Redaktur Editorial
4 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 09
Agustus 2026
|
· Danantara sedang menggeber megaproyek
pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL. · Solusi penyelesaian sampah di hilir ini
tak ditopang oleh langkah-langkah bertahap di hulu yang menjadi problem
utama. · Tanpa penanganan yang utuh, proyek
jumbo berbiaya puluhan triliun rupiah itu berisiko sia-sia. BADAN
Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara ) sedang menggeber
proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik. Proyek senilai Rp 87 triliun
itu tampak menjanjikan karena menjadi solusi menguntungkan problem utama di
hampir semua daerah di Indonesia. Masalahnya, upaya mengubah sampah jadi
energi adalah solusi hilir yang tak membereskan akar persoalan di hulu. Tumpukan
sampah di tempat pembuangan akhir itu terjadi karena Indonesia tak punya
kebijakan dan kebajikan menekan produksi sampah sejak dari pikiran. Tradisi,
kurikulum pendidikan, hingga kebijakan negara tak memaksa setiap orang
menyetop membuat sampah dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, inisiatif nol
sampah personal pun terbentur keadaan dan lingkungan yang tak mendukung. Produksi
sampah tiap orang Indonesia naik dalam sepuluh tahun terakhir. Pada 2016,
tiap orang Indonesia membuat sampah 230 kilogram, tahun ini naik menjadi 250
kilogram. Tempat pembuangan sampah pun tak lagi cukup menampungnya. Bahkan,
di beberapa lokasi, gas metana yang terkandung di dalamnya meledak dan
memakan korban jiwa. Tumpukan
sampah itu terjadi karena tiap orang tak terbiasa memilahnya sejak dari
rumah. Inisiatif pengusaha yang mendirikan industri daur ulang tidak
berkembang karena kekurangan pasokan. Pemerintah tak mendukungnya dengan
memberikan insentif pemilahan sampah dan daur ulang untuk menopang ekonomi
sirkular. Kurangi (reduce), gunakan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle)
sebatas slogan hampa karena tak diikuti kebijakan mendorongnya. Karena
itu, daripada menghabiskan Rp 87 triliun untuk mengubah sampah menjadi
energi, lebih masuk akal jika pemerintah memakai uang sebanyak itu untuk
menyelesaikan masalah sampah di hulu lebih dulu. Pemerintah pusat bisa
mengalokasikan dana ke daerah untuk memberikan insentif pilah sampah sejak
dari rumah dan insentif bagi industri daur ulang. Dalam
skala nasional, pemerintah juga bisa mewajibkan industri menyerap kembali
sampah yang mereka produksi. Dengan menyediakan mekanisme kredit
sampah—seperti skema kredit karbon—publik akan terdorong memilah sampah
mereka, lalu menjualnya kepada produsen. Produsen barang kebutuhan publik
bekerja sama dengan industri daur ulang untuk mengolah kemasan produk yang
telah terpakai. Baca
Liputannya: Negara-negara
lain—seperti Jerman, Jepang, Inggris, bahkan Etiopia dan Rwanda—mampu
mengelola sampah mereka tanpa biaya besar dengan skema tersebut. Kredit
plastik adalah satu skema ekonomi sirkular dan mekanisme pasar dalam
menyelesaikan problem sampah. Mengolahnya di hilir menjadi energi listrik ,
selain mahal, belum tentu menjadi solusi problem utamanya. Apalagi
teknologi yang dipakai Danantara masih sederhana, yakni pembakaran. Sejak
2020, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat,
sudah memakai cara ini tapi hanya mampu mengolah 100 ton sampah, sepertujuh
puluh kiriman sampah orang Jakarta sehari. Makin besar kapasitas sampah yang
dibakar, makin besar pula biaya untuk menghidupkan pembangkitnya. Penyelesaian
problem sampah perlu strategi besar secara bertahap dan terukur. Pengubahan
menjadi energi listrik hanya solusi parsial yang mengobati gejala, bukan
menyembuhkan akar persoalan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/psel-danantara-sampah-listrik-2280903 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar