Senin, 17 Agustus 2026

 

Mengapa Kami Menulis Oei Tjoe Tat di Edisi Kemerdekaan 2026

Francisca Christy Rosana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Peran aktivis Tionghoa dalam upaya mendirikan dan mempertahankan Republik dilupakan dan dihapus dalam literatur sejarah.

 

·      Mereka mendapat stereotipe dan cap sebagai pendukung komunisme setelah meletusnya peristiwa G-30-S.

 

·      Menulis kisah Oei Tjoe Tat merupakan pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hasil monopoli satu suku, satu agama, dan satu etnis.

 

OEI Tjoe Tat adalah satu dari banyak orang keturunan Tionghoa yang mempunyai peran penting dalam revolusi Indonesia. Sebagaimana aktivis Cina lain di masa awal Republik, ia turut memperjuangkan kesamaan hak dan pengakuan bagi peranakan Tionghoa yang hidup dan lahir di Indonesia.

 

Oei sejatinya adalah meester in de rechten, pengacara yang bergelut dengan isu-isu hukum. Namun semangat aktivisme setelah kemerdekaan membawanya masuk ke organisasi kemasyarakatan dan partai. Aktivitas politik inilah yang membuatnya dilirik Presiden Sukarno sehingga diangkat menjadi Menteri Negara. Ia menjadi salah seorang kepercayaan Bung Besar untuk menjalankan tugas-tugas diplomatik dan intelijen di ujung masa rezim Orde Lama.

 

Dan, seperti halnya kebanyakan aktivis Tionghoa yang loyal terhadap Bung Karno, jalan hidup Oei seketika berbalik setelah geger Gerakan 30 September 1965. Dari pejabat tinggi yang mendapat fasilitas negara, pria yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, itu menjadi tahanan politik Orde Baru. Ia dipenjara selama hampir 12 tahun tanpa persidangan yang adil. Setelah keluar dari bui, Oei tetap menjadi salah seorang pengkritik terdepan Soeharto sampai akhir hayatnya.

 

•••

 

DANIEL Saul Lev, seorang indonesianis dari University of Washington, Amerika Serikat, punya gagasan yang mewakili cara pandang masyarakat Indonesia atas peran warga keturunan Tionghoa dalam Republik. Seperti ia tulis dalam prolognya untuk buku Benny G. Setiono berjudul Tionghoa dalam Pusaran Politik, Lev menyebutkan etnis Tionghoa—yang ia sebut sebagai kelompok minoritas—terus saja digambarkan secara simplistis.

 

Dalam kacamata Lev—meninggal di Seattle, Amerika, 20 tahun lalu—masyarakat Tionghoa acap dilihat dengan penuh kebencian dan makian. “Pada intinya adalah untuk membekukan terus status kelompok tersebut sebagai minoritas,” begitu Lev menulis bagi buku Benny, tepat pada pesta tahun baru 2003.

 

Menurut Lev, kelompok mayoritas—dilihat tak hanya dari jumlah orang, tapi juga dari kekuasaan—punya otoritas untuk menciptakan label sekaligus menentukan siapa yang menjadi minoritas, baik kelompok agama, etnis, maupun ras. Bagi kelompok minoritas, pemberian definisi membuat mereka terbelenggu pada stereotipe.

 

Persis seperti itulah situasi yang dihadapi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Mereka umpamanya acap digambarkan sekadar mampu berdagang dan hidup dalam komunitas yang eksklusif. Lebih-lebih dalam nuansa politik ketika Indonesia baru diproklamasikan, konsepsi tentang peranakan Cina bertambah dengan cap sebagai pengikut komunisme seiring dengan persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur dalam Perang Dingin yang meruncing.

 

Tuduhan sebagai komunis di Indonesia dapat mengakibatkan pengucilan sosial, kekerasan, kehilangan hak, dan trauma yang diwariskan lintas generasi. Label itu pula yang membuat peran sejumlah aktivis dan politikus Tionghoa disetip dalam sejarah resmi pemerintah. Tak peduli betapapun mereka berjasa dalam mendirikan dan mempertahankan Republik.

 

Oei Tjoe Tat adalah salah satunya. Lahir pada 26 April 1922 di Surakarta, Jawa Tengah, Oei menjadi Menteri Negara dalam Kabinet Dwikora pimpinan Presiden Sukarno. Sebelumnya, ia menjadi aktivis sosial dan ikut mendirikan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki.

 

Selama menjadi aktivis hingga pejabat negara, Oei turut berperan memperjuangkan kesetaraan hak bagi warga keturunan Tionghoa. Ia, misalnya, menolak gagasan Menteri Luar Negeri Sunario Sastrowardoyo yang hendak mengegolkan Rancangan Undang-Undang Kewarganegaraan. Bersama koleganya di Partai Demokrat Tionghoa Indonesia, Oei mengajukan keberatan terhadap draf regulasi itu karena berpotensi membuat peranakan Tionghoa di Indonesia kehilangan status kewarganegaraan. Oei juga ikut membantu Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui serta Panitia Penolong Korban Kontra Revolusi menangani korban kerusuhan rasial anti-Cina pada 1950-an dan 1960-an.

 

Sebagai menteri, ia menjalankan tugas diplomatik dan intelijen dari Sukarno—meski Oei tak punya pengalaman sama sekali dalam dua bidang itu. Oei menyisir perbatasan Indonesia-Malaysia di Sumatera dan Kalimantan ketika Bung Besar memulai propaganda “Ganyang Malaysia” pada 1963. Ia menemui dan menggalang tentara, sukarelawan pro-Indonesia, serta tokoh-tokoh Singapura dan Malaysia.

 

Ia tak hanya mengumpulkan informasi penting bagi Istana, tapi juga sekaligus menjadi penyambung lidah Bung Karno untuk memompa semangat pasukan serta menjelaskan tujuan pemerintah melawan pembentukan federasi Malaysia. Toh, propaganda “Ganyang Malaysia” justru memakan korban dari warga keturunan Tionghoa—kaum yang selama ini dibela dan diperjuangkan Oei. Setelah rezim Orde Lama tumbang, militer menumpas sukarelawan dari kelompok Tionghoa yang berjuang di perbatasan Indonesia-Malaysia dengan dalih menghalau pengaruh komunisme.

 

Di ujung masa pemerintahan Sukarno, Oei mendapat tugas masuk ke Komisi Pencari Fakta yang menyelisik peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G-30-S. Berkeliling ke beberapa provinsi, Oei menaksir jumlah simpatisan dan kader Partai Komunis Indonesia yang tewas akibat operasi “pembersihan” itu sedikitnya 500 ribu orang. Angka itu jauh lebih besar dari laporan resmi tentara yang diperoleh Komisi selama proses investigasi.

 

Kendati menjadi menteri dalam waktu yang relatif singkat, Oei tak segan mendaku sebagai loyalis Sukarno. Penyunting buku Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Stanley Adi Prasetyo, menyebutkan loyalitas yang nyaris tanpa batas kepada Sang Proklamator itu menjadi salah satu kelemahan Oei. “Oei semata-mata melihat Sukarno sebagai bapak bangsa yang sedang berupaya menyatukan republik yang baru berdiri,” kata Stanley. Sikap dan keberpihakan Oei itulah yang membuatnya ditangkap dan dipenjara oleh rezim Orde Baru selama hampir 12 tahun atas tuduhan terkait dengan gerakan komunis.

 

Hitam-putih perjalanan Oei Tjoe Tat itu mendorong kami mengangkat kisahnya dalam edisi khusus kemerdekaan. Oei bukan tokoh Tionghoa pertama yang diulas kisahnya pada perayaan Proklamasi. Tujuh tahun lalu, kami menampilkan tiga aktivis Tionghoa yang turut berperan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka adalah Djiauw Kie Siong (pemilik rumah Rengasdengklok), Liem Koen Hian (anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), dan Yap Tjwan Bing (anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sama seperti Oei, peran mereka tak kecil, tapi kadang juga penuh ironi karena mendapat penolakan dan disingkirkan.

 

Menelusuri kisah Oei, Francisca Christy Rosana yang menjadi kepala proyek liputan edisi khusus ini mulai mendata sumber literatur yang mengulas kiprah masyarakat Tionghoa dalam pergerakan politik serta kisah hidup Oei. Kami mengundang Stanley Adi Prasetyo, yang menyunting memoar Oei bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer, untuk berdiskusi. Mantan anggota Dewan Pers itu dengan murah hati membongkar dan memberikan arsip-arsip lamanya tentang Oei.

 

Melengkapi cerita dari Stanley serta memoar Oei, kami menelusuri lokasi yang punya keterkaitan sejarah dengan Oei. Redaktur Desk Jeda yang menjadi anggota tim edisi khusus ini, Rina Widiastuti, mengerahkan koresponden Tempo di Surakarta untuk melacak rumah masa kecil ayah empat anak itu.

 

Dalam hal menemui anak-anak Oei, perjalanan yang ditempuh tim cukup berlapis. Atas petunjuk dan bantuan Didi Kwartanada, sejarawan yang meminati topik soal Tionghoa, kami dapat terhubung dengan kerabat Oei bernama Ivan Wibowo. Ayah Ivan merupakan ilustrator wajah Oei yang tampil pada halaman sampul memoar Oei. Dari Ivan inilah tim bisa bertemu dengan putra dan putri Oei.

 

Dua anak Oei, Oei Lan Siem alias Fransiska Oei dan Oei Tiang Tik alias Tikki Budiman, bermukim di Jakarta. Sedangkan dua putri Oei lain, Oei Yang Siem alias Shilana Atma Waskowski dan Oei Ling Siem alias Desita Atma Brunier, kini tinggal di luar negeri. Shilana menetap di Jerman, sedangkan Desita di Prancis. Kami menghubungi keduanya melalui telekonferensi video secara terpisah.

 

Penanggung jawab:

 

    Raymundus Rikang

 

Kepala proyek:

 

    Francisca Christy Rosana

 

Penyunting:

 

    Agoeng Wijaya

    Fery Firmansyah

    Mustafa Silalahi,

    Raymundus Rikang,

    Reza Maulana,

    Stefanus Pramono

 

Penulis:

 

    Ahmad Faiz Ibnu Sani,

    Daniel Ahmad Fajri

    Egi Adyatama

    Francisca Christy Rosana

    Friski Riana

    Hussein Abri Dongora

    Han Revanda Putra

    Rina Widiastuti

    Yohanes Paskalis

 

Penyumbang bahan:

 

    Septhia Ryanthie

    Yosea Arga Pramudita

 

Penyunting bahasa:

 

    Edy Sembod

    Hardian Putra Pratama

    Iyan Bastian

 

Penata letak:

 

    Aji Yuliarto

    Ahmad Fatoni

    Djunaedi

    Eko Punto Pambud

    Gatot Pandego

    Kendra Paramita

    Junianto Prasongko

    Kuswoyo

    Mistono

    Munzir Fadly

    Rudy Asrori

 

Ilustrator:

 

    Alvin Siregar

    Kendra Paramit

 

Periset foto:

 

    Charisma Adristy

    Fardi Bestari

    Jati Mahatmaji

 

Tim digital:

 

    Rio Ari Seno

    Dianka Rinya

    Inge Klara Safitri

    Novandy Ananta

    Rizkika Syifa

 

Meski kami temui satu per satu di waktu dan lokasi yang berbeda, anak-anak Oei kompak mengajukan pertanyaan yang mirip: mengapa papanya dipilih dan ditulis Tempo? Ada kesan bungah, tapi juga sedikit cemas dari mereka.

 

Kisah Oei di gerbang kemerdekaan menunjukkan bahwa Indonesia tidak didirikan oleh satu etnis, satu suku, atau satu agama saja. Mengangkat kisah Oei merupakan ikhtiar dan pengingat bahwa Indonesia adalah hasil kesepakatan banyak orang dengan beragam latar belakang. Untuk itulah kisah Oei ditulis. Selamat membaca.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-edisi-khusus-kemerdekaan-2282173

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar