|
Jejak yang Tak Padam oleh Zaman Rendra
Sanjaya : Litbang Kompas |
KOMPAS, 09 Agustus 2026
|
Integritas tidak dibentuk oleh gelar. Moral tidak diuji ketika
hidup berjalan mudah. Justru saat seseorang memiliki kesempatan untuk
menyimpang, di situlah karakter sebenarnya terlihat. Di tengah dunia yang semakin mengagungkan jabatan, kekayaan, dan
popularitas, integritas justru semakin menjadi sesuatu yang langka. Banyak
orang ingin terlihat berhasil, tetapi tidak sedikit yang rela mengorbankan
kejujuran untuk mencapainya. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa manusia yang
paling lama dikenang bukanlah mereka yang berkuasa, melainkan mereka yang
tetap menjaga prinsip ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang. Banyak orang ingin dihormati, tetapi tidak semua bersedia
membangun karakter yang membuat dirinya layak dihormati. Manusia sering
terpesona oleh hal-hal yang tampak di permukaan gelar, jabatan, nama
keluarga, atau pengaruh. Padahal, semua belum tentu mencerminkan kualitas
seseorang. Ali bin Al-Husain Zain al-Abidin memberikan pelajaran yang sangat
jernih tentang hal itu. Sebagai cicit Rasulullah SAW, ia berada dalam
lingkungan keluarga yang sangat dimuliakan. Namun, ia tidak pernah menjadikan
nasab sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Buku berjudul Belajar Hidup dan Menimba Hikmah 15 Ulama Cemerlang
Pengukir Zaman (Penerbit Buku Kompas, 2026) memaparkan sikap ulama tersebut
ketika seseorang memuji kemuliaan keluarganya, ia menjawab, ”Allah SWT
menciptakan surga bagi siapa saja yang berbuat baik kepada-Nya... dan
menciptakan neraka bagi siapa saja yang melakukan maksiat kepada-Nya.” Manusia tidak bisa bersembunyi di balik nama besar keluarganya.
Pada akhirnya, setiap orang dinilai dari amalnya sendiri. Kehormatan bukan
sesuatu yang diwarisi begitu saja, melainkan sesuatu yang dibangun melalui
pilihan hidup. Kerendahan hati itu juga tampak dalam caranya mencari ilmu.
Ketika ada yang heran mengapa ia belajar kepada ulama dari kalangan
masyarakat biasa, ia menjawab, ”Ilmu pengetahuan harus dicari. Di mana pun
adanya.” Kalimat ini terasa sangat relevan hari ini. Orang yang benar-benar
mencintai ilmu tidak sibuk memikirkan siapa yang menyampaikannya. Ia lebih
tertarik pada kebenaran daripada gengsi. Integritas juga terlihat dari cara seseorang menghadapi
penghinaan. Suatu ketika Ali bin Al-Husain dicaci di depan banyak orang. Ia
tidak membalas dengan kemarahan. Setelah orang itu pergi, ia justru
mendatanginya dan berkata, ”Bila apa yang engkau katakan tentang diri saya
itu benar, kiranya Allah SWT mengampuni saya. Sedangkan bila hal itu tidak
benar, kiranya Allah SWT mengampunimu.” Saat kekuasaan menguji moral Karakter yang dibangun sejak awal kehidupan akan menemukan ujian
ketika seseorang mulai memiliki pengaruh. Selama tidak ada kepentingan besar,
menjaga prinsip mungkin terasa mudah. Namun, ketika jabatan dan kekuasaan
datang, banyak orang mulai mencari alasan untuk berkompromi. Publikasi ini memaparkan Ja’far al-Shadiq hidup pada masa
pergolakan politik antara Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Banyak tokoh
terseret dalam perebutan pengaruh, tetapi ia memilih jalan yang berbeda. Ia
tidak membangun pengaruh melalui politik, melainkan melalui pendidikan.
Baginya, perubahan yang paling bertahan bukan lahir dari pergantian penguasa,
melainkan dari lahirnya manusia-manusia yang memiliki ilmu dan akhlak. Dari majelis ilmunya lahir tokoh-tokoh besar, seperti Abu
Hanifah, Malik bin Anas, dan Jabir bin Hayyan. Abu Hanifah bahkan pernah
berkata, ”Andaikan saya tidak pernah menimba ilmu selama dua tahun kepada
Imam Ja’far al-Shadiq, tentu saya akan mengembara. Entah ke mana.” Warisan Ja’far al-Shadiq bukan hanya pengetahuan, melainkan juga
cara hidup. Malik bin Anas mengenangnya sebagai pribadi yang sangat menjaga
adab terhadap ilmu, tidak membicarakan hadis tanpa bersuci, dan menghindari
pembicaraan yang tidak bermanfaat. Keteguhan moralnya tampak ketika memberi nasihat kepada Khalifah
Abu Ja’far al-Manshur. Ia mengingatkan agar seorang pemimpin tidak mudah mempercayai
setiap berita, melainkan memeriksanya terlebih dahulu. Nasihat ini terasa
sangat dekat dengan kehidupan sekarang, ketika informasi menyebar begitu
cepat dan fitnah sering mendahului fakta. Ia juga berkata kepada sang khalifah, ”Kendalikanlah diri Anda
manakala Anda sedang memegang kendali kekuasaan.” Kalimat singkat itu
mengandung inti kepemimpinan bahwa jabatan bukan kesempatan untuk menguasai
orang lain, melainkan latihan untuk mengendalikan diri sendiri. Pelajaran serupa tampak dalam kehidupan Abu Hanifah. Ketika
ditawari jabatan hakim agung, ia memilih menolak karena khawatir tidak lagi
bebas menegakkan keadilan. Penolakan itu membuatnya menghadapi tekanan dan
pemenjaraan. Namun, baginya kehilangan jabatan lebih ringan daripada kehilangan
kebebasan hati untuk mengatakan yang benar. Warisan bernama keteladanan Para ulama tidak hanya meninggalkan ilmu, tetapi juga teladan.
Mereka menunjukkan bahwa integritas bukan teori yang indah untuk dibicarakan,
melainkan sesuatu yang harus dijalani. Ja’far al-Shadiq pernah berpesan, ”Sampaikanlah kebenaran meski
pahit rasanya.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya
sering sangat berat. Mengatakan yang benar tidak selalu membuat seseorang
disukai. Kadang justru menghadirkan risiko, membuat orang kehilangan
kenyamanan, kesempatan, bahkan dukungan. Ia juga mengingatkan, ”Barang siapa suka membuka aib dan
keburukan orang lain, niscaya keburukan dirinya akan terungkap.” Di zaman
media sosial, ketika orang begitu mudah menghakimi, nasihat ini terasa
semakin penting. Banyak orang sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lupa
memperbaiki dirinya sendiri. Jika seluruh kisah para ulama itu dirangkai menjadi satu, tampak
benang merah yang tidak pernah putus. Mereka hidup pada masa yang berbeda dan
menghadapi persoalan yang tidak sama, tetapi semuanya menunjukkan hal yang
serupa, yakni ilmu hanya akan melahirkan kemaslahatan apabila dijaga oleh
akhlak. Integritas membuat ilmu tetap berada di jalur yang benar, sementara
moral memastikan bahwa ilmu digunakan untuk melayani manusia, bukan untuk
menguasainya. Barangkali itulah sebabnya nama-nama mereka tetap hidup hingga
sekarang. Dinasti yang pernah berkuasa telah lama menjadi bagian dari
sejarah, tetapi keteladanan tidak ikut hilang bersama waktu. Ia tetap
menemukan relevansinya setiap kali manusia dihadapkan pada pilihan antara
kepentingan dan prinsip, antara kenyamanan dan kejujuran. Integritas bukanlah sesuatu yang membuat seseorang tampak lebih
hebat daripada orang lain. Integritas justru membuat seseorang tetap menjadi
dirinya sendiri, apa pun keadaan yang sedang dihadapinya. Dan mungkin, di
tengah dunia yang berubah begitu cepat, itulah warisan paling berharga yang
ditinggalkan para ulama: mengajarkan bahwa ilmu yang paling tinggi bukan
sekadar membuat manusia menjadi cerdas, melainkan menjadikannya tetap jujur,
adil, rendah hati, dan berani mempertahankan kebenaran. ● Data Buku Judul:
Belajar Hidup dan Menimba Hikmah 15 Ulama Cemerlang Pengukir Zaman Penulis:
Ahmad Rofi' Usmani Penerbit:
Penerbit Buku Kompas Tahun Terbit:
2026 Jumlah Halaman:
xiv + 234 (248 halaman) ISBN:
978-623-523-865-4 978-623-523-866-1
(PDF) |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/jejak-yang-tak-padam-oleh-zaman?open_from=Sastra_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar