|
Rumah
Terakhir Nasirun yang Pintunya Selalu Terbuka Shinta Maharani
:
Koreponden Tempo di Yogyakarta |
TEMPO MINGGUAN, 09 Agustus 2026
|
· Pelukis Nasirun berpulang pada usia 60
tahun, meninggalkan jejak sebagai salah satu pelukis terpenting Indonesia. · Karya-karyanya berakar pada tradisi,
mitologi, dan spiritualitas Jawa yang diwariskan sejak masa kecilnya di
Cilacap. · Di balik reputasi internasionalnya,
Nasirun dikenang sebagai pribadi yang sederhana, religius, dan dermawan. DI bawah
panas terik matahari yang memanggang, gelombang pelayat datang tanpa putus ke
rumah Nasirun di Perumahan Bayeman Permai, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Warga kampung, santri, seniman,
budayawan, dosen, musikus, hingga mantan menteri bergantian mendaraskan doa
sebagai pengantar jenazah pelukis itu ke Taman Makam Seniman dan Budayawan
Giri Sapto, Imogiri, Bantul. Karangan
bunga memenuhi jalan menuju rumah duka. Nasirun meninggal di Rumah Sakit AMC
Muhammadiyah pada usia 60 tahun setelah mengeluhkan sesak napas di hari yang
sama. "Bapak jarang mengeluh sakit," kata anak sulungnya, Ima Bunga
Insan Sani, kepada Tempo. Selama
bertahun-tahun Ima menjadi teman sekaligus sopir ayahnya ketika menghadiri
berbagai pameran. Nasirun memang tidak pernah berani mengemudikan mobil
sendiri. Jika bukan Ima, istrinya, Supartilah, yang mengantarnya. Sebagian
besar hidup Nasirun dihabiskan di rumah sekaligus studio seninya. Di lahan
seluas sekitar 2.000 meter persegi itu berdiri bangunan bergaya modern tropis
yang dikelilingi pepohonan rindang. Ribuan
karya seni koleksi pribadinya memenuhi berbagai ruangan, dari lukisan S.
Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, dan Fadjar Sidik hingga karya para perupa
generasi berikutnya. Di tempat itulah lahir lukisan-lukisan bertema wayang,
kaligrafi, mitologi Jawa, dan kritik sosial yang kemudian mengantarkan
namanya menjadi salah satu pelukis penting Indonesia. Tiga
belas tahun lalu, saya menghabiskan sehari bersama Nasirun di rumah itu.
Halaman belakangnya menyerupai hutan kecil yang dipenuhi pakis raksasa.
Menyeruput kopi dan tidur siang menjadi selingan di antara jam-jam panjangnya
di depan kanvas. Tawa
lepas hampir selalu mengiringi percakapan. Sesekali ia bercanda dengan istri
dan anak-anaknya sebelum kembali memasuki studio. Di sudut rumah, berdiri
musala kayu asal Madura, Jawa Timur, tempat ia rutin menunaikan salat.
Kesibukan Nasirun sebagai pelukis tidak pernah membuat rumah itu kehilangan
kehangatan sebagai rumah keluarga. Semua
goresan yang memenuhi kanvas Nasirun sesungguhnya berakar dari masa kecilnya
di Adipala, Cilacap, Jawa Tengah. Ia lahir dari keluarga sederhana. Sebagian
anggota keluarganya tidak mengenyam pendidikan dan kemudian mengikuti program
transmigrasi. Ibunya, Supiyah, mendidiknya dengan disiplin. Mengaji adalah
kewajiban. Jika dia membolos, jatah makan hari itu hilang. Didikan keras itu,
menurut kurator sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,
Suwarno Wisetrotomo, membentuk etos kerja Nasirun. "Dia orang yang saleh
dan spirit kerjanya menyala terus," ujarnya. Pendidikan
di ISI Yogyakarta memperkaya bahasa visualnya tanpa mengubah akar
estetikanya. Cerita rakyat, wayang, mistisisme Jawa, dan pengalaman masa
kecil tetap menjadi sumber utama hampir semua karya Nasirun. Salah satu yang
paling ia sayangi adalah Manjing. Lukisan
itu terinspirasi dari kisah Blawong, makhluk dalam mitologi Jawa yang kerap
diceritakan ibunya. Bagi Nasirun, karya tersebut bukan sekadar lukisan,
melainkan juga pengingat asal-usulnya. Karena itu, berapa pun harga yang
ditawarkan kolektor, ia memilih tidak menjualnya. Suwarno,
yang mengkurasi pameran tunggal pertama Nasirun pada 1993, mengatakan hampir
semua karya pelukis itu bertolak dari pertemuan antara tradisi,
spiritualitas, legenda, dan kehidupan sehari-hari. Goresan kuasnya memadukan
ornamen batik, figur pewayangan, serta keberanian memainkan warna.
Belakangan, karya-karyanya berkembang menyentuh tema sosial-politik tanpa
pernah meninggalkan akar tradisi yang membesarkannya. Perjalanan
Nasirun menuju pengakuan internasional tidak selalu mulus. Ketika
karya-karyanya laris pada akhir 1990-an, sebagian kalangan mencibirnya
sebagai "seniman gorengan" yang hanya mengikuti selera pasar.
Nasirun tidak pernah menanggapi cap itu dan memilih terus melukis.
Pameran-pamerannya kemudian menjangkau Jepang, Belanda, dan berbagai negara
lain. Salah satu yang paling dikenang adalah pameran tunggal "The Breath
of Nasirun" di Mizuma Gallery, Tokyo, Jepang, pada 2014. Nasirun
juga pernah dijuluki pelukis miliarder karena karya-karyanya konon terjual
miliaran rupiah. Namun Suwarno memilih bungkam saat ditanyai soal banderol
lukisan almarhum seniman itu dengan alasan etika. Ketenaran
tidak mengubah cara hidup Nasirun. Hairus Salim mengenang sahabatnya itu
sebagai pribadi yang dermawan. Pada 2002, Nasirun menyumbangkan empat lukisan
untuk membantu Pesantren Bumi Cendekia yang baru dirintis Salim. Rumahnya
juga selalu terbuka bagi mahasiswa, santri, dan siapa pun yang ingin berdiskusi
tentang seni. Di tengah dunia yang makin bergantung pada teknologi, Nasirun
bahkan memilih hidup tanpa telepon seluler. Jika hendak menghubunginya, orang
biasanya menelepon istri atau anak-anaknya. "Ia membumi sehingga bisa
diterima banyak kalangan," tutur Salim. Kini
rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat lahir ribuan karya itu terasa
lebih sunyi. Namun, sebagaimana lukisan-lukisannya yang terus berbicara
tentang tradisi, spiritualitas, dan manusia, jejak Nasirun tidak berhenti
pada hari pemakamannya. Ia tetap hidup dalam karya-karyanya, juga dalam
kenangan orang-orang yang pernah singgah, belajar, dan tertawa bersama di
rumahnya yang pintunya selalu terbuka. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/obituari-pelukis-nasirun-2280879
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar