|
Dataset Ingatan Lima Abad Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 13 Agustus 2026
|
Bermula dari
dana Microsoft tahun 2005, British Library kini menyajikan 25 juta halaman
buku tua dalam bentuk dataset di Hugging Face. Coba bayangkan sebuah lorong buku yang
membentang lima abad. Di sana menumpuk naskah filsafat, peta kuno, kitab
agama, sastra, sejarah, hingga gambar fabel dari zaman yang sudah sangat jauh. Lalu datang mesin pemindai. Kamera
memotret tiap lembar. Komputer membaca tulisannya. Gambar dipisahkan dari
halaman. Seluruh isi kertas perlahan berubah jadi data. Itu kemudian membuat hari ini
mahasiswa di Jakarta atau peneliti di Istanbul sudah tak perlu lagi terbang
ke London, Inggris, untuk mencari data. Cukup buka laptop, ketik kata kunci,
dan sebagian isi buku tua itu langsung muncul di layar. Proyek raksasa ini bukan sekadar
mengunggah berkas. Ini pemindahan ingatan manusia ke dalam mesin. Semuanya bermula pada 2005. British
Library di Inggris menggandeng Microsoft untuk memindai puluhan ribu buku
langka terbitan 1510 sampai 1900. Microsoft waktu itu menggelontorkan dana
jutaan dolar demi proyek ini. Saat kemitraan selesai, British
Library Labs melangkah lebih jauh. Pada 2013, mereka memotong lebih dari satu
juta gambar ilustrasi dari halaman-halaman tersebut lalu melepasnya gratis ke
Flickr Commons. Sekarang, repositori alias simpanan
raksasa berukuran 626 GB yang berisi 1,08 juta gambar dari 25 juta halaman
buku itu dikemas ulang. Ia kini nongkrong di Hugging Face dengan nama British
Library Book Images. Datanya gila-gilaan. Bayangkan ukuran
file sebesar 626 Gigabyte. Kalau Anda memakai ponsel pintar dengan kapasitas
penyimpanan rata-rata 128 Gigabyte, data itu butuh hampir lima unit ponsel
penuh untuk menampung seluruh gambarnya saja. Belum lagi jika kita menghitung 25
juta halaman teks yang harus dibaca, diurai, dan disimpan dalam memori
komputer. Angka itu jauh melampaui tumpukan lembar kertas fisik yang muat di
dalam satu gedung perpustakaan biasa. Inilah lautan informasi digital hasil
ribuan tahun otak manusia. Buku tertuaya terbit tahun 1510. Itu artinya ada
jejak pikiran manusia yang usianya sudah lebih dari lima abad. Proyek digitalisasi tersebut
meruntuhkan tembok gedung. Dulu, buku langka cuma punya satu alamat: London.
Sekarang, data buku itu bisa pindah ke mana saja. Ingatan lima abad lalu pun berubah
menjadi bahan baku data. Buku bukan lagi sekadar benda di rak. Ia sudah jadi
data yang bisa Anda cari, hitung, bandingkan, atau racik sebagai bahan
melatih sistem kecerdasan buatan (AI). Sederhananya, kumpulan data berukuran
raksasa yang sudah dikelompokkan dan diatur agar mudah dibaca komputer itulah
yang disebut dataset. Jika buku biasa dibaca manusia lembar
demi lembar, dataset adalah bahan mentah yang disantap sekaligus oleh
komputer. Di dalamnya, ribuan teks, gambar, dan catatan pendukung sudah
disusun sedemikian rupa agar mesin bisa langsung mengolahnya tanpa bingung. Dengan begitu, peneliti bisa
menghitung berapa kali kata tertentu muncul dalam ribuan buku. Ahli bahasa
tinggal melacak pergeseran makna kata dari zaman ke zaman. Sejarawan bisa
membandingkan cara sebuah bangsa menggambarkan kota, perang, hingga penyakit. Mesin pun belajar mengenali pola dari
semua itu. Tapi ada satu masalah besar. Koleksi ini bukan cermin jujur seluruh
sejarah manusia. Ia cuma cermin yang memilih sudut pandangnya sendiri. Dari 1,08 juta gambar di Hugging Face
itu, sepertiganya berasal dari dekade 1890-an. Koleksi sebelum tahun 1800
cuma menyumbang 1,6 persen. Kalau Anda memakai seluruh dataset itu
untuk melatih AI tanpa membenahi pembagian datanya, AI Anda bakal terobsesi
pada zaman Victoria dan tidak paham zaman lainnya. Ada juga persoalan yang lebih
mendasar. Mesin tidak memindai seluruh buku yang
pernah ada di bumi. Mesin cuma memindai buku milik perpustakaan tertentu,
yang kebetulan selamat dari bencana, lalu dipilih manusia untuk didigitalkan. Mesin tidak pernah memilih sendiri makanannya.
Manusia yang menentukan. Siapa yang memilih buku untuk
dipindai, dialah yang menentukan pengetahuan apa yang kelak mudah ditemukan
AI. Proyek raksasa begini ternyata bukan
cuma milik Inggris. Google Books di Amerika Serikat sudah duluan memindai
lebih dari 40 juta buku dalam 400 bahasa. Untuk buku tanpa hak cipta, Google
mengizinkan Anda mengunduhnya secara gratis. Ada pula HathiTrust, hasil kerja sama
kampus riset yang menyimpan 17 juta volume digital berisi 6,2 miliar halaman.
Sistem mereka bahkan sanggup menganalisis teks jutaan buku sekaligus. Di Eropa, platform Europeana
menyatukan 60 juta objek warisan budaya dari ribuan museum dan galeri.
Hebatnya, data di Europeana bisa ditarik lewat jalur API untuk bikin aplikasi
baru. Prancis juga punya situs Gallica milik
Bibliothèque nationale de France yang menyediakan jutaan dokumen gratis. Proyek-proyek itu membuat Barat bukan
cuma menyelamatkan buku tua. Mereka sedang membangun bank ingatan manusia. Lalu bagaimana dengan dunia Islam?
Mereka tak kalah hebat. Turki memegang salah satu gudang ilmu terbesar. Perpustakaan Süleymaniye di Istanbul
menyimpan 101.451 jilid manuskrip dan 78.034 jilid buku cetak. Tapi untuk mengaksesnya, Anda masih
harus melewati prosedur izin dan memesan salinan secara manual. Punya koleksi
digital beda artinya dengan membuka pengetahuan untuk publik. Arab Saudi mulai membenahi diri.
Lembaga Raqmin di Riyadh sibuk mendigitalkan sumber sejarah lokal.
Perpustakaan Masjid Nabawi bahkan punya 260 ribu judul manuskrip digital dan
mengarsipkan 1,5 juta lembar dokumen per tahun. Mesir punya cerita yang tak kalah
keren. Perpustakaan Bibliotheca Alexandrina
membangun platform digital DAR untuk mengelola koleksi buku dan manuskrip
Arab. Dunia Islam memang tak kekurangan
gudang ilmu. Yang sering kurang cuma jalan digital menuju gudang itu. Indonesia pun sudah bergerak lewat
portal Khastara milik Perpusnas. Isinya naskah kuno Nusantara, koran lama,
peta, dan foto sejarah yang diposting sejak 2019. Kita memang sudah melakukan digitalisasi.
Tapi pertanyaan sebenarnya: seberapa jauh kita memperlakukannya sebagai
infrastruktur pengetahuan? Namun, bikin berkas PDF saja tidak
cukup. Pekerjaan justru baru dimulai setelah buku selesai dipindai. Teksnya
harus bisa dibaca mesin pencari. Aksara Arab-Melayu, Jawa, Sunda,
Bugis, hingga Batak wajib ditranskripsi. Tiap halaman perlu metadata. Nama
tokoh, tempat, dan istilah harus saling terhubung. Jika perlu, buka aksesnya
lewat API agar peneliti tak perlu memotret ulang dari awal. British Library memberi contoh bagus.
Koleksi 25 juta halaman mereka ditaruh di Flickr Commons lalu dijadikan
dataset terbuka (CC0) di Hugging Face. Siapa pun bebas mengambil dan mengolah
data itu tanpa takut digugat hukum. Bayangkan kalau kekayaan Nusantara
diperlakukan sama. Kitab Jawi, Babad Jawa, Hikayat Melayu, manuskrip Aceh,
naskah Bugis, hingga buku pesantren lama tidak sekadar dipindai jadi PDF. Tiap halaman diberi identitas digital.
Teksnya bisa dicari. Nama tokohnya terhubung. Naskah di Jakarta, Leiden, dan
London bisa dibandingkan oleh mesin dalam hitungan detik. Saat itulah kita berhenti sekadar
menyelamatkan kertas dari rayap. Kita sedang menyelamatkan pemikiran dari
kepunahan. Kecerdasan buatan selama ini belajar
dan mengandalkan kecerdasannya pada data yang tersedia di web. Makin banyak
sebuah bahasa dan kebudayaan hadir dalam bentuk data digital yang rapi, makin
besar peluang kebudayaan itu diwakili oleh AI. Jika buku-buku Inggris dan Prancis
melimpah di internet sementara naskah Nusantara langka, AI masa depan akan
lebih paham sejarah London daripada sejarah Nusantara. Itu bukan karena sejarah mereka lebih
penting, tapi karena datanya lebih siap dibaca mesin. Dulu, bangsa yang menguasai mesin
cetak bisa menyebarkan gagasannya paling jauh. Sekarang, bangsa yang punya
data paling lengkap di server yang bakal menentukan cara AI memandang dunia. Mendigitalkan buku tua bukan kerjaan
orang nostalgia yang hobi mencium bau kertas lapuk. Ini investasi strategis. Buku yang tersimpan di lemari cuma
menunggu pembaca yang datang. Buku yang diubah jadi data bakal menemukan
pembacanya di seluruh dunia. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar