|
Heartland versus Rimland Membaca Ulang Geopolitik Dunia Yuri Thamrin
: Duta Besar RI untuk Belgia,
Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020). |
REPUBLIKA, 15 Juli 2026
|
Dunia terus berubah.
Selama beberapa dekade, banyak orang percaya bahwa globalisasi dan revolusi
digital akan membuat letak geografis semakin kehilangan arti. Namun, yang
terjadi justru sebaliknya. Di tengah persaingan Amerika Serikat dan China,
perang di Ukraina, serta perebutan semikonduktor, mineral kritis, dan rantai
pasok global, geografi kembali menjadi salah satu faktor yang menentukan arah
politik dunia. Tidak mengherankan
apabila sejumlah teori geopolitik klasik yang pernah dianggap usang kini
kembali mendapat perhatian. Gagasan-gagasan yang dikemukakan lebih dari satu
abad lalu ternyata masih membantu kita memahami dinamika persaingan kekuatan
besar pada abad ke-21. Pada akhir abad ke-19,
Alfred Thayer Mahan, seorang perwira Angkatan Laut Amerika Serikat sekaligus
pemikir strategi maritim, berpendapat bahwa negara yang menguasai lautan akan
memiliki pengaruh global. Beberapa dekade kemudian, Halford Mackinder, ahli
geografi dan geopolitik asal Inggris, mengemukakan teori Heartland yang
menempatkan daratan Eurasia sebagai pusat gravitasi geopolitik dunia.
Nicholas Spykman, ilmuwan politik Amerika kelahiran Belanda dan salah satu
pelopor geopolitik modern, kemudian mengembangkan teori Rimland, yaitu
kawasan pesisir Eurasia yang menjadi titik temu kekuatan darat dan laut.
Ketiga pemikir tersebut tidak saling meniadakan, melainkan menjelaskan
bagaimana perubahan teknologi, ekonomi, dan distribusi kekuatan membentuk
geopolitik pada zamannya masing-masing. Lebih dari satu abad
kemudian, sejumlah analis kembali menggunakan kerangka tersebut untuk membaca
perubahan lanskap geopolitik dunia. Salah satunya adalah Michael Beckley dan
Hal Brands dalam Foreign Affairs (Juli 2026). Menurut mereka, dunia saat ini
memperlihatkan kemunculan kembali persaingan klasik antara kekuatan daratan
(Heartland) dan kekuatan maritim (Rimland), meskipun dalam bentuk yang sangat
berbeda dari masa lalu. Dalam pembacaan mereka,
China dan Rusia menjadi inti kekuatan Heartland yang semakin terintegrasi.
Iran dan Korea Utara dipandang sebagai bagian dari jaringan negara-negara
revisionis yang, dengan kapasitas masing-masing, memperkuat tekanan terhadap
tatanan internasional yang selama ini didominasi Barat. Berbeda dengan
kekuatan kontinental pada masa Napoleon, Kekaisaran Jerman, atau Uni Soviet,
Heartland masa kini bukanlah sebuah imperium tunggal, melainkan koalisi longgar
yang disatukan oleh kepentingan bersama untuk mengurangi dominasi Amerika
Serikat dan sekutunya. Persaingan tersebut juga
telah berubah sifat. Jika dahulu perebutan wilayah menjadi instrumen utama,
kini kompetisi semakin banyak berlangsung melalui ekonomi, teknologi,
industri, dan jaringan global. Serangan siber, disinformasi, penguasaan
semikonduktor, mineral kritis, kabel data bawah laut, hingga rantai pasok
strategis menjadi bagian dari persaingan geopolitik. Globalisasi sendiri
tidak lagi hanya menjadi pendorong kerja sama internasional, tetapi juga
dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pengaruh dan tekanan politik. Di sisi lain, Amerika
Serikat tetap menjadi jangkar utama Rimland dengan dukungan jaringan sekutu
di Eropa dan Indo-Pasifik, termasuk negara-negara NATO, Jepang, Korea
Selatan, dan Australia. Menurut Beckley dan Brands, keunggulan utama koalisi
ini bukan semata-mata terletak pada kekuatan militernya, tetapi pada
kombinasi ukuran ekonomi, kepemimpinan teknologi, kapasitas industri, serta luasnya
jaringan aliansi yang dimiliki. Namun, mereka juga
mengingatkan bahwa keunggulan tersebut tidak dapat dipertahankan tanpa
kepemimpinan Amerika Serikat yang konsisten. Di bawah pemerintahan Presiden
Donald Trump, koordinasi dan kohesi di antara negara-negara Rimland dinilai
menghadapi tantangan akibat meningkatnya kecenderungan unilateralisme dan
berkurangnya kepercayaan sebagian sekutu terhadap komitmen Washington. Karena
itu, persoalan utama Rimland bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan
bagaimana mengoordinasikan seluruh keunggulan tersebut menjadi strategi
bersama yang efektif. Di sisi lain,
negara-negara Heartland terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap
sistem ekonomi dan teknologi yang didominasi Barat. Mereka memperluas
jaringan perdagangan alternatif, memperkuat kerja sama industri,
mengembangkan teknologi domestik, serta membangun ketahanan terhadap berbagai
bentuk pembatasan ekonomi dan teknologi. Persaingan kedua kubu pun semakin
bergeser dari konfrontasi militer langsung menuju kompetisi jangka panjang
dalam bidang ekonomi, industri, teknologi, dan keamanan. Namun, salah satu bagian
paling menarik dari analisis Beckley dan Brands justru menyangkut posisi
negara-negara Global South. Mereka berpendapat bahwa Rimland tidak perlu
terobsesi memenangkan seluruh negara berkembang. Sebagaimana pada masa Perang
Dingin, banyak negara akan tetap memilih pendekatan yang pragmatis sesuai
kepentingan nasional masing-masing. Sebagian tertarik pada
investasi dan pembiayaan dari China, tetapi pada saat yang sama juga
mengkhawatirkan kelebihan kapasitas industri, praktik dumping, maupun
ketergantungan ekonomi yang berlebihan. Karena itu, dunia kemungkinan tidak
akan kembali terbagi secara kaku ke dalam dua blok yang saling berhadapan.
Yang lebih mungkin muncul adalah negara-negara yang terus menjalankan
strategi hedging, bekerja sama dengan berbagai pihak sesuai isu dan
kepentingannya. Bagi ASEAN, perkembangan
tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Kawasan ini berada di
persimpangan dua samudra dan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi
dunia. Posisi tersebut menjadikan ASEAN semakin penting, tetapi sekaligus
semakin rentan terhadap dampak rivalitas kekuatan besar. Menjaga persatuan
kawasan dan sentralitas ASEAN karena itu tetap menjadi kepentingan strategis. Bagi Indonesia, pelajaran
terpenting bukanlah menentukan apakah Heartland atau Rimland yang pada
akhirnya akan lebih unggul. Yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa
persaingan geopolitik masa kini semakin ditentukan oleh kualitas ekonomi,
teknologi, industri, dan kemampuan beradaptasi. Posisi geografis Indonesia
yang strategis, kekayaan mineral kritis, serta peran pentingnya di
Indo-Pasifik merupakan modal yang besar. Namun, modal tersebut hanya akan
menjadi sumber kekuatan apabila didukung oleh daya saing ekonomi, penguasaan
teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta kebijakan yang mampu
meningkatkan kepercayaan dan ketahanan nasional. Pada akhirnya, membaca
ulang teori Heartland dan Rimland bukan berarti menerima seluruh kerangka
tersebut tanpa kritik. Dunia abad ke-21 jauh lebih kompleks daripada
pembelahan geopolitik klasik. Namun, teori-teori tersebut tetap relevan
sebagai salah satu lensa untuk memahami bagaimana geografi, teknologi,
ekonomi, dan politik saling berinteraksi membentuk tatanan internasional. Bagi Indonesia, tantangan
sesungguhnya bukan memilih salah satu kubu, melainkan memastikan bahwa bangsa
ini memiliki daya saing dan ruang gerak strategis yang cukup untuk tetap
menjadi subjek, bukan sekadar objek, dalam perubahan geopolitik dunia. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar