Senin, 10 Agustus 2026

 

Jejak yang Tak Padam oleh Zaman

Rendra Sanjaya :  Litbang Kompas

KOMPAS, 09 Agustus 2026

 

 

                                                           

Integritas tidak dibentuk oleh gelar. Moral tidak diuji ketika hidup berjalan mudah. Justru saat seseorang memiliki kesempatan untuk menyimpang, di situlah karakter sebenarnya terlihat.

 

Di tengah dunia yang semakin mengagungkan jabatan, kekayaan, dan popularitas, integritas justru semakin menjadi sesuatu yang langka. Banyak orang ingin terlihat berhasil, tetapi tidak sedikit yang rela mengorbankan kejujuran untuk mencapainya. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa manusia yang paling lama dikenang bukanlah mereka yang berkuasa, melainkan mereka yang tetap menjaga prinsip ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang.

 

Banyak orang ingin dihormati, tetapi tidak semua bersedia membangun karakter yang membuat dirinya layak dihormati. Manusia sering terpesona oleh hal-hal yang tampak di permukaan gelar, jabatan, nama keluarga, atau pengaruh. Padahal, semua belum tentu mencerminkan kualitas seseorang.

 

Ali bin Al-Husain Zain al-Abidin memberikan pelajaran yang sangat jernih tentang hal itu. Sebagai cicit Rasulullah SAW, ia berada dalam lingkungan keluarga yang sangat dimuliakan. Namun, ia tidak pernah menjadikan nasab sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

 

Buku berjudul Belajar Hidup dan Menimba Hikmah 15 Ulama Cemerlang Pengukir Zaman (Penerbit Buku Kompas, 2026) memaparkan sikap ulama tersebut ketika seseorang memuji kemuliaan keluarganya, ia menjawab, ”Allah SWT menciptakan surga bagi siapa saja yang berbuat baik kepada-Nya... dan menciptakan neraka bagi siapa saja yang melakukan maksiat kepada-Nya.”

 

Manusia tidak bisa bersembunyi di balik nama besar keluarganya. Pada akhirnya, setiap orang dinilai dari amalnya sendiri. Kehormatan bukan sesuatu yang diwarisi begitu saja, melainkan sesuatu yang dibangun melalui pilihan hidup.

 

Kerendahan hati itu juga tampak dalam caranya mencari ilmu. Ketika ada yang heran mengapa ia belajar kepada ulama dari kalangan masyarakat biasa, ia menjawab, ”Ilmu pengetahuan harus dicari. Di mana pun adanya.” Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini. Orang yang benar-benar mencintai ilmu tidak sibuk memikirkan siapa yang menyampaikannya. Ia lebih tertarik pada kebenaran daripada gengsi.

 

Integritas juga terlihat dari cara seseorang menghadapi penghinaan. Suatu ketika Ali bin Al-Husain dicaci di depan banyak orang. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Setelah orang itu pergi, ia justru mendatanginya dan berkata, ”Bila apa yang engkau katakan tentang diri saya itu benar, kiranya Allah SWT mengampuni saya. Sedangkan bila hal itu tidak benar, kiranya Allah SWT mengampunimu.”

 

Saat kekuasaan menguji moral

 

Karakter yang dibangun sejak awal kehidupan akan menemukan ujian ketika seseorang mulai memiliki pengaruh. Selama tidak ada kepentingan besar, menjaga prinsip mungkin terasa mudah. Namun, ketika jabatan dan kekuasaan datang, banyak orang mulai mencari alasan untuk berkompromi.

 

Publikasi ini memaparkan Ja’far al-Shadiq hidup pada masa pergolakan politik antara Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Banyak tokoh terseret dalam perebutan pengaruh, tetapi ia memilih jalan yang berbeda. Ia tidak membangun pengaruh melalui politik, melainkan melalui pendidikan. Baginya, perubahan yang paling bertahan bukan lahir dari pergantian penguasa, melainkan dari lahirnya manusia-manusia yang memiliki ilmu dan akhlak.

 

Dari majelis ilmunya lahir tokoh-tokoh besar, seperti Abu Hanifah, Malik bin Anas, dan Jabir bin Hayyan. Abu Hanifah bahkan pernah berkata, ”Andaikan saya tidak pernah menimba ilmu selama dua tahun kepada Imam Ja’far al-Shadiq, tentu saya akan mengembara. Entah ke mana.”

 

Warisan Ja’far al-Shadiq bukan hanya pengetahuan, melainkan juga cara hidup. Malik bin Anas mengenangnya sebagai pribadi yang sangat menjaga adab terhadap ilmu, tidak membicarakan hadis tanpa bersuci, dan menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat.

 

Keteguhan moralnya tampak ketika memberi nasihat kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Ia mengingatkan agar seorang pemimpin tidak mudah mempercayai setiap berita, melainkan memeriksanya terlebih dahulu. Nasihat ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang, ketika informasi menyebar begitu cepat dan fitnah sering mendahului fakta.

 

Ia juga berkata kepada sang khalifah, ”Kendalikanlah diri Anda manakala Anda sedang memegang kendali kekuasaan.” Kalimat singkat itu mengandung inti kepemimpinan bahwa jabatan bukan kesempatan untuk menguasai orang lain, melainkan latihan untuk mengendalikan diri sendiri.

 

Pelajaran serupa tampak dalam kehidupan Abu Hanifah. Ketika ditawari jabatan hakim agung, ia memilih menolak karena khawatir tidak lagi bebas menegakkan keadilan. Penolakan itu membuatnya menghadapi tekanan dan pemenjaraan. Namun, baginya kehilangan jabatan lebih ringan daripada kehilangan kebebasan hati untuk mengatakan yang benar.

 

Warisan bernama keteladanan

 

Para ulama tidak hanya meninggalkan ilmu, tetapi juga teladan. Mereka menunjukkan bahwa integritas bukan teori yang indah untuk dibicarakan, melainkan sesuatu yang harus dijalani.

 

Ja’far al-Shadiq pernah berpesan, ”Sampaikanlah kebenaran meski pahit rasanya.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sering sangat berat. Mengatakan yang benar tidak selalu membuat seseorang disukai. Kadang justru menghadirkan risiko, membuat orang kehilangan kenyamanan, kesempatan, bahkan dukungan.

 

Ia juga mengingatkan, ”Barang siapa suka membuka aib dan keburukan orang lain, niscaya keburukan dirinya akan terungkap.” Di zaman media sosial, ketika orang begitu mudah menghakimi, nasihat ini terasa semakin penting. Banyak orang sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.

 

Jika seluruh kisah para ulama itu dirangkai menjadi satu, tampak benang merah yang tidak pernah putus. Mereka hidup pada masa yang berbeda dan menghadapi persoalan yang tidak sama, tetapi semuanya menunjukkan hal yang serupa, yakni ilmu hanya akan melahirkan kemaslahatan apabila dijaga oleh akhlak. Integritas membuat ilmu tetap berada di jalur yang benar, sementara moral memastikan bahwa ilmu digunakan untuk melayani manusia, bukan untuk menguasainya.

 

Barangkali itulah sebabnya nama-nama mereka tetap hidup hingga sekarang. Dinasti yang pernah berkuasa telah lama menjadi bagian dari sejarah, tetapi keteladanan tidak ikut hilang bersama waktu. Ia tetap menemukan relevansinya setiap kali manusia dihadapkan pada pilihan antara kepentingan dan prinsip, antara kenyamanan dan kejujuran.

 

Integritas bukanlah sesuatu yang membuat seseorang tampak lebih hebat daripada orang lain. Integritas justru membuat seseorang tetap menjadi dirinya sendiri, apa pun keadaan yang sedang dihadapinya. Dan mungkin, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, itulah warisan paling berharga yang ditinggalkan para ulama: mengajarkan bahwa ilmu yang paling tinggi bukan sekadar membuat manusia menjadi cerdas, melainkan menjadikannya tetap jujur, adil, rendah hati, dan berani mempertahankan kebenaran. ●

 

Data Buku

 

Judul: Belajar Hidup dan Menimba Hikmah 15 Ulama Cemerlang Pengukir Zaman

 

Penulis: Ahmad Rofi' Usmani

 

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

 

Tahun Terbit: 2026

 

Jumlah Halaman: xiv + 234 (248 halaman)

 

ISBN: 978-623-523-865-4

 

978-623-523-866-1 (PDF)

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/jejak-yang-tak-padam-oleh-zaman?open_from=Sastra_Page

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar