|
Membangun Peradaban Dimulai dari Kampus Ahmad
Tholabi Kharlie : Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. |
REPUBLIKA, 15 Juli 2026
|
Di tengah hiruk-pikuk
politik, perlambatan ekonomi global, disrupsi teknologi, krisis iklim, hingga
konflik geopolitik yang berkepanjangan, satu pertanyaan mendasar layak
diajukan adalah dari manakah sesungguhnya peradaban masa depan dibangun? Sebagian orang akan
menunjuk negara, parlemen, atau pasar sebagai aktor utamanya. Ada yang
meyakini bahwa perubahan lahir dari kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi,
atau superioritas militer. Semua itu memiliki peran penting. Akan tetapi,
sejarah menunjukkan bahwa peradaban yang bertahan lama hampir selalu berawal
dari ruang-ruang ilmu. Dari sanalah lahir gagasan, nilai, dan kepemimpinan
yang kemudian menggerakkan masyarakat. Tidak ada peradaban besar
yang tumbuh tanpa kampus, madrasah, akademi, atau pusat-pusat keilmuan yang
menjadi jantungnya. Athena melahirkan filsuf-filsuf yang membentuk fondasi
pemikiran Barat. Baghdad pada masa Abbasiyah menjadikan Bayt al-Hikmah
sebagai pusat penerjemahan, penelitian, dan inovasi ilmu pengetahuan. Cordoba menghadirkan
tradisi intelektual yang mempertemukan Islam, Yahudi, dan Kristen dalam
dialog keilmuan. Al-Azhar selama lebih dari seribu tahun menjadi rujukan
pemikiran Islam dunia. Semua itu memperlihatkan satu pola yang sama bahwa
peradaban tumbuh ketika ilmu memperoleh tempat terhormat dalam kehidupan
publik. Indonesia memiliki modal
yang tidak kalah besar. Lebih dari enam dekade Perguruan Tinggi Keagamaan
Islam Negeri (PTKIN) telah melahirkan jutaan alumni yang kini tersebar di
hampir seluruh sektor kehidupan. Mereka hadir sebagai ulama, hakim,
akademisi, birokrat, diplomat, guru, politisi, jurnalis, aktivis, pengusaha,
hingga pemimpin masyarakat di pelbagai daerah. Jejaring yang demikian luas
sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan strategis bangsa yang belum
sepenuhnya dibaca sebagai aset pembangunan nasional. Penggerak Perubahan Selama ini keberhasilan
perguruan tinggi sering diukur melalui indikator akademik yang bersifat
internal, seperti: akreditasi, jumlah publikasi ilmiah, kenaikan peringkat,
atau kelulusan mahasiswa. Seluruh ukuran tersebut penting karena mencerminkan
kualitas tata kelola akademik. Meski demikian, ukuran itu belum cukup
menggambarkan sejauh mana sebuah kampus mampu mengubah kehidupan masyarakat
melalui gagasan dan alumninya. Kampus pada hakikatnya
bukan sekadar tempat menghasilkan lulusan. Kampus adalah ruang pembentukan
karakter, laboratorium kepemimpinan, sekaligus pusat lahirnya ide-ide yang
memengaruhi arah bangsa. Ketika mahasiswa diwisuda, sesungguhnya perjalanan
pengabdian kampus baru memasuki babak berikutnya. Reputasi sebuah perguruan
tinggi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan di ruang
kuliah. Yang juga penting adalah kontribusi nyata para alumninya dalam
menjawab persoalan masyarakat. Dalam konteks itulah
alumni menjadi perpanjangan tangan kampus di ruang publik. Melalui mereka,
nilai-nilai akademik menjelma menjadi kebijakan, pelayanan publik, inovasi
sosial, dan kepemimpinan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Hubungan antara kampus dan alumni karena itu tidak dapat dipahami sebagai
relasi seremonial yang berhenti pada reuni atau kegiatan nostalgia. Hubungan
tersebut merupakan kemitraan intelektual yang terus berlangsung sepanjang
hayat. Forum Nasional Ikatan
Alumni PTKIN yang baru terbentuk menghadirkan peluang penting untuk
memperkuat hubungan itu. Kehadirannya bukan sekadar menambah daftar
organisasi alumni di Indonesia. Lebih jauh, forum ini memiliki potensi
menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan pengabdian yang menghubungkan kampus
dengan kebutuhan bangsa. Selama ini kekuatan
alumni PTKIN tersebar di pelbagai sektor tanpa simpul yang cukup kuat untuk
menghubungkan seluruh potensinya. Padahal, dalam teori modal sosial yang
dikemukakan Robert D. Putnam (2000), jejaring kepercayaan, norma bersama, dan
kolaborasi merupakan faktor penting yang menentukan kemampuan suatu
masyarakat menghasilkan kemajuan kolektif. Pierre Bourdieu (1986) bahkan
menempatkan modal sosial sebagai salah satu sumber daya strategis yang dapat
dikonversi menjadi pengaruh, kapasitas, dan perubahan sosial. Apabila jutaan alumni
PTKIN mampu dihubungkan dalam jejaring yang produktif, Indonesia sesungguhnya
memiliki salah satu ekosistem intelektual terbesar di dunia Islam. Potensi
itu jauh melampaui fungsi organisasi alumni dalam pengertian konvensional. Ia
dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin, lintas profesi,
dan lintas generasi untuk merumuskan solusi atas persoalan-persoalan
kebangsaan. Episentrum Peradaban Kita hidup pada masa
ketika tantangan pembangunan semakin kompleks. Persoalan kemiskinan tidak
dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan ekonomi. Krisis lingkungan
membutuhkan dimensi etik dan spiritual. Transformasi digital memerlukan
panduan moral agar teknologi tetap berpihak kepada kemanusiaan. Polarisasi
sosial memerlukan kepemimpinan yang mampu merawat dialog dan kohesi
kebangsaan. Seluruh tantangan tersebut membutuhkan kontribusi ilmu yang
melampaui batas-batas disiplin akademik. PTKIN memiliki posisi
yang khas dalam lanskap pendidikan tinggi Indonesia. Tradisi keilmuan yang
dikembangkan tidak memisahkan agama dari realitas sosial. Sebaliknya, agama
dipahami sebagai sumber nilai yang mendorong keadilan, kemaslahatan,
penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab terhadap alam
semesta. Perspektif ini memberikan ruang bagi lahirnya solusi yang memadukan
dimensi etik, intelektual, dan kebijakan publik secara sekaligus. Karena itu, kontribusi
alumni PTKIN tidak seharusnya berhenti pada penguatan institusi
masing-masing. Yang lebih penting ialah membangun ekosistem pemikiran yang
mampu memberi arah bagi pembangunan nasional. Kampus perlu semakin aktif
mendorong budaya riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Alumni perlu
terlibat dalam penyusunan kebijakan publik, pengembangan inovasi sosial,
pemberdayaan ekonomi umat, penguatan moderasi beragama, hingga diplomasi
kemanusiaan di tingkat internasional. Di sinilah gagasan
membangun peradaban menemukan makna yang konkret. Peradaban bukanlah bangunan
megah atau capaian material semata. Peradaban adalah kemampuan suatu bangsa
menghasilkan nilai, ilmu, dan institusi yang memperkuat kehidupan manusia.
Peradaban lahir ketika pengetahuan dipadukan dengan integritas, ketika
kekuasaan dipandu oleh etika, dan ketika kemajuan teknologi tetap berpijak
pada kemanusiaan. Indonesia memiliki
seluruh prasyarat untuk mengambil peran tersebut. Bonus demografi, stabilitas
politik yang relatif terjaga, tradisi keberagaman, serta pengalaman panjang
dalam mengelola masyarakat majemuk merupakan modal yang sangat berharga. Yang
masih memerlukan penguatan ialah kemampuan menghubungkan seluruh modal itu ke
dalam ekosistem pengetahuan yang produktif. Kampus menjadi simpul utama dari
ekosistem tersebut. Di tengah perubahan dunia
yang berlangsung sangat cepat, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi
menara gading yang menghasilkan publikasi ilmiah. Kampus dituntut hadir
sebagai ruang dialog, pusat inovasi, sekaligus mitra strategis negara dan
masyarakat dalam merumuskan masa depan. Keberhasilan sebuah universitas tidak
lagi hanya diukur dari jumlah artikel yang terbit dalam jurnal bereputasi,
melainkan juga dari seberapa besar gagasan yang lahir dari kampus mampu
mengubah kehidupan publik. Alumni memegang peranan
penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Mereka membawa identitas
akademik ke pelbagai ruang pengabdian. Di tangan para alumnilah ilmu bertemu
dengan realitas, teori bertemu dengan kebijakan, dan nilai bertemu dengan
tindakan. Ketika jejaring alumni mampu bergerak dalam semangat kolaborasi,
kampus tidak lagi berhenti sebagai institusi pendidikan, melainkan tumbuh
menjadi kekuatan sosial yang terus bekerja melalui para lulusannya. Masa depan Indonesia
tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam atau kekuatan
ekonominya. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh kualitas gagasan yang
mampu dilahirkan dan diwujudkan menjadi kebijakan serta gerakan sosial yang
memberi manfaat bagi masyarakat. Dalam proses itulah kampus memegang posisi
yang tidak tergantikan. Membangun peradaban
memang memerlukan negara yang kuat, ekonomi yang sehat, dan teknologi yang
maju. Semua itu akan kehilangan arah apabila tidak ditopang oleh tradisi
keilmuan yang kokoh. Sejarah telah mengajarkan bahwa setiap lompatan besar
peradaban selalu diawali oleh kebangkitan ilmu. Dari ruang-ruang kuliah,
laboratorium, perpustakaan, dan forum-forum akademik, lahir ide-ide yang
kemudian mengubah dunia. Karena itu, membangun
peradaban sesungguhnya dimulai dari kampus. Dari kampus yang berpikir dengan
jernih, meneliti dengan tekun, berdialog dengan terbuka, serta mendidik
generasi yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian. Ketika kampus,
alumni, dan masyarakat berjalan dalam satu ikhtiar yang sama, Indonesia tidak
sekadar menjadi penikmat perubahan global, melainkan turut menghadirkan
gagasan dan nilai yang memperkaya peradaban dunia. ● Sumber : https://analisis.republika.co.id/berita/ti6yij451/membangun-peradaban-dimulai-dari-kampus-part4 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar