|
Raffi Ahmad Makelar
dari Mana Saya Hanya Menghubungkan... Friski Riana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 09
Agustus 2026
|
· Raffi Ahmad membantu mengkampanyekan
program pemerintahan Prabowo di kalangan anak muda. · Ia membantah tudingan menjadi makelar
jabatan dan tempat penitipan pencucian uang. · Raffi menjelaskan asal-usul kekayaannya
yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun. TELEPON
pintar Raffi Ahmad tak pernah lepas dari bank daya yang mampu mengisi baterai
dengan cepat. Tanpa suntikan bank daya itu, telepon tersebut akan mati dalam
waktu satu setengah jam karena notifikasi dari akun media sosialnya tak
pernah berhenti. Di Instagram, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan
Generasi Muda dan Pekerja Seni itu punya 75 juta pengikut. Dalam
satu jam, bisa sekitar 100 ribu pesan masuk ke akun Raffi. “Kalau ada satu
hal, bisa jutaan DM (direct message),” kata pendiri RANS Entertainment
—perusahaan yang membuka penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Indonesia
pada 10 Juli 2026—itu di kafe Dion, Senayan Park, Jakarta Pusat, Kamis sore,
6 Agustus 2026. Semula
Raffi tak menjawab permohonan wawancara yang diajukan pada awal Juli 2026.
Atas saran orang dekat Presiden Prabowo Subianto , triliuner 39 tahun itu
bersedia menerima jurnalis Tempo, Daniel A. Fajri, Friski Riana, Francisca
Christy Rosana, dan Hussein Abri Dongoran. Ia menyambut kami dengan ramah dan
berkali-kali melemparkan humor. Memesan
segelas es kopi, aktor sekaligus presenter itu mengaku kian sibuk setelah
berada di lingkaran dekat Presiden. Jadwal syutingnya berkurang drastis.
Paling banyak ia menjalani syuting lima hari dalam sebulan dari semula
tiga-lima kali sehari. Ia terbiasa tidur pukul 4 pagi dan bangun tiga jam
kemudian. Dalam satu pekan, ia menyisakan satu hari untuk beristirahat. Dalam
wawancara selama sekitar dua jam, Raffi bercerita soal awal mula dia masuk
dunia politik dan hubungannya dengan berbagai tokoh. Ia juga menjawab
tudingan menjadi makelar jabatan dan terlibat dalam pencucian uang. Suami
Nagita Slavina itu pun menjelaskan asal muasal kekayaannya. Apa yang
sudah Anda kerjakan sebagai Utusan Khusus Presiden (UKP)? Saya
membantu di segala lini. Tahun pertama, semua kementerian sudah saya datangi.
Saya membuka komunikasi duluan. Sebagai junior, saya tidak mau ada batasan.
Kami membantu mensosialisasi program kementerian. Hal-hal yang baik kami
publikasikan dengan cara lebih santuy. Saya juga membikin acara UKP Mendengar
yang mengumpulkan anak muda. Apa
enaknya menjadi Utusan Khusus Presiden? Saya
bisa masuk ke mana-mana. Apalagi ke generasi muda dan pekerja seni. Entah
dari kementerian, kepolisian, kejaksaan, entah Dewan Perwakilan Rakyat, saya
bisa masuk ke semuanya karena mensosialisasi program pemerintah kepada
generasi muda. Dengan kehadiran di Threads, Instagram, saya coba amplifikasi
di situ. Ada
laporan rutinnya? Saya
memberi laporan rutin pasti ke Pak Seskab (Sekretaris Kabinet Teddy Indra
Wijaya ) dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Sebulan sekali ketemu.
Sebatas itu. Kebijakan
makan bergizi gratis (MBG) banyak dikritik. Anda diminta mempopulerkan juga? Program
Pak Prabowo itu bagus. Tapi memang MBG dan koperasi desa merah putih belum
ada prototipenya. Ini baru dua tahun. Kalau terlalu cepat, pasti ada erornya.
Kasih waktu, lah, saya bilang. Pemerintah tidak akan bisa berjalan sendirian
tanpa didukung dan didoakan masyarakat. Tugas saya, kalau pada masa perang
zaman dulu, pakai senjata. Sekarang perang di media sosial. Semampu saya
untuk bisa mengimbangi. Tapi saya termasuk kuat mental juga. Akun Instagram
saya diserang, tidak jadi masalah buat saya. Bagaimana
Anda bisa menjadi Utusan Khusus Presiden? Kami dengar ada peran Ketua Harian
Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di balik penunjukan Anda…. Tahun
2010, saya sudah kenal Pak Sufmi Dasco Ahmad . Suatu hari saya dipanggil ke
Kertanegara (rumah Presiden Prabowo di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Pak
Prabowo minta tolong dibantu. Ya, sudah, saya jadi UKP. Ada
permintaan khusus dari Prabowo? Pesan
paling utama, saya dipercaya bisa mempengaruhi generasi muda di dunia
digital. Segala kelebihan, kekurangan, prestasi, dan aset yang saya punya,
saya kerahkan untuk menjaga generasi muda melawan hoaks. Terutama saya ingin
mengajarkan mental itu penting. Mengapa? Anak
zaman sekarang apa-apa marah, ngantuk, pengin cepet-cepet dapat uang. Kita
harus kasih tahu bahwa semua ada prosesnya. Saya bekerja 25 tahun, Bos! Juga
jangan lupa bahwa karakter, adab kepada orang tua, sopan santun, itu yang
terpenting. Apa
alasan Anda masuk dunia politik dan pemerintahan? Saya
suka tantangan dan sesuatu yang baru. Dulu saya bukannya antipolitik, tapi
lagi senang di entertainment. Saya enggak pernah terjun ke politik, tapi dari
dulu membantu siapa pun. Saya kenal presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono
, Pak Boediono (mantan wakil presiden), Bu Megawati Soekarnoputri , dan Pak
Prabowo. Saya senang berkenalan sama siapa pun. Dengan semua ketua umum
partai, hubungan saya baik. Seperti
apa dunia politik menurut Anda? Menantang.
Orang dari entertainment lalu disuruh ke politik, tentu menantang. Hidup itu
cuma sekali. Kita ditantang, menantang, dan menaklukkan tantangan. Anda
dinilai mampu memetakan tokoh-tokoh yang bisa mendulang suara untuk pemilihan
umum? Ilmu
saya belum sampai sana. Saya hanya membantu. Kalau dulu secara profesional,
ketika ada acara partai dan dibayar, tentu senang. Makin ke sini, memilih
pakai hati dan pilihan sendiri. Tidak
tertarik masuk partai? Mungkin ke Gerindra…. Dulu
pernah ditawari masuk salah satu partai pada 2010. Saya enggak mau. Orang
pikir Raffi Ahmad pasti ke Partai Amanat Nasional atau Gerindra. Memang adik
saya masuk PAN. Tapi sampai detik ini saya bukan politikus. Dengan segala
kekurangan, saya hanya membantu tugas Presiden dan politikus sambil belajar.
Saya ini membantu menghubungkan, penyambung lidah. Di media
sosial, Anda dianggap marjab, makelar jabatan…. Makelar
dari mana? Ha-ha-ha.... Saya hanya menawarkan. Ada beberapa teman artis yang
memang bilang begini, “Fi, kalau ada kesempatan untuk belajar jadi politikus,
gue mau, ya.” Itu ada. Saya hanya menyambungkan. Sebatas itu. Adik dan
ipar Anda, Nisya Ahmad (Annisa Saadia Ifat) dan “Jeje” Ritchie Ismail,
menjadi pejabat di Jawa Barat.... Pertama,
PAN datang ke saya karena saya dekat dengan Pak Zulkifli Hasan (Ketua Umum
PAN). Anaknya itu teman sekelas Nagita. Pada waktu itu mereka tanya apakah
adik saya tertarik politik. Ya, saya serahkan kepada adik saya. Saya tidak
pernah mendorong orang masuk politik. Adik saya di dewan perwakilan rakyat daerah
dipilih rakyat. Jeje kalah dulu di pemilihan DPRD, lalu menang dalam
pemilihan Bupati Bandung Barat. Orang-orang
terdekat Anda juga menjadi komisaris badan usaha milik negara.... Semuanya
melewati proses. Komisaris itu kan lewat fit and proper test. Saya tidak
pernah cawe-cawe apa pun. Mufli Budi Ananda (Komisaris Krakatau Posco) bukan
asisten saya. Dia teman baik saya dan sudah jadi komisaris tahun lalu. Kenapa
tak dipermasalahkan dari tahun lalu? Mengapa
Anda sampai dituding jadi makelar? Seolah-olah
saya makelar jabatan karena mau membuka penawaran umum perdana saham (initial
public offering/IPO) RANS Entertainment. Itu mah jalan hidup orang. Ada lagi
nanti netizen bilang Mbak Lala (pengasuh anak pertama Raffi dan Nagita,
Rafathar) jadi Kepala Badan Gizi Nasional. Saya bilang, amin. Anda
juga dituding terlibat dalam kasus pencucian uang karena terkoneksi dengan
Rafael Alun (mantan pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang divonis 14 tahun
penjara).... Saya
punya pegawai di RANS Basketball, namanya Jeremy Imanuel Santoso. Saya enggak
pernah tahu bahwa istri Jeremy ternyata anak Rafael Alun. Saya menggaji
Jeremy. Karyawan saya 200-500 orang. Gua harus tahu gitu satu-satu, ini
anaknya siapa? Saya bahkan tidak pernah ketemu dengan Rafael Alun . Dari
mana saja sumber kekayaan Anda? Saya
sudah menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Dari 2020,
honor syuting Rp 25 juta per jam. Sehari saya pegang empat program. Pada 2013
itu puncak karier saya, pernah dibayar sampai Rp 50 juta per jam untuk satu
acara. Setiap hari ada tiga acara, hampir Rp 100 juta sehari. Dari situ saja,
saya bisa dapat Rp 3-5 miliar sebulan. Bagaimana
angka kekayaan Anda bisa melonjak? Saya
dapat uang besar saat RANS pre-IPO (masa persiapan sebelum penerbitan perdana
saham) pada 2021. Emtek Group masuk, valuasi RANS Rp 2,7 triliun. Waktu itu
Emtek berinvestasi sekitar 20 persen, terus 10 persen masuk ke saldo pribadi
saya. Saya mendapat Rp 270 miliar sendiri. Itu terbuka, kok. Mau ngomong
pencucian apa lagi? Apa perlu saya akuisisi usaha laundry beneran? Anda
berencana buka usaha laundry? Kalau
ada, saya akuisisi, ha-ha-ha.... Jadi orang mau ngomong apa, saya tidak perlu
khawatir. Santai saja. Selama tidak melakukan hal yang jahat, saya sih takut
karena Allah SWT. Tapi ini kan risiko. Namanya juga dinamika politik. Buzzer
nyerang, saya tidak pernah reaktif membalas. Apa pun itu, saya cuma diem.
Saya pasti akan menjawab suatu hal dengan elegan. Anda
masih terlibat dalam pengelolaan RANS Entertainment? Sebagai
founder, saya sudah keluar dari struktur RANS Entertainment. Saya nanya sama
Gigi (panggilan Nagita), mau hamil lagi apa tidak? Dia bilang, sehabis
olahraga, sudah langsing. “Ya, sudah kamu jadi CEO, ya. RANS ini kan baru.
Daripada rekrut orang, kita butuh yang bisa dipercaya. Mendingan kamu dulu,
biar merasakan soul-nya jadi Raffi Ahmad. Biar tahu rasanya capek. Kita
berdua sama-sama menjaga.” Buat saya, RANS itu legasi. Legasi
seperti apa? Saya
punya visi, kalau saya sudah mati, anak enggak mau lanjutin, RANS tetap
hidup. Saya punya cita-cita jadi kayak Walt Disney. Dia sudah mati, tapi ada
Disneyland, Mickey Mouse. Namanya juga mimpi. Saya orangnya tidak bisa diam.
Kalau diam cuma ada dua penyebab, lagi bete atau dimarahin istri. Mengapa
Anda mengajak Kaesang Pangarep , anak mantan presiden Joko Widodo, bergabung
dengan RANS Entertainment? Namanya
juga anak muda, ingin bikin suatu hal. Saya berbisnis dengan Mas Kaesang pure
sebagai pekerja swasta. Kami bersama Sinar Mas bikin RANS Nusantara. Belajar
selama setahun, akhirnya belum rezeki. Setelah saya mempelajari, berbisnis
itu, entah sama anak presiden entah orang biasa, pasti ada dinamikanya. RANS
Nusantara kenapa tutup? Nama
RANS ibaratnya cuma jadi brand ambassador yang dibayar setahun. Saya mah
senang-senang saja jadi brand ambassador, tapi nama RANS dibayar. Kegiatan
operasionalnya bukan saya yang menangani. Kaesang
membeli saham RANS? Naruh
duit. Dulu kan valuasinya enggak segitu. Ada efek
ketika Kaesang bergabung? Setiap
orang yang membantu RANS memberi kontribusi berbeda-beda. Dengan kehadiran
Mas Kaesang, ada warna baru. Saya dan dia gap umurnya delapan tahun. Saya
butuh tenaga, pikirannya. Bayangkan ada Mas Kaesang, saya, dan Pak Dony
Oskaria (Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara, adik ibu Nagita
Slavina, dan pemegang saham RANS). Itu kan perpaduan yang bagus. Bagaimana
hubungan Anda dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ? Kadang
sebulan sekali pasti ketemu dengan Mas Wapres. Kami berkomunikasi kadang di
WhatsApp. Kami jaga hubungan baik. Bagaimana
Anda melihat sosok Gibran? Saya dan
Mas Gibran ber-shio kelinci. Umur kami sama. Saya banyak belajar. Dia pintar,
tapi orang tidak tahu bahwa dia pintar. Buat saya, Mas Gibran adabnya luar
biasa. Anda
melihat pengikut di media sosial sebagai investasi terbesar? Followers
itu investasi terbesar. IPO RANS dimulai dari saya cuma mengabadikan istri
sedang hamil sampai Rafathar lahir. Beroperasi dari garasi, cuma empat
pegawai. Eh, malah dapat rezeki dan akhirnya saya mencoba membangun bisnis
RANS dari followers. Sekarang yang mau membeli saham RANS 1,5 juta investor.
Antre. Boleh dicek turnover saya. Bagus. Saya enggak goreng-goreng. Yang
penting harganya enggak di bawah harga pertama kali. Lebih
enak di luar pemerintahan atau di dalam? Sama
saja, tergantung niat, kesiapan. Hati nuraninya sudah siap atau belum. Kalau
memang belum siap, jangan. Misalnya, lu mau masuk kampus, lu mampu-enggak
masuk universitas ini? Kalau enggak, ya udah jangan masuk ke sini. Seperti
itu saja, kita siap atau enggak, lahir-batin atau enggak. Yang sudah kita
pilih, konsekuensinya harus kita terima.
● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/raffi-ahmad-makelar-jabatan-utusan-khusus-2280906 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar