Kamis, 06 Agustus 2026

 

20 Tahun

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 06 Agustus 2026

 

 

 

Hari ini –tepat 20 tahun yang lalu– saya di antara hidup dan mati. Di bagian lain di bawah tulisan ini ada tulisan Robert Lai untuk mengenang apa yang terjadi hari ini 20 tahun lalu itu.

 

Robert adalah sahabat yang menemani saya berobat di Singapura, di Yantai, di Beijing, dan di Tianjin. Robert, warga Singapura kelahiran Hong Kong, lebih tahu apa yang terjadi hari ini 20 tahun lalu: ia yang menyaksikan. Sedang saya tidak ingat apa-apa setelah dibius total.

 

Robert-lah yang ke Tianjin lebih dulu: untuk melihat apakah RS yang dicalonkan akan mengoperasi saya itu ''layak''.

 

Di zaman itu Tiongkok belum semodern sekarang. Banyak fasilitas umum yang masih kotor, kumuh, dan berbau WC. Apalagi kota Tianjin termasuk yang lebih belakangan dibenahi.

 

Robert jugalah yang harus memastikan apakah RS itu punya kemampuan melakukan transplantasi hati –yang masih jarang terdengar kala itu. Kalau pun ada berita tentang transplantasi hati yang terbaca adalah kisah kegagalan: meninggal setelah transplant.

 

Tulisan asli Robert dalam bahasa Inggris. Saya memasukkannya ke penerjemahan Google. Hasil terjemahannya sudah sangat bagus meski tetap harus saya perbaiki sedikit-sedikit.

 

Harus: saya undang Robert untuk ke Surabaya hari ini. Bisa makan bersama dengan Melinda dan Alex Tedja. Juga dengan Galuh Banjar, anak-anak, menantu, dan cucu saya. Anggap saja itu reuni peristiwa 20 tahun lalu.

 

Robert, seorang corporate lawyer, nyaris dua tahun penuh menemani saya. Ups...bukan hanya menemani. Juga menjaga. Merawat. Me-manage organisasi kecil penyelamatan nyawa saya. Mengatur dokter, perawat, obat, istri, anak, menantu, dan cucu tunggal saya kala itu.

 

Robert juga mengontrol apakah petugas kebersihan rumah sakit itu cukup baik dalam menjaga kebersihan dan kesehatan ruangan saya –termasuk toilet dan kamar mandinya.

 

Ia yang belanja handuk, sikat gigi, dan beli buah-buahan. Ia yang atur saya dan keluarga ke restoran mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Ia ikut tidak pernah makan babi selama bersama saya.

 

Kadang ia juga yang mendorong kursi roda.

 

Semua itu ia kerjakan dengan sepenuh hati. Secara probono. Ia tidak perlu dapat apa-apa dari saya. Rasanya tabungan uang Robert lebih banyak dari tabungan saya. Persahabatan kami sangat murni. Saya sering minta maaf ke Dorothi, istrinya, yang begitu lama ditinggalkannya untuk saya.

 

"Ia sudah biasa lama meninggalkan saya," ujar Dorothi lantas tertawa kecil seperti kebiasaannya.

 

Robert memang menjadi komisaris di beberapa perusahaan Hong Kong. Harus sering ke Hong Kong. Juga ke negara-negara di mana perusahaan itu punya wilayah operasi. Juga untuk main golf.

 

"Sudah main golf di negara mana saja?" tanya saya suatu saat.

 

"Sebut saja negaranya. Lalu saya jawab sudah atau belum," jawabnya.

 

Bahkan Robert pernah ''sekolah'' manajemen lapangan golf dengan cara magang di lapangan golf terbaik di dunia: St Andrews, Skotlandia. Yakni saat Robert mendapat tugas dari perdana menteri (waktu itu) Lee Kuan Yew untuk mengelola lapangan golf di Singapura.

 

Sejak pandemi Covid-19 hubungan saya dan Robert renggang. Ia tidak mau lagi ke Surabaya. Ke Jakarta. Ke Beijing. Ke Tianjin. Amerika. Tidak mau diajak ke mana saja. Padahal, sejak 30 tahun lalu, ke mana pun saya pergi ada Robert di sebelah saya.

 

"Saya harus menjaga istri," ujar Robert. "Saya tidak mau lagi meninggalkan Dorothi sendirian," tambahnya.

 

Dorothi memang kurang sehat. Tiga anak mereka sudah mandiri --satu di Kuala Lumpur satunya lagi di California. Yang di Amerika itu, Michelle, beberapa kali tampil di podcast diwawancara soal bitcoin dan artificial intelligence.

 

Sesekali saya-lah yang menengoknya di Singapura. Saya berhutang nyawa kepadanya. Saya juga sering melankolis kalau ke luar negeri sendirian. Tidak ada lagi Robert bersama saya. Pengetahuan Robert sangat dalam. Kami sering bicara filsafat bersamanya. Filsafat hidup. Juga filsafat bisnis.

 

Dari Robert saya tahu perbedaan antara bisnis bersama orang Hong Kong dan orang Singapura. Di Hong Kong, bos bertemu bos untuk menyepakati bisnis baru. Anak buah mencarikan jalan agar kesepakatan itu bisa terwujud. Kalau ada aturan yang menghalanginya tugas anak buah untuk mencarikan jalan keluar. Termasuk mencari terobosan.

 

Di Singapura, anak buah masing-masing bos yang bicara lebih dulu. Detail. Semua hambatan dibicarakan. Setelah semua clear barulah bos bertemu bos.

 

Sepanjang perjalanan di luar negeri pembicaraan kami selalu berisi. Semua hal, semua topik kami bisa membicarakannya dengan asyik. Hanya satu yang tidak bisa nyambung: kalau ia mengajak bicara soal golf. Saya gagal memahami golf. Ia juga gagal mendakwahi saya soal golf. Saya tidak pernah bisa jadi mualaf golf.

 

Ke mana-mana ia membawa majalah golf terbaru. Atau membawa buku. Saya sering pinjam bukunya tapi tidak pernah mencoba melihat majalah golfnya.

 

Suatu malam saya masuk kamarnya: pinjam majalah golf. Robert tampak senang melihat saya mulai ingin tahu soal golf. "Alhamdulillah," ujar Robert yang bisa mengucapkan beberapa istilah dalam Islam.

 

"Bukan. Saya bukan mulai tertarik golf. Saya lagi sulit tidur. Saya harus cari bacaan yang membuat saya cepat tidur," jawab saya.

 

Beberapa tahun lalu, ketika saya ke Edinburgh sendirian, saya perlukan naik mobil dua jam ke luar kota. Saya sengaja tidak kabari Robert. Saya ke sana hanya ingin tahu lapangan golf tempat Robert pernah sekolah manajemen di dalamnya. Tiba di sana saya berfoto. Di lapangannya. Di museumnya. Di restorannya. Lalu foto-foto itu saya kirim kepadanya.

 

"Hahaha...St Andrews!!!" komentarnya.

 

Lima hari lalu saya minta dengan sangat agar Robert ke Surabaya. Bersama Dorothi. Saya belum berani menghubungi Melinda dan Alexander Tedja sebelum ada kepastian Robert bisa datang.

 

Melinda dan Alex, pemilik Pakuwon Group itu, lebih dua minggu meninggalkan bisnis mal-nya untuk tinggal di Tianjin menemani saya. Termasuk menjadi ''tuan rumah'' ketika lebih 50 pengusaha besar Surabaya ke Tianjin menengok saya. Dari Jakarta, Jenderal Hendropriyono juga datang. Presiden SBY menengok lewat zoom.

 

Kemarin –dua puluh tahun yang lalu– di H -1 Melinda dan Alex ikut tidak tidur. Mereka menunggu kepastian datangnya hati milik anak muda yang meninggal dunia yang akan dipasangkan di tubuh saya. Itulah hati yang akan menggantikan hati saya yang sudah hitam terkena kanker dan sirosis.

 

Maka saya ingin untuk bisa bereuni di tahun ke 20 peristiwa itu.

 

Robert tetap tidak bisa datang. Ia tidak mau meninggalkan istrinya sendirian. 

 

==========

 

Hari H, 6 Agustus 2007

 

Bagaimana saya bisa melupakan hari ini, khususnya apa yang saya alami di Tianjin, Tiongkok? Pada hari inilah sahabat saya, Dahlan Iskan, mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup dengan menjalani transplantasi hati –untuk menggantikan hatinya yang terkena kanker dan sirosis parah.

 

Tanpa transplantasi, ia hanya akan memiliki waktu hidup paling lama 6 hingga 12 bulan. Sudah beberapa bulan pula sudah sangat menderita: ia habiskan hidupnya untuk keluar masuk rumah sakit. Ia harus menjalani perawatan agar kondisi badannya tidak lebih parah dalam kesakitan dan penderitaan.

 

Bagaimana Anda, sahabatku, bisa sampai pada hari yang menentukan ini, 6 Agustus 2007?

 

Saya tahu itu adalah perjalanan panjang penuh perjuangan. Dahlan didiagnosis menderita sirosis dan kanker hati pada pertengahan tahun 2006. Saya selalu bersamanya sejak saat itu, sering pergi-pulang ke Singapura dan Tiongkok untuk perawatan dan mencari pengobatan.

 

Kami menghabiskan beberapa bulan di tahun 2006 itu di sebuah rumah sakit pengobatan tradisional Tiongkok di Tianjin untuk membantu menunda pecah limpa-nya yang kian membesar, membengkak, (sudah sekitar 3 kali ukuran normal).

 

Pembesaran limpa itu akibat tekanan balik darah dari hatinya yang menderita sirosis parah. Di rumah sakit pengobatan tradisional itulah limpanya dipotong sepertiga: sebuah operasi yang sangat riskan tapi harus dilakukan.

 

Kemudian pada Februari 2007 ditemukan benjolan baru di hatinya. Dari semula satu benjolan kanker muncul 2 benjolan lagi yang lebih besar. Ini merupakan perkembangan kritis untuk kanker hatinya. Kami kemudian pergi ke kota Yantai, Tiongkok, untuk menemui dokter pengobatan tradisional Tiongkok khusus untuk penyembuhan kanker. Saat itu adalah masa-masa yang sangat sulit.

 

Pengobatan di Yantai berlangsung lebih dari satu bulan, Maret 2007. Setelah menjalaninya selama bulan itu, kami menemukan bahwa pengobatan tersebut gagal. Hasil MRI menunjukkan bahwa 3 benjolan kanker tersebut tidak mengecil, apalagi hilang. Bahkan ukurannya telah lebih membesar lagi, dua kali lipat.

 

Saat berada di Yantai itulah kami diberi tahu oleh seorang teman di Tianjin bahwa ada sebuah rumah sakit di sana yang telah sukses melakukan banyak transplantasi hati.

 

Saya lebih dulu ke Tianjin, melalukan pengecekan ke rumah sakit itu. Saya temui profesor yang memimpin rumah sakit itu. Saya diskusikan banyak hal. Termasuk sudah seberapa banyak pengalamannya di bidang transplantasi dan kemungkinan berhasilnya.

 

Saya pun merasa mantap. Saya segera balik ke Yantai. Kami segera meninggalkan Yantai menuju Tianjin. Melalui perkenalan dari seorang teman, kami berhasil diterima untuk dimasukkan ke dalam daftar tunggu transplantasi hati.

 

Penantian itu berlangsung sekitar 6 bulan. Pada tanggal 5 Agustus 2007 kami diberi tahu oleh rumah sakit bahwa transplantasi akan dilakukan keesokan harinya, Senin, 6 Agustus.

 

Setelah menunggu dengan sabar dan susah payah selama 6 bulan untuk mendapatkan organ yang cocok, saya tidak dapat membayangkan emosi yang dialami Ibu Dahlan dan putranya, Azrul, serta putrinya, Isna. Baik Azrul maupun Isna telah mengambil cuti dari pekerjaan mereka dan bersama keluarga mereka tinggal di Tianjin selama 6 bulan penuh sambil menunggu organ donor untuk ayah mereka.

 

Ketika Minggu 5 Agustus diberi tahu tentang adanya organ dan karena itu operasi akan dilakukan keesokan harinya, 6 Agustus, saya rasa kami semua menjadi gila dengan berbagai macam emosi.

 

Penantian telah berakhir, tetapi tahap selanjutnya sangat berbahaya dan kritis. Akankah operasi berhasil? Apa yang terjadi jika gagal? Dan semua pertanyaan dan kekhawatiran lainnya.

 

Bagaimana kami semua di Tianjin menghabiskan waktu penantian 24 jam berikutnya?

 

Setelah hampir 20 tahun berlalu, kenangan 24 jam itu masih segar dalam ingatan saya!

 

Momentum puncak terkait transplantasi hati yang menyelamatkan nyawa Pak Dahlan terjadi saat saya makan siang bersama Melinda dan Alex Tedja, pemilik Pakuwon Group dari Surabaya. Itu hari Minggu. Di sebuah restoran di atas toko serbaada Isetan di Tianjin.

 

Melinda dan Alex sudah berada di Tianjin selama beberapa minggu untuk membantu merawat Pak Dahlan di saat krisisnya. Saat makan siang itu, saya menerima telepon penting dari direktur rumah sakit: mereka akan mengoperasi Pak Dahlan besok, 6 Agustus.

 

Kami semua segera menghentikan makan siang dan bergegas kembali ke rumah sakit untuk memberi tahu Pak Dahlan dan keluarganya. Semua orang berkumpul di kamar Dahlan dalam waktu 30 menit. Kami membahas panjang lebar semua persiapan yang perlu dilakukan untuk mendukung para dokter dan perawat yang menangani kasus ini.

 

Semua staf di rumah sakit ini sangat kompeten dalam tugas profesional mereka dan kami telah menjalin ikatan yang sangat dekat dengan mereka. Mereka tampak lebih sigap dalam mempersiapkan transplantasi Dahlan. Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan profesionalisme mereka.

 

Tentu saja Ibu Dahlan menangis sejak pengumuman itu. Apakah itu air mata kegembiraan atau ketakutan? Sebenarnya itu tidak terlalu penting. Azrul dan Isna diam dan khawatir karena tidak ada yang namanya keberhasilan 100 persen dalam operasi apa pun, sekecil apa pun. Ini adalah operasi yang sangat berbahaya dan apa pun bisa salah.

 

Setelah menerima pengarahan dari perawat dan dokter tentang operasi besok, kami memutuskan untuk membiarkan Dahlan beristirahat sendiri untuk hari itu. Keluarga Dahlan berkumpul untuk makan malam sederhana berupa steamboat (seperti biasa disiapkan oleh asisten lokal kami, Yang Sifu) di kamarnya di rumah sakit.

 

Melinda, Alex, dan saya kemudian meninggalkan keluarga sendirian untuk malam penting mereka bersama sebagai keluarga; Ibu Dahlan, Azrul dan istrinya Ivo, Isna dan Tatang, serta putri mereka yang cerdas berusia satu tahun, Icha, cucu pertama Dahlan. Melinda, Alex, dan saya pergi makan malam di luar rumah sakit.

 

Sekitar pukul 9 malam, kepala perawat menyuruh semua orang untuk kembali beristirahat karena besok akan menjadi hari yang sangat panjang dan melelahkan. Tentu saja Ibu Dahlan tetap tinggal di rumah sakit untuk merawat Dahlan, seperti yang telah dilakukannya sejak Dahlan dirawat di rumah sakit ini pada awal April.

 

Kurasa tidak ada yang tidur nyenyak malam itu.

 

Pukul 8 pagi, tanggal 6 Agustus, semua orang berada di rumah sakit untuk hadir dan membantu menjaga semangat dan kepercayaan diri Dahlan. Kami semua mengobrol ringan untuk menyembunyikan kekhawatiran dan ketakutan kami. Tapi Anda bisa melihat ketegangan yang tinggi di sekitar kami. Kami semua tahu bahwa transplantasi akan memakan waktu sekitar 10 jam. Dokter akan mengiris sekitar 36 cm di perut Dahlan membentuk bekas luka yang terlihat seperti tanda segitiga Mercedes. Dengan sayatan ini mereka akan membuka perut selama 10 jam berikutnya, pertama untuk mengangkat hati yang terkena kanker, kemudian mentransplantasikan hati donor untuk menggantikan hati yang sakit dan dibuang. Ini adalah proses yang sangat rumit. Pada saat itu di tahun 2007, kurasa operasi seperti itu tidak bisa dilakukan di Indonesia.

 

Kemudian kami menunggu kabar kedatangan organ hati donor. Menunggu dengan cemas. Sekitar pukul 2 siang kami diberi tahu bahwa organ sedang dalam perjalanan. Dari mana dan dari donor mana, kami tidak akan pernah tahu. Itulah aturannya saat itu di Tiongkok. Dan penantian terus berlanjut…. Sementara itu, tepat setelah pukul 2 siang, ketika operasi dipersiapkan, Ibu Dahlan, anak-anak, dan pasangan mereka, serta saya, berjalan di sebelah kereta yang membawa Dahlan ke ruang operasi. Kami dibawa menyusuri koridor rumah sakit. Sampailah kami ke pintu masuk ruang operasi di lantai 13.

 

Dahlan pun bertanya kepada saya, "Bagaimana menurutmu?" Saya menjawab, "99%. Kita memiliki dokter terbaik di dunia untuk transplantasi hati, di rumah sakit yang telah melakukan ribuan operasi semacam itu; Anda berada di tangan yang aman. 1% sisanya adalah area yang tidak bisa saya akses…."

 

Setelah itu, Dahlan mengacungkan jempol dan Ibu Dahlan memanjatkan doa Islami dalam bahasa Arab.

 

Tim operasi terdiri dari dr Shen, direktur rumah sakit transplantasi ini, dan tim dokter serta perawat terbaiknya.

 

Organ yang akan dipasang menggantikan hati Dahlan tiba sesuai jadwal. Operasi panjang pun dimulai. Antara pukul 2 siang sampai tengah malam hari itu adalah hari yang sangat lambat bagi kami semua; menunggu, berdoa, berharap, khawatir,.... Satu jam berlalu, lalu jam berikutnya, dan seterusnya. Sungguh hari yang sangat panjang.

 

Kemudian tengah malam kami mendapat kabar dari dr Shen bahwa operasi telah selesai dan berhasil.

 

Dahlan tetap berada di ruang ICU untuk selama beberapa hari sebagai masa pemulihannya… dan sisanya adalah sejarah. Itulah hari yang menentukan di Tianjin, Tiongkok, pada 6 Agustus 2007. Hari ini 20 tahun lalu. (Robert Lai)

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/961244/20-tahun

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar