|
Zhu Rongji Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 14 Agustus 2026
Hanya sekali
saya bertemu Zhu Rongji. Di Nanjing, Jiangshu. Sudah lama sekali. Itu pun bukan
pertemuan khusus. Tepatnya: saya hanya melihat beliau. Menghadiri pidatonya.
Tidak lebih dari itu.
Setelah tidak
menjabat perdana menteri Zhu Rongji seperti hilang dari bumi. Dari orang yang
amat populer menjadi tidak sekali pun muncul di media.
Selama 23 tahun
orang tidak tahu lagi di mana Zhu Rongji. Orang juga tidak tahu apa saja yang
dilakukannya setelah tidak jadi perdana menteri.
Itulah budaya
politik di Tiongkok: yang sudah pensiun tidak pernah mau tampil di publik.
Mereka konsisten menjadi pertapa. Pun orang yang menjadi presiden di saat Zhu
Rongji jadi perdana menteri: Jiang Zemin.
Presiden Jiang
tidak pernah muncul di permukaan. Padahal kurang hebat apa Presiden Jiang. Ia
adalah presiden yang mengubah Partai Komunis Tiongkok dari partai berkaki dua
--buruh dan tani-- menjadi partai berkaki tiga:
buruh, tani, pengusaha.
Pasti Jiang
adalah orang yang sangat kuat: bagaimana bisa membuat pengusaha menjadi soko
guru partai komunis. Bukankah komunis lahir sebagai alat perjuangan kelas
melawan kapitalisme? Bagaimana bisa kapitalis (pengusaha) justru jadi soko guru
komunis di Tiongkok?
Orang sekelas
Presiden Jiang Zemin pun tidak diketahui di mana keberadaannya dan melakukan
apa. Setelah tidak jadi presiden namanya hilang sehilang-hilangnya. Begitu juga
Zhu Rongji. Tiba-tiba saja ada berita di media, kemarin, Zhu Rongji meninggal
dunia: 12 Agustus 2026. Di usia 97 tahun.
Kalau pun nama
Zhu Rongji sering muncul di media, itu media di luar negeri. Seperti media di
Indonesia. Nama Zhu Rongji sering disebut sebagai contoh ketegasan dalam
pemberantasan korupsi. Anda sudah hafal kata-kata Zhu Rongji ini:
"sediakan 100 peti mati. Yang 99 untuk koruptor. Yang satu untuk
saya".
Artinya: ia
sudah siap mati dibunuh oleh orang-orangnya koruptor sebagai bentuk balas
dendam mereka atas ketegasan Zhu dalam memberantas korupsi di Tiongkok.
Kata-kata Zhu
Rongji itu sudah seperti mantera di mana-mana. Rasanya kata-kata itu hanya
kalah populer dengan apa yang dipidatokan Presiden Prabowo: "Akan saya
kejar koruptor sampai ke Antartika".
Tentu
meninggalnya Zhu Rongji tidak membuat istilah '100 peti mati' ikut terkubur.
Kata-kata itu akan terus hidup dan diucapkan oleh orang yang ingin korupsi
diberantas sampai Antartika. Pun kata-kata Prabowo akan terus dikutip orang di
Indonesia.
Meninggalnya
Zhu Rongji juga tiba-tiba mengingatkan saya ke Nanjing. Itu tahun 2001. Tiga
bulan sebelum Tiongkok masuk organisasi perdagangan dunia (WTO).
Waktu itu dunia
Barat sedang merayu Tiongkok untuk mau masuk WTO. Maksudnya agar Tiongkok bisa
'didisiplinkan' lewat WTO. Tiongkok harus tunduk pada cara-cara dagang dunia.
Terasa sekali
Tiongkok sedang meyakinkan rakyat mereka: masuk WTO itu baik. Kelihatan sekali
pengusaha di sana takut kalau Tiongkok masuk WTO tidak bisa bebas lagi
berdagang ke seluruh dunia. Sangkaan yang tentu saja salah.
Kota Nanjing
sendiri --pernah jadi ibukota Tiongkok-- waktu itu masih kumuh. Masih di awal
pembangunan menuju modernisasi. Jalan-jalan dalam kota baru dilebarkan. Masih
berdebu. Pohon-pohon di pinggir jalan baru ditanam. Masih tampak baru tumbuh.
Inilah kali pertama saya melihat: pohon yang baru ditanam tapi besarnya sudah
sebesar tubuh orang Indonesia. Waktu itu di kita masih terbiasa menanam pohon
itu menanam bibit pohon yang masih kecil.
Apa yang saya
lihat di Nanjing itu terus hidup di benak saya. Kelak, setiap kali membangun
gedung baru saya minta agar pohon yang ditanam di halamannya adalah pohon yang
sudah besar. Saya ikut tidak sabar menunggu rindangnya pohon yang memakan waktu
sampai lebih 10 tahun.
Di pertemuan
besar di Nanjing itu delegasi dari Indonesia lebih 200 orang. Dari Surabaya
saja 40 orang. Satu bus penuh. Meski itu pertemuan besar pengusaha Tionghoa
sedunia --hua shang da hui/ 华商 大会-- saya bisa
menjadi delegasi Indonesia.
Di tahun itu
saya sudah dianggap keluarga Tionghoa --lima tahun sebelum menjalani operasi
ganti hati di Tianjin, Tiongkok.
Sejak itu saya
beberapa kali kembali ke Nanjing. Setiap kali pula saya lihat perubahan yang
amat besar. Pun di seluruh Tiongkok. Dua tahun kemudian saya ikut sekali lagi 华商大会: di Kuala Lumpur.
Zhu Rongji
adalah salah satu pemimpin besar Tiongkok modern. Semua pemimpin Tiongkok tidak
lagi ikut cawe-cawe di urusan negara setelahnya. Tidak ada misalnya mantan
presiden yang bikin partai politik untuk anaknya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/962735/zhu-rongji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar