|
Raffi Ahmad dan
Politik Prime Time Redaktur Editorial
2 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 09
Agustus 2026
|
· Jaringan Raffi Ahmad juga bersinggungan
dengan Dony Oskaria dan Sufmi Dasco Ahmad. · Rangkaian hubungan tersebut
memperlihatkan simpul antara selebritas, bisnis, partai politik, dan
kekuasaan. · Demokrasi tidak selayaknya ikut
dikelola dengan logika popularitas. RAFFI
Ahmad adalah fenomena politik zaman kiwari. Ia bukan lagi sekadar pesohor
dengan gurita bisnis, melainkan juga contoh bagaimana popularitas menjadi
tiket masuk ke ruang kekuasaan. Di negeri yang politiknya kerap seperti acara
televisi ini, jumlah pengikut bisa lebih menentukan daripada riwayat hidup. Sebelum
menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja
Seni, Raffi dikenal sebagai penghibur layar kaca. Pada era Joko Widodo, Raffi
masuk lingkaran kekuasaan sekaligus mengembangkan bisnis di berbagai bidang.
Jumlah entitas bisnisnya lebih dari 30. Salah
satunya RANS Nusantara Hebat, hasil kongsi dengan Kaesang Pangarep, putra
bungsu Jokowi. Pusat kuliner di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan,
Banten, itu dibuka pada Maret 2024 dan hanya beroperasi kurang dari setahun.
Dalam bisnis, seperti di televisi, promosi meriah belum tentu membuat acara
panjang umur. Baca
liputannya: Jaringan
Raffi juga bersinggungan dengan Dony Oskaria. Nama Dony dan Kaesang tercatat
sebagai pemegang saham RANS, dengan Raffi sebagai pemegang saham terbesar.
Kini Dony menjadi Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara sekaligus
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Ada pula
Sufmi Dasco Ahmad. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Ketua Harian
Partai Gerindra itu disebut Raffi sebagai mentor. Raffi bahkan pernah
menyebut dirinya “anak didik Dasco” dan “anak pungut Bang Dasco”. Keduanya
sering kali tampil di depan publik bersama. Pada Juni 2026, Raffi mengaku
berkonsultasi dengan sang mentor ketika namanya disebut dalam perkara dugaan
korupsi di lingkungan Bea dan Cukai. Rangkaian
hubungan tersebut memperlihatkan simpul yang rapat antara selebritas, bisnis,
partai politik, dan kekuasaan. Kedekatan tentu bukan kejahatan. Masalahnya
muncul bila hubungan pribadi berubah menjadi akses istimewa tanpa
transparansi. Penunjukan Raffi sebagai utusan khusus juga menyisakan
pertanyaan tentang ukuran kompetensi. Publik berhak bertanya apakah
popularitas dan kedekatan politik cukup menjadi modal mengurus generasi muda
dan pekerja seni. Sejak
dilantik pada Oktober 2024, Raffi lebih mudah ditemukan sebagai pesohor
ketimbang pejabat dengan capaian kebijakan. Touring bersama sejumlah
selebritas—yang pernah mendapat sponsor perusahaan negara, misalnya—lebih
ramai menjadi tontonan daripada laporan kerja. Dunia hiburan mengenal prime
time. Jabatan publik semestinya mengenal public time: waktu untuk bekerja dan
mempertanggungjawabkan hasilnya. Fenomena
Raffi menunjukkan wajah baru politik personalistik. Dulu pengaruh politik
bertumpu pada tokoh agama, pemuda, atau masyarakat. Kini muncul kelas baru:
pemengaruh dengan jutaan pengikut. Mereka tak perlu mendirikan partai untuk
mengumpulkan massa; cukup memiliki engagement tinggi dan kemampuan menjaga
kamera tetap menyala. Di
sinilah persoalan demokrasi berada. Bukan pada Raffi seorang, melainkan pada
sistem yang memungkinkan popularitas ditukar dengan kekuasaan tanpa ukuran
kompetensi dan akuntabilitas yang terang. Selebritas tentu berhak masuk dunia
politik. Yang berbahaya adalah anggapan bahwa terkenal berarti cakap dan
piawai membangun branding mampu mengelola negara. Raffi
boleh saja piawai mengurus rating. Namun yang perlu dijaga adalah demokrasi
agar tidak ikut dikelola dengan logika popularitas. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/raffi-ahmad-wajah-politik-indonesia-2280954 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar