Senin, 10 Agustus 2026

 

Rumah Terakhir Nasirun yang Pintunya Selalu Terbuka

Shinta Maharani :  Koreponden Tempo di Yogyakarta

TEMPO MINGGUAN, 09 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Pelukis Nasirun berpulang pada usia 60 tahun, meninggalkan jejak sebagai salah satu pelukis terpenting Indonesia.

 

·      Karya-karyanya berakar pada tradisi, mitologi, dan spiritualitas Jawa yang diwariskan sejak masa kecilnya di Cilacap.

 

·      Di balik reputasi internasionalnya, Nasirun dikenang sebagai pribadi yang sederhana, religius, dan dermawan.

 

DI bawah panas terik matahari yang memanggang, gelombang pelayat datang tanpa putus ke rumah Nasirun di Perumahan Bayeman Permai, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Warga kampung, santri, seniman, budayawan, dosen, musikus, hingga mantan menteri bergantian mendaraskan doa sebagai pengantar jenazah pelukis itu ke Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.

 

Karangan bunga memenuhi jalan menuju rumah duka. Nasirun meninggal di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah pada usia 60 tahun setelah mengeluhkan sesak napas di hari yang sama. "Bapak jarang mengeluh sakit," kata anak sulungnya, Ima Bunga Insan Sani, kepada Tempo.

 

Selama bertahun-tahun Ima menjadi teman sekaligus sopir ayahnya ketika menghadiri berbagai pameran. Nasirun memang tidak pernah berani mengemudikan mobil sendiri. Jika bukan Ima, istrinya, Supartilah, yang mengantarnya.

 

Sebagian besar hidup Nasirun dihabiskan di rumah sekaligus studio seninya. Di lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi itu berdiri bangunan bergaya modern tropis yang dikelilingi pepohonan rindang.

 

Ribuan karya seni koleksi pribadinya memenuhi berbagai ruangan, dari lukisan S. Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, dan Fadjar Sidik hingga karya para perupa generasi berikutnya. Di tempat itulah lahir lukisan-lukisan bertema wayang, kaligrafi, mitologi Jawa, dan kritik sosial yang kemudian mengantarkan namanya menjadi salah satu pelukis penting Indonesia.

 

Tiga belas tahun lalu, saya menghabiskan sehari bersama Nasirun di rumah itu. Halaman belakangnya menyerupai hutan kecil yang dipenuhi pakis raksasa. Menyeruput kopi dan tidur siang menjadi selingan di antara jam-jam panjangnya di depan kanvas.

 

Tawa lepas hampir selalu mengiringi percakapan. Sesekali ia bercanda dengan istri dan anak-anaknya sebelum kembali memasuki studio. Di sudut rumah, berdiri musala kayu asal Madura, Jawa Timur, tempat ia rutin menunaikan salat. Kesibukan Nasirun sebagai pelukis tidak pernah membuat rumah itu kehilangan kehangatan sebagai rumah keluarga.

 

Semua goresan yang memenuhi kanvas Nasirun sesungguhnya berakar dari masa kecilnya di Adipala, Cilacap, Jawa Tengah. Ia lahir dari keluarga sederhana. Sebagian anggota keluarganya tidak mengenyam pendidikan dan kemudian mengikuti program transmigrasi. Ibunya, Supiyah, mendidiknya dengan disiplin. Mengaji adalah kewajiban. Jika dia membolos, jatah makan hari itu hilang. Didikan keras itu, menurut kurator sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, membentuk etos kerja Nasirun. "Dia orang yang saleh dan spirit kerjanya menyala terus," ujarnya.

 

Pendidikan di ISI Yogyakarta memperkaya bahasa visualnya tanpa mengubah akar estetikanya. Cerita rakyat, wayang, mistisisme Jawa, dan pengalaman masa kecil tetap menjadi sumber utama hampir semua karya Nasirun. Salah satu yang paling ia sayangi adalah Manjing.

 

Lukisan itu terinspirasi dari kisah Blawong, makhluk dalam mitologi Jawa yang kerap diceritakan ibunya. Bagi Nasirun, karya tersebut bukan sekadar lukisan, melainkan juga pengingat asal-usulnya. Karena itu, berapa pun harga yang ditawarkan kolektor, ia memilih tidak menjualnya.

 

Suwarno, yang mengkurasi pameran tunggal pertama Nasirun pada 1993, mengatakan hampir semua karya pelukis itu bertolak dari pertemuan antara tradisi, spiritualitas, legenda, dan kehidupan sehari-hari. Goresan kuasnya memadukan ornamen batik, figur pewayangan, serta keberanian memainkan warna. Belakangan, karya-karyanya berkembang menyentuh tema sosial-politik tanpa pernah meninggalkan akar tradisi yang membesarkannya.

 

Perjalanan Nasirun menuju pengakuan internasional tidak selalu mulus. Ketika karya-karyanya laris pada akhir 1990-an, sebagian kalangan mencibirnya sebagai "seniman gorengan" yang hanya mengikuti selera pasar. Nasirun tidak pernah menanggapi cap itu dan memilih terus melukis. Pameran-pamerannya kemudian menjangkau Jepang, Belanda, dan berbagai negara lain. Salah satu yang paling dikenang adalah pameran tunggal "The Breath of Nasirun" di Mizuma Gallery, Tokyo, Jepang, pada 2014.

 

Nasirun juga pernah dijuluki pelukis miliarder karena karya-karyanya konon terjual miliaran rupiah. Namun Suwarno memilih bungkam saat ditanyai soal banderol lukisan almarhum seniman itu dengan alasan etika.

 

Ketenaran tidak mengubah cara hidup Nasirun. Hairus Salim mengenang sahabatnya itu sebagai pribadi yang dermawan. Pada 2002, Nasirun menyumbangkan empat lukisan untuk membantu Pesantren Bumi Cendekia yang baru dirintis Salim.

 

Rumahnya juga selalu terbuka bagi mahasiswa, santri, dan siapa pun yang ingin berdiskusi tentang seni. Di tengah dunia yang makin bergantung pada teknologi, Nasirun bahkan memilih hidup tanpa telepon seluler. Jika hendak menghubunginya, orang biasanya menelepon istri atau anak-anaknya. "Ia membumi sehingga bisa diterima banyak kalangan," tutur Salim.

 

Kini rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat lahir ribuan karya itu terasa lebih sunyi. Namun, sebagaimana lukisan-lukisannya yang terus berbicara tentang tradisi, spiritualitas, dan manusia, jejak Nasirun tidak berhenti pada hari pemakamannya. Ia tetap hidup dalam karya-karyanya, juga dalam kenangan orang-orang yang pernah singgah, belajar, dan tertawa bersama di rumahnya yang pintunya selalu terbuka.

 

Sumber :   https://www.tempo.co/teroka/obituari-pelukis-nasirun-2280879

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar