|
Dari Paradigma Kemenangan Menuju Paradigma Koeksistensi Azis Subekti
: Pendiri Serikat Masyarakat Produktif
Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra. |
REPUBLIKA, 26 Juli 2026
|
Ada sebuah ironi besar dalam sejarah manusia yang jarang kita sadari.
Kita tidak pernah sedekat ini satu sama lain. Namun kita juga tidak pernah
semudah ini saling menghancurkan. Sebuah pesan yang dikirim dari Riyadh dapat tiba di New York dalam
hitungan detik. Sebuah transaksi di Shanghai dapat memengaruhi harga pangan
di Afrika. Sebuah gangguan di Selat Hormuz dapat mengguncang pasar energi
dunia. Sebuah serangan siber di satu negara dapat melumpuhkan sistem keuangan
negara lain yang berjarak ribuan kilometer. Untuk pertama kalinya dalam
sejarah, umat manusia hidup sebagai satu sistem yang saling terhubung. Tetapi secara psikologis, kita masih sering berpikir seperti suku.
Kita masih membagi dunia ke dalam “kami” dan “mereka”. Kita masih mengukur
keberhasilan melalui kemenangan atas pihak lain. Kita masih memandang konflik
sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dengan mengalahkan lawan. Dan mungkin di sinilah letak pertanyaan terbesar abad ke-21. Bukan
siapa yang akan menjadi negara terkuat. Bukan siapa yang akan menguasai
teknologi paling canggih. Bukan pula siapa yang akan memenangkan perang
berikutnya. Melainkan apakah manusia mampu menyesuaikan cara berpikirnya dengan
dunia yang telah berhasil ia ciptakan sendiri. Jika kita melihat sejarah dalam rentang yang sangat panjang, ada satu
pola yang terus berulang. Peradaban manusia tumbuh karena kemampuan
memperluas lingkaran kerja sama. Pada awalnya, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Keluarga
adalah dunia. Di luar keluarga adalah ancaman. Kemudian manusia membentuk suku. Lingkaran kerja sama menjadi lebih
besar. Namun di luar suku tetap dianggap musuh. Lalu lahirlah kerajaan. Berbagai suku yang sebelumnya saling berperang dipersatukan di bawah
satu kekuasaan. Setelah itu muncul negara bangsa. Jutaan manusia yang tidak pernah saling mengenal bersedia hidup di
bawah satu konstitusi, satu mata uang, satu identitas politik. Dalam rentang yang panjang perjalanan sejarah, sebagian besar
paradigma kemenangan memang masuk akal. Ketika sumber daya terbatas dan hubungan antarkelompok relatif
terpisah, kemenangan sering menjadi syarat bertahan hidup. Kerajaan
memperluas wilayahnya untuk mengamankan pangan. Imperium menguasai jalur perdagangan untuk memperbesar kemakmuran.
Bangsa membangun kekuatan militer untuk menjaga kedaulatan. Dalam dunia seperti itu, keamanan diperoleh melalui dominasi. Semakin
besar kekuatan, semakin besar peluang bertahan hidup. Namun abad ke-21
memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Kekuatan masih penting. Tetapi
kemenangan menjadi semakin sulit didefinisikan. Amerika Serikat adalah kekuatan terbesar dunia, tetapi tidak dapat
memaksakan kehendaknya kepada seluruh sistem internasional. Tiongkok bangkit menjadi raksasa ekonomi, tetapi tidak dapat
menggantikan dunia yang saling bergantung dengan sistem yang sepenuhnya
dikendalikannya. Rusia dan Ukraina menunjukkan bahwa perang modern dapat berlangsung
lama tanpa menghasilkan kemenangan yang benar-benar menentukan. Iran dan Israel memperlihatkan bahwa kemampuan saling melukai tidak
otomatis menghasilkan kemampuan menghilangkan ancaman. Semua pihak dapat menyerang. Tetapi semakin sedikit pihak yang mampu
menang secara mutlak. Penyebabnya bukan semata-mata politik. Penyebabnya
adalah perubahan struktur peradaban itu sendiri. Teknologi yang dahulu membantu manusia memenangkan perang kini justru
memperbesar biaya kemenangan. Dalam perspektif sejarah, ini adalah lompatan yang luar biasa. Karena
sesungguhnya peradaban bukanlah kisah tentang perang. Peradaban adalah kisah tentang kemampuan manusia memperluas definisi
“kita”. Dari keluarga menjadi suku. Dari suku menjadi kerajaan. Dari kerajaan
menjadi bangsa. Dari bangsa menuju komunitas yang semakin besar. Setiap lompatan peradaban terjadi ketika manusia berhasil memperluas
lingkaran kerja sama lebih cepat daripada lingkaran konfliknya. Namun setiap kemajuan selalu melahirkan paradoks baru. Keberhasilan
manusia membangun dunia modern menciptakan sebuah kenyataan yang belum pernah
dihadapi generasi-generasi sebelumnya. Institusi manusia telah menjadi global. Tetapi psikologi manusianya
masih sangat tribal. Ekonomi telah terhubung melampaui batas negara. Teknologi telah menghubungkan miliaran manusia dalam satu jaringan.
Informasi bergerak tanpa mengenal paspor. Modal berpindah tanpa mengenal
bendera. Data mengalir melintasi batas geografis. Kecerdasan buatan mulai
mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan mengambil keputusan. Namun pada saat yang sama, naluri dasar manusia masih sering bergerak
dalam pola lama. Pola kemenangan dan kekalahan. Pola dominasi dan
subordinasi. Pola kawan dan lawan. Kita hidup dalam dunia yang semakin terintegrasi, tetapi membawa
perangkat psikologis yang dibentuk oleh ribuan tahun kompetisi antarkelompok. Inilah mungkin kontradiksi terbesar peradaban modern. Drone murah dapat menyerang fasilitas bernilai miliaran dolar. Serangan
siber dapat melumpuhkan infrastruktur tanpa satu peluru pun ditembakkan. Disinformasi dapat mengacaukan stabilitas sosial tanpa harus melintasi
perbatasan. Rantai pasok global membuat gangguan di satu wilayah memengaruhi
kehidupan masyarakat di wilayah lain. Pasar keuangan menghubungkan nasib negara-negara yang bahkan tidak
memiliki kedekatan hubungan politik. Dalam kondisi seperti ini, kemenangan militer dapat berubah menjadi
kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis dapat melahirkan kerugian strategis. Dan dominasi sering kali menghasilkan ketidakstabilan yang pada
akhirnya merugikan semua pihak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kemampuan menghancurkan
berkembang lebih cepat daripada kemampuan mengendalikan konsekuensi
penghancuran itu sendiri. Karena itu, dunia mulai bergerak ke arah yang berbeda. Bukan menuju
dunia tanpa konflik. Melainkan menuju dunia yang semakin dipaksa mengelola
konflik. Ini perbedaan yang sangat penting. Koeksistensi bukanlah akhir
persaingan. Ia bukan utopia yang menghapus perbedaan. Ia bukan pula proyek idealistik yang mengandaikan semua manusia akan
saling mencintai. Koeksistensi adalah kesadaran bahwa keberlanjutan lebih penting
daripada kemenangan sesaat. Bahwa persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran
bersama. Bahwa lawan tidak selalu dapat dihilangkan. Tetapi dapat diatur
dalam suatu tatanan yang memungkinkan semua pihak tetap hidup. Dalam pengertian inilah koeksistensi menjadi bentuk kedewasaan baru
dalam sejarah peradaban. Pelajaran ini sebenarnya pernah muncul sebelumnya. Setelah dua perang dunia yang menghancurkan Eropa, negara-negara yang
selama berabad-abad saling bermusuhan memilih jalan yang tidak pernah
dibayangkan sebelumnya. Mereka tidak membangun perdamaian di atas cinta. Mereka membangunnya
di atas keterikatan. Batu bara dihubungkan. Baja dihubungkan.Ekonomi
dihubungkan. Institusi dihubungkan. Mereka menciptakan kondisi di mana perang menjadi terlalu mahal untuk
dilakukan. Dari situlah lahir salah satu eksperimen politik paling ambisius
dalam sejarah modern. Bukan kemenangan satu negara atas negara lain. Melainkan kemenangan
sebuah gagasan: bahwa kerja sama dapat menjadi instrumen keamanan yang lebih
efektif daripada dominasi. Kini pelajaran yang sama muncul dalam skala yang jauh lebih besar.
Perubahan iklim tidak dapat dikalahkan oleh satu negara. Pandemi tidak dapat
dihentikan oleh satu negara. Keamanan siber tidak dapat dijaga oleh satu
negara. Kecerdasan buatan tidak dapat diatur oleh satu negara. Tidak ada
tembok yang cukup tinggi untuk menghentikan karbon. Tidak ada kapal induk
yang dapat memblokade algoritma. Tidak ada rudal yang dapat mengalahkan
pandemi. Tantangan terbesar abad ke-21 adalah tantangan yang secara alamiah
melampaui batas-batas politik yang dibangun manusia. Dan karena itu, mereka menuntut bentuk kerja sama yang belum pernah
diperlukan sebelumnya. Namun tantangan terbesar sesungguhnya bukan teknologi. Bukan ekonomi.
Bukan geopolitik. Tantangan terbesar adalah kemampuan manusia beradaptasi dengan skala
peradabannya sendiri. Selama ribuan tahun, manusia berhasil memperluas lingkaran kerja
samanya. Tetapi hari ini kita berada pada titik ketika perluasan berikutnya
menjadi jauh lebih sulit. Karena yang harus diperluas bukan lagi wilayah. Bukan lagi pasar.
Bukan lagi kekuasaan. Melainkan kesadaran. Kesadaran bahwa dalam dunia yang saling terhubung, nasib manusia
semakin sulit dipisahkan satu sama lain. Kesadaran bahwa keamanan tidak lagi
dapat dibangun hanya melalui rasa takut. Kesadaran bahwa stabilitas tidak
lagi dapat dipertahankan hanya melalui dominasi. Dan kesadaran bahwa keberlangsungan hidup bersama mungkin akan menjadi
ukuran keberhasilan yang lebih penting daripada kemenangan sepihak. Mungkin inilah ujian terbesar yang pernah dihadapi spesies manusia.
Bukan apakah kita mampu menciptakan teknologi yang lebih canggih. Bukan
apakah kita mampu membangun ekonomi yang lebih besar. Bukan apakah kita mampu
memenangkan perang berikutnya. Melainkan apakah kita mampu memperluas makna “kita” lebih cepat
daripada kemampuan kita menghancurkan satu sama lain. Karena jika sejarah ribuan tahun terakhir adalah kisah tentang
perluasan lingkaran kerja sama manusia, maka abad ke-21 mungkin akan
menentukan apakah perjalanan itu akan terus berlanjut menuju peradaban yang
lebih matang, atau berhenti tepat ketika umat manusia akhirnya menjadi
terlalu kuat untuk hidup dengan cara berpikir yang lama. Dan mungkin, ketika generasi mendatang menoleh ke masa kita hari ini,
mereka tidak akan bertanya negara mana yang paling kuat, ekonomi mana yang
paling besar, atau perang mana yang dimenangkan. Mereka akan bertanya sesuatu yang jauh lebih sederhana. Ketika manusia akhirnya memiliki kekuatan untuk memengaruhi nasib
seluruh planet, apakah mereka juga memiliki kebijaksanaan yang cukup untuk
hidup bersama di atasnya? ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar