|
KICK OFF TIGA INOVASI DUNIA ENERGI DI INDONESIA - Minyak
Non-Konvensional, Natural Hidrogen, PHE Community Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 11 Agustus 2026
|
Sebuah
inovasi energi yang berhasil dapat mengubah wajah negara. Ia dapat mengubah
kelangkaan menjadi kelimpahan, ketergantungan menjadi kemandirian, bahkan
menggeser posisi sebuah bangsa dalam percaturan dunia. Amerika
Serikat pernah mengalami masa ketika mobil mengantre hampir delapan kilometer
hanya untuk mendapatkan bensin. Februari 1974, krisis minyak sedang
mengguncang negeri adidaya itu. Di
Maryland, antrean kendaraan mengular begitu panjang. Perkelahian terjadi.
Sebagian pemilik pompa bensin bahkan membawa senjata untuk menjaga tempat
usahanya dari kemungkinan kerusuhan dan penjarahan. Sulit
membayangkan pemandangan itu terjadi di Amerika Serikat, negara dengan
kekuatan ekonomi dan militer terbesar dunia. Tetapi energi mempunyai hukum
yang tidak mengenal status negara. Negara
sebesar apa pun dapat menjadi rapuh ketika energi menjadi langka. Minyak
bukan sekadar komoditas, melainkan darah yang mengalir melalui industri,
transportasi, ekonomi, bahkan keamanan nasional. Tiga
dekade kemudian, persoalan Amerika belum selesai. Pada pertengahan 2000-an,
produksi minyak mentah Amerika hanya sekitar lima juta barel per hari,
sementara ketergantungannya terhadap petroleum impor sangat tinggi. Lalu
sesuatu berubah. Bukan buminya, bukan luas negaranya, bukan pula karena
Amerika memperoleh wilayah baru yang penuh minyak. Yang berubah adalah
kemampuan manusia membaca bumi. Datanglah
revolusi shale. Perpaduan hydraulic fracturing, horizontal drilling, dan
pemetaan geologi membuat hidrokarbon yang sebelumnya terperangkap dalam
batuan rapat dapat diproduksikan secara ekonomis. Hasilnya
mencengangkan. Pada 2024, produksi minyak mentah Amerika mencapai rata-rata
13,2 juta barel per hari, dibandingkan sekitar lima juta barel per hari pada
pertengahan 2000-an. Produksinya
meningkat hampir tiga kali lipat. Amerika kemudian menjadi produsen minyak
mentah terbesar dunia, sebuah transformasi yang beberapa dekade sebelumnya
mungkin terdengar seperti fantasi energi. Hebatnya
sebuah inovasi energi yang berhasil. Ia tidak menciptakan minyak baru di
dalam bumi. Ia menciptakan kemungkinan baru dari sesuatu yang sebelumnya
dianggap tidak mungkin. Batuan
yang kemarin dianggap tidak ekonomis, hari ini dapat menjadi kekayaan. Bumi
yang sama ternyata dapat menghasilkan nasib berbeda ketika ilmu pengetahuan
dan teknologi manusia berubah. -000- Tetapi
inovasi bukan jalan yang mudah. Kita biasanya melihat inovasi setelah
berhasil, ketika grafik produksi sudah menanjak dan nama penemunya mulai
ditulis dalam buku sejarah. Yang
jarang terlihat adalah tahun-tahun panjang ketika semuanya masih tampak
seperti kegagalan, ketika uang terus dikeluarkan sementara hasil besar belum
juga terlihat di depan mata. Kisah
shale Amerika adalah kisah seperti itu. Sejak awal 1980-an, George Mitchell
dan timnya mencoba membuat hidrokarbon dari Barnett Shale dapat mengalir
secara ekonomis. Mereka
mengebor, mencoba fracturing, lalu gagal. Mereka mengubah metode, memperbaiki
desain sumur, mengganti fluida, menghitung kembali biaya, kemudian melakukan
eksperimen baru. Begitu
berlangsung bertahun-tahun. Hampir dua dekade menjadi sebuah maraton panjang
eksperimen, kegagalan, pembelajaran, perbaikan, lalu keberanian untuk mencoba
sekali lagi. Bayangkan
suasana psikologisnya. Tahun demi tahun uang telah dikeluarkan, sumur telah
dibor, berbagai hipotesis telah diuji, tetapi keberhasilan besar yang
dijanjikan belum datang. Pada
titik seperti itu, pertanyaannya bukan lagi hanya mengenai teknologi.
Pertanyaannya menjadi sangat manusiawi: sampai kapan kita masih harus mencoba
dan terus menanggung kegagalan? Ada
masa ketika ketekunan terlihat seperti kebodohan. Ada masa ketika seorang
inovator tampak hanya sebagai manusia keras kepala yang tidak memahami kapan
seharusnya berhenti. Tetapi
George Mitchell terus mencoba. Slickwater fracturing akhirnya membuat proses
semakin ekonomis, sementara horizontal drilling memperluas kontak antara
sumur dengan batuan yang mengandung hidrokarbon. Ketika
teknologi, geologi, dan keekonomian akhirnya bertemu pada titik yang tepat,
sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap terlalu sulit berubah menjadi
sebuah revolusi energi. Di
situlah pelajaran terbesar shale Amerika. Inovasi bukan hanya cerita mengenai
kecerdasan menemukan sesuatu yang baru. Inovasi juga cerita mengenai daya
tahan menghadapi kegagalan. Sebuah
gagasan besar sering terlihat seperti pemborosan sebelum berhasil. Tetapi
setelah berhasil, bahasa dunia berubah: kegagalan disebut eksperimen,
pengeluaran disebut investasi, dan keras kepala disebut visi. -000- KINI GILIRAN INDONESIA Hari
ini giliran Indonesia mencoba. Kita tidak mengetahui apakah perjalanan kita
kelak akan sebesar revolusi shale Amerika. Tidak ada seorang pun yang dapat
memberikan jaminan itu. Justru
karena tidak ada jaminan, inovasi harus dikerjakan dengan disiplin: bermimpi
besar, memulai terukur, menguji dengan data, belajar cepat, dan menghentikan
sesuatu yang tidak terbukti. Indonesia
memiliki 128 cekungan migas. Sebanyak 68 cekungan di antaranya belum pernah
dieksplorasi, sebuah wilayah ketidaktahuan yang sekaligus menyimpan
kemungkinan bagi masa depan energi Indonesia. Saya
membayangkan bentang geologi dari Aceh hingga Papua seperti perpustakaan
raksasa di bawah tanah, menyimpan berjuta halaman sejarah bumi yang belum
seluruhnya pernah kita baca. Sebagian
bukunya sudah menghasilkan minyak dan gas. Sebagian baru kita buka halaman
pertamanya. Sebagian lainnya mungkin bahkan belum pernah disentuh oleh
generasi kita. Di
tengah kebutuhan meningkatkan kemandirian energi, PHE melakukan kick off tiga
ikhtiar: Minyak Non-Konvensional, Natural Hidrogen, dan PHE Community sebagai
ekosistem inovasi. Yang
pertama membuka sumber daya lama dengan teknologi baru. Yang kedua
menjelajahi kemungkinan energi baru. Yang ketiga menghubungkan manusia agar
gagasan baru lebih cepat menemukan jalannya. Tiga
jalan itu berbeda, tetapi semangatnya sama: jangan hanya mengelola apa yang
diwariskan masa lalu. Mulailah menciptakan sesuatu yang dapat diwariskan
kepada masa depan. SATU: MINYAK NON-KONVENSIONAL Indonesia
telah memproduksi minyak selama lebih dari satu abad. Namun sebagian besar
perjalanan itu bertumpu pada minyak konvensional yang reservoirnya relatif
lebih mudah ditemukan dan diproduksikan. Pertanyaannya
kini berbeda: bagaimana jika kekayaan energi berikutnya justru tersimpan
dalam batuan yang selama ini dianggap terlalu rapat, terlalu sulit, atau
terlalu mahal diproduksikan? Itulah
peluang minyak dan gas non-konvensional. Pengalaman Amerika menunjukkan bahwa
batuan yang hari ini dianggap tidak ekonomis belum tentu selamanya tidak
ekonomis. Tetapi
tantangannya besar. Geologi Indonesia bukan Texas. Formula Amerika tidak
dapat disalin begitu saja karena setiap batuan mempunyai karakter dan
persoalan keekonomian sendiri. Kita
harus menemukan sweet spot, meningkatkan produktivitas sumur, menurunkan
biaya, menyiapkan infrastruktur, serta memperpendek jarak antara pembuktian
geologi dan monetisasi komersial. Tantangannya
bukan sekadar membuktikan bahwa minyak berada di bawah tanah. Kita harus
membuktikan bahwa minyak tersebut dapat mengalir dengan biaya yang masuk
akal. Jika
berhasil, kita sesungguhnya tidak menemukan bumi baru. Kita menemukan nilai
baru dari bumi yang selama ini sudah kita miliki, tetapi belum mampu kita
manfaatkan sepenuhnya. DUA: NATURAL HIDROGEN Ikhtiar
kedua membawa kita menuju frontier yang bahkan lebih baru: natural hydrogen,
hidrogen yang terbentuk secara alamiah di bawah permukaan bumi melalui
berbagai proses geologi. Indonesia
mempunyai alasan untuk mulai melihatnya dengan serius. Survei Badan Geologi
di Sulawesi Tengah telah menemukan indikasi rembesan hidrogen alami yang
menarik untuk diteliti lebih jauh. Tetapi
kita harus disiplin terhadap kata potensi. Indikasi bukan cadangan, cadangan
belum tentu ekonomis, dan sesuatu yang menarik secara geologi belum tentu
menjadi industri. Karena
itu, tugas kita bukan mengumumkan kemenangan terlalu dini. Tugas kita adalah
mencari, memetakan, mengukur, mengebor, menguji, kemudian membiarkan data
memberikan jawabannya. Mungkin
natural hydrogen kelak menjadi salah satu sumber energi penting Indonesia.
Mungkin pula penelitian panjang menunjukkan bahwa sebagian potensinya tidak
cukup ekonomis untuk dikembangkan. Tetapi
jika dunia sedang membuka sebuah frontier energi baru, Indonesia tidak
seharusnya hanya berdiri di pinggir jalan sambil menunggu keberhasilan bangsa
lain. Kita
harus ikut berada di laboratorium sejarah itu. Sebab bangsa yang terlambat
memasuki teknologi baru sering akhirnya harus membeli teknologi dari mereka
yang berani masuk lebih dahulu. TIGA: PHE COMMUNITY Ikhtiar
ketiga tidak berada ribuan meter di bawah permukaan bumi. Ia berada di antara
manusia, di tempat pengetahuan bertemu pengalaman dan pengalaman bertemu
keberanian bereksperimen. PHE
mempunyai geolog, engineer, peneliti, kampus, vendor, startup, investor,
regulator, media, dan generasi muda dengan pengalaman serta pengetahuan yang
sangat beragam. Masalahnya,
pengetahuan yang tidak terhubung sering berhenti menjadi serpihan. Gagasan
yang tidak menemukan jaringan dapat mati sebelum sempat diuji dan membuktikan
kemungkinan yang dikandungnya. Bayangkan
seorang engineer di Rokan menghadapi persoalan yang pernah diselesaikan
engineer di Kalimantan, tetapi keduanya tidak mengetahui pengalaman
masing-masing karena pengetahuan tidak pernah dipertemukan. Bayangkan
pula kampus mempunyai teori, vendor mempunyai teknologi, PHE mempunyai data,
startup mempunyai keberanian bereksperimen, sementara investor memahami
risiko dan jalan menuju skala komersial. Masing-masing
memiliki potongan puzzle. Tetapi gambar besarnya baru terlihat ketika
potongan itu dipertemukan, diuji bersama, diperdebatkan, diperbaiki, kemudian
diarahkan kepada persoalan nyata. Itulah
PHE Community. Ia bukan sekadar forum, grup WhatsApp, atau kalender seminar
baru. Ia harus menjadi pasar gagasan sekaligus laboratorium kolaborasi. Dari
sana harus lahir problem bank, riset bersama, innovation challenge, pilot
project, pertukaran pengetahuan, serta dokumentasi kegagalan yang dapat
menjadi bahan pembelajaran bersama. Sebab
kegagalan yang dibagikan dapat berubah menjadi pengetahuan. Sebaliknya,
kegagalan yang disembunyikan hanya membuat organisasi berisiko membayar
kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Teknologi
dapat dibeli dan peralatan dapat diimpor. Tetapi budaya inovasi tidak dapat
dipesan dari katalog mana pun. Ia harus ditumbuhkan melalui manusia dan
kepercayaan. -000- DUA BUKU UNTUK MEMAHAMI PERJALANAN INI Ada
dua buku yang membantu saya memahami mengapa tiga ikhtiar ini penting.
Keduanya berbicara mengenai inovasi dari sudut berbeda, tetapi justru karena
itu saling melengkapi. Buku
pertama, The Frackers karya Gregory Zuckerman, membawa kita ke belakang layar
revolusi shale Amerika dan memperlihatkan manusia-manusia yang bekerja
sebelum keberhasilan terlihat. Di
sana ada modal yang hilang, keputusan yang salah, perusahaan yang tertekan,
serta orang-orang yang ditertawakan karena mengejar sesuatu yang ketika itu
dianggap terlalu sulit. Pesannya
sederhana: sebelum sebuah inovasi menjadi arus utama, biasanya ada sekelompok
kecil manusia yang bersedia terlihat salah jauh lebih lama daripada
kebanyakan orang. Buku
kedua, Where Good Ideas Come From karya Steven Johnson, menunjukkan bahwa
gagasan besar jarang lahir dari seorang genius yang sepenuhnya bekerja
sendirian. Inovasi
sering lahir ketika gagasan bertemu gagasan, disiplin bertemu disiplin, dan
manusia yang memiliki masalah bertemu manusia lain yang memiliki teknologi. The
Frackers mengajarkan keberanian untuk mencoba. Where Good Ideas Come From
mengajarkan pentingnya ekosistem yang memungkinkan gagasan bergerak, bertemu,
berbenturan, lalu melahirkan kemungkinan baru. Kita
membutuhkan keduanya. Keberanian tanpa ekosistem mudah mati sendirian,
sementara ekosistem tanpa keberanian hanya menghasilkan banyak pertemuan dan
presentasi tanpa terobosan nyata. -000- Tentu
ada pertanyaan yang sah. Mengapa mengejar tiga frontier sekaligus ketika
produksi hari ini sendiri masih menghadapi tekanan, sementara bisnis energi
semakin kompleks dan mahal? Bukankah
minyak non-konvensional mahal? Bukankah natural hydrogen masih sangat awal?
Bukankah sebuah community mudah berubah menjadi seremoni dengan banyak
kegiatan tetapi sedikit hasil nyata? Kritik
itu benar jika kita memperlakukan ketiganya sebagai proyek raksasa yang
langsung harus berhasil, kemudian menggelontorkan investasi besar sebelum
memperoleh pembuktian teknis dan keekonomian. Tetapi
bukan itu makna kick off. Kick off adalah keputusan untuk mulai belajar
secara terstruktur, membeli pengetahuan melalui eksperimen, kemudian
memperbesar hanya sesuatu yang terbukti menjanjikan. Prinsipnya
sederhana: bermimpi besar, memulai kecil, mengukur ketat, dan belajar cepat.
Keberanian harus mempunyai pagar agar tidak berubah menjadi perjudian yang
mahal. Sebab
keberanian tanpa disiplin dapat menjadi perjudian. Tetapi disiplin tanpa
keberanian membuat sebuah institusi sangat pandai mengelola masa lalu sambil
perlahan kehilangan masa depan. Namun,
idealisme ini dipagari stage-gate system yang ketat: setiap tahap uji
eksperimen menuntut tolok ukur keekonomian yang jelas, sehingga alokasi modal
tetap rasional dan terukur sebelum melangkah ke skala komersial. -000- Saya
semakin percaya bahwa ada dua jenis pohon yang ditanam manusia. Ada pohon
yang kita tanam karena kita sendiri ingin menikmati buahnya ketika musim
panen tiba. Tetapi
ada pohon yang kita tanam karena suatu hari, ketika kita sudah tidak berada
di sana, seseorang yang tidak kita kenal mungkin membutuhkan tempat berteduh. Inovasi
adalah pohon jenis kedua. Mereka yang memulai belum tentu menikmati seluruh
hasilnya karena inovasi besar sering membutuhkan waktu lebih panjang daripada
satu masa kepemimpinan. George
Mitchell membutuhkan hampir dua puluh tahun untuk membantu membuka jalan
menuju revolusi shale, perjalanan panjang yang dipenuhi ketidakpastian,
eksperimen, kegagalan, dan harapan. Di
sepanjang perjalanan itu ada ribuan engineer, geolog, pekerja, ilmuwan,
investor, dan pembuat kebijakan yang namanya tidak pernah masuk ke dalam buku
sejarah. Tetapi
tanpa mereka, revolusi itu tidak pernah terjadi. Sejarah memang mengingat
beberapa nama, padahal perubahan besar hampir selalu merupakan kerja kolektif
banyak manusia. Sebagai
Komisaris Utama PHE, saya berkesempatan mengamati pemain energi dunia, dari
ADIPEC Abu Dhabi, Davos, CERAWeek dan OTC Houston, hingga TotalEnergies di
Paris. Dari
perjalanan itu, saya membawa pulang satu kegelisahan: dunia energi tidak
sedang duduk menunggu masa depan. Negara dan perusahaan besar sedang berlomba
menciptakan masa depan. Indonesia
jangan hanya menjadi penonton. Kita mempunyai bumi, manusia, pengalaman
panjang di dunia energi, serta kebutuhan besar untuk memperkuat kembali
kemandirian energi nasional. Yang
harus kita hidupkan adalah keberanian memasuki wilayah yang belum pasti,
sambil tetap membawa ilmu pengetahuan, disiplin ekonomi, tata kelola, dan
kerendahan hati terhadap data. -000- Bayangkan
Agustus 2056. Tiga puluh tahun telah berlalu. Anak-anak muda yang hari ini
bahkan belum lahir mungkin bekerja dalam industri energi Indonesia yang
sangat berbeda. Mungkin minyak non-konvensional telah menjadi bagian penting
produksi nasional, dan natural hydrogen berkembang menjadi industri yang pada
Agustus 2026 masih terdengar seperti kemungkinan jauh. Atau
mungkin sebagian eksperimen kita gagal. Kemungkinan itu harus diterima sejak
awal, sebab inovasi yang tidak menyediakan ruang bagi kegagalan sesungguhnya
bukan inovasi. Tetapi
kegagalan yang dikerjakan dengan ilmu pengetahuan tidak pernah sepenuhnya
sia-sia. Ia meninggalkan data, pengalaman, dan papan penunjuk bagi generasi
yang datang kemudian: jalan ini pernah dicoba dan ternyata buntu, gunakan
pengetahuan yang kami tinggalkan, lalu carilah jalan lain yang lebih
menjanjikan. Mungkin
suatu hari seseorang membuka arsip lama dan menemukan sebuah tanggal kecil,
ketika sekelompok manusia memutuskan bahwa Indonesia harus mulai mencari
kemungkinan energi yang baru. Tanggal
itu berada pada Agustus 2026. Bukan hari ketika kelimpahan energi ditemukan,
melainkan hari ketika kita memilih untuk mulai mencari dengan lebih berani. Kemandirian
energi tidak dimulai ketika sumur pertama menghasilkan minyak. Ia dimulai
jauh sebelumnya, ketika sebuah bangsa memutuskan untuk percaya kepada ilmu
pengetahuan. Warisan
terbesar generasi kita mungkin bukan berapa banyak energi yang berhasil kita
keluarkan dari bumi hari ini, melainkan berapa banyak kemungkinan baru yang
kita buka agar generasi setelah kita mempunyai pilihan yang lebih luas. Sebuah
inovasi energi yang berhasil dapat mengubah wajah negara. Amerika pernah
membuktikannya melalui shale. Kini Indonesia mulai mencoba melalui minyak
non-konvensional, natural hydrogen, dan PHE Community, tiga ikhtiar berbeda
yang dipersatukan oleh keberanian membuka kemungkinan baru. Dan
jika hari itu akhirnya datang, mungkin generasi masa depan membuka arsip
Agustus 2026 dan berkata sederhana: ternyata, perjalanan besar itu pernah
dimulai dari sini. ● REFERENSI
UTAMA 1.
Zuckerman, Gregory. The Frackers: The Outrageous Inside Story of the New
Billionaire Wildcatters. Portfolio/Penguin, 2013. 2.
Johnson, Steven. Where Good Ideas Come From: The Natural History of
Innovation. Riverhead Books, 2010. SUMBER
DATA DAN RUJUKAN 1.
U.S. Energy Information Administration (EIA). Data historis produksi minyak
mentah dan petroleum Amerika Serikat, termasuk perkembangan shale dan rekor
produksi minyak mentah Amerika. 2.
Smithsonian Magazine. Catatan sejarah krisis minyak Amerika Serikat
1973–1974, termasuk antrean kendaraan sekitar lima mil atau delapan kilometer
di Maryland. 3.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Data 128
cekungan migas Indonesia, termasuk 68 cekungan yang belum dieksplorasi. 4.
Badan Geologi Kementerian ESDM Republik Indonesia. Survei dan kajian natural
hydrogen di East Sulawesi Ophiolite, termasuk indikasi rem |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar