|
Kabar Kabur Suntik Mati PLTU Fajar Yusuf Rasdianto : Jurnalis Detik.com |
DETIK-X, 11 Agustus 2026
|
Setelah perang Iran-AS pecah, sejumlah negara kembali mendorong
penggunaan energi fosil. Pemerintah Indonesia juga kini mulai mengevaluasi
rencana pensiun dini PLTU. Lebih dari 34 tahun Linda
dan keluarganya hidup dalam kepungan asap yang diduga berasal dari uap
pembakaran batu bara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya. Jarak
rumahnya di Jelawe, Suralaya, Banten, tidak lebih 1 kilometer dari PLTU.
Hampir setiap musim panas, debu-debu batu bara memenuhi pekarangan rumahnya. “Di (dalam) rumah juga
debunya sudah tidak terkondisikan (sampai) menempel di perabotan,” kata
Linda, 39 tahun, kepada detikX. Tidak sedikit warga yang
menderita penyakit kulit, pernapasan, hingga penyakit kronis, seperti kanker,
lantaran debu dan asap yang menyelimuti lingkungan mereka. Setiap pekan ada
saja orang yang mengeluhkan sesak dada dan gatal-gatal. Angkanya, menurut Linda,
terus bertambah setiap tahun. “Tahun ini aja yang
meninggal karena kanker itu ada tiga orang,” kata Linda. Musim panas tahun ini
terasa jauh lebih berat. Warga Jelawe kini juga dihantui kekeringan parah.
Sebagian besar warga harus berbagi air dari sumur hasil galian air tanah yang
jumlahnya tidak seberapa. Linda menduga kekeringan ini disebabkan oleh
penyedotan air besar-besaran oleh unit baru PLTU Suralaya, yang baru saja
beroperasi dua tahun lalu. Pada pertengahan 2020, PLTU Suralaya membangun dua
unit tambahan dengan kapasitas 2.000 megawatt untuk kebutuhan pemenuhan
energi listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Terpaksa, warga
memanfaatkan aliran sungai yang sudah tercemar untuk mandi dan mencuci
pakaian. “Nggak kotor sih, cuma maksudnya gimana ya, bening tapi bau gitu
tuh. Namanya juga tercemar gitu, banyak sampahnya,” ungkap Linda. Entah sampai kapan derita
itu akan terus-menerus dirasakan Linda dan warga Jelawe lainnya. Sebab,
belakangan, rencana pemerintah memensiunkan dini PLTU batu bara berada di
ambang kegagalan setelah perang Amerika Serikat dengan Iran pecah di Timur
Tengah. Perang itu membuat banyak
negara di Eropa dan Asia mulai memikirkan kembali penggunaan sumber energi
alternatif lantaran kendala pasokan. Penutupan Selat Hormuz membuat pasokan
energi, khususnya LNG, ke beberapa negara tersendat. Hasilnya, banyak negara,
termasuk Jerman, Bangladesh, dan Korea Selatan, kembali meningkatkan
penggunaan energi fosil untuk kebutuhan energi di negara mereka. Pemerintah Indonesia juga
kini tengah mengevaluasi rencana pensiun dini PLTU batu bara yang sudah
tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022. Dalam salah satu
beleidnya, pemerintah berencana memensiunkan semua PLTU selambat-lambatnya
pada 2040. Namun Wakil Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan rencana
pensiun dini PLTU hanya bisa diimplementasikan jika ada pendanaan. Sebab,
suntik mati PLTU membutuhkan biaya besar. Indonesia sempat
mendapatkan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB) untuk memensiunkan
PLTU Cirebon-1. Nilainya sekitar USD 4,2 miliar. Namun, kata Yuliot, rencana
itu dibatalkan lantaran teknologi yang dimiliki Cirebon-1 masih terbilang
cukup baru dan pendanaan yang diberikan justru menjadi beban utang negara. “Makanya kita juga minta
di Kementerian ESDM kita lakukan pengkajian bersama-sama dari aspek finansial
bagaimana, dari sisi aspek teknisnya bagaimana,” ungkap Yuliot kepada detikX. Presiden Prabowo Subianto
sempat mencanangkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan
kapasitas 100 gigawatt. Rencana tersebut ditargetkan bakal terealisasi pada
2029. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 1.811 triliun. Namun rencana itu
belakangan juga tampak jalan di tempat. Yuliot mengatakan pemerintah tengah
mengevaluasi harga dan keandalan PLTS untuk memenuhi kebutuhan listrik
nasional. “Ya, ternyata kemarin itu
kan tawarannya jadi kurang sekitar USD 20 sen (per kWh). Kalau USD 20 sen ini
kan juga ini dibandingkan dengan USD 4,5 sen (per kWh listrik dari batu bara)
itu dengan 20 kan ini juga ini jadi beban,” kata Yuliot. Sebaliknya, alih-alih
mengembangkan sumber energi alternatif pengganti batu bara yang merusak,
pemerintah justru berencana menambah pembangunan PLTU batu bara. Rencana
tersebut tertuang dalam Rencana Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Dalam rancangan tersebut, pemerintah membuka ruang pembangunan sumber energi
fosil dengan kapasitas 6,3 gigawatt. Juru Kampanye Anti
Tambang dan Energi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Faisal Ratuela mengatakan
rencana pengembangan PLTU batu bara dalam RUPTL ini bertentangan dengan
komitmen pemerintah untuk mendorong penggunaan energi bersih. Hal tersebut,
pada akhirnya, akan berdampak semakin parah pada kesehatan maupun ekonomi
masyarakat yang berada di sekitar PLTU. “Kalau proses (pensiun
dini PLTU) ini semakin tidak pasti, wargalah yang akan paling lagi-lagi
terdampak, Teman-teman,” kata Faisal. Kajian yang dirilis
Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Centre for Research on Energy
and Clean Air (CREA) pada November 2025 menunjukkan pengoperasian 20 PLTU
telah menyebabkan kematian sekitar 89 ribu orang pada 2020-2025. Jika
kegiatan operasional 20 PLTU tersebut diteruskan, diproyeksikan berpotensi
menyebabkan kematian sekitar 97-245 ribu orang dalam rentang waktu 2026-2050. Data historis yang sama
menunjukkan dampak kesehatan yang disebabkan PLTU batu bara ini juga telah
menyebabkan kerugian ekonomi sekitar Rp 650-1.630 triliun pada 2020-2025.
Angkanya bakal meningkat pada 2026-2025 menjadi sekitar Rp 1.115-2.830
triliun. “Keberadaan PLTU tersebut
menyebabkan berkurangnya pendapatan masyarakat secara agregat hingga Rp 48,4
triliun per tahun dan 1,45 juta tenaga kerja terdampak negatif akibat
menurunnya produktivitas, meningkatnya angka sakit, dan hilangnya kesempatan
kerja,” tulis kajian tersebut. ● Sumber : https://news.detik.com/x/detail/spotlight/20260811/Kabar-Kabur-Suntik-Mati-PLTU/ |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar