|
EKSPOR KARYA SASTRA VERSUS EKSPOR KELAPA SAWIT - Buku
Puisi Esai Denny JA Dalam Enam Bahasa Tersedia di Google Books Oleh : Penerbit
CBI |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 05 Agustus 2026
|
Pada
suatu sore di sebuah kota kecil yang jauh dari Indonesia, seorang mahasiswa
Eropa membuka Google Books untuk mencari bacaan tentang sejarah Asia. Ia
tidak mengenal Indonesia. Ia bahkan tak mampu menunjuk letaknya di peta.
Namun beberapa menit kemudian ia larut membaca sebuah puisi tentang manusia,
luka, dan harapan yang ditulis seorang pengarang Indonesia. Pada
saat itulah Indonesia menyeberangi samudra, bukan melalui kapal dagang yang
membawa kelapa sawit, batu bara, atau nikel, melainkan melalui kata-kata. Komoditas
mengisi pelabuhan dunia. Sastra mengisi ingatan manusia. Dan sering kali,
ingatan bertahan jauh lebih lama daripada perdagangan. -000- Buku
puisi esai Menggigil dalam Arus Sejarah karya Denny JA sedang diterjemahkan
ke dalam 35 bahasa internasional. Saat ini enam versinya telah tersedia
melalui Google Books, yaitu bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia,
Mandarin, dan Arab. Perjalanan
ini bukan sekadar proyek penerbitan. Ia merupakan upaya memperkenalkan
pengalaman sejarah, nilai kemanusiaan, dan cara pandang Indonesia kepada
pembaca dunia. Pada
tahun 2025, Denny JA menerima BRICS Award for Literature Innovation.
Penghargaan tersebut diberikan karena kontribusinya memperkenalkan dan
mengembangkan genre puisi esai, sebuah bentuk sastra yang memadukan kekuatan
puisi, narasi, dan refleksi sosial dengan landasan fakta sejarah. Inovasi
ini memperlihatkan bahwa sastra tidak harus memilih antara keindahan bahasa
dan ketepatan fakta. Keduanya dapat berjalan bersama, saling memperkuat, dan
melahirkan pengalaman membaca yang baru. Pengakuan
internasional itu membawa konsekuensi logis. Sebuah karya yang dianggap
menghadirkan inovasi sastra layak diperkenalkan kepada khalayak global
melalui penerjemahan. Terjemahan
bukan sekadar memindahkan bahasa. Terjemahan memindahkan pengalaman manusia
dari satu peradaban ke peradaban lain. Ketika
sebuah karya diterjemahkan, yang ikut menyeberang bukan hanya kalimat,
melainkan cara suatu bangsa memahami cinta, sejarah, agama, konflik, dan
kemanusiaan. Bayangkan
seorang guru di Kairo membacakan puisi tentang Hiroshima kepada muridnya
dalam bahasa Arab. Seorang mahasiswa di Moskow mengutip bait tentang
Auschwitz dalam bahasa Rusia. Seorang
penerjemah di Beijing menuliskan ulang kisah manusia perahu Vietnam dalam
aksara Mandarin. Pada
momen itu, Indonesia tidak sekadar diterjemahkan. Indonesia sedang berbicara
kepada dunia dengan suaranya sendiri. -000- Selama
puluhan tahun Indonesia berhasil mengekspor kelapa sawit, batu bara, nikel,
gas alam, dan berbagai komoditas lainnya. Semua itu penting karena
menghasilkan devisa, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda ekonomi
nasional. Namun
sebuah bangsa tidak hanya hidup dari komoditas. Bangsa juga hidup dari
gagasan. Di
sinilah makna diplomasi budaya. Diplomasi budaya adalah usaha memperkenalkan
identitas, nilai, tradisi, dan cara berpikir suatu bangsa melalui karya seni,
sastra, pendidikan, bahasa, maupun warisan budaya. Tujuannya
bukan memaksa negara lain menerima pandangan kita, melainkan membangun
pengertian, penghormatan, dan kedekatan emosional. Dalam
ilmu hubungan internasional, gagasan ini berdekatan dengan konsep soft power
yang dipopulerkan Joseph S. Nye Jr. Soft power adalah kemampuan memengaruhi
pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan gagasan, bukan melalui
tekanan ekonomi ataupun kekuatan militer. Karena
itu, penerjemahan sastra Indonesia merupakan bentuk nyata diplomasi budaya
sekaligus soft power. Ketika pembaca di Madrid, Kairo, Beijing, Moskow,
Paris, atau New York tersentuh oleh karya seorang penulis Indonesia, citra
Indonesia berubah. Negara ini tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil
komoditas, tetapi juga sebagai penghasil pemikiran, empati, dan
kebijaksanaan. Sejarah
membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang paling berpengaruh selalu mengekspor
kebudayaannya. Dunia mengenal Inggris bukan hanya karena Revolusi
Industrinya, tetapi juga karena Shakespeare. Jepang
bukan hanya karena industri otomotifnya, melainkan juga karena Haruki
Murakami, manga, dan anime. Korea
Selatan bukan hanya karena Samsung, tetapi juga karena K-Pop, film, dan
dramanya. Kekayaan alam membuka pasar. Kebudayaan membuka hati manusia.
Indonesia pun memerlukan keduanya. -000- Tiga
alasan mengapa penting menejemahkan karya penulis Indonesia ke banyak bahasa
asing. Alasan
pertama, penerjemahan memperluas pengaruh peradaban Indonesia. Negara
besar dikenang bukan hanya karena kekuatan ekonominya, tetapi juga karena
sumbangan intelektual dan budayanya. Yunani dikenang karena filsafatnya.
Inggris karena sastranya. Jepang karena budayanya. Indonesia pun memerlukan
jejak serupa. Setiap
karya sastra yang diterjemahkan menjadi duta yang bekerja tanpa batas waktu.
Ia hadir di perpustakaan, ruang kelas, dan rak buku digital di berbagai
negara. Pengaruh seperti ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka
perdagangan, tetapi dampaknya mampu bertahan lintas generasi. Alasan
kedua, penerjemahan membangun martabat bangsa. Bangsa
yang dihargai adalah bangsa yang mampu menceritakan dirinya sendiri. Jika
Indonesia tidak menghadirkan kisahnya kepada dunia, orang lain akan
menuliskan kisah tentang Indonesia menurut sudut pandang mereka. Terjemahan
memberi kesempatan kepada penulis Indonesia untuk berbicara langsung kepada
masyarakat internasional. Di sana lahir penghargaan yang lebih adil terhadap
sejarah, budaya, dan kemanusiaan Indonesia. Alasan
ketiga, penerjemahan menciptakan nilai ekonomi baru. Ekonomi
masa depan semakin bertumpu pada kekayaan intelektual. Buku, film, musik,
gim, dan karya kreatif menjadi industri bernilai tinggi. Ketika
sastra Indonesia dikenal dunia, peluang lahir bagi penerbitan internasional,
adaptasi film, hak cipta, pendidikan, festival sastra, hingga pariwisata
budaya. Nilai ekonominya mungkin tumbuh lebih lambat daripada ekspor
komoditas, tetapi memiliki umur ekonomi yang jauh lebih panjang. Tentu,
penerjemahan dan ketersediaan digital barulah pintu pembuka. Ujian
sesungguhnya diplomasi sastra terletak pada bagaimana karya tersebut masuk
dalam kurikulum, dibahas dalam riset akademis, serta memicu dialog lintas
budaya. Ekspor
sastra tak berhenti saat buku diunggah, melainkan ketika gagasan di dalamnya
mulai mengendap dalam ruang diskusi global, membuktikan bahwa pemikiran
Indonesia layak bersanding di panggung dunia. -000- Buku
Denny JA: Menggigil dalam Arus Sejarah memperlihatkan bagaimana sejarah dapat
kembali bernapas melalui sastra. Buku ini tidak memandang perang, revolusi,
atau genosida dari sudut para pemimpin besar, melainkan dari mata manusia
biasa yang terseret arus zaman. Statistik
berubah menjadi wajah. Angka berubah menjadi air mata. Sejarah berubah
menjadi pengalaman batin. Bagaimana
mungkin di tengah Perang Dunia Pertama, ketika jutaan orang saling membunuh,
dua pasukan musuh justru keluar dari parit, bertukar cokelat, berjabat
tangan, lalu bermain sepak bola bersama pada Malam Natal 1914? Pertanyaan
sederhana itu menjadi pintu masuk buku ini untuk menjelajahi berbagai tragedi
dunia, mulai dari Holocaust, Hiroshima, Revolusi Prancis, Revolusi Rusia,
Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, hingga kisah para manusia perahu Vietnam. Keistimewaan
buku ini bukan terutama pada pilihan peristiwanya, melainkan pada sudut
pandangnya. Denny JA selalu mencari manusia biasa yang hilang di balik
gemuruh sejarah. Seorang
anak yang kehilangan ibunya di Auschwitz. Seorang istri yang tak pernah
menerima surat terakhir suaminya di Hiroshima. Seorang serdadu yang semalam
bermain sepak bola dengan musuhnya, tetapi keesokan paginya diperintahkan
menembaknya kembali. Dengan
cara itu, sejarah tidak lagi berhenti sebagai kumpulan fakta. Ia berubah
menjadi pengalaman yang dapat dirasakan. Lewat
kacamata ini, Indonesia menawarkan narasi alternatif: melihat tragedi global
bukan dengan ketaatan dogmatis atau dendam politik, melainkan melalui empati
kemanusiaan yang universal, inklusif, dan melampaui batas-batas geografi. Dalam
kata pengantarnya, penulis menegaskan bahwa historiografi mengarsipkan
peristiwa, sedangkan puisi esai menghidupkan jiwa manusia yang tersembunyi di
balik peristiwa tersebut. Sejarah
mencatat apa yang terjadi. Sastra membuat kita merasakan bagaimana rasanya
berada di dalamnya. Itulah sebabnya buku ini bukan sekadar kumpulan puisi,
melainkan sebuah dokumen kemanusiaan yang berusaha menjaga agar mereka yang
tenggelam dalam arus sejarah tidak ikut tenggelam dalam ingatan kita. -000- Ada
yang berpendapat bahwa membandingkan ekspor sastra dengan ekspor kelapa sawit
adalah kekeliruan karena keduanya berada pada ranah yang berbeda. Komoditas
menghasilkan devisa nyata, sedangkan sastra tidak. Keberatan
itu benar jika ukuran keberhasilan hanya dihitung dari neraca perdagangan
tahunan. Namun
dalam jangka panjang, ekonomi memerlukan reputasi, reputasi memerlukan
kepercayaan, dan kepercayaan lahir dari budaya. Tidak
ada negara besar yang hanya mengekspor bahan mentah. Semua negara besar juga
mengekspor gagasan, ilmu pengetahuan, seni, dan nilai-nilai yang membuat
dunia mengenal mereka. Karena
itu, Indonesia tidak perlu memilih antara kelapa sawit dan karya sastra. Kita
memerlukan keduanya. Yang satu membangun kemakmuran ekonomi. Yang lain
membangun keabadian peradaban. Kelapa
sawit mengisi kapal-kapal yang berlayar ke berbagai pelabuhan dunia. Karya
sastra mengisi hati manusia yang akan mengingat Indonesia jauh setelah
kapal-kapal itu kembali. Kelapa
sawit suatu hari akan habis dipanen. Nikel suatu hari akan habis ditambang.
Batu bara suatu hari akan habis dibakar. Tetapi sebuah karya sastra yang
berhasil menyentuh hati manusia dapat hidup lintas generasi. Di situlah
sebuah bangsa mulai memasuki keabadiannya. ● Link Buku Denny JA
Dalam 6 Bahasa di Google Book: 1. Denny JA-Menggigil
dalam Sejarah (Bahasa Inggris: Shivering in History’s Current) https://books.google.co.id/books/about?id=g4PuEQAAQBAJ... 2.Denny JA-Menggigil
dalam Sejarah (Bahasa Spanyol: Estremecerse en la corriente de la historia)
https://books.google.co.id/books/about?id=cNn7EQAAQBAJ... 3.Denny JA-Menggigil
dalam Sejarah (Bahasa Perancis: Frémir dans le courant de I’Histoire) https://books.google.co.id/books/about?id=NP_8EQAAQBAJ... 4.Denny JA-Menggigil
dalam Sejarah (Bahasa Rusia: DROZH V POTOKE ISTORII (Дрожь в потоке истории)) https://books.google.co.id/books/about?id=r9n7EQAAQBAJ... 5.Denny JA-Menggigil
dalam Sejarah (Bahasa Mandarin: Zài
lìshǐ zhī liú zhōng zhànlì (在历史之流中战栗) https://books.google.co.id/books/about?id=Pv78EQAAQBAJ... 6.Denny JA-Menggigil
dalam Sejarah (Bahasa Arab: Yartajifu fī Tayyāri al-Tārīkh) https://books.google.co.id/books/about?id=uQD9EQAAQBAJ... |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar