Minggu, 09 Agustus 2026

 

Dari Paradigma Kemenangan Menuju Paradigma Koeksistensi

Azis Subekti :  Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA, 26 Juli 2026

 

 

 

Ada sebuah ironi besar dalam sejarah manusia yang jarang kita sadari. Kita tidak pernah sedekat ini satu sama lain. Namun kita juga tidak pernah semudah ini saling menghancurkan.

 

Sebuah pesan yang dikirim dari Riyadh dapat tiba di New York dalam hitungan detik. Sebuah transaksi di Shanghai dapat memengaruhi harga pangan di Afrika. Sebuah gangguan di Selat Hormuz dapat mengguncang pasar energi dunia.

 

Sebuah serangan siber di satu negara dapat melumpuhkan sistem keuangan negara lain yang berjarak ribuan kilometer. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat manusia hidup sebagai satu sistem yang saling terhubung.

 

Tetapi secara psikologis, kita masih sering berpikir seperti suku. Kita masih membagi dunia ke dalam “kami” dan “mereka”. Kita masih mengukur keberhasilan melalui kemenangan atas pihak lain. Kita masih memandang konflik sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dengan mengalahkan lawan.

 

Dan mungkin di sinilah letak pertanyaan terbesar abad ke-21. Bukan siapa yang akan menjadi negara terkuat. Bukan siapa yang akan menguasai teknologi paling canggih. Bukan pula siapa yang akan memenangkan perang berikutnya.

 

Melainkan apakah manusia mampu menyesuaikan cara berpikirnya dengan dunia yang telah berhasil ia ciptakan sendiri.

 

Jika kita melihat sejarah dalam rentang yang sangat panjang, ada satu pola yang terus berulang. Peradaban manusia tumbuh karena kemampuan memperluas lingkaran kerja sama.

 

Pada awalnya, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Keluarga adalah dunia. Di luar keluarga adalah ancaman.

 

Kemudian manusia membentuk suku. Lingkaran kerja sama menjadi lebih besar. Namun di luar suku tetap dianggap musuh. Lalu lahirlah kerajaan.

 

Berbagai suku yang sebelumnya saling berperang dipersatukan di bawah satu kekuasaan. Setelah itu muncul negara bangsa.

 

Jutaan manusia yang tidak pernah saling mengenal bersedia hidup di bawah satu konstitusi, satu mata uang, satu identitas politik.

 

Dalam rentang yang panjang perjalanan sejarah, sebagian besar paradigma kemenangan memang masuk akal.

 

Ketika sumber daya terbatas dan hubungan antarkelompok relatif terpisah, kemenangan sering menjadi syarat bertahan hidup. Kerajaan memperluas wilayahnya untuk mengamankan pangan.

 

Imperium menguasai jalur perdagangan untuk memperbesar kemakmuran. Bangsa membangun kekuatan militer untuk menjaga kedaulatan.

 

Dalam dunia seperti itu, keamanan diperoleh melalui dominasi. Semakin besar kekuatan, semakin besar peluang bertahan hidup. Namun abad ke-21 memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Kekuatan masih penting. Tetapi kemenangan menjadi semakin sulit didefinisikan.

 

Amerika Serikat adalah kekuatan terbesar dunia, tetapi tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada seluruh sistem internasional.

 

Tiongkok bangkit menjadi raksasa ekonomi, tetapi tidak dapat menggantikan dunia yang saling bergantung dengan sistem yang sepenuhnya dikendalikannya.

 

Rusia dan Ukraina menunjukkan bahwa perang modern dapat berlangsung lama tanpa menghasilkan kemenangan yang benar-benar menentukan.

 

Iran dan Israel memperlihatkan bahwa kemampuan saling melukai tidak otomatis menghasilkan kemampuan menghilangkan ancaman.

 

Semua pihak dapat menyerang. Tetapi semakin sedikit pihak yang mampu menang secara mutlak. Penyebabnya bukan semata-mata politik. Penyebabnya adalah perubahan struktur peradaban itu sendiri.

 

Teknologi yang dahulu membantu manusia memenangkan perang kini justru memperbesar biaya kemenangan.

 

Dalam perspektif sejarah, ini adalah lompatan yang luar biasa. Karena sesungguhnya peradaban bukanlah kisah tentang perang.

 

Peradaban adalah kisah tentang kemampuan manusia memperluas definisi “kita”. Dari keluarga menjadi suku. Dari suku menjadi kerajaan. Dari kerajaan menjadi bangsa. Dari bangsa menuju komunitas yang semakin besar.

 

Setiap lompatan peradaban terjadi ketika manusia berhasil memperluas lingkaran kerja sama lebih cepat daripada lingkaran konfliknya.

 

Namun setiap kemajuan selalu melahirkan paradoks baru. Keberhasilan manusia membangun dunia modern menciptakan sebuah kenyataan yang belum pernah dihadapi generasi-generasi sebelumnya.

 

Institusi manusia telah menjadi global. Tetapi psikologi manusianya masih sangat tribal. Ekonomi telah terhubung melampaui batas negara.

 

Teknologi telah menghubungkan miliaran manusia dalam satu jaringan. Informasi bergerak tanpa mengenal paspor. Modal berpindah tanpa mengenal bendera.

 

Data mengalir melintasi batas geografis. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan mengambil keputusan.

 

Namun pada saat yang sama, naluri dasar manusia masih sering bergerak dalam pola lama. Pola kemenangan dan kekalahan. Pola dominasi dan subordinasi. Pola kawan dan lawan.

 

Kita hidup dalam dunia yang semakin terintegrasi, tetapi membawa perangkat psikologis yang dibentuk oleh ribuan tahun kompetisi antarkelompok.

 

Inilah mungkin kontradiksi terbesar peradaban modern.

 

Drone murah dapat menyerang fasilitas bernilai miliaran dolar. Serangan siber dapat melumpuhkan infrastruktur tanpa satu peluru pun ditembakkan.

 

Disinformasi dapat mengacaukan stabilitas sosial tanpa harus melintasi perbatasan. Rantai pasok global membuat gangguan di satu wilayah memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah lain.

 

Pasar keuangan menghubungkan nasib negara-negara yang bahkan tidak memiliki kedekatan hubungan politik.

 

Dalam kondisi seperti ini, kemenangan militer dapat berubah menjadi kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis dapat melahirkan kerugian strategis.

 

Dan dominasi sering kali menghasilkan ketidakstabilan yang pada akhirnya merugikan semua pihak.

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kemampuan menghancurkan berkembang lebih cepat daripada kemampuan mengendalikan konsekuensi penghancuran itu sendiri.

 

Karena itu, dunia mulai bergerak ke arah yang berbeda. Bukan menuju dunia tanpa konflik. Melainkan menuju dunia yang semakin dipaksa mengelola konflik.

 

Ini perbedaan yang sangat penting. Koeksistensi bukanlah akhir persaingan. Ia bukan utopia yang menghapus perbedaan.

 

Ia bukan pula proyek idealistik yang mengandaikan semua manusia akan saling mencintai.

 

Koeksistensi adalah kesadaran bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kemenangan sesaat.

 

Bahwa persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama. Bahwa lawan tidak selalu dapat dihilangkan. Tetapi dapat diatur dalam suatu tatanan yang memungkinkan semua pihak tetap hidup.

 

Dalam pengertian inilah koeksistensi menjadi bentuk kedewasaan baru dalam sejarah peradaban. Pelajaran ini sebenarnya pernah muncul sebelumnya.

 

Setelah dua perang dunia yang menghancurkan Eropa, negara-negara yang selama berabad-abad saling bermusuhan memilih jalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

 

Mereka tidak membangun perdamaian di atas cinta. Mereka membangunnya di atas keterikatan. Batu bara dihubungkan. Baja dihubungkan.Ekonomi dihubungkan. Institusi dihubungkan.

 

Mereka menciptakan kondisi di mana perang menjadi terlalu mahal untuk dilakukan. Dari situlah lahir salah satu eksperimen politik paling ambisius dalam sejarah modern.

 

Bukan kemenangan satu negara atas negara lain. Melainkan kemenangan sebuah gagasan: bahwa kerja sama dapat menjadi instrumen keamanan yang lebih efektif daripada dominasi.

 

Kini pelajaran yang sama muncul dalam skala yang jauh lebih besar. Perubahan iklim tidak dapat dikalahkan oleh satu negara. Pandemi tidak dapat dihentikan oleh satu negara. Keamanan siber tidak dapat dijaga oleh satu negara.

 

Kecerdasan buatan tidak dapat diatur oleh satu negara. Tidak ada tembok yang cukup tinggi untuk menghentikan karbon. Tidak ada kapal induk yang dapat memblokade algoritma. Tidak ada rudal yang dapat mengalahkan pandemi.

 

Tantangan terbesar abad ke-21 adalah tantangan yang secara alamiah melampaui batas-batas politik yang dibangun manusia.

 

Dan karena itu, mereka menuntut bentuk kerja sama yang belum pernah diperlukan sebelumnya.

 

Namun tantangan terbesar sesungguhnya bukan teknologi. Bukan ekonomi. Bukan geopolitik.

 

Tantangan terbesar adalah kemampuan manusia beradaptasi dengan skala peradabannya sendiri.

 

Selama ribuan tahun, manusia berhasil memperluas lingkaran kerja samanya. Tetapi hari ini kita berada pada titik ketika perluasan berikutnya menjadi jauh lebih sulit.

 

Karena yang harus diperluas bukan lagi wilayah. Bukan lagi pasar. Bukan lagi kekuasaan. Melainkan kesadaran.

 

Kesadaran bahwa dalam dunia yang saling terhubung, nasib manusia semakin sulit dipisahkan satu sama lain. Kesadaran bahwa keamanan tidak lagi dapat dibangun hanya melalui rasa takut. Kesadaran bahwa stabilitas tidak lagi dapat dipertahankan hanya melalui dominasi.

 

Dan kesadaran bahwa keberlangsungan hidup bersama mungkin akan menjadi ukuran keberhasilan yang lebih penting daripada kemenangan sepihak.

 

Mungkin inilah ujian terbesar yang pernah dihadapi spesies manusia. Bukan apakah kita mampu menciptakan teknologi yang lebih canggih. Bukan apakah kita mampu membangun ekonomi yang lebih besar. Bukan apakah kita mampu memenangkan perang berikutnya.

 

Melainkan apakah kita mampu memperluas makna “kita” lebih cepat daripada kemampuan kita menghancurkan satu sama lain.

 

Karena jika sejarah ribuan tahun terakhir adalah kisah tentang perluasan lingkaran kerja sama manusia, maka abad ke-21 mungkin akan menentukan apakah perjalanan itu akan terus berlanjut menuju peradaban yang lebih matang, atau berhenti tepat ketika umat manusia akhirnya menjadi terlalu kuat untuk hidup dengan cara berpikir yang lama.

 

Dan mungkin, ketika generasi mendatang menoleh ke masa kita hari ini, mereka tidak akan bertanya negara mana yang paling kuat, ekonomi mana yang paling besar, atau perang mana yang dimenangkan.

 

Mereka akan bertanya sesuatu yang jauh lebih sederhana.

 

Ketika manusia akhirnya memiliki kekuatan untuk memengaruhi nasib seluruh planet, apakah mereka juga memiliki kebijaksanaan yang cukup untuk hidup bersama di atasnya?

 

Sumber :  https://analisis.republika.co.id/berita/tis0j5320/dari-paradigma-kemenangan-menuju-paradigma-koeksistensi-part6

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar