|
Jemput Depan Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 10 Agustus 2026
Anda sudah
punya e-wallet: dompet elektronik. Apakah di saku atau tas Anda masih ada
dompet lama?
Saya masih
punya: isinya SIM dan KTP. Juga beberapa lembar mata uang negara lain sebagai
tanda baru dari negara mana saja. Untuk pembayaran sudah selalu pakai QRIS
–meski saya amat jarang belanja.
Sejak tahun
2020 praktis tidak ada uang kertas lagi di Tiongkok. Terutama setelah sukses
melakukan uji coba e-money di empat kota: Shenzhen, Chengdu, Suzhou, dan
Beijing. Indonesia termasuk cepat mengikuti langkah Tiongkok.
Tentu Tiongkok
tidak mau dikejar. Ia terus berlari. Target berikutnya: e-wallet bukan untuk
orang. Anda sudah tahu: Tiongkok sedang menciptakan e-wallet untuk negara. Uji
cobanya dalam wujud proyek mBridge. Agak unik ada singkatan ''m'' di depan
Bridge. Awalnya saya menebak itu singkatan dari ''money''. Saya salah. Itu
singkatan dari ''multiple'': semacam serbaguna. mBridge berarti jembatan
multifungsi.
Tiongkok lari
bukan karena kita kejar lewat QRIS. Ia berlari kencang dipicu oleh munculnya
bitcoin. Lalu tersiar pula Facebook sedang menciptakan mata uang sendiri:
Libra. Alibaba punya Alipay. Tencent punya WeChatPay. Berarti ada peluang bahwa
dominasi dolar Amerika bisa diruntuhkan.
Tentu tidak
mudah mencari cara agar dominasi dolar Amerika bisa dikurangi. Salah satu
faktor dominasi itu adalah: pembayaran antarnegara masih memakai dolar Amerika.
Karena itu cadangan devisa sebuah negara juga dalam dolar. Negara yang sehat
harus punya cadangan devisa yang cukup untuk membiayai impor selama enam bulan.
Setiap kali
Anda impor apa saja Anda perlu membeli dolar milik cadangan devisa itu. Secara
sederhana cadangan devisa ibarat dompetnya negara yang berisi dolar Amerika.
Negara perlu punya dompet berisi dolar karena belanja dari luar negeri pakai
dolar: beli gandum, kedelai, HP, mobil, pesawat terbang, sampai mesin-mesin
industri.
Waktu Anda
impor mesin, Anda minta bank Anda yang membayarkan dalam dolar. Bank Anda akan
menghubungi bank sentral (Bank Indonesia) agar berkomunikasi dengan bank
sentral di negara yang jual mesin. Bank sentral di negara itu menghubungi bank
pelaksana di mana pabrik mesin tersebut jadi nasabahnya.
Kadang antar
bank sentral tidak ada perjanjian kerja sama. Maka bank sentral satu negara
perlu memakai jasa bank besar kelas dunia –yang punya hubungan transaksi dengan
lebih banyak bank di mana pun. Bank penghubung itu akan membantu terjadinya
transaksi. Yang penting dapat uang jasa.
Semua transaksi
antar bank tersebut bisa berjalan karena semua bank itu menggunakan
''aplikasi'' yang sama: SWIFT. Tanpa SWIFT transaksi tidak terhubung. Rusia dan
Iran adalah dua negara yang oleh Barat dilarang menggunakan SWIFT. Maka dua
negara itu tidak bisa melakukan transaksi dengan negara lain.
SWIFT telah
dipakai alat politik.
Bisa saja suatu
saat Tiongkok juga akan terkena pelarangan menggunakan SWIFT.
Maka Tiongkok
menciptakan cara baru. Bukan dipersaingkan dengan SWFT tapi beda binatangnya.
Tiongkok
kelihatannya bisa menyerap aspirasi negara-negara dunia ketiga. Transaksi lewat
SWIFT memerlukan jalur dari bank ke bank sentral, lalu dari bank sentral ke
bank sentral negara lain, masih perlu lewat jasa bank besar kelas dunia, lalu
dari bank sentral negara lain ke bank pelaksana di sana.
Total, satu
transaksi perlu sekitar 3-4-5 hari. Biaya pun muncul di setiap perpindahan
rekening bank itu.
Itulah yang
dilihat Tiongkok sebagai kelemahan SWIFT.
Di zaman nan
lalu, saat SWFT mulai diterapkan, transaksi internasional 3-5 hari sudah
dianggap sangat cepat. Juga paling praktis. Anda sudah tahu: SWIFT mulai
diberlakukan tahun 1977, ketika Anda baru belajar batingkaung.
Sebelum ada
SWIFT transaksi internasional antar bank dilakukan lewat telex. Atau pengiriman
dokumen fisik. Alangkah kunonya.
Tapi di zaman
serba digital sekarang ini tiga hari adalah lama. Bahkan tiga jam saja sudah
dianggap terlalu lama. SWIFT oleh Tiongkok sudah dianggap kuno.
Tiongkok punya
gagasan: kalau setiap negara punya ''e-wallet'' untuk apa harus melakukan cara
transaksi muter-muter lewat banyak bank. Tinggal e-wallet ke e-wallet. Lewat
''aplikasi'' yang disebut ''mBridge''. Dengan cara itu transaksi internasional
bisa dilakukan real time. Bukan tiga hari atau tiga jam tapi cukup tiga detik.
Biayanya pun diklaim bisa turun tinggal 30 persennya. Alangkah murahnya.
Tiongkok tidak hanya berpikir jualan kancing baju yang murah tapi juga
transaksi internasional yang murah.
Tentu setiap
negara harus punya ''e-wallet'' yang isinya Yuan (China Yuan, CNY). Itu secara
tidak langsung membuat satu negara harus punya cadangan devisa dalam bentuk
Yuan –tidak lagi hanya dolar Amerika.
Kapan
''mBridge'' mulai berlaku? Anda mungkin bisa menebaknya. Saya tidak tahu. Yang
jelas uji coba sudah dilakukan antara Tiongkok dan sejumlah negara ASEAN
seperti Thailand. Juga dengan enam negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab.
Harapannya: perdagangan minyak bisa dilakukan dalam Yuan.
Thailand dan
UAE telah melangkah menjemput masa depan. Masa depan memang bisa dijemput. Bisa
juga hanya ditunggu. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/961944/jemput-depan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar