|
MEREKA YANG BERBEDA DENGANMU DALAM POLITIK, AGAMA DAN SASTRA, TETAP
TEMANMU DALAM KEMANUSIAAN Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 12 Agustus 2026
|
Di
sebuah rumah sakit jauh dari tanah air, seorang penyair terbaring di ICU.
Mesin membantu tubuhnya bertahan, sementara kabar tentang sakitnya
menyeberangi lautan. Orang-orang
mulai mengumpulkan doa dan dana. Di antara mereka ada seseorang yang selama
bertahun-tahun justru menjadi sasaran kritik keras penyair tersebut. Saat
itulah sebuah pertanyaan sederhana datang mengetuk hati: ketika seseorang
sedang berjuang mempertahankan hidup, masih pentingkah kita mengingat siapa
pernah menyerang siapa? Saya
merasa jawabannya tidak. Di hadapan penyakit, penderitaan, dan kematian,
semua pertengkaran ideologis mendadak mengecil. Yang tersisa hanyalah seorang
manusia menghadapi kerapuhannya. Mungkin
peradaban memang dimulai pada titik itu: ketika kita mampu melihat manusia di
balik pendapatnya, dan menolongnya tanpa terlebih dahulu memeriksa kubu
politiknya. -000- Banyak
yang bertanya mengapa saya tergerak ikut membantu biaya pengobatan Saut
Situmorang ketika ia jatuh sakit dan dirawat intensif di Guangdong, Tiongkok. Pertanyaan
itu muncul karena hubungan intelektual kami bukan hubungan yang nyaman. Saut
termasuk pengkritik paling keras terhadap saya, terutama mengenai gagasan
puisi esai. Dalam
ruang publik, kritiknya bukan sekadar berbeda pendapat. Ia dapat sangat
tajam, personal, bahkan menggunakan bahasa yang bagi sebagian orang terasa
melampaui perdebatan sastra. Tetapi
saya selalu berusaha memisahkan dua wilayah yang sebenarnya tidak harus
dicampurkan: pertarungan gagasan dan penghormatan kepada manusia yang berada
di balik gagasan. Saya
boleh menganggap kritik seseorang keliru. Ia pun boleh menganggap gagasan
saya buruk. Kami bahkan boleh berdebat keras tentang sejarah dan masa depan
sastra. Tetapi
ketika orang itu terbaring sakit, persoalannya berubah. Yang berada di
hadapan kita bukan lagi seorang polemikus. Ia seorang manusia yang
membutuhkan pertolongan. Bagi
saya, perbedaan sastra tidak pernah cukup besar untuk membatalkan solidaritas
kemanusiaan. Tidak ada teori puisi yang lebih tinggi nilainya daripada satu
kehidupan manusia. Saya
justru merasa persahabatan kemanusiaan diuji bukan ketika kita menolong orang
yang menyukai kita, melainkan ketika kita mampu menolong mereka yang pernah
melukai kita. Hal
serupa pernah saya rasakan mengenai Remy Sylado. Di ruang publik, Remy pernah
mengkritik saya dan puisi esai dengan bahasa yang luar biasa keras. Jejak
perbedaan itu bahkan terdokumentasikan terbuka. Ia mempertanyakan kualitas
intelektual dan spiritual puisi esai, dan polemik kami berkembang menjadi
perdebatan publik yang tajam, berlangsung lebih dari satu bulan melalui
tulisan yang saling berbalas di media dan media sosial. Tetapi
ketika Remy sakit, saya tidak melihat seorang lawan polemik. Saya melihat
seorang budayawan besar Indonesia sedang memasuki salah satu masa paling rapuh
hidupnya. Saya pun semampunya ikut menolongnya, mengirimkan dana. Ketika
acara mengenang kepergian Remy Sylado, saya pun diundang memberi kesaksian.
Saya kirimkan videonya, yang diputar di acara itu, tentang solidaritas
kemanusiaan di atas perbedaan paham budaya. Saya
belajar sesuatu dari pengalaman itu. Kita tidak perlu menghapus sejarah
pertengkaran untuk melakukan kebaikan. Kita hanya perlu mengetahui kapan
pertengkaran harus berhenti. Ada
saatnya manusia harus lebih besar daripada egonya sendiri. Ada saatnya tangan
yang pernah menunjuk kesalahan orang lain berubah menjadi tangan yang
membantu. Saya
pun tidak luput dari keliru dan ego masa lalu. Menolong bukan tanda merasa
lebih benar, melainkan pengingat bahwa di hadapan kerapuhan hidup, kita semua
sama-sama manusia yang sedang belajar. Saya
tidak menganggap tindakan semacam itu luar biasa. Justru saya berharap suatu
hari ia menjadi sesuatu yang biasa dalam kebudayaan Indonesia. Bayangkan
Indonesia ketika lawan politik saling menjaga saat sakit, pemeluk agama
berbeda saling melindungi, dan para penulis tetap bersahabat setelah polemik
paling keras. Itulah
masyarakat dewasa. Perbedaan tidak dimusnahkan, kritik tidak dilarang,
keyakinan tidak diseragamkan. Tetapi semuanya diletakkan di bawah satu payung
bernama kemanusiaan. -000- Lebih
dari seribu tahun lalu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib meninggalkan salah satu
rumusan moral paling indah mengenai bagaimana kekuasaan memperlakukan
manusia. Pesan
itu terdapat dalam suratnya kepada Malik al-Ashtar, yang diangkat memimpin
Mesir. Saat itu Mesir sebuah masyarakat majemuk dengan kepentingan politik,
agama, dan sosial berbeda-beda. Ali
mengingatkan bahwa rakyat terdiri dari dua golongan besar: mereka yang
merupakan saudaramu dalam agama, dan mereka yang setara denganmu dalam
penciptaan. Kalimat
itu revolusioner karena martabat manusia tidak diletakkan setelah kesamaan
iman. Bahkan ketika iman berbeda, masih ada persaudaraan lebih elementer:
sama-sama manusia. Konteksnya
bahkan bukan percakapan sentimental antarpribadi. Itu nasihat mengenai
pemerintahan, kekuasaan, keadilan, belas kasih, kesalahan manusia, dan
kewajiban seorang pemimpin. Pesannya
jelas. Kekuasaan tidak boleh menjadikan perbedaan identitas sebagai alasan
mengurangi belas kasih. Pemerintah tidak hanya melayani mereka yang seiman
dengan penguasanya. Prinsip
tersebut dapat diperluas ke kehidupan modern. Orang yang berbeda partai bukan
musuh eksistensial. Orang berbeda agama bukan manusia dengan martabat lebih
rendah. Demikian
pula orang yang berbeda mazhab sastra bukan lawan yang harus dimusnahkan.
Gagasan boleh bertarung sekeras mungkin, tetapi manusia tidak perlu saling
membenci. Mungkin
pertanyaan terpenting bukan lagi, "Siapa temanmu?" Pertanyaan yang
lebih dewasa adalah, "Dapatkah engkau tetap menjadi teman kemanusiaan
bagi orang yang berbeda denganmu?" -000- Tiga
hal mengapa teman dalam kemanusiaan harus diletakkan lebih tinggi dari
pertengkaran politik, perbedaan agama, dan perselisihan sastra. Pertama,
karena identitas hanyalah sebagian dari manusia. Kita sering melakukan
kesalahan intelektual ketika mereduksi seseorang menjadi satu label yang
kebetulan sedang menonjol. Ia
disebut liberal, konservatif, Muslim, Kristen, kiri, kanan, pemerintah,
oposisi, penyair lama, penyair baru, pendukung puisi esai, atau penentangnya. Padahal
manusia selalu lebih luas daripada labelnya. Ia mempunyai keluarga,
ketakutan, kenangan masa kecil, kegembiraan, kehilangan, penyakit, harapan,
dan akhirnya kematian. Ketika
manusia direduksi menjadi identitas kelompok, empati mengecil. Kita berhenti
melihat wajah dan mulai melihat kategori. Dari sinilah dehumanisasi perlahan
bermula. Peradaban
yang matang mengajarkan kemampuan sebaliknya: mengkritik identitas atau
gagasan seseorang tanpa menghapus kompleksitas manusia yang hidup di balik
identitas tersebut. Kedua,
karena demokrasi hanya bertahan jika lawan tetap dipandang sah. Demokrasi
bukan sistem untuk menghilangkan perbedaan, melainkan mengelola perbedaan
tanpa saling menghancurkan. Hari
ini kelompok kita menang. Besok mungkin kalah. Jika setiap kekalahan dianggap
kehancuran eksistensial, politik berubah dari kompetisi gagasan menjadi
perang identitas permanen. Demokrasi
memerlukan sesuatu yang lebih dalam daripada pemilu. Ia memerlukan budaya
menerima bahwa orang baik dapat mempunyai pilihan politik yang sangat
berbeda. Kita
boleh mengalahkan argumentasi lawan, memenangkan pemilu, atau mengkritik
kebijakannya. Tetapi kita tidak perlu mencabut haknya untuk tetap dihormati
sebagai manusia. Ketika
lawan politik sakit, mengalami bencana, atau menghadapi kematian,
penderitaannya tidak berubah menjadi kurang nyata hanya karena pilihan
politiknya berbeda. Ketiga,
karena kemanusiaan adalah rumah terakhir ketika semua identitas runtuh.
Agama, bangsa, partai, kelas, dan kelompok penting, tetapi semuanya mempunyai
batas. Di
ruang ICU, tidak ada tubuh konservatif atau liberal. Darah tidak mengenal
partai. Paru-paru tidak mempunyai ideologi. Rasa sakit tidak menanyakan agama
seseorang. Kematian
mempunyai cara brutal sekaligus jujur untuk mengingatkan kita bahwa manusia
sebenarnya jauh lebih serupa daripada yang dibayangkan ketika sedang
bertengkar. Karena
itu solidaritas kemanusiaan bukan kelemahan ideologis. Justru ia tanda
kematangan: kemampuan mempertahankan keyakinan tanpa kehilangan kapasitas
mencintai mereka yang berbeda. -000- Jonathan
Sacks dalam Not in God's Name: Confronting Religious Violence menunjukkan
bahaya ketika agama berubah menjadi identitas kelompok yang membelah dunia
secara mutlak. Sacks
menyebut mekanisme berbahaya ketika kebaikan kepada kelompok sendiri justru
melahirkan kebencian terhadap kelompok lain. Kesetiaan kemudian berubah
menjadi pembenaran permusuhan. Agama,
menurut Sacks, seharusnya menjadi bagian dari penyembuhan. Jalan keluarnya
bukan menghapus keyakinan, melainkan belajar melihat dunia melalui mata pihak
lain. Gagasan
ini relevan jauh melampaui konflik agama. Politik dan sastra juga dapat
berubah menjadi identitas kesukuan ketika perbedaan gagasan diperlakukan
sebagai ancaman eksistensial. Kedewasaan
justru muncul ketika keyakinan tetap kuat, sementara kebencian ditolak. Kita
dapat berkata, "Saya berbeda denganmu," tanpa berkata, "Karena
itu engkau musuhku." Kwame
Anthony Appiah menawarkan fondasi filosofis serupa dalam Cosmopolitanism:
Ethics in a World of Strangers, sebuah pembelaan terhadap kewajiban moral
melampaui batas kelompok. Appiah
tidak meminta manusia meninggalkan identitas lokal. Kita boleh mencintai
bangsa, agama, tradisi, keluarga, bahkan
komunitas kecil tempat kehidupan memperoleh warna dan makna. Tetapi
identitas tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa manusia lain, termasuk
orang asing, mempunyai kehidupan yang bernilai dan karenanya menghadirkan
tuntutan moral kepada kita. Kosmopolitanisme
Appiah juga bukan relativisme. Kita tetap boleh mengkritik nilai orang lain.
Percakapan lintas perbedaan justru diperlukan karena ketidaksetujuan
merupakan bagian kehidupan manusia. Yang
ditolak adalah tembok moral yang mengatakan penderitaan kelompok sendiri penting,
sedangkan penderitaan manusia di luar kelompok kita dapat diabaikan begitu
saja. Dua
buku ini bertemu pada satu titik: perbedaan tidak perlu dihapus agar
solidaritas tumbuh. Kita hanya perlu menolak menjadikan perbedaan sebagai
izin membenci. -000- Tentu
ada kontra argumen. Bukankah kemurahan hati kepada pengkritik keras dapat
ditafsirkan sebagai kelemahan, pencitraan, atau usaha membeli rekonsiliasi
dengan bantuan material? Bukankah
masyarakat juga membutuhkan batas? Bukankah sebagian gagasan memang
berbahaya, sebagian tindakan tidak bermoral, dan sebagian orang bahkan
menggunakan toleransi untuk menghancurkan toleransi? Keberatan
itu valid. Humanisme tidak berarti relativisme moral. Memaafkan seseorang
tidak berarti membenarkan gagasannya, sebagaimana menolong orang sakit tidak
berarti menyetujui pandangan politiknya. Kita
harus tetap melawan kebohongan, diskriminasi, kekerasan, korupsi, fanatisme,
dan ketidakadilan. Bahkan cinta kepada manusia terkadang mengharuskan kita
menentang tindakannya dengan tegas. Namun
terdapat garis moral penting: kita menolak kesalahannya tanpa menikmati
penderitaannya. Kita melawan tindakannya tanpa berharap ia kehilangan
martabatnya sebagai manusia. Di
sinilah perbedaan antara peradaban dan kebencian. Peradaban membatasi
tindakan manusia ketika diperlukan, tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran
bahwa pelakunya tetap manusia. Bahkan
bantuan kepada seseorang yang pernah menyerang kita tidak perlu menghapus
perbedaan. Sesudah ia sembuh, perdebatan dapat dilanjutkan dengan argumen
yang sama kerasnya. Justru
itulah bentuk kebebasan yang paling indah. Hari ini saya membantumu hidup.
Besok kita boleh kembali berdebat mengenai dunia yang sama-sama ingin kita
perbaiki. -000- Semakin
lama hidup, saya semakin merasa kemenangan terbesar bukanlah ketika lawan
akhirnya mengakui bahwa kita benar. Kemenangan terbesar terjadi di dalam diri
sendiri. Ia
terjadi ketika kita memiliki cukup keyakinan untuk berbeda, tetapi sekaligus
cukup luas hati untuk tidak membutuhkan kebencian sebagai bahan bakar
keyakinan tersebut. Politik
akan terus membelah pilihan. Agama akan terus menawarkan jalan iman berbeda.
Sastra akan terus melahirkan mazhab, pemberontakan estetika, kritik, bahkan
pertengkaran. Semua
itu tidak harus ditakuti. Dunia tanpa perbedaan mungkin damai, tetapi juga
mati. Kreativitas, demokrasi, ilmu pengetahuan, bahkan spiritualitas
berkembang melalui perjumpaan perbedaan. Yang
harus kita takutkan adalah ketika perbedaan pendapat berubah menjadi
perbedaan derajat kemanusiaan, seolah orang yang tidak bersama kita menjadi
kurang layak dicintai. Saya
ingin mewariskan satu keyakinan sederhana. Jangan ukur kebesaran seseorang
hanya dari cara ia memperlakukan sahabat yang memuji dan berdiri di sisinya. Ukurlah
juga bagaimana ia memperlakukan pengkritiknya ketika pengkritik itu sedang
lemah, bagaimana ia memperlakukan lawannya ketika sebenarnya ia mempunyai
kesempatan membalas. Nama
partai akan berganti, teori sastra akan berubah, dan perdebatan yang hari ini
terasa sangat penting kelak tinggal catatan kaki. Tetapi satu tindakan
kemanusiaan dapat hidup jauh lebih lama daripada kemenangan argumentasi,
karena ia menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada politik: hati manusia. Kita
tidak harus mempunyai agama yang sama untuk saling mendoakan, tidak harus
memilih partai yang sama untuk saling menolong ketika kehidupan sedang
runtuh, dan tidak harus menyukai karya satu sama lain untuk memahami bahwa di
balik setiap perdebatan terdapat manusia yang sama-sama ingin hidup dan
dicintai. Sebab
pada akhirnya, setelah semua bendera, keyakinan, dan kemenangan argumentasi
selesai, kita akan menemukan kebenaran terakhir: yang berbeda dengan kita
tetaplah keluarga besar kita dalam kemanusiaan. ● REFERENSI Jonathan
Sacks. Not in God's Name: Confronting Religious Violence. John Murray Press,
2015. Kwame
Anthony Appiah. Cosmopolitanism: Ethics in a World of Strangers. W. W. Norton
& Company, 2006. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar