|
Satu Abad Selesai, Saatnya NU Menatap ke Depan dengan Kepala Tegak Miftah
Maulana Habiburrahman : Pengasuh Pesantren Ora Aji. |
REPUBLIKA, 14 Juli 2026
|
Jujur saja, saya tertegun melihat angka itu: 100 tahun NU. Satu abad
bukan waktu yang pendek untuk sebuah organisasi. NU sudah lulus dari ujian
zaman yang paling brutal sekalipun. Mulai dari zaman penjajahan, pergolakan
kemerdekaan, turbulensi politik 1965, hingga era reformasi. NU selalu
selamat. Mengapa? Karena akarnya menghunjam dalam ke bumi. Akarnya adalah
pesantren. Tapi itu abad pertama. Sekarang, kita sudah menapak di abad kedua.
Tantangannya tidak lagi sama. "Musuh NU" hari ini bukan lagi
kolonialisme berbaju tentara, melainkan ketertinggalan SDM, ekonomi, ledakan
teknologi digital, dan tuntutan profesionalisme tata kelola organisasi. Abad
kedua ini bukan lagi waktunya NU sekadar bertahan atau "merunduk"
dalam laku defensif. NU harus mendefinisikan ulang dirinya: dari penjaga
tradisi lokal, menjadi motor penggerak peradaban nasional-global. Visi abad kedua NU sudah jelas dan tegas: menjadi penggerak peradaban
Islam yang moderat, inklusif, dan damai di tingkat global. Sekaligus,
mewujudkan kemandirian umat dengan peningkatan kualitas SDM di dalam negeri.
Ini visi yang luar biasa besar. Tapi, bagaimana cara mewujudkannya agar tidak
berakhir menjadi sekadar jargon di atas kertas dan spanduk muktamar? Dunia hari ini sedang lelah. Barat sedang mengalami krisis
spiritualitas akut. Timur Tengah lelah dengan konflik yang tidak kunjung
usai. Ekstremisme berbaju agama merebak di mana-mana. Di titik inilah, NU
memiliki produk terbaik yang sangat dibutuhkan dunia: Islam Nusantara. Islam
yang ramah, toleran, dan bisa mengawinkan iman dengan kebudayaan lokal tanpa
harus saling menghancurkan. Solusinya konkret. Nilai perdamaian global ini harus ditawarkan
sebagai alternatif solusi peradaban. NU harus mulai mengirimkan "Duta
Perdamaian" ke panggung-panggung dunia. Bukan sekadar delegasi khotbah,
melainkan pemikir-pemikir yang mampu berdialog dengan bahasa universal. Untuk menopang visi raksasa itu, struktur NU tidak bisa lagi dikelola
dengan manajemen "pokoke berjalan". Harus ada empat pilar misi
strategis yang berdiri tegak, kokoh, dan presisi: Pertama; Perdamaian Global (Fikrah Nahdliyah): Mengemas orisinalitas
Islam Nusantara menjadi kurikulum universal yang bisa diadopsi oleh dunia
internasional untuk meredam konflik. Kedua; Kemandirian Ekonomi Umat: Menghentikan kebiasaan
"meminta" dan mulai "mengelola". Fokusnya harus beralih
secara radikal ke pemberdayaan UMKM, optimalisasi wakaf produktif, dan
pendirian koperasi jamaah yang berbasis digital. Kemandirian politik hanya
akan terjadi jika kemandirian ekonomi sudah beres. Ketiga; Transformasi Pendidikan & Sains: NU adalah rumah besar
pesantren. Di abad kedua, pesantren tidak boleh hanya mencetak ahli fikih
kelas wahid, tetapi juga harus mencetak pakar kecerdasan buatan (AI), ahli
genetika, dan ekonom digital. Hebatnya, mereka menguasai IPTEK tanpa sedikit
pun tercerabut dari adab dan tradisi pesantren. Keeempat; Meritokrasi Organisasi: Manajemen tata kelola NU harus
diperbarui total. Regenerasi kepemimpinan wajib berbasis kapasitas
intelektual dan integritas moral yang profesional. Sistem "urut
kacang" atau kedekatan politik praktis harus diganti dengan sistem rekam
jejak yang terukur. Pertanyaannya: Siapa yang akan mengeksekusi ini semua? Struktur
organisasi yang gemuk membutuhkan dinamo-dinamo penggerak yang lincah,
adaptif, dan—ini yang paling penting—selesai dengan dirinya sendiri. Realitas zaman baru melahirkan kebutuhan akan figur baru. Kita butuh
apa yang disebut sebagai "Ulama Progresif". Tokoh yang fasih
membaca kitab kuning, sekaligus fasih membaca algoritma dan tren ekonomi
global. Salah satu figur yang menarik perhatian saya dalam konteks
transformasi ini adalah KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz). Mengapa beliau? Karena
latar belakangnya komplit. Dia adalah pengasuh pesantren (Bina Insan Mulia),
tetapi juga berpendidikan luar negeri di bidang filsafat, politik, pertahanan
dan strategi. Dia seorang kiai, sekaligus punya jejak interpreunership yang
sukses. Lokomotif Baru yang Dibutuhkan NU Saya melihat NU hari ini seperti sebuah kapal tanker raksasa. Badannya
besar, penumpangnya jutaan, tapi jalannya lambat. Mengapa? Karena mesinnya
terlalu sering dipakai untuk memanaskan konflik internal, bukan untuk melaju
ke depan. Di titik inilah, figur seperti Kiai Imjaz bukan lagi sekadar
alternatif. Beliau adalah kebutuhan mutlak. Jika NU ingin berlari mengejar
zaman, lokomotifnya haruslah orang yang selesai dengan dirinya sendiri dan
punya isi kepala yang melompat jauh ke depan. Ada enam alasan kuat mengapa
Kiai Imjaz adalah figur yang paling pas untuk memimpin NU ke depan. Pertama, beliau adalah arsitek pesantren transformatif. Kurikulum kuno
yang bikin santri gagap ilmu pengetahuan dan teknologi harus dirombak total.
Kiai Imjaz tidak cuma berteori. Beliau sudah mempraktikan lebih dahulu,
bahkan saat ini Kiai Imjaz sedang melakukan gerakkan nasional “transformasi
pesantren” dengan mengumpulkan 5.000 (lima ribu) Kiai Pengasuh Pesantren
dalam sebuah workshop besar dan estafet, tujuannya satu: menyamakan frekuensi
untuk menghadirkan pesantren yang adaptif dengan perkembangan zaman dan
membangun SDM unggul dan handal di berbagai bidang yang siap tempur di era
digital. Hebatnya kegiatan ini dibiayai sendiri melalui Imam Jazuli
Foundation (IJF) tanpa melibatkan pihak manapun. Ribuan santri-santri Kiai Imjaz sudah menembus perguruan tinggi
favorit nasional dan internasional di berbagai bidang dengan jalur beasiswa,
kurang lebih ada di enam belas negara. Beliau tahu persis, benteng pertahanan
NU untuk dunia global ada di pesantren. Jika pesantrennya transformatif, maka
masa depan NU otomatis akan selamat. Kedua, beliau adalah magnet pemersatu yang hebat. Selama ini, NU
sering kali melempem karena sibuk mengurusi faksi pro dan kontra di dalam
rumah sendiri. Energi habis untuk urusan internal. Kiai Imjaz punya kelebihan
yang jarang dimiliki tokoh lain: beliau bisa membuat semua figur sentral NU
duduk mesra semeja. Tanpa sekat, tanpa ego. Kehadiran beliau menjadi penepis faksi-faksi tersebut. Beliau mampu
membelokkan energi konflik menjadi energi khidmah untuk umat. Tokoh seperti
inilah yang bisa menjadi perekat. Ke depan, struktur NU harus akur. Energinya
tidak boleh habis untuk dinamika internal, faksionalisme, atau konflik
politik praktis. Fokusnya harus tunggal: pelayanan umat. Ketiga, ini yang paling mahal: kemandirian ekonomi. Secara ekonomi,
Kiai Imam Jazuli ini sudah "selesai". Ini poin krusial. Pemimpin
yang sudah selesai dengan urusan perutnya akan jauh lebih fokus berkhidmah
(melayani) ketimbang mencari penghidupan di dalam organisasi. Banyak tokoh terjebak dalam kepentingan politik atau donor karena
masalah isi dompet. Kiai Imjaz berbeda. Beliau sudah selesai dengan urusan
dunianya. Jangankan meminta, beliau justru menolak infak, sedekah, dan wakaf
untuk dirinya. Yang terjadi justru sebaliknya: beliau terus berbagi
kemaslahatan dan mengalirkan dana segar untuk menghidupkan
pesantren-pesantren. Pemimpin yang mandiri secara ekonomi seperti ini tidak
akan mempan disetir oleh kepentingan luar. Keempat, isi kepalanya itu out of the box. Gagasan-gagasannya brilian,
progresif, dan futuristik. Di saat orang lain masih memikirkan masalah hari
ini, pikiran Kiai Imjaz sudah melompat mengurusi tantangan sepuluh atau dua
puluh tahun ke depan. Cara berpikirnya inklusif dan progresif—dua karakter utama yang sangat
dibutuhkan oleh jiwa besar NU abad kedua. Beliau adalah tipe eksekutor yang
berani mendobrak standar umum yang kaku demi sebuah kemajuan. Karena itu, NU tidak boleh terus-menerus berjalan di tempat. Kapal
tanker ini butuh nakhoda yang kaya gagasan, mandiri, dihormati semua faksi,
dan punya cetak biru konkret untuk masa depan santri. Kelima; Kiai Imjaz kuat dengan jaringan global dan internasional,
terutama di bidang pendidikan. Ini membuktikan bahwa beliau seorang diplomat
ulung. Kedepan jika posisinya Ketum PBNU mungkin akan ada ribuan beasiswa
untuk kader terbaik NU. Mereka akan menjadi duta Islam nusantara di berbagai belahan dunia.
Semua kualitas itu ada pada Kiai Imjaz. Bersama beliau, NU tidak hanya akan
menjadi organisasi yang besar secara jumlah, tapi juga raksasa secara
kualitas. Keenam; Kiai Imjaz adalah seorang manajer yang handal. Beliau
membuktikan bahwa pesantren bukan sekadar tempat mengaji, melainkan lokomotif
peradaban modern jika dikelola layaknya korporasi. Berdiri sejak 2013, Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) meledak dengan
lima ribu santri dan lahan seluas lebih dari 92 hektar. Alumni BIMA kini
tersebar di seluruh dunia. Inilah tipe manajer handal yang sangat dibutuhkan
Nahdlatul Ulama (NU) ke depan. Rahasia suksesnya terletak pada dua hal: manajerial yang tangguh dan
keberanian mendobrak pakem. Ia mengelola pesantren dengan memadukan standar
spiritualitas korporasi berjiwa santri, yang mencipta arus, bukan sekadar
ikut arus. Keahlian ini adalah model transformasi masa depan. Abad kedua NU telah tiba. Pilihannya hanya dua: menjadi raksasa tua
yang lamban dan hanya bangga pada romantika sejarah, atau menjelma menjadi
kekuatan peradaban modern yang lincah, mandiri, dan memimpin dunia. Saya
meyakini, dengan modal spiritualitas yang kuat dan transformasi manajemen
yang tepat, NU akan memilih jalan yang kedua. Semoga Allahumma amin. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar