|
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II, Sektor Luar Negeri yang Diabaikan Prof Didik J
Rachbini : Pakar Ekonomi INDEF, Rektor
Universitas Paramadina. |
REPUBLIKA, 10 Agustus 2026
|
Kelemahan, kekurangan
atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan
dinamika selama ini terlalu inward looking. Hanya sektor dalam negeri yang
dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh
moderat sekitar lima persen. Dengan kebijakan selama ini tidak mungkin
pertumbuhan ekonomi bisa menyamai Vietnam, yang berhasil mencatatkan
pertumbuhan tahunan sampai 8,3 persen. Jika kelemahan kebijakan
ini bisa diatasi dan kebijakan ekonomi ditransformasikan menjadi outward
looking, maka investasi luar negeri akan masuk karena ada sistem insentif,
dukungan insfrastruktur yang baik dan birokrasi yang ramah dan efisien. Pada saat yang sama
investasi dalam negeri bisa bertumbuh bersamaan dengan investasi luar negeri
yang masuk karena rancangan kebijakan orientasi ekspor (outward looking). Sektor industri akan
berkembang jauh lebih baik dari yang sekarang ini karena dukungan sumberdaya
nasional yang kuat (resource based industry). Apa yang harus dilakukan?
Pemerintah mesti membahas kembali kebijakan ekonomi untuk mengatasi masalah
kelemahan kebijakan selama ini. Untuk menuju pertumbuhan tujuh atau delapan
persen seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking
menjadi ouward looking mutlak harus dilakukan. Jika tidak dan hanya
mengandalkan sumber daya pasar dalam negeri, maka harus puas dengan tingkat
pertumbuhan moderat lima persen atgau bahkan di bawahnya. Tanpa perubahan
kebijakan, maka janji kampanye pertumbuhan ekonomi delapan persen sulit untuk
bisa diwujudkan. Memang, kita tidak sama
sekali mengabaikan sektor luar negeri dan tetap ada kegiatan dan dunia usaha
yamg melakukan mengekspor, menarik investasi asing, dan melakukan hilirisasi. Masalahnya adalah sektor
luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan
industrialisasi. Kebijakan masih relatif terlalu berorientasi ke pasar
domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi domestik. Karena itu harus diubah
menjadi kebijakan sebaliknya, yang menetrasi pasar internasional dengan daya
saing industri yang kuat, orientasi ekspor, memanfaatkan investasi dan supply
chain global. Hanya dengan
memperhitungkan kembali sektor luar negeri dengan kebijakan yang baik, maka
tingkat pertumbuhan lebih tinggi bisa diwujudkan. Pertumbuhan ekonomi tidak
akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang. Ini harus disadari karena
faktor ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong
transformasi industri. Padahal bagi negara
sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi pasar domestik saja
tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. Untuk menuju
ke sana tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan
kebijakan orientasi ekspor. Indonesia dengan jumlah
penduduk yang besar memang mempunyai pasar domestik yang besar pula. Tetapi
masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, tetapi
dunia usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan
untuk bersaing di pasar global. Di sinilah kebijakan
outward looking menjadi penting karena bisa mendorong Indonesia eksis dalam
persaingan global dengan harapan bisa memperoleh devisa yang besar. Indonesia pernah
mempunyai best practice strategy outward looking seperti tahun 1980-an dimana
negara mendorong investasi dan industri yang berorientasi ekspor. Pada tahun 1980-an
kebijakan outward looking ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi tujuh sampai
delapan persen selama dua dekade. Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan
yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tiga dekade
lalu. Belanja pemerintah tidak
bisa diandalkan untuk pertumbuhan tinggi. Selama ini belanja pemerintah tidak
akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak
jatuh di bawah lima persen. Apalagi fiskal juga punya
masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran sehingga tidak akan bertahan
lama dan hanya bisa menyangga dalam jangka yang sangat pendek. Sementara itu, faktor
konsumsi masyarakat sudah tidak bisa diandalkan karena kelas menengah sudah
tergerus dan menurun jumlahnya sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dari
sisi konsumsi masyarakat. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar