|
Mengintip Revolusi Pelayanan Publik Saudi: Cermin Besar untuk
Indonesia Ahmad
Dumyathi Bashori : Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan
Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Penggiat Forum for Strategic
and Future Studies (FSFS) Depok). |
REPUBLIKA, 16 Juli 2026
|
Perjalanan darat dari
Makkah menuju Jeddah sore itu, 14 Juli 2026, menyajikan pemandangan lanskap
gurun yang perlahan berbaur dengan megahnya arsitektur modern pesisir Laut
Merah. Di balik kemudi, kawan karib saya, seorang warga lokal yang telah
menyaksikan pasang surut modernisasi negaranya, tiba-tiba menunjukkan layar
ponselnya dengan senyum lebar. "Dulu, kalau kakek
atau anak saya sakit, kami harus mengantre berjam-jam di klinik,"
ujarnya membuka obrolan. "Kemarin, saya hanya membuka aplikasi Sehhaty
dan Tawakkalna. Cukup ajukan check-up medis, dan tidak lama kemudian, jadwal
kedatangan dokter langsung muncul. Dokter datang ke rumah, memeriksa, dan
obat-obatan diantarkan langsung ke pintu. Semuanya gratis tanpa sepeser pun
biaya tambahan,” ucap Hatim Makki. Apa yang diceritakan
kawan saya bukanlah fiksi ilmiah, melainkan realitas keseharian warga Arab
Saudi hari ini. Di bawah komando Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS),
Arab Saudi tengah mengalami apa yang layak disebut sebagai "Revolusi
Pelayanan Publik Senyap," sebuah lompatan kuantum digital yang berhasil
memangkas birokrasi berbelit menjadi beberapa ketukan di layar gawai. Bagi kita di Indonesia,
transformasi ini bukan sekadar cerita sukses negara tetangga, melainkan
cermin besar dan pelajaran berharga tentang bagaimana digitalisasi dapat
didistribusikan secara berkeadilan. Inti dari transformasi
ini adalah integrasi super-aplikasi nasional. Aplikasi seperti Tawakkalna
(yang dikembangkan oleh Saudi Data and Artificial Intelligence Authority atau
SDAIA) kini telah menjelma menjadi ekosistem digital raksasa bagi kehidupan
warga Saudi. Pertama, Layanan
Kesehatan di Rumah (Home Healthcare): Melalui platform kesehatan digital,
warga lansia, penderita penyakit kronis, dan difabel dapat mengakses
perawatan medis, rehabilitasi pasca-operasi, hingga terapi pernapasan
langsung di rumah mereka secara gratis. Kedua, Jaring Pengaman
Sosial Digital: Transformasi ini juga menyentuh aspek kesejahteraan finansial
secara radikal. Melalui platform terintegrasi, pemerintah Saudi kini
menyalurkan tunjangan bulanan bagi fakir miskin, keluarga berpendapatan
rendah (Citizen Account), serta para pensiunan secara otomatis. Hak finansial
mereka ditransfer langsung ke rekening yang tertaut pada identitas digital
tanpa perlu mengurus berkas fisik yang melelahkan setiap bulan. Ketiga, Birokrasi Tanpa
Kertas: Urusan dokumen kependudukan, perizinan, hingga asuransi sosial kini
terpusat pada satu identitas digital yang terverifikasi kuat. Tawakkalna: Satu Dasbor
untuk Seluruh Hidup Lalu, apa yang membuat
Tawakkalna begitu sakti? Jawabannya ada pada dasbor pribadi (personal
dashboard) dan dompet digital (Tawakkalna Wallet) masing-masing warga. Saat
warga membuka profil pribadi mereka di aplikasi ini, seluruh data hidup
mereka tersaji secara terintegrasi dan real-time: Pertama, Identitas
Digital Resmi (Digital Cards): Mulai dari KTP digital (National ID), Kartu
Izin Tinggal (Iqama), SIM, STNK digital, hingga paspor digital. Warga tidak
perlu lagi membawa dompet fisik berisi kartu plastik. Kedua, Portal Portofolio
Kesehatan: Memuat rekam medis digital, status vaksinasi, riwayat tes, jenis
golongan darah, hingga kartu asuransi kesehatan aktif. Ketiga, Data
Ketenagakerjaan & Resume (CV): Terkoneksi dengan kementerian tenaga
kerja, menampilkan kontrak kerja aktif, masa kerja, jaminan sosial (GOSI),
serta daftar riwayat hidup digital yang terverifikasi langsung oleh sistem
negara. Keempat, Alamat Nasional
Resmi (National Address): Lokasi geografis rumah tinggal yang resmi terdaftar
untuk mempermudah pengiriman logistik, dokumen negara, hingga ambulans dalam
kondisi darurat. Keempat, Dasbor Anggota
Keluarga & Tanggungan (Dependents): Kepala keluarga dapat melihat dokumen
digital milik anak, istri, orang tua yang dirawat, bahkan asisten rumah
tangga yang terdaftar secara resmi di bawah tanggungannya. Kelima, Izin Ibadah &
Haji (Nusuk Integration): Terintegrasi langsung untuk mengunduh Kartu Nusuk
Digital bagi warga atau pengunjung yang hendak melakukan umrah atau haji. Kontroversi Global dan
Kepuasan Domestik Di panggung
internasional, kepemimpinan MBS memang kerap diwarnai narasi kontras. Isu-isu
hak asasi manusia dan tindakan keras terhadap oposisi politik sering kali
menjadi sorotan utama media Barat. Namun, di dalam negeri, realitas
sosiologis menunjukkan dinamika yang sangat berbeda. Bagi mayoritas warga
Saudi—terutama generasi muda yang mencakup lebih dari 60% populasi—MBS
dipandang sebagai sosok reformator visioner yang berani membongkar sistem
konservatif lama yang kaku. Kepuasan masyarakat yang tinggi ini tidak tumbuh
di ruang hampa, melainkan ditopang oleh dua faktor utama: kemajuan ekonomi
yang riil dan peningkatan kualitas hidup. Coba kita tengok data
statistik terbaru dari hasil reformasi Vision 2030: Pertama, Diversifikasi
Ekonomi Riil: Laporan ekonomi mencatat bahwa ekonomi non-migas kini telah
menyumbang sekitar 55% dari PDB Saudi, tumbuh tangguh sebesar 4,9%. Ini
membuktikan keberhasilan Saudi perlahan melepaskan diri dari ketergantungan
absolut pada minyak. Kedua, Penurunan
Pengangguran: Angka pengangguran warga lokal berhasil ditekan hingga ke level
7,2%, turun drastis dari angka 12,3% pada tahun 2016 saat Vision 2030 pertama
kali dicanangkan. Ketiga, Indeks Kepuasan
Publik: Arab Saudi secara konsisten menempati posisi atas regional dalam
World Happiness Report. Sementara itu, pengukuran kepuasan publik oleh
instansi independen dan badan kinerja publik pemerintah (Adaa) mencatat
tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas layanan digital berada di atas
90%. Reformasi sosial seperti
pemberian hak mengemudi bagi perempuan, pembukaan ruang-ruang kreasi seni,
budaya, hingga sektor pariwisata terpadu, dipandang warga sebagai pemenuhan
hak-hak sipil dasar yang selama puluhan tahun terkungkung. Menatap Masa Depan Saudi Ke depan, Arab Saudi di
bawah cetak biru Vision 2030 sedang bertransisi menuju fase ketiga:
memantapkan diri sebagai pusat logistik, investasi global, dan teknologi
ramah lingkungan (melalui proyek ambisius seperti NEOM dan inisiatif energi
terbarukan). Namun, jalan ke depan
tidaklah tanpa kerikil. Arab Saudi harus mampu menjaga stabilitas kawasan
Timur Tengah yang kerap bergejolak, mengelola transisi energi global, serta
membuktikan bahwa proyek-proyek megaproyek raksasa mereka dapat menghasilkan
imbal balik ekonomi (return on investment) yang berkelanjutan secara jangka
panjang. Bagi MBS, tantangan
terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara modernisasi ekonomi yang
bergerak secepat kilat dengan adaptasi struktural institusi politiknya agar
tetap akomodatif dan stabil tanpa memicu friksi sosial yang tajam. Cermin Besar untuk
Indonesia Melihat apa yang terjadi
di sepanjang jalan Makkah-Jeddah dan di penjuru kota-kota Saudi saat ini,
Indonesia harus mengambil pelajaran penting. Pertama, keberanian
politik (political will) untuk integrasi data. Indonesia hari ini masih
menghadapi masalah klasik: aplikasi pelayanan publik yang terfragmentasi di
setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah (ego sektoral). Saudi
mengajarkan bahwa satu super-app nasional yang mengintegrasikan data
kependudukan, kesehatan, hingga pos bantuan sosial serta tunjangan pensiun
jauh lebih efektif dibanding ribuan aplikasi parsial yang membingungkan warga
dan memboroskan anggaran negara. Dengan satu data terintegrasi, fenomena
salah sasaran bansos bisa diminimalkan. Kedua, digitalisasi yang
memanusiakan. Digitalisasi di Saudi tidak melahirkan eksklusi sosial.
Sebaliknya, ia mempermudah kelompok rentan—seperti fakir miskin yang
kesulitan akses, atau lansia di pelosok—untuk mendapatkan hak layanan
kesehatan gratis dan jaminan dana tunai bulanan langsung ke kantong mereka
tanpa perantara birokratis.Indonesia, dengan bentang geografis kepulauan yang
luar biasa luas, sangat membutuhkan model pelayanan jemput bola dan skema
distribusi bantuan berbasis data presisi seperti ini untuk mengatasi
ketimpangan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Revolusi digital bukan
sekadar tentang seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan
seberapa besar teknologi tersebut mampu memuliakan kehidupan manusia yang
paling membutuhkan bantuan. Dari aspal mulus antara Makkah dan Jeddah, Arab
Saudi telah membuktikan bahwa perubahan radikal ke arah yang lebih baik itu
sangat mungkin dilakukan jika ada visi yang jelas, eksekusi yang tegas, dan
keberanian untuk mendobrak cara-cara lama. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar